Sandnes, 28 April 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PANSUS RUU PA DPR RI COBA MENGKUTAK-KATIK WALI NANGGROE.

Muhammad Al Qubra

Sandnes - NORWEGIA.



PANITIA KHUSUS RUU PA DPR RI SEDANG MENUNJUKKAN LAKON KETOPRAK BETAWINYA SAMBIL MENGKUTAK-KATIK WALI NANGGROE ACHEH.

 

Tanggapan atas tulisan saudara Fadlon Tripa di Eindhoven, Noord-Brabant, Netherlands.

 

Melihat judulnya saja apa yang ditulis saudara Fadlon Tripa sudah jelas. Yang namanya sandiwara seringkali berdebat dengan penuh kepura-puraan. Mereka pura-pura berbeda pendapat yang jelas mereka punya target tersendiri terhadap gagasan mereka masing-masing. Ingatlah saudaraku bahwa orang - orang yang benar-benar beriman, memahami persis untuk apa sesungguhnya kita hidup di Dunia ini.  Sebaliknya orang-orang yang mencari kebahagiaan diatas penderitaan kaum dhu'afa, senantiasa melihat segala persoalan menurut pikiran dhaif mereka sendiri.

 

Namun demikian saya kira ada juga manfa'atnya untuk kita berikan sedikit masukan buat orang-orang yang mau berfikir tentang keberadaan  "lembaga" Wali Nanggroe Acheh - Sumatra.

 

Setau saya bahwa wali nanggroe itu berasal dari petunjuk Allah sendiri sebagaimana firman Nya: "Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atlah kepada  Rasul Nya dan ulul amri mingkum (wali dari kalangan kamu sendiri). Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur-an) dan RasulNya (ahlulbaytnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi mu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa', 4: 59)

 

Jadi "Wali Nanggroe" Tgk DR Hasan Muhammad di Tiro bukanlah "pemilik" nanggroe Acheh sebagaimana anggapan sebahagian orang. Wali disini adalah "Pemimpin". Wali itu berasal dari bahasa 'Arab, yaitu "wala" sebagaimana sering disebutkan Allah sendiri didalam Al-Qur-anul Karim sebagai Pedoman Hidup bagi orang-orang yang beriman. Hal ini sudah jelas tidak akan diakui oleh orang-orang yang hipokrit. Dalam ayat 59 surah Annisa' itu, Allah menyebutnya dengan "Ulil Amri mingkum".

 

Bagi orang-orang Acheh yang sadar, meyakini betul bahwa pemimpin mereka itu adalah Tgk Hasan Muhammad di Tiro serta siapapun yang ditunjuk beliau untuk mewakilinya. Djadi bagi orang orang yang hidup bersenang-senang diatas penderitaan rakyat Acheh sebelum dan sesudah Wali negara Tgk Hasan Muhammad di Tiro menyadari rakyat Acheh sebagai suatu bangsa, sudah barang pasti tidak akan mengakui keberadaan "Wali Nanggroe Acheh" itu. Mereka sesungguhnya sudah tertutup mata hati disebabkan memilih hidup senang diatas penderitaan kaum dhu'afa.

 

Kehidupan di dunia menghadapkan manusia pada dua jalan. Jalan yang mendaki lagi sukar dan jalan yang mulus lagi menyenangkan (QS,90:10). Jalan yang mendaki lagi sukar adalah jalan yang membebaskan kaum dhuafa dari belenggu penindasan dan penjajahan, yang menimpa kuduk-kuduk mereka, membebaskan manusia dari system perbudakan baik perbudakan ortodok mahupun perbudakan modern (QS,7:157 & QS,90:12-18). Untuk menempuh jalan ini tidak boleh tidak dituntut untuk mendirikan system Allah. Untuk mendirikan system Allah membutuhkan kemantapan power dan Ideology sebab pasti akan berhadapan dengan kekuatan system Thaghut, jelasnya pasti akan berhadapan dengan medan tempur. Justru itulah para Rasul dilengkapi dengan Ideologi, Mizan dan Power (QS Al-Hadid :25).

 

Bersedianya GAM berunding dengan Hindonesia, membuktikan bahwa Islam yang dipahami bangsa Acheh dibawah bimbingan Wali Nanggroe bukanlah bangsa yang "suka berperang" sebagaimana sangkaan penulis-penulis yang pragmatis dan sekularis. Tinggal lagi yang perlu kita pertanyakan sejauh mana tanggung jawap pihak "Penengah" untuk menekan kedua belah pihak agar tidak bersikap hipokrit/munafiq agar tunduk patuh pada "Perjanjian" yang telah mereka ikrarkan dan tandatangani  pada lembaran MoU Helsinki, Findlandia.

 

Perlu kita tegaskan bahwa Semua penguasa Hindunesia itu mulai dari Soekarno, Suharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati tidak dapat dima'afkan oleh bangsa Acheh - Sumatra kecuali Yudhoyono dan Yusuf Kalla yang masih memiliki kemungkinan. Mari kita saksikan sampai dimana komitment Yudhoyono dan Kalla itu mulai sekarang dan di masa - masa yang akan datang.

 

Kembali kepersoalan pokok yaitu Wali Nanggroe yang menjadi sorotan pihak yang tidak belum memahaminya.  Wali/Pemimpin yang langsung diperkenalkan Allah kepada manusia itu disebut Rasul atau Nabi (dari Adam hingga Muhammad). Setelah nabi terakhir, Muhammad saww berpulang kerahmatullah, beliau menunjukkan penggantinya. Setelah penggantinya juga kembali kehadhirat Allah maka muncullah wakil dari pengganti tersebut dimana mana diseluruh dunia.  Tugas mereka adalah untuk membebaskan kaum dhu'afa dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka (Q.S, 90: 10)

 

Patut kita pertanyakan disini: Adakah orang lain di Acheh yang telah menyelamatkan bangsa Acheh dari penipuan Hindunesia selain Tgk Hasan Muhammad di Tiro? Adakah orang lain yang telah menyadari kaum dhu'afa Acheh agar tidak terpuruk dalam "ketiak" orang-orang Hindunesia selain dari Tgk di Tiro ?   Pertanyaan ini khususnya kita alamatkan kepada orang-orang yang memilih hidup senang ketika kaum dhu'afa merintih di gubuk-gubuk reot. Mereka sedang bersandiwara di Senayan Jakarta sekarang ini.

 

Lalu kita tanyakan lagi: Siapakah yang mereka sebutkan "ulama" ? Apakah orang-orang 'alim palsu yang berjingkrak-jingkrak dibawah ketiak penguasa dhalim itu yang disebut Ulama ?. Mereka senang makan gaji dan bersatupadu dalam system dhalim dan hipokrit itu saat kaum dhu'afa merintih di tempat-tempat kumuh.  Atau barangkali orang-orang yang "peusidjuek" penguasa dhalim ketika  datang ke tanah rencong yang disebut Ulama ?  Adakah orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya disisi Allah di Acheh selain Tgk Hasan Muhammad di Tiro, mengingat posisinya sebagai "bahtera" penyelamat?  Bagaimanakah basyar-basyar itu mengambil kesimpulan ?   Apakah mereka mengira bahwa ulama itu ditandai dengan pakai sorban atau peci Hitam seperti DR Muslem dan Muhammad Yoes cs ? Ataukah orang-orang yang senantiasa melilitkan kain khusus di leher atau dibahu, yang semestinya mereka melilitkan di pinggangnya untuk melawan kaum dhalim.

 

Basyar-basyar dari Acheh itu senantiasa melihat contoh sebagaimana yang terjadi dalam system  Hindunesia Dhalim dan Hipokrit itu. Disana banyak orang yang mengaku diri sebagai ulama mendapat keyakinan dari orang ramai bahwa merekalah sebagai ulama. Sesungguhnya yang namanya ulama pantang tunduk patuh kepada penguasa dhalim, apa lagi bersatupadu. Yang tunduk patuh kepada penguasa yang dhalim adalah "Bal-am" namanya. Bal'am adalah ulama palsu atau ulama suek. Merekalah yang meninabobokkan rakyat jelata agar tidak melawan penguasa dhalim dengan mengemukakan hadist palsu, mengambil alternatif yang aman untuk berdo'a saja kepada Allah dengan menelungkupkan telapak tangannya sebagai "do'a tolak bala".

 

'Ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu "Primer" (baca Qur-an, Hadist saheh, sejarah dan Idiologi) serta memahami juga ilmu Seconder (baca Saint dan Tekhnology), mantap dan Teguh Iman. Memang banyak type orang-orang yang 'alim  di dalam system Hindunesia itu, tapi mereka tidak memiliki dimensi yang paling menentukan  yaitu "Teguh Iman". Mereka terpuruk dibawah penguasa dhalim.

