Sandnes, 15 Mei 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

TINJAUAN SEJARAH BANGSA PARSI HUBUNGANNYA DENGAN ALI BIN ABI THALIB.

Husaini Daud Sp

Sandnes - NORWEGIA.

 

 

KUPASAN SINGKAT TENTANG BANGSA PARSI HUBUNGANNYA DENGAN ALI BIN ABI THALIB.

 

”Alif Lam Mim, Bangsa Rumawi telah dikalahkan di negara tetangga. Namun setelah mereka mengalami kekalahan, mereka akan mengalami kemenangan kembali pada sepuluh tahun kemudian.  Soal kemenangan pertama dan kemenangan terakhir adalah urusan Allah. Disa’at itu orang-orang beriman merasa gembira” (QS. Ar Rum 1 -  4)

 

Ketika Surah Ar Rum ini diturunkan Allah, dunia ini juga seperti yang kita saksikan dewasa ini, dimana dua negara super power telah membagikan dunia ini kepada dua bagian yaitu blok Parsi (Penyembah Api Arumanazda) dan blok Romawi (Penyembah Trinitas).  Kendatipun masih ada negara lainnya yang memiliki kedaulatan tersendiri, namun mereka tidak terlepas dari pengaruh dua negara raksasa ini sebagaimana kita saksikan sekarang ini banyak negara yang menjadi satelit Amerika dan Rusia kendatipun sekarang Rusia buat sementara dikalahkan Amerika Serikat secara politis. Ironisnya kendatipun Parsi dan Romawi memiliki wilayah dan pengaruh yang demikian luas, mereka tetap saja bermusuhan satu sama lainnya.

 

Disa’at itu nama Arab tidak dikenal didalam kamus dua super power itu kecuali Yaman, mengingat suburnya daerah tersebut hingga menjadi inceran sebagaimana lazimnya hari ini negara-negara yang mengandung Petrodollar menjadi medan perebutan negara Adidaya dengan cara apapun seperti kawasan Arab, Chechenia, Afganistan, Acheh – Sumatra dan sebagainya.

 

Ketika dunia dikuasai dua raksasa itu, nun jauh disana di gurun pasir Arabia muncullah sebuah titik hijau sebagai ”Ghurabag” bak kata Rasulullah. Yaitu sebuah tunas yang hijau ditengah-tengah ranting yang coklad dan kering alias mati. Disanalah munculnya seorang Pemimpin yang membawa rahmatan lil 'alamin, bernama Muhammad saww. Beliaulah yang berstatus sebagai “Bahtera Penyelamat”.  Hal ini dapat kita pahami bahwa andaikata Nabi Muhammad tidak di turunkan di Gurun Pasir itu, semua orang Arab dan bahkan semua orang didunia kala itu “berada ditepi jurang neraka” kecuali sedikit sekali seperti Arkam bin Naufal, pamannya Khadijah binti Khuwailid, yang masih mengikuti agama nabi Ibrahim as.  ”...Ketika itu kamu (benar-benar) telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menyampaikan ayat-ayatNya kepadamu  agar kamu mendapat petunjuk” (Q.S. Ali Imran 103)

 

Tunas hijau di gurun pasir Arab yang tidak dikenal orang di negara super power itulah kemudian yang mampu meluluh lantakkan mereka untuk menyelamatkannya ”dari tepi jurang neraka” tadi. "… mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi."(Q.S. Al Baqarah: 121)

 

Ketika itu negara super power Parsi mengalahkan super power Romawi secara telak sekali sampai salib besar sebagai symbol penyembahan Romawi di boyongkan ke Parsi.  Namun sepuluh tahun kemudian Romawi mampu mengaturkan barisannya yang mantap sehingga Parsi dapat dikalahkan balik. "Disa’at itu orang-orang beriman merasa gembira" (Q.S Ar Rum: 4). Sebahagian penafsir mengira bahwa gembiranya orang beriman dikala itu disebabkan kemenangan Romawi atas Parsi, dengan asumsi bahwa Rumawi itu adalah agama Samawi sementara Parsi adalah agama Ardhi. Penafsir seperti itu adalah keliru 180 derajat, kenapa ?

