Stavanger, 22 April 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


GAYA DAN LANGKAH MODEL AMR BIN ASH DITIRU PETINGGI RI.

Ali Al Asytar

Stavanger - NORWEGIA.



MENYOROT GAYA DAN LANGKAH MODEL AMR BIN ASH YANG DITIRU OLEH PARA PETINGGI REPUBLIK INDONESIA (RI).

 

Komentar untuk saudara Ismail Asso.

 

"...Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri... " (Q.S, 13:11). Sadaqallahul 'adhim = bernarlah Allah (atas segala firmanNya)

 

Itu bermakna Allah tidak akan memerdekakan Acheh - Sumatra kecuali bangsa Acheh - Sumatra itu sendiri yang akan memerdekakannya, Allah tidak akan memerdekakan bangsa West Papua kecuali bangsa West Papua itu sendiri yang akan memerdekakannya, Allah tidak akan memerdekakan Ambon kecuali bangsa Ambon itu sendiri yang akan memerdekakan nya.

 

Ayat diatas adalah ayat muhkamat (Qat'i), bukan ayat mutasyabihat yang sukar dipahami kecuali "Ulul albab" (Para Imam). Ayat tersebut sangat jelas maksudnya. Allah tidak akan merobah (nasib) suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang akan merobah nya.

 

Persoalannya maukah bangsa Acheh, West Papua dan Ambon memerdekakannya. Kalau jawabannya Ya. Silakan berjuang. Bagaimana caranya ?

 

Lihatlah contoh orang-orang sebelum kita bagaimana mereka berjuang. Bagaimana Ibrahim berjuang melawan Namrud, Musa dan Harun melawan Fir'aun yang perkasa, I'sa bin Maryam melawan Kaisar-kaisar diroma, Muhammad melawan Abu Sofyan. 'Ali bin Abi Thalib melawan Mu'awiyah bin Abi Sofyan, Hussein bin Ali melawan Yazid bin Mu'awiyah, Khomaini melawan Syah Redha Palevi, Xanana Ghusmau Timor larose melawan Suharto - Habibi.

 

Kalau Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Muhammad saw berhasil di dunia dan Akhirat, namun Nabi 'Isa bin Maryam dan Hussein hanya menang di Akhirat saja. Di Dunia ini mereka dikalahkan. 'Ali bin Abi Thalib sebetulnya tak terkalahkan, namun karena politik keji yang dimainkan Amr bin Ash untuk menipu pengikut Imam 'Ali yang kebanyakan terdiri dari orang-orang yang baru masuk Islam, akhirnya terkalahkan. Amr bin Ash menggunakan Lembaran Al Qur-an untuk menipu orang-orang yang belum berpengalaman dalam perjuangan.

 

Nah, model Amr bin Ash inilah yang harus diwaspadai oleh bangsa manapun sekarang ini dalam perjuangannya. Dia menjadi simbolisasi sebagai orang-orang yang menjual ayat-ayat Allah atau menggunakan agama untuk mencapai tujuannya yang bathil dan dhalim. Kalau kita tidak dapat mengenal tipe manusia seperti Amr bin Ash itu, yakinlah kita akan gagal dalam perjuangan. Sekali lagi telitilah makhluk seperti itu yang bersatupadu dalam system pejajahan didepan anda hari ini agar kita tidak terkecoh sebagaimana yang dialami sebahagian besar pengikut Imam 'Ali dahulu.

 

Benar sekali apa yang dikatakan saudara Ismail Asso dari West Papua itu: "Jangan saudara-saudara banyak berharap lagi pada pemeluk agama, tapi percayalah pada agama, kalau mau, tapi kalau bisa sesungguhnya peran agama adalah hanya, -sekali lagi hanya, hiburan atas kekalahan."

 

Amru bin Ask itu mengaku beragama Islam, tapi Islamnya tidak sama dengan Islam Imam 'Ali bin Abi Thalib. Sukarno, Suharto, Habibi, Gusdur, Megawati dan Yudhoyono juga mengaku beragama Islam. Tapi Islamnya tidak sama dengan Islam Tgk Hasan Muhammad Ditiro dan Ustaz Ahmad Sudirman.

 

Semua pejabat Indonesia itu sesungguhnya bukan orang Islam benaran tapi palsu. Mereka adalah bangsa Munafiq/Hipokrit modern. Mereka tidak menggunakan Al Qur-an sebagai pedoman Hidup. Mereka menggunakan Al Qur-an sebagai bacaan untuk orang mati agar memperoleh pahala, sebagai Hiasan dinding dengan kaligrafinya, memusabaqahkan sebagaimana layaknya perlombaan olimpiade.

 

"Betapa banyak pembaca Al Qur-an sementara Al Qur-an itu sendiri melaknat nya." (Hadist). Kitab Allah bersifat diam dan membawa berbagai kemungkinan tafsiran. Di dalamnya ada yang mutasyabihat dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya mesti merujuk kepada orang-orang yang rusukh-ikut istilah AlQuran-atau yang sangat dalam ilmunya, dan ikut bimbingan Ahlul Bait Nabi seperti yang ada di dalam hadis-hadis Nabi SAW.

