Sandnes, 29 Maret 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

PENGUASA HINDUNESIA JAWA.MEMANG MUNAFIQ, LAIN YANG DITULIS DALAM PEMBUKAAN UUD 1945, LAIN YANG DIPRAKTEKKANNYA.

Husaini Daud Sp

Sandnes - NORWEGIA.

 

 

CONTOH ORANG YANG BERTAQLID BUTA KEPADA PENGUASA HINDUNESIA JAWA YANG MUNAFIQ.

 

Baiklah Saprudin.

 

Rupanya kamu belum mengetahui pengertian daripada taqlid. Arti daripada bertaqlid itu adalah mengikuti. Dalam kontek ini kami bangsa Acheh hari ini memang mengikuti Hasil dari keputusan meeting MoU Helsinki. Pasalnya Hindunesia yang kamu dukung itu adalah bersikap hipokrit sejak jaman Soekarno, si penipu licik (kendatipun lumpuh ketika berhadapan dengan Tun Abdurrahman Malaysia) sampai Yudhoyono "tuhannya" Saprudin cs. Justru itulah diperlukan Tim Monitoring untuk mengantipati praktek-praktek hipokritnya Hindunesia Jawa Quek. Yang dilarang Allah dan Rasulnya adalah bertaqlid buta sebagaimana taqlid nya Saprudin sc sendiri kepada penguasa-penguasa Hindunesia Jawa Quek. Ironisnya justru Saprudin menuduh kami bangsa Acheh yang telah sadar akan tujuan Hidup dipermukaan Bumi ini. Jelasnya apa yang kamu tuduh itu adalah kosong alias keliru 180 derajat dan malah jatuh menimpa muka kamu sendiri bersama segenap kaum hipokrit lainnya.

 

Saprudin sebetulnya kamu lumayan tentang pendidikannya. Namun disebabkan butanya mata hati, kamu sepertinya orang -orang yang tidak punya Tujuan Hidup. Kamu mudah terombang ambing oleh bayangan nikmatnya dalam ketiak pemimpin hipokrit itu. Andaikata kamu tidak tertutup mata hati sudah barang pasti kamu mampu memahami mana komunitas yang benar diantara dua komunitas manusia yang sedang bertikai itu. Acheh Sumatra adalah suatu komunitas manusia yang sudah exis ratusan tahun sebelum Hindunesia pura-pura itu. Adalah keliru sekali kalau kamu katakam kami sebagai sparatis. Andaikatapun benar apa yang kamukatakan itu, juga masih jauh lebih baik dibandingkan dengan komunitas Hindunesia Jawa Quek yang berstatus sebagai Penjajah. Kami punya alasan kuat kalau kami katakan bahwa Hindunesia Jawa Quek itu Hipokrit. Hal ini dapat kamu baca dalam pembukaan undang-undang nya yang tertulis : "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak bagi segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan". Justru itulah saya sendiri senantiasa membubuhi kata hipokrit atau munafiq dibelakang kata Hindunesia pada hampir setiap tulisan saya di medan internet ini. Jadi semua orang-orang yang bersatupadu dalam system yang "Puncasilap" itu adalah munafiq, termasuk kamu Saprudin.

 

Saprudin !

Kamu juga mengatakan bahwa MOU Helsinki itu adalah hasil rekayasa kaum sekuler Eropah. Ternyata kamu lagi-lagi ngaur cara berfikirnya. Orang-orang sekuler adalah orang-orang yang tidak melihat suatu persoalan dengan kacamata agama, mereka itu hampir sama dengan kaum Atheis yang muncul di negara Perancis akibat tidak mampu berfikir atas hipokritnya pemuka agama Khatolik kala itu, yang berakhir dengan munculnya kaum Intelektual Prancis yang Protestant untuk menggerakkan Revolusi Prancis. Tuduhan kosong kamu itu justru jatuhnya ke muka kamu juga. Memang kamu tidak memiliki tekhnik berfikir seperti kami bangsa Acheh hari ini. Secara syar'i mayoritas orang-orang Hindunesia Jawa Quek Munafiq itu adalah Islam, namun secara Filosofis dan Idiologis mereka adalah orang-orang sekuler plus Hipokrit, kecuali kaum dhu'afa yang bertaqiyah. Buktinya mereka itu sekuler, lihatlah: Adakah persoalan Acheh - Sumatra itu mereka seslesaikan secara Islami ??? Justru itulah persoalannya terpaksa diselesaikan melalui MoU Helsinki. Kami bangsa Acheh yang sadar yakin bahwa betapapun orang orang Eropa itu jauh lebih baik daripada orang-orang Hindunesia yang Munafiq itu.