 

Betul agama orang Romawi itu asalnya dari agama Ardhi yaitu agama Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Tapi apakah nabi ‘Isa pernah mengajarkan ummatnya untuk menyembah “Trinitas” ?, yaitu entas bapak, entas bunda Maria dan entas anak (Al Masih) ? Bukankah dengan demikian berarti bahwa agama orang Romawi itu tidak berbeda dengan agama orang Parsi kala itu yaitu penyembah Api Arumananzda ?  Bukankah dengan pengertian seperti itu berarti bahwa tidak ada satupun agama Samawi kecuali Islam itu sendiri sebagaimana firmannya: “ Innad Dina ‘indallahil Islam”.  Bukankah Penafsir yang saya sebutkan diatas itu keliru dalam berasumsi bahwa agama nasrani itu agama Samawi juga?

 

Gembiranya orang-orang beriman ketika itu disebabkan keyakinan mereka bahwa tidak lama lagi mereka akan mengalami kemenangan diatas Parsi dan Romawi sekaligus disebabkan Allah berfirman bahwa baik kemenangan pertama (baca kemenangan Parsi atas Romawi) maupun  kemenangan terakhir  (baca kemengan Romawi atas Parsi) adalah urusan Allah, bukan urusan manusia. Hal ini terdapat relefansinya dengan pernyataan Allah di surah lainnya:  "…Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Q.S Al Baqarah: 249)

 

Pada awalnya jelas Islam belum punya power. Hal ini dapat kita ketahui dengan membuka lembaran sejarah dimana orang-orang yang menyambut seruan Rasulullah kebanyakan terdiri dari kaum dhu’afa yang merintih penderitaan dari tuannya yang menimpakan “batu bata” diatas kuduk-kuduk mereka.  Penderitaan itu makin bertambah manakala tuan mereka mengetahui bahwa mereka telah masuk Islam. Sebagai contoh:

 

1. Bilal bin Rabah dimasukkan kepalanya dalam air yang panas. Ketika petugas tuannya menarik balik kepala Bilal, terdengar suaranya: “Ahad – ahad” yang dia maksudkan adalah Allah itu satu. Hal itu berlangsung sampai tiga kali. Ketika petugas itu melihat Bilal tidak bergeraklagi sedikitpun, lalu membiarkannya tergeletak di lembah itu dengan harapan akan mati diganggu anak – anak jahat yang tidak lain adalah anak majikannya sendiri. Namun Allah masih mentak dirkan Bilal hidup lama sampai terkenal menjadi muazzin  pertama dalam sejarah Islam.

 

2. Sumaiyah, Yassir dan Ammar. Yassir berasal dari Afrika yang sudah lama berlang-lang buana diperjual-belikan dari satu majikan kepada majikan lainnya dalam system perbudakan. Akhirnya dia dibeli oleh  majikan dari Mekkah hingga bertemu dengan Sumaiyah yang juga berstatus sama.  Sumaiyah menerima uluran tangan Yassir untuk hidup bersama. Ammar adalah buah pertama dari  perkawinan itu.  Ketiga hamba Allah yang dipandang hina oleh ”basyar-basyar” di dunia ini namun sangat mulia disisi Allah, disiksa majikannya pada tempat yang sama di sebuah lembah diluar  kota Mekkah.

 

Pada suatu hari Rasulullah datang untuk memberi semangat kepada mereka bertiga. Namun hari itu Rasulullah tidak menemui Ammar di tempat biasa.  Ketika Rasul pergi agak jauh terlihatlah Ammar dengan kepalanya menunduk.   ”Ammar……….”, seru  Rasulullah dari kejauhan.  Namun Ammar tidak menyahuti seruan Rasulullah. Ketika tepat berada didepan Ammar, Rasulullah memperhatikan keadaan Ammar tidak seperti biasanya dimana kakinya tidak lagi terikat. Rasulullah mengetahui bahwa Ammar telah menyenangkan majikannya, dimana majikannya berjanji akan melepaskan Ammar kalau dia mau mengatakan bahwa Muhammad itu gila.  Ammar hilang keseimbangan pikirannya ketika menyaksikan dua orang tuanya disiksa sampai mati (syahid) didepan matanya, hingga mengucapkan kalimat yang diinginkan sang majikan.

 

Rasulullah menarik rambut Ammar yang keriting, khasnya Afrika agar menatap wajahnya. Rasulullah melihat wajah Ammar dibasahi dengan airmata. Rasulullah bersabda: ”Ammar ! Andaikata kamu mengatakan sesuatu yang tidak sampai kehatimu, Allah dan Rasulnya mema’afkan kamu, Ammar”. Begitu mendengar ucapan Rasul, seberkas senyum memancar diwajah Ammar. Ucapan Ammar yang membuat senang majikannya ternyata lebih pahit dirasakan Ammar daripada penyiksaan itu sendiri, demikian mantap kepercayaan Ammar kepada Rasulullah saww.

