Sandnes, 31 Maret 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


TANGGAPAN UNTUK T.ACHYARSYAH DI IRAN.

Muhammad Al Qubra

Sandnes - NORWEGIA.



SEKILAS MENANGGAPI ATAS TULISAN T.ACHYARSYAH DARI ACHEH STUDENTíS ASSOCIATION DI REPUBLIK ISLAM IRAN.

 

Surat anda T. Achyarsyah dari NADSA (Nanggroe Aceh Darussalam Student's Association) di Rep Islamic Of Iran, yang dikirimkan ke Acehkita.com dibawah topik: prospek masa depan aceh, pada tanggal 29 Maret 2006 telahpun saya baca. Kendatipun surat itu khusus anda tujukan kepada pejabat yang sedang menjalankan tugas di Acheh. Tugas apakah yang sedang mereka jalankan? (Tidak anda jelaskan atau memang tidak tau sama sekali).

 

Kita memang tidak boleh saling salah menyalahkan, tapi yang salah tetap salah dan yang benar tetap benar. Semua itu diperlukan argumentasi yang haq dan itu semua tidak lepas dari ujian Allah untuk melihat siapa yang benar dan siapa yang salah dalam berhujjah. Siapa yang benar hujjahnya disisi Allah di sebut "Hujjatulislam". Nampaknya anda memfokuskan masalah pada "keamanan yang dipasung". Anda harus sadar bahwa persoalan di Acheh bukan persoalan agama, tapi persoalan "Penjajahan". Andaikata penjajahan di Acheh berakhir, barulah persoalan agama itu dapat diluruskan.

 

Semoga anda dapat memahami bahwa inti dari pesan agama Islam murni adalah membebaskan kaum Dhu'afa dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka (Q.S,7:157 & Q.S,90:12-18). Justru itu kalau persoalan penjajahan tidak tuntas, mustahil agama itu dapat berjalan dengan sebenarnya. Pejabat-pejabat yang hipokrit itu senantiasa mempelintir tujuan agama Islam yang sebenarnya melalui Bal'am-bal-amblour alias ulama palsu yang banyak bergentayangan dimana-mana, hampir diseluruh dunia. Merekalah sebetulnya yang paling berbahaya untuk meninabobokkan rakyat jelata agar berdo'a saja kepada Allah supaya jauh dari bala dengan hanya menelungkupkan telapak tangannya, selesailah perkara amar makruf nahi mungkar fersi Bal'amblour. Sementara pejabat-pejabat aman memanipulasi kekayaan negara.

 

Semoga anda sadar bahwa Rasulullah saw tidak pernah bersatupadu dalam system Abu Sofyan. Anda pula harus paham bahwa orang-orang yang bersatupadu dalam system Hindunesia Hipokrit itu lebih buruk dari pada orang-orang yang bersatupadu dalam system Abu Sofyan bin Harb itu. Kenapa ? Sebabnya orang-orang yang bersatupadu dalam system Abu Sofyan itu belum mengenal Islam sehingga masih ada harapan sebahagian dari mereka untuk bertaubat dengan menerima Islam. Sedangkan orang-orang yang bersatupadu dalam system Hindunesia Hipokrit itu memang sudah masuk Islam, namun mereka munafiq. Jadi mustahil bagi orang-orang munafiq itu untuk diajak membangun Acheh agar bermartabat apalagi untuk membangun idiology yang haq. Pejabat-pejabat itu sudah begitu lama berjingkrak-jingkrak dalam "ketiak" majikannya dari Jakarta itu, paling banter mereka bersikap "Bubea dua jab, retnoe toe retdeh rap". Kalau mereka lihat ada harapan buat perkembangan perjuangan Acheh merekapun pura-pura bersuara lantang dan vokal, namun kalau mereka melihat sepertinya tidak ada harapan merekapun diam seribu satu bahasa bagaikan "Bakeh".