 

Kalau anda tidak mengaku Tgk Hasan Muhammad di Tiro sebagai 'Ulama, yakinlah bahwa tidak ada orang  lain di Acheh sekarang ini yang beriman, memahami Islam dan beramal seperti Tgk Hasan Muhammad di Tiro. Justru itu tolong tunjukkan saya, siapakah orang lain di Acheh sekarang ini yang dikatakan Ulama.  Kalaupun ada musti dengan syarat bahwa orang tersebut bersatupadu dibawah kepemimpinan Tgk Hasan di Tiro. Kita jangan terkecoh dengan anggapan orang awam bahwa ulama itu guru pesantren yang kerjanya hanya mengajarkan manusia tentang halal haram tapi tidak peduli atas nasip kaum dhu'afa. Ironisnya adalagi orang yang beranggapan bahwa ulama itu orang yang dapat membaca do'a dalam setiap pertemuan, lebih-lebih do'a tolak bala. Kalau ada "lembaga" Ulama di Acheh itu merupakan basa basi saja sebagaimana kita panggil teungku kepada setiap orang Acheh yang tidak kita kenal. Itu adalah menurut pepatah bukan menurut Al Qur-an dan Hadist Saheh. Pepatah tersebut berbunyi: "Atjeh Teungku, Meulayu Abang. Tjeuna Toke, Kafe Tuan"

 

Contoh lainnya sebagai basa-basi dapat kita baca di surat-surat kabar ketika wartawan menulis: "Negara-negara Islam akan mengadakan Meeting di Malaysia, yaitu Saudi Arabia, Mesir, Irak, Iran, Malaysia, Indonesia dan Brunai Darussalam". Kalau kita kritisi berdasarkan Al Qur-an tidak satupun diantara negara-.negara tersebut yang termasuk negara Islam kecuali Republik Islam Iran.

 

Terakhir sekali saya hendak mengatakan bahwa model Self Government/Pemerintah Sendiri/Pemerintah Acheh memiliki lembaga tertinggi yaitu Wali Nanggroe. Posisi tersebut ditempatkan oleh Tgk Hasan Muhammad di Tiro. Dibawahnya ditempatkan oleh Para Ulama yang memahami Dunia Akhirat lebih kurang 12 orang kemudian baru dibawahnya lagi ditempatkan DPR/MPR yang membuat undang-undang. Setelah UU di buat DPR/MPR lalu diserahkan kepada Para 'Ulama yang berkedudukan dibawah Wali naggroe untuk ditanda tangani setelah diteliti dengan benar bahwa UU tsb tidak bertentangan dengan Al Qur-an dan Hadist saheh. Selanjutnya baru diserahkan kepada Gubernur untuk dijalankan dengan penuh tanggung jawab kepada Allah dan rasulnya.

 

Dengan demikian system tersebut di jalankan oleh Gubernur ataupun nama lain yang sesuai kondisi Acheh, tapi pemegang system itu adalah para 'Ulama warasatul Ambiya itu sendiri.

 

Billahi fiu sabililhaq

 

Muhammad Al Qubra

 

acheh_karbala@yahoo.no

Sandnes, Norwegia.

----------

 

From: Fadlon Tripa fadlontripa@yahoo.com

Date: 27 april 2006 21:28:00

To: IACSF@yahoogroups.com, acsa group <acsa@yahoogroups.com>, meukra@yahoogroups.com, wafo@yahoogroups.com

CC: kautsar_atjeh@yahoo.com, nasirjamil240@yahoo.com

Subject: [AcsA] Re: [IACSF] "Abu Lahab" minta hapuskan Wali Nanggroe wa ka ka ka

 

Sandiwara Senayan dengan RUU PA

oleh. Fadlontripa

 

Tidak lucu lagi namanya saja Sandiwara Senayan jawakarta,kebetulan yang ikut berlakon bandit-bandit Acheh yang bertuhan NKRI. Bagi bandit-bandit Acheh dan jawa NKRI selalu mencoba mengaburkan akar masalah yang timbul di Acheh dan berupaya membohongi bangsa Acheh supaya tuntutan hak bangsa Acheh yang sebenarnya hilang dan terbuai dengan dagelan ketuprak jawa, kalaupun para bandit-bandit Acheh yang telah bertuhan dengan NKRI berlagak tuan di Acheh ini sangat masih lemah karena bangsa Acheh masih cukup sadar dengan pola dan tingkah para antek-antek penjajah Indonesia di Acheh.

 

Kita lihat saja  sampai kapan para bandit-bandit dan antek-antek penjajah Indonesia leluasa di Acheh, bagaimanapun perjuangan bangsa Acheh tetap suci dan benar membela harkat dan martabatnya, tanah leluhur endatunya serta bangsa dan Negaranya plus budayanya agar jangan sampai dijamah dan dizalimi oleh bandit-bandit dan anterk-antek penjajah Indonesia yang bertuhan Panca sila NKRI.

 

Mereka bisa dan dapat membunuh jasad bangsa Acheh tapi mereka belum dapat menaklukkan semangat dan hati nurani bangsa Acheh sekalipun dengan berbagai propagandanya ini terbukti disetiap para petinggi Negara International yang datang ke Jakarta, mereka para bandit Indonesia beserta antek-anteknya selalu mengeluh dan mengemis meminta bantuan dan sokongan agar yang namanya NKRI tetap utuh dari Sabang sampai Meraoke.