 

Saprudin !!

Kamu juga mengatakan bahwa Islamisasi kehidupan bukanlah sekedar membuat umat Islam melakukan shalat, puasa, haji, wirid, dan ritual lainnya. Justru corak pemahaman parsial macam itulah yang amat digandrungi oleh para kaum bermental arogan model kalian. Disini juga Saprudim asal tembak persis bagaikan TNI/POLRI yang dikirim Tuannya ke Acheh menembak tanpa sasaran ketika berhadapan dengan TNA dimedan tempur Acheh. Kan nyata sekali bahwa orang-orang yang bersatupadu dalam system Hindunesia Jawa Quek dan Hipokrit itulah yang memiliki pemahaman yang parsial. Mereka asik dengan Ritual doang sementara kaum dhu'afa merintih di gubuk-gubuk reot, di bawah titi kota Metropolitan dan di tempat-tempat kumuh. Lihatlah betapa brilliannya pemikiran orang-orang Acheh yang sadar sebagaimana yang di kemukakah Tgk Darwis Jeuniep bahwa bangsa Acheh tidak ada Istilah untuk naik Haji sebelum bangsa Acheh bebas dari penjajahan Hindunesia Jawa Quek dan Hipokrit (Surat kabar Serambi). Hal ini bermakna Haji tidak ada arti samasekali sebelum kita menafkahkan sebahagian rizki yang dianugerahkan Allah untuk membebaskan kaum Dhu'afa dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka (Q.S,7:157 & Q.S,90:12-18). Ini juga bermakna bahwa orang-orang Acheh yang sadar mampu mengidentifikasi diri sebagai "Hussain-hussain" di Medan Karbala, menyirami pohon Islam dengan darah, airmata dan harta.

 

Saprudin !!!

Taukah kamu bahwa orang-orang beruang didalam system Hindunesia Jawa Quek dan Hipokrit itu tidak takut berbuat dhalim terhadap manusia, sebab mereka mengira itu semua dapat ampunkan Allah dengan Naik Haji, bagaikan kertas putih (silakan baca tulisan Esensi Haji di "Ahmad Hakim Sudirman Homepage). Contohnya Gusdur, bagaimana dia itu beraninya melahap bantuan Raja Brunai, demikian juga pergaulan romantisnya dengan dayang - dayang dikantornya. Yang korupsi dan asusila itu bukan hanya Gusdur doang dan juga bukan hanya "orang - orang besar" negara tapi juga "kiyai-kiyai", Habib-habib" dan "Ulama-ulama Kuning" sebagaimana di infokan saudara Abu Qosim di milis Padangbulan.(Salamun 'alaikum wr wbr ya Abu Qosim).

 

Saprudin !!!!

Kamu juga mengatakan bahwa kami orang-orang Acheh -Sumatra yang sadar bertaqlid buta dan mengkultuskan figuritas individu sosok Tgk DR HASAN MUHAMMAD DI TIRO. Kemudian kamu juga menuduh beliau sebagai kadal Yahudi. Tidakkah pembaca melihat dengan jelas bahwa sebelum muncul kepemimpinan Tgk DR HASAN MUHAMMAD DI TIRO sebagai "Bahtera" penyelamat bangsa Acheh - Sumatra, mayoritas orang - orang Acheh berjingkrak - jingkrak dibawah ketiak Suharto rajanya koruptor dan pembantai rakyatnya sendiri, BJ Habibie si mukak boneka yang masih sesat sampai hari ini, si Jamu gendong munafiqnya Megawati, dan si Gusdur yang berstatus ganda sebagai "Fir'aun" dan "Bal'amblour". Tgk di Tiro itu adalah sosok pemimpin yang haq diikuti bagi orang-orang yang mengaku diri sebagai bangsa Acheh - Sumatra, sementara orang-orang "Aceh" seperti kamu Saprudin sampai hari ini masih bertaqlit buta terhadap "pemimpin" yang menyesatkan orang-orang yang berada dalam system Hindunesia Jawa Quek dan Hipokrit itu. Jadi tuduhan ini juga jatuhnya menimpa muka kamu sendiri.