 

Memang seringkali kata-kata "membangun" dikumandangkan orang tapi kenyataannya mereka mengambang. Apanya yang dibangun ? Meruntuhkan yang "Bathil" dulu baru kemudian dibangun yang "Haq" sebagaimana firman Allah: "Qulja alhaqqu wazahaqal bathil, innal bathilakanazahu qa". Jelasnya kalau itu RUU-PA tidak sesuai dengan MoU Helsinki yang intinya SELF GOVERNMENT atau Pemerintah Sendiri. Kami bangsa Acheh yang sadar lebih baik perang kembali. Itu pejabat-pejabat di Acheh yang anda ajak membangun Acheh yang damai "dipasung" sedang berusaha untuk mempelintirkan Isi daripada point-point MoU Helsinki dengan Otonomi Istimewa. Mungkin mereka akan menamakannya nanti Sebagai "Raja Otonomi" buat Acheh untuk memperdayakan orang-orang Acheh yang "paneuk antine". Sementara Jakarta sedang bersandiwara (pura-pura) menolaknya. Padahal itu semua untuk menjebak "Tokoh-tokoh Acheh Serataus" agar masuk perangkap "Rajanya Otonomi" tadi.

 

Akan berhasilkah sandiwara itu ? Semoga Allah melindung pejuang-pejuang Acheh sejati agar senantiasa ingat akan peristiwa Lamteh dulu sehingga Acheh tidak terpuruk kedalam lobang yang sama. Anda sendiri nampaknya kosong dari Idiology yang haq, bagaimana mungkin hendak membangun ideologi terhadap orang Acheh. Buktinya anda sudah keluar negeri tapi masih saja mengunakan istilah "NADSA" terhadap komunitas anda di Republik Islam Iran. Nampak jelas anda masuk perangkap penjajah itu sendiri. Tidakkah anda tau bahwa penjajah Hindunesia Hipokrit itu menciptakan istilah tersebut (NAD) untuk mengelabui orang-orang Acheh yang "paneuk antine". Disebabkan mereka menginginkan Acheh sebagai sebuah negara, maka di labellah Acheh dengan "Nanggroe Aceh Darussalam". Hal ini tekhnik penipuan yang sama mereka lakukan sebagaimana dedongkot mereka Soekarno, si penipu licik melabelkan Acheh jaman Tgk M Daud Beureu-eh dengan Daerah Istimewa Acheh, padahal itu hanya Pepesan kosong. Sebaiknya anda memberitahukan kami siapa yang mengirim anda ke Republik Islam Iran itu. Apakah kalian dikirim oleh pejabat yang sedang bersandiwara di Acheh sekarang ? Kalau jawaban kalian "Ya", akan muncul pertanyaan yang lain: Idiology apakah yang kalian geluti, sehingga kalian menawarkan untuk dibangun di Acheh - Sumatra ?

 

O, YA. Saya hampirlupa tentang masalah perang. Anda T. Achyarsyah harus sadar bahwa manusia itu bukan saja diperlukan untuk berhujjah untuk mencari kebenaran, tapi juga berperang satu sama lainnya sebagaimana yang diaplikasikan GAM di Acheh. Kalau kita meyakini bahwa Al Qur-an itu sebagai pedoman Hidup, mari kita lihat apa kata Allah didalam Al Qur-an mengenai perang: "Diwajibkan atas kamu berperang, sedangkan berperang itu adalah suatu yang kamu benci. dan boleh jadi kamu membenci akan sesuatu , padahal ia lebih baik bagimu. dan boleh jadi kamu menyenangi sesuatu, padahal ia adalah mudharat bagi kamu. dan Allah mengetahui, tetapi kamu tidak mengetahui". (Q.S, 2: 216).

 

Selanjutnya mari kita simak lagi apa kata Allah berikut ini: ......Seandainya Allah menghendaki tidaklah mereka saling berperang, akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki Nya" (Q.S, 2: 153). Hal itu diperjelaskan lagi ketika para Malaikat menayakan kepada Allah untuk apa dijadikan (Adam) wakil Nya kalau memang natinya akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah di Bumi. Allah menjawab bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui para Malaikat. Ketika para Malaikat bernegosiasi dengan Wakil Tuhan (Adam) ternyata Adam lebih unggul daripada Malaikat . Hebatnya Malaikat mengakui langsung atas keunggulan Adam (Manusia wakil Tuhan). Hal itu dibuktikan dengan sujutnya semua Malaikat kepada Adam. Ketika kita saksikan bahwa dunia ini tidak pernah sunyi daripada peperangan Mualai dari Qbil - Habil samapi sekarang ini hampir seluruh dunia, kita dapat memahami benarnya apa yang dikhawatirkan para Malaikat itu, tinggallagi para Malaikat tidak memahami "Hikmahnya" ketika itu. Hikmahnya adalah Ujian Allah buat manusia, siapa yang berperang karena Allah dan siapa yang berperang karena Thaghut (selain karena Allah). Bangsa Acheh berperang karena Allah sedangkan Sipa-i berperang karena Thaghut (karena kedudukan, gaji, egois dan sebagainya)

 

Demikianlah penjelasan ini semoga bangsa Acheh senantiasa mendapat redha Allah dan petunjuknya, aamin ya Rabbal 'alamin.