 

Ini menandakan bahwa Indonesia yang berlandas NKRI masih belum final dan masih sangat rapuh walaupun sudah 61 tahun berdiri kenapa karena pembentukan NKRI tidak ada persetujuan dari bangsa-bangsa asli diluar pulau jawa. Kita masih ingat baru-baru ini ketika PM. Belanda Pieter Balkenende, Menlu USA C.Rice, PM. Inggris Tony Blair dll datang ke Indonesia para bandit dan antek-antek penjajah Indonesia tidak siap dan selalu kehilangan muka jika berhadapan dengan para petinggi Dunia karena para bandit-bandit Indonesia merasa bersalah dan Duniapun tahu yang namanya Indonesia kesannya sangat Negatif, Negara korupsi, Negara paling kacau di dunia,negara amboradul, negara berbasis Teroris, negara pelanggar HAM dll.

 

Jangan heran banyak TKW Indonesia tidak mengaku warga negara Indonesia kenapa karena malu, dimata International Indonesia tak lebih satu wilayah yang harus diamankan agar para radikal Muslim,radikal Teroris dan TNI yang bertanngan besi dan berkuasa sesuka hatinya perlu diberi pelajaran, ini telah dibuktikan oleh dunia International terhadap kasus Timor Leste.

 

Jadi persoalan dan konflik Acheh yang sedang diwarnai dengan berbagai dagelan jawa jangan sampai bangsa Acheh terbawa kearah yang sangat dikutuk oleh Allah SWT  karena bagaimanapun bangsa Acheh masih beraklak mulia dan masih memiliki aqidah yang bertuhan Allah SWT, kalaupun ada teman-teman yang sudah terlanjur bertuhan dengan NKRI atawa Panca Sila ini tugas bangsa Acheh menyadarinya kalaupun sudah ditegur baik-baik tidak dihiraukan mesti diajar sesuai dengan kaedah perjuangan Rasulullah ketika menegakkan kalimah Tulhaq.

 

Kita harus bangga yang namanya bangsa Acheh dan Negara Acheh kita memiliki dasar hukum dan sejarah yang sah untuk memenuhi dan tegaknya Negara Acheh di bumi Acheh.Maka oleh sebab itu dunia International menaruh perhatian besar terhadap Acheh ini menandakan bahwa Acheh telah bangkit kembali seperti Acheh di abad 15 dan hingga abad ke 19.Kebangkitan Acheh karena Kerajaan Acheh memiliki perekonomian yang gemilang dan menguntungkan dunia perdagangan  International dan Kerajaan Acheh juga berperan aktif melakukan perdamaian dunia.Sekarang Acheh bangkit atas peran aktifnya membela kebenaran dan HAM

 

Sejarah telah membuktikannya pada tahun 1602 seorang Duta Besar Kerajaan Acheh  Tgk. Abdul Hamid wafat di ibukota Negara Belanda waktu itu >Middelburg< sekarang Amsterdam kalau pusat pemerintahannya Den Haag.Kedatangan Duta Besar Kerajaan Acheh untuk mendamaikan Spanyol dengan Belanda karena Spanyol masih menjajah Belanda.Belanda pernah dijajah oleh Spanyol sampai 300 Tahun lamanya. Atas jasa besar Duta Kerajaan Acheh terhadap Belanda oleh Raja Maurit diberi penghormatan sehari penuh keliling kota Middelburg sebelum dimakamkan didalam gereja tua tempat pemakaman raja-raja Belanda.

 

Disini terlihat hati busuknya Belanda terhadap  Kerajaan Acheh ketika Kerajaan Belanda sudah merdeka dari Kerajaan Spanyol malah mereka menyerang dan menyatakan perang terhadap Kerajaan Acheh 26 Maret 1873 sama persisnya seperti jawa ketika morat marit huruhara meminta bantuan pesawat terbang selawah I dan selawah II dari sumbangan sukarela bangsa Acheh untuk merebut kemerdekaan malah dibalas dengan perang, pembunuhan  oleh penjajah Indonesia terhadap bangsa Acheh, Lagei lumo tapeuteugoh lam mon. persis seperti kita bantu lembu ditarik dalam subur setelah sampai diatas  malah ditanduki orang yang bantu. Berarti tidak salah kalau bangsa Acheh mengangap jawa penjajah Indonesia itu sama seperti penjajah Belanda beumakna saboh ma dih.

 

Sekarang kembali ke bangsa Acheh maukah anda yang beraklak mulia bertuhan Allah SWT akan dirasuki propaganda penjajah Indonesia jawa berubah menyembah patung berhala garuda panca sila dan berjiwa penjajah?

 

Hanya kepada Allah kita meminta dan memohon petunjuk dan perlindunganNya agar bangsa Acheh tidak menjadi manusia yang murtat-syirik dan terlepas dari kutukan Allah SWT, semoga, Amin,.....

----------