 

Saprudin !!!!!

Tuduhan kamu yang tidak logik terhadap yang mulia Tgk DR HASAN MUHAMMAD DI TIRO sebagai Kadal yahudi merupakan kedhalin kamu yang terbesar dan takdapat dima'afkan sama sekali oleh orang-orang Acheh yang sadar, kecuali melalui suatu proses hukum Acheh Raya kelak, insya Allah. Berjuta manusia menyaksikan ucapan kotor kamu sebagai orang "Aceh" yang tidak tau diri. Kamu tidak sadar sesungguhnya kamulah pembela kebathilan yang berstatus sebagai KADAL YAHUDI (ka meubalek tjak meutuka tjok).

 

Saprudin !!!!!!

Ayat Qur-an yang kamu tempelkan itu sama dengan ayat Qur-an yang di tempelkan PPP dalam kampanye mereka untuk merebut kursi di DPR pura-pura untuk mengelabui mata rakyat jelata. System "busuk" itu bukan tempatnya Al Qur-an bersemi. Itu tempatnya bersarang "labalaba" sebagaimana sandiwara yang sedang dipraktekkan sekarang ini di Tanah Rencong oleh antek-antek sipa-i Jawa Kuek, termasuk kamu Saprudin (baca Syari'at Islam pura-pura). Bagi kamu cocok sekali menggunakan kata-kata: "Om Santi Santi Santi Om" aku mendukung mu sampai mati.

 

Saprudin !!!!!!!

Adanya korban bangsa Acheh untuk merebut kemerdekaannya adalah suatu yang wajar. Adalah mustahil berjuang tanpa pengorbanan, baik pengorbanan nyawa, darah, airmata dan harta. Pembaca dapat memahaminya dengan melihat sejarah Perjuangan Rasulullah sendiri, Imam 'Ali bin Abi Thalib dan Imam Hussain di Karbala yang menjadi simbolisasi medan perjuangan diantara yang haq dan yang bathil. Insya Allah orang-orang yang dibunuh karena mencari redha Allah untuk membebaskan kaum dhu'afa di Acheh - Sumatra tidaklah mati sia-sia. Coba simak Syair dibawah ini:

 

Meuseue hanmate didalam seueh prang

Ken mate tjit bak saboh masa

Matjam naseubab akan tarasa

Namun mate tjit sige sagai.

 

Coba anda lihat dan renungkan bahwa sebahagian orang Acheh syahid dalam perang, namun sebahagian lagi mati dalam musibah Tsunami, kendatipun tidak mau berperang atau berjuang. Disini terbukti apa yang dinyatakan Allah dalam surah Jum'ah: "Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemuimu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia (Allah) beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan di duniua" (Q.S 64: 8). Sungguh orang-orang yang tidak benar Idiologinyalah yang tidak mampu berfikir bahwa kita hidup di dunia ini adalah untuk berjuang di jalan Allah dengan dasar 'Aqidah atau Idiology yang benar, bukan idiology "Puncasilap" sebagaimana yang diaplikasikan Komando Jihatnya Tuan Fauzan Ansari cs yang pernah membuat propokasi anti Barat Di Acheh seolah-olah orang Acheh - Sumatra yang berprinsip seperti orang-orang bodoh itu. Yang seperti itu tepatnya bukan Komando Jihat tapi Komando Jahat.

 

Kami bangsa Acheh - Sumatra yang sadar, alhamdulillah memiliki Idiology yang Haq dan Tekhnik Berfikir yang jitu. Alhamdulillah kami diberipengetahuan oleh Allah sehingga memahami mana yang haq dan mana yang bathil kendatipun yang bathil itu di kemas dengan Label Islam.

 

Alhamdulillah kami bangsa Acheh - Sumatra hari ini mengenal persis mana Ulama benaran mana ulama palsu, mana Teungku benaran mana teungku palsu, mana Kiyai benaran mana kiyai palsu, Mukmin benaran dan mukmin palsu. Kami juga alhamdulillah mengenal persis "Fir'aun-fir'aun" dan "Yazid-yazid moderen", "Hamman-hamman", "Qarun-qarun", "Bal'am-bal'amblour" serta pengikut-pengikut mereka di jaman Jahiliah Moderen ini. Kalau hal yang diatas tidak mampu kita pahami, kita juga tidak mampu memahami mana konsep Islam sejati dan mana konsep Islam palsu. Kalau kondisi kita seperti ini bersiap-siaplah untuk menjadi penghuni neraka, na'uzubillah min zalik.

 

Sebelum saya tutup tulisan ini adabaiknya saya ingatkan pengakuan Saprudin sendiri yang ditulisnya pada tanggal 6 Maret 2006 14:02:59 +0700 (ICT) yang dilampirkan dibawah ini sebagai bukti kemunafikannya.

 

Demikianlah pembaca sekalian semoga kita senantiasa mendapat Hidayah Allah swt, amin yarabbal 'alamin.

 

Bilalhi fi sabilillah

 

Husaini Daud Sp

 

husaini54daud@yahoo.com

Sandnes, Norwegia.

----------

 

Date: Tue, 28 Mar 2006 10:00:06 +0700 (ICT)

From: SP Saprudin im_surya_1998@yahoo.co.id

Subject: Re: Menjaga Kehormatan Muslimin Dengan Menjauhi Ghibah

To: muba zir <mbzr00@yahoo.com>, Risyaf Ristiawan <barakatak_jol_leos@yahoo.com>, asudirman@yahoo.co.uk, ahmad@dataphone.se

Cc: warwick aceh <universityofwarwick@yahoo.co.uk>, rasjid@bi.go.id, im_surya_1998@yahoo.co.id, mbzr00@yahoo.com, abdulcrusader@lycos.com

 

Akan lebih berbahaya lagi bagi orang yang bertaqlid dengan pemahaman sendiri. Akibat dari pemahaman sendiri, maka kalian tidak jauh berbeda dengan orang-orang zindiq. Apaka kalian bertaqlid dengan MOU Helsinki, yang jelas itu hasil rekayasa kaum sekuler eropah. Bukankah kalian bertaqlid dengan system Thogut ? Mikir atuh siah kehed !!!

 

Islamisasi kehidupan bukanlah sekedar membuat umat Islam melakukan shalat, puasa, haji, wirid, dan ritual lainnya. Justru corak pemahaman parsial macam itulah yang amat digandrungi oleh para kaum bermental arogan model kalian. Sebab Islam dalam bentuknya yang  semacam itu adalah Islam yang mudah dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan tertentu (kasus contoh model kalian yang dimanfaatkan oleh pihak barat, kalian tidak menyadari). Untuk itulah orang-orang yang bermental arogan itu senantiasa memberikan propaganda umat Islam agar terjebak dengan isu-isu sesaat. Akibatnya isu-isu abadi berupa pembinaan aqidah dan pemahaman akan keutuhan Islam tak tersentuh secara memadai.

 

Islam mengajarkan ketaatan tapi melarang taqlid buta; memerintahkan kesetiaan tapi mengharamkan kultus individu; mewajibkan penghormatan terhadap orang yang layak mendapatkannya namun mencela figuritas. Bukankah selama ini kalian bertaqlid buta dan mengkultuskan figuritas individu sosok HASAN TIRO KADAL YAHUDI ? Telah banyak kerusakan baik harta benda maupun darah yang telah kalian lakukan akibat sikap figuritas ini. Bayangkan, seseorang menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu bukan disampaikan oleh orang yang dia figurkan. Dan menerima segala apa yang disampaikan oleh orang yang menjadi figurnya, betapa pun nyata-nyata salah menurut standar Qur'an dan Sunnah.

 

Figuritas dapat memunculkan tradisi taqlid (sikap membebek). Sikap yang kemudian berkembang adalah kecintaan kepada tokoh (HASAN TIRO KADAL YAHUDI), bukan kepada Islam. Berjuang karena figur, bukan keikhlasan. Pada waktu bersamaan, pembelaan terhadap Islam melemah. Hal ini menjelaskan pertanyaan bagi saya, Mengapa tokoh yang jelas salah dan menyimpang dari Islam terus dibela dengan berbagai alasan. (Coba kalian buka kembali catatan perjalanan Hasan Tiro sewaktu Kuliah di Yogyakarta hingga USA).

 

Islam memerintahkan agar kita taat kepada Rasulullah saw. Pada waktu bersamaan Allah juga memerintahkan, agar pengorbanan dan perjungan dilakukan karena Allah SWT, bukan karena Rasulullah saw. Ini ditegaskan dalam Al-Quran, "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya rasul-rasul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang (murtad)." (Ali Imaran 144)

 

Ayat itu pula yang dibacakan Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika menghadapi Umar Bin Khattab yang tidak percaya akan wafatnya Rasulullah SAW sehingga mengatakan, "Barang siapa yang mengatakan Muhammad telah meninggal akan saya penggal lehernya." Itu semua menegaskan kepada kita bahwa dalam beramal, berkorban dan berjuang, hanya Allah yang menjadi tujuan. Jika Allah SWT mengecam orang yang berjuang berjihad dan ber-Islam karena Rasulullah SAW, maka lebih buruk lagi orang yang berjuang mengatasnamakan agama karena manusia macam Hasan Tiro itu. Yang paling buruk adalah orang yang menggunakan dakwah model Ahmad Sudirman untuk membangun figuritas diri (NII M. Kartosuwiryo), bukan loyalitas kepada kebenaran.

 

Dakwah seharusnya mengarahkan orang pada sikap tawadhu' (rendah hati). Apabila seorang da'i dari awal merasa paling hebat dan dakwahnya paling benar model Ahmad Sudirman, bukan sikap tawadhu' yang akan tumbuh. Boleh jadi yang subur adalah sikap sombong dan takabbur serta memandang orang lain lain tidak ada artinya.

 

Perasaan selalu nomor satu adalah penyakit yang ditularkan iblis. Iblis merasa hebat dengan sesuatu yang sebetulnya bukan parameter kehebatan. "Aku lebih darinya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api sedangkan Engkau ciptakan dia dari tanah," ujar iblis saat Allah berttanya tentang alasannya tidak mau sujud kepada Adam.  Hal yang juga sering muncul adalah klaim kebenaran mutlak untuk diri dan kelompok sendiri serta kesalahan mutlak untuk orang lain. Sering kali dalam bentuk pengkavlingan negeri akhirat. Yang mengikutinya "ditempatkan" di sorga. Dan yang tidak mendukungnya ia "masukkan" ke neraka. Seolah ia telah dititipi kunci surga oleh Allah swt.

 

Bagaikan dua sisi mata uang, bangga dengan diri sendiri selalu bersanding dengan sikap merendahkan orang lain. Jika ini yang berkembang ada dua kemungkinan yang muncul. Pertama, dengki, dan kedua menafikan kenyataan itu sendiri.

 

Dengki maupun sikap menutup mata terhadap kenyataan yang ada pada dasarnya sama: tidak mensyukuri karunia Allah, karena karunia itu bukan turun kepada dirinya. "Katakanlah dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. Yunus: 58)

 

Rupanya saya percuma nulis panjang, karena kalian akan menafikan kenyataan yang ada dan sedang terjadi sekarang. Sebab ketololan kalian akan terus bersemayang sampai kapanpun.

 

SP Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Jakarta, Indonesia

----------

 

Date: Mon, 6 Mar 2006 14:02:59 +0700 (ICT)

From: SP Saprudin im_surya_1998@yahoo.co.id

To: husaini daud husaini54daud@yahoo.com , oposisi-list@yahoogroups.com

Cc: SP Saprudin im_surya_1998@yahoo.co.id

Subject: Balasan: TUNGGU SAPRUDIN, JANGAN PERGI DULU !!!

 

Ya Husaini, saya sekarang bicara berdasarkan hati nurani saya. Polemik yang berkepanjangan masalah Acheh yang ingin memisahkan dari NKRI. Pada prinsipnya saya mendukung sejak dulu apabila para pemimpin Acheh seperti Hasan Tiro itu tidak melarikan diri ke luar negeri lantaran takut sama si Soeharto dan TNI. Seandainya para pemimpin Acheh memperlihatkan perjuangan yang nyata di lapangan seperti halnya Chechnya sampai terjadi perang terbuka agar dunia tahu eksistensi Acheh, maka inilah konsekuensi perjuangan untuk merebut harga diri yang hilang.