 

Billahi fi sabililhaq

 

Muhammad Al Qubra

 

acheh_karbala@yahoo.no

Sandnes, Norwegia

----------

 

Topik: prospek masa depan aceh (Surat Anda di Acehkita.com)

29 Maret 2006 dari T.achyarsyah

 

Salam 'alaikum.

 

Surat ini saya tujukan kepada masyarakat aceh umumnya, khususnya kepada kalangan pejabat yang sedang menjalani tugas di aceh. Alhamdulillah kita sekarang sedang menuju kepada aceh yang damai, aceh yang dulu selalu kita idam-idamkan.bukan saatnya lagi sekarang kita untuk saling menyalahkan satu dan yang lain. Kita semua harus menyadari bahwa semua yang telah terjadi hendaknya kita jadikan sebuah pelajaran untuk yang akan datang, jangan selalu beradu polemik di antara kita. Sekarang saatnya untuk bangkit dan saling bahu membahu untuk membangun tanah air kita aceh.

 

Memang ditempat kita sedang dilanda tsunami budaya, dimana manusia sekarang tidak mengenal budayanya sendiri, dekadensi moral, krisis kepercayaan, khususnya di kalangan pejabat aceh sendiri, prostitusi, penyelewengan dana sosial, itu semua disebabkan dangkal dan keringnya ilmu dan iman.sebagian dari kita sibuk untuk mengumpulin harta tanpa sedikitpun menilik kepada yang lain.

 

Di sini sedikit harus ada sebuah perenungan jiwa dan hati.karena kebahagiaan dan kesenangan dunia hanya bersifat semu lalu menghilang dan sirna.kebahagiaan yang mutlak hanya di akherat, dimana tempat dan akhir dari perjalanan hidup manusia. Kami dari NADSA (Nanggroe aceh darussalam student's association) di Rep Islamic Of Iran, sangat dan sangat kecewa atas kebijakan2 Pemerintah dalam menangani kasus-kasus yang terjadi di aceh , begitu juga para ulama yang di aceh seakan2 semua menutup mata.Dan saya pribadi melihat tidak satupun manusia yang bisa dijadikan seoran figur untuk bisa di ikuti.

 

Nah, fenomena seperti ini yang sangat kita sayangkan.Dimana serambi mekah yang kita idam2kan? dimana agama kita yang bisa kita jadikan contoh bagi daerah2 lain? ini sebuah pertanyaan besar bagi kita. Hendaknya kita selalu dan selalu mulai saat ini untuk lebih bisa menjaga diri dan intropeksi diri, demi mencapai aceh yang makmur dan gemilang. Yang terpenting adalah mari sama2 kita membangun ideologi kita , aqidah dan iman. Karena tanpa landasan ini mustahil manusia bisa menuju ke kesempurnaan penciptaan nya dan dapat menata kehidupannya. Kami dari NADSA yang berada di Iran saat ini siap membantu sepenuhnya dalam memajukan intelektualitas masyarakat kita lewat pendidikan.

 

Kami berharap bagi pihak-pihak yang membaca surat kami ini, bila ada yang kurang berkenan mohon di konfirmasi kembali. Dan kami berharap kepada semua elemen masyarakat.untuk kedepan , mari sama-sama kita membangun aceh yang bermartabat, berprinsip,dan agamis. Mohon dari pihak redaksi agar surat kami bisa disampaikan ke masyarakat dan kami siap menjalin hubungan apa saja dengan pihak redaksi acehkita.trima kasih.

 

Wassalam

 

saya yang mewakili teman-teman.

T.achyarsyah

 

Qom. Islamic Rep.of Iran

28-march-2006

----------