 

Ketika Abu sofyan, Abu Lahab dan Abu Jahal menganianya budak-budak yang telah masuk Islam, Rasulullah datang dan mengatakan:  ”Andaikata kalian tabah dan sabar menghadapi ujian ini, kalian akan menjadi pemimpin-pemimpin dunia dimasa yang akan datang”  Ketika itu juga Abu Sofyan menantangnya: ” Muhammad ! Tidak kusangka kalimat itu keluar dari mulutmu, seorang anak yatim yang ketika sudah besar mengawini majikannya”.  Muhammad!  Kaupikir dunia ini sebesar daun kelor ?  Taukah engkau Muhammad bagaimana hebatnya kerajaan Romawi yang memiliki 800 ribu tentara di sayap kanan dan kirinya siap menghadang musuh darimanapun datangnya.  Begitu juga kerajaan Parsi yang memiliki kekuatan 600 ribu disayap kanan dan 600 ribu disayap kiri dan masih menyimpan lagi 700 ribu bala tentara di Isfahan. Sanggupkah engkau melawannya Muhammad ?   Jangan bermimpi Muhammad untuk melawan mereka, melawan kami saja kalian tidak mampu.

 

Rasulullah hanya senyum saja dan tidak membantah balik argumentasi Abu Sofyan cs. Rasulullah lah namanya yang memahami persis bahwa bagaimanapun Abu Sofyan cs tidak mampu memahami apa yang dikatakan Rasulullah disebabkan mereka telah tertutup mata hati akibat banyaknya kedhaliman yang telah mereka lakukan terhadap kaum dhu’afa sejak dulu hingga sekarang ini terhadap pengikut Rasulullah saww sendiri.  Rasulullah memahami persis bahwa suatu saat nanti kedua negara raksasa itu akan dihancurkan oleh kekuatan Muslim yang berpenampilan sangat sederhana, untuk membebaskan kaum dhu’afa yang menderita didalam kedua system thaghut tersebut.. Abu Sofyan cs mengira bahwa mereka itu lebih mengetahui daripada Nabi Muhammad saww. Mereka menganggap diri pakar tentang pengetahuan dunia. adahal yang sesungguhnya Rasulullahlah yang pakar, malah pakar diatas pakar. Kalau orang-orang biasa menimba ilmu melalui gurunya plus penelitian lapangan dan perpustakaan yang keabsahannya masih harus merujuk kepada Al-Qur-an atau Hadist Rasulullah itu sendiri, Rasulullah menerima langsung pengetahuan itu dari Allah sendiri melalui Ilham ataupun perantaraan Jibril, yang mutlak kebenarannya.

 

”Alif Lam Mim, Bangsa Rumawi telah dikalahkan di negara tetangga. Namun setelah mereka mengalami kekalahan, mereka akan mengalami kemenangan kembali pada sepuluh tahun kemudian.  Soal kemenangan pertama dan kemenangan terakhir adalah urusan Allah. Disa’at itu orang-orang beriman merasa gembira” (QS. Ar Rum 1 -  4)

 

Sesungguhnya apa yang telah Allah nyatakan dalam surah Ar Rum itu, diyakini sepenuhnya oleh orang-orang yang beriman dikala itu sesuai dengan apa yang telah di ramalkan Rasulullah sendiri bahwa mereka orang-orang beriman akan menguasai dunia sebagai hasil dari kesabaran dan ketabahan mereka dalam menghadapi berbagai resiko dunia. Kesabaran dan ketabahan mereka akan membuahkan kemenangan mereka di saat yang akan datang.  Hal ini dapat kita saksikan melalui lembaran sejarah bahwa ketika Rasulullah mengirimkan suratnya kepada Raja Romawi untuk menerima Islam agar tidak ada lagi perbudakan terhadap manusia di Romawi, mereka mengirimkan intel ke Madinah untuk melihat dengan jelas bagaimana keberadaan Rsulullah dan kaum Muslimin. Hasil dari pengamatan itu dilaporkan ke pada Raja sebagai berikut:

 

1.Kaum Muslimin itu duduk sama rendah dan berdiri sama tegak sesama mereka baik atasan maupun bawahannya.

2.Pakaiannya, