Sandnes, 1 Mei 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

KEMISKINAN MENJADI TANAH SUBUR TUMBUHNYA KRISTENISASI DI ACHEH.

Husaini Daud Sp

Sandnes - NORWEGIA.

 

 

KUNTORO MANGKUSUBROTO SALAH SATUNYA MENJADIKAN ACHEH TANAH SUBUR BAGI BERKEMBANGNYA KRISTENISASI DI ACHEH.

 

Sebenarnya misi Kristen itu sudah ada bahkan sudah terjadi sejak jauh sebelum GAM merebak seperti di kota Lhokseumawe. Ketka itu saya mengajar di Dayah Tgk Sulaiman Syaikhi Paloh Pidie. Umumnya orang-orang Dayah/Tgk seumeubeuet sangat khawatir kala itu atas misi yang juga dilibatkan 2 orang pendeta Acheh sendiri bernama Ali Husen Beureunuen dan Teuku Mahmud Paloh, Pendeta Pasar Tiga Jalan Rakyat Medan. Tentang pendeta Ali Husen itu saya tidak tau keberadaannya namun Teuku Mahmud paloh konon juga persoalan ekonomi yang membuat dia terperangkap kesana. Sekitar tahun 1978, dia pernah merencanakan untuk kabur dari Pasar tiga Jalan rakyat setelah mengambil bantuan dari Jakarta sebanyak 5 juta rupiah. Namun ternyata tidak berhasil.

 

Menurut saya tidaklah seratus persen orang Kristen yang patut disalahkan dalam hal kristenisasi di Acheh, melainkan yang perlu disalahkan adalah system hindunesia itu sendiri, seperti masalah kewenangan kebebasan beragama yang dipegang terus oleh pihak Indunesia disamping itu membuat rakyat jelata hidup miskin dan morat-marit, khususnya di Acheh. Dimana kemiskinan itu adalah salah satunya menjadi lahan subur bagi misi Kristen itu. Sebagaimana Rasulullah mengatakan bahwa kemiskinan itu dapat membuat manusia menjadi kafir. Lalu Imam 'Ali mengatakan: "Andaikata kemiskinan itu berbentuk makhluk, akan kubunuh dia". Kemudian Abu Dzar Ghifari melanjutkan: "Andaikata kemiskinan itu masuk ke dalam suatu rumah melalui pintu, maka iman akan keluar melalui jendela".

 

Dimana logikanya adalah seandainya orang-orang Eropa itu semuanya beragama Islam lalu mendapat kesempatan untuk menolong bangsa Acheh yang Kristen, pastilah orang-orang Eropa itu akan berdaya upaya juga untuk meng Islam kan anak-anak orang Acheh yang kristen. Logika yang lain dapat juga kita pahami bahwa pemabuk-pemabuk juga menginkan agar semua orang menjadi seperti mereka, demikian juga dunia pelacuran menginginkan semua orang kalau boleh menjadi pelacur seperti mereka, namun orang-orang yang anti pelacuran dan penzinaa sudah barang pasti berdaya upaya untuk melenyapkan itu semua. Demikian seterusnya.

 

Jadi secara logis, itu system hindunesia hipokrit yang bertanggung jawab yang salah satunya penyebab kemiskinan khususnya di Acheh, sehingga kristenisasi tumbuh di tanah Rencong. Ironisnya justru orang-orang Sontoloyo itu juga yang mengkambing hitamkan misi tersebut untuk mengusir LSM asing keluar sebagai propokasi murahan. Mengapa ? Karena, agar tuannya sontoloyo-sontoloyo itu dapat melanggengkan penjajahannya di bumi Acheh - Sumatra. Sontoloyo-sontoloyo itu menamakan diri sebagai "Komando Jihad". Padahal mereka itu merupakan "Komando Jahat" yang bekerja sama dalam system penjajahan itu sendiri.

 

Keparahan di Acheh ini ditambah pula dengan munculnya Kuntoro Mangkusubroto orang Jawa yang dipercayakan oleh Susilo Bambang Yudhoyono juga orang Jawa sebagai Kepala Badan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Acheh dan Nias pasca tsunami. Ternyata banyaknya bantuan luar negeri untuk Acheh tidak dapat menjawab kepedihan para musibah itu, apalagi musibah pasca TNI/POLRI Non organik yang dirasakan keseluruh Acheh - Sumatra. Jadi dalam hal ini Kuntoro Mangkusubroto telah turut menyengsarakan para musibah tsunami dengan cara ikut menelan gaji bulanannya yang melangit sampai Rp 65 juta perbulan, disamping para stafnya yang bergajih antara 25 60 juta rupiah per bulan.

 

Kemudian kalau dibandingkan dengan para musibah yang hanya mendapat Rp 3000 per hari, maka patut dipertanyakan, apakah bantuan luar negri itu untuk para musibah tsunami atau untuk Kuntoro Mangkusubroto cs, mengingat kerja mereka tidak sebanding dengan gajih yang melangit, sebagaimana yang telah menjadi anekdot masyarakat di Acheh, yang dipublikasikan oleh Serambi yang terbaca: "Kondisi proyek itu sempat menjadi bahan olok-olokan warga di desa tersebut. "Ini baru BRR yang kepanjangannya, Baru (tapi) Retak-Retak," ujar seorang pemuda di sana. "Atau Bolong Retak Rusak," sahut warga lain. Istilah baru itu muncul setelah sebelumnya warga Aceh memplesetkan kepanjangan BRR (yang seharusnya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) menjadi, Buet Rame-Rame, Bek Rioh-Rioh, Badan Rapat-Rapat, Badan Rilis-Rilis, dan sebagainya."

 

Jadi yang perlu dipertanyakan sekarang adalah apakah kita hanya menjadi penonton "sandiwara" yang sedang dimainkan Kuntoro Mangkusubroto cs itu saja ? Apakah betul orang-orang pribumi tidak memiliki ketrampilan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi di Acheh paska tsunami ? Mengapa terlalu mahal ongkos yang dibayarkan untuk membangun daripada harga bangunan itu sendiri (besar pasak daripada tiang) ?. Bukankah yang demikian itu kinerjanya "pemborong" yang dapat dipelintirkan menjadi "pembohong" ?

 

Keadaan yang sedang berlangsung di Acheh sekarang makin membuat rakyat Acheh - Sumatra terus menderita kalau tidak segera diselesaikan.

 

Dan untuk menghilangkan penderitaan rakyat Acheh kelahatannya makin jauh dari harapan, apalagi didalamnya telah dimasuki para koruptor profesional yang perbuatannya sangat menyelimet dan sulit diberantas karena bersembunyi dibalik system hindunesia hipokrit itu. Disamping korupsi itu sudah membudaya dan berakomulasi dengan system itu sendiri. Contohnya, mengapa raja korupsi terbesar di dunia Suharto susah untuk diseret ke meja hijau ?.

 

Terakhir, pihak Indunesia sedang berdamai dengan Gerakan Acheh Merdeka (GAM), tetapi masih tetap mencari lobang-lobang untuk memelencengkan dari isi MoU dan juga memolorkan waktu pengesahan RUU - PA. Inilah salah satu ciri-ciri pihak penguasa Indunesia yang memakai system hindunesia hipokrit dengan moral gandanya.

 

Bilalhi fi sabilillah

 

Husaini Daud Sp

 

husaini54daud@yahoo.com

Sandnes, Norwegia.

----------