 

Hati kecil saya menginginkan agar negara yang bernama Indonesia itu berpijak diatas syariat Islam. Bukan hanya bangsa Acheh saja yang menghendaki diberlakukan syariat Islam, malahan ummat Islam seluruh Indonesia yang mukmin dan muslim menginginkan hal demikian.

 

Tidak bisa dipungkiri, realitas kehidupan masyarakat Indonesia yang nota bene mayoritas beragama Islam, namun dalam kehidupan sehari-hari jauh dari tuntunan Islam. Bisa disaksikan dari media informasi Televisi yang menyajikan sajian-sajian jauh dari norma-norma Islam. Gaya hidup yang matrealistis telah mengikis ummat Islam Indonesia kelembah kehidupan sekuler.

 

Kenyataan ini bukan cuman isapan jempol belaka, namun terjadi ditengah kehidupan masyarakat Islam Indonesia. Apalagi masyarkat Islam Indonesia yang awam terhadap ajaran Islam, makin menenggelamkan kehidupan mereka jauh dari tuntunan Islam. Sebagian masyarakat Islam Indonesia yang di KTP nya beragama Islam, sudah memperlihatkan gaya hidup bebas, seperti kumpul kebo, pornorgraphi, pornoaksi, narkoba, miras, pelacuran (prostitusi), dan dugem serta banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang jauh dari tuntunan Islam. Akibat jauh dari tuntunan ajaran Islam, maka tak heran apabila ditengah kehidupan masyarakat Islam terjadi kasus-kasus yang sangat menggemparkan misalnya terjadi pemerkoasaan hingga terjadi hamil oleh seorang ayah kepada anak kandungnya, anak tegak membunuh orang tuanya, orang tua tega membunuh anaknya, perampokan, pembunuhan, korupsi, kolusi semua itu banyak dilakukan oleh orang-orang yang dalam KTPnya beragama Islam.

 

Inilah potret Ummat Islam Indonesia yang mengakui diri beragama Islam, namun kehidupannya jelas-jelas jauh dari syariat Islam. Disinilah mungkin letak sifat munafik dan fasik itu bersemayam.

 

Melihat potret yang buram tentang realitas kehidupan ummat Islam Indonesia, saya prihatin dan sedih, karena ajaran Islam tidak teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Yang sangat menyedihkan adalah peran Ulama Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa melihat penomena yang demikian. Justru yang berperan di lapangan adalah salah satu organisasi kemasyarakan dan keagamaa, yakni FPI (Fron Pembela Islam), walaupun sepak terjangnya banyak mendapatkan kecaman. Namun itulah jalan yang bisa dilakukan, apabila himbauan yang pernah dipublikasikan oleh FPI berkaitan dengan larangan untuk tidak melakukannya.

 

Kembali kemasalah Aceh, seandainya perjuangan para pemimpin Acheh mencontoh para pemimpin Chechnya dan Moro - Philipna, maka saya akan mesupport. Karena apa, apabila perjuangan Bangsa Acheh dilakukan secara terbuka sampai terjadi perang besar dan hebat demi tegaknya ketauhidan dan sinar Islam di Indonesia, maka dampaknya sangat sangat besar untuk membuka mata ulama dan umaro Indonesia untuk komit terhadap penegakan syariat Islam.

 

Ya saya katakan Indonesia itu negara sekuler, walaupun orang Indonesia tidak mengakui sekulerisme. Saya katakan Indonesia bukan negara agama, namun rakyatnya beragama. Namun untuk lingkup komunitas muslim sebagai penduduk mayoritas pemeluk agama Islam, perlu dipertanyakan.Saya tidak menapikan masalah itu. Tanggung jawab ulama dalam hal ini untuk memberikan warning kepada umara (pemerintah).

 

Ok Husaini, apabila perjuangan anda betul-betul untuk menegakkan syariat Islam di bumi Acheh, maka saya akan mensuport anda semua. Tapi sebaliknya apabila perjuangan anda hanya menambah kemudaratan dan penderitaan bagi rakyat Acheh karena dilatarbelakangi oleh ketidak puasan terhadap pemerintah, dan dendam terhadap TNI, maka perjuangan anda hanyalah dikatagorikan sebagia perjuangan separatis.

 

Terima kasih.

 

SP Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Jakarta, Indonesia

----------