 

Perhatikanlah misalnya didalam Al Qur-an dipesankan Allah agar tidak membunuh biarpun seorang manusia kecuali untuk membela diri. Membunuh seorang manusia sama dengan membunuh manusia seluruhnya dan pembunuh itu kekal didalam neraka. Namun demi untuk melanggingkan kekuasaan majikannya, mereka membunuh hatta anak kecil sekalipun sebagaimana kita saksikan di West Papua, Ambon dan Acheh- Sumatra. Demikian juga Allah melarang mencuri, berzina,merampok menganianya dan lain-lain sebagainya, namun mereka malah menggunakan agama made in Bal'amblour untuk membenarkan pembantaian, pembunuhan, penganianyaan, perampokan, pemerkosaan dan bermacam bentuk kedhaliman lainnya.

 

Amir Sembiring, Albert Dien, Sudomo dan LB Murdani mengaku beragama Kristiani namun agama mereka tidak sama dengan agama Kristiani orang-orang West Papua. ( baca: Amir Sembirng telah banyak membantai masyarakat Pulau Biak dalam tahun 1999, Albert Dien di Wamena 1977, Sudomo yang datang ke Papua merebutnya tahun 1962, dan LB Murdani yang datang berperang dengan Belanda untuk merebut Papua)

 

Kita dapat menganalisa apa yang dikatakan saudara Ismail Asso bahwa apapun agamanya kalau orang tsb terlibat dalam pembunuhan manusia , sesungguh nya agama mereka itu adalah palsu alias Hipokrit. Itulah pengertian daripada "Jangan berharap lagi pada pemeluk agamanya tapi percayalah pada agama". Disini mungkin timbul pertanyaan apakah manfa'atnya kita percaya pada agama ?

 

Berhubung saya penganut Islam, maka saya akan menjawabnya menurut ilmu yang saya milikinya. Di Islam dikatakan Allah dan RasulNya bahwa ada dua tempat untuk menikmati kebahagiaan yaitu kebaha giaan Dunia dan kebahagiaan Akhirat. Kebahagiaan di Dunia hanya bersifat sementara (kalau rata-rata manusia sekarang berumur 80 tahun. Potong masa belum tau apa-apa dan masa tua bangka tinggal kira-kira 60 tahun) lalu mati masuk kubur mendapat azab kubur bagi pembunuh, penzina, penjajah dan seba gainya. Setelah itu dibangkit dari kubur menuju pe meriksaan atau sidang Yaumil Mahsyar, barulah se telah itu orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah sa'at di Dunia memperoleh kebahagiaan yang kekal selama-lamanya di dalam Syurga dengan fasilitas yang gemerlap tanpa bandingan dengan nikmat di dunia.

 

Justru itulah makanya sebahagian manusia meninggalkan gemerlapnya dunia ini untuk bersatu dengan orang-orang yang se ide demi membebaskan kaum Dhu'afa/rakyat yang tidak berdaya dari (jeratan labalaba) beban yang menimpa kuduk-kuduk mereka (Q.S,7:157 & Q.S,90:12-18). Ketika pejuang - pejuang sejati menyaksikan banyaknya korban yang berjatuhan, mereka terhibur (pakai istilah saudara Ismail Asso). Maksud terhibur disini meyakini bahwa itu bukanlah suatu kerugian, namun merupakan pengorbanan dari orang-orang yang berjuang di jalan Allah yang harganya adalah kebahagiaan di akhirat. Lihatlah di Acheh, kalau memang ajalnya sudah tiba tidak berperangpun akan mati juga melalui musibah tsunami. Hal ini perlu sekali kita camkan mengingat masih banyak orang yang salah paham sehingga menyalahkan GAM atas kematian banyak orang di Acheh - Sumatra.

 

Dalam urusan tersebut diatas sudah barang pasti memiliki resiko yang paling besar seperti: Dianianya, dibunuh, diperkosa bagi yang perempuan, Kehilangan mata pencaharian untuk keluarga dan boleh jadi kehilangan keluarga itu sendiri disebabkan tidak seide dengan kita untuk berjuang (keluarga negativ) atau keluarga dibantai pihak musuh (keluarga positiv, menderita didunia bahagia diakhirat)

 

Allah SWT juga berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: 'Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan kehidupan di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At Taubah: 38, 39)

 

Jadi kesimpulannya justru dengan kepercayaan pada agama yang sesungguhnyalah kita berani berjuang betapapun resikonya sebagaimana yang dialami Imam Hussein bin 'Ali bersama seluruh keluarga dan sahabat setianya di Karbala, mengorbankan kesenangan dunia demi mendapat redha Allah di akhirat kelak. Mereka mengorbankan nyawa darah dan airmata.

 

Billahi fi sabililhaq

 

Ali al Asytar

 

Alasytar_acheh@yahoo.com

Stavanger, Norwegia

----------

 

Ismail Asso

assolipele@yahoo.com

wrote:

 

Mohon Maaf, jika saya ingin berkomentar atas masalah ini, walaupun sebelumnya saya "DI KENAL DI KALI SEBELAH",  namun berkomentar dalam soal ini adalah tugas pembebasan atas nama Papua, tidak untuk tujuan lain.

 

PERAN AGAMA BAGI KEBEBASAN DAN KEBENARAN

 

Jangan saudara-saudara banyak berharap lagi pada pemeluk agama, tapi percayalah pada agama, kalau mau,  tapi kalau bisa sesungguhnya peran agama adalah hanya, -sekali lagi hanya, hiburan atas kekalahan. Hiburan itu yang karena ketidakmampuan kita,  kita katakan sebagai ada "tangan-tangan tak kelihatan akan menolong",  itulah isi sesungguhnya pesan agama yang kita alami.

 

Bagi yang percaya akan adanya kebenaran  peran agama untuk kemerdekaan Papua silahkan, tapi ingat saya katakan jasa langsung dari Tuhan atau peranan manusia atas nama seagama itu tidak ada sama sekali, sungguh itu utopia psikologi dan terapi bagi orang kalah.

 

Bagi kita agama hanya sebagai spirit bagi kemantapan mental dalam berjuang kalau bukan hanya sekedar hiburan. Alloh sekalipun tidak perduli akan nasib orang Papua. Semua hanya perasaan pemeluk agama belaka, atas ketidak berdayaan dan karena kalah.

 

Semua manusia mengatakan Tuhan akan menolong tapi kenyataannya sesungguhnya tidak pernah terbukti, namun semua keberhasilan atas jerih-payah itu oleh manusia sendiri tanpa bekerja secara fisik bersama apa yang dinamakan Tuhan kecuali hasil akhir kerja manusia sebagai karunia Tuhan atau berkat Tuhan.

 

Padahal manusia hanya ada rasa solidaritas, namun dalam konteks yang dibicarakan kawan-kawan Papua diatas adalah adanya suatu harapan yang karena rasa solidaritas itu muncul dari bibir yang jujur karena percaya pada satu Tuhan, Yakni Yesus Kristus, namun kenyataannya telah banyak terbukti bahwa semua itu adalah jauh dari harapan itu, malah sebaliknya bertolak belakang dari yang kita harapkan sebelum ini.

 

Banyak pejabat baik milter maupun non militer seagama dengan kita, namun kelakuan tidak sesuai harapan sebagimana harapan kita karena satu iman dan agama, malah karena satu iman ia yang kita percayai berbuat baik pada kita itu, berbuat baik untuk demi jabatan, demi uang, dan demi nasionalismenya NKRI, bukan atas nama Yesus Kristus yang membawa pesan kedamaian untuk umat manusia.

 

Semua pejabat mengatasnamakan Agama kita berharap dapat berpihak kepada kita, justeru kebalikannya terbukti Amir Sembirng telah banyak membantai masyarakat Pulau Biak dalam tahun 1999, Albert Dien di Wamena 1977, Sudomo yang datang ke Papua merebutnya tahun 1862, dan LB Murdani yang datang berperang dengan Belanda untuk merebut Papua, dan banyak kasus lain lagi yang melibatkan para pejabat Indonesia beragama dengan agama kita umumnya orang Papua yakni beragama Kristiani lakukan itu.

 

Kita sekarang Orang Papua jangan percaya pada mereka yang membunuh, merampok, mencuri, dan menindas hak-hak atas tanah air kita atas nama Yesus ata apapun, sebab mereka semua omong kosong belaka. Mereka-mereka para Amber ini  yang seagama dengan Agama kita Orang Papua telah memainkan kekuasaan atas nama Tuhan demi kepentingan urusan perut dan iblis NKRI, sekali lagi Tuhan  Mereka Bukan Tuhan Yesus Kristus lagi namun Tuhan mereka Tuhan Nasionalisme NKR, Jabatan / naik pangkat dan Uang.

 

MANUSIA BERBEDA DENGAN TUHAN DAN AGAMA

 

Kesimpulannya kita kecewa, karena manusia yang seagama dengan kita yang sebelumnya yang kita harapkan dapat menolong malah sebaliknya membunuh kita. Adalah suatu kesimpulan cara berfikir kita yang sudah salah sebelumnya, karena sesungguhnya agama tidaklah sama dengan manusia yang menganut agama, manusia berbeda dengan agama. Demikian sama halnya dengan Tuhan, sebab Tuhan juga sangat lain, Tuhan sesungguhnya adalah damai, kebenaran, keadilan kebebasan, karena itu Tuhan kita adalah Tuhan Papua, titik. Karena itu kebenaran kesimpulan kebenaran logika demikian adalah bahwa yang akan membebaskan manusia Papua adalah oleh Papua sendiri, bukan siapa-siapa. Terimakasih atas perhatiannya. Nayak-Lauk, Howuk Apiasugun.(bersambung!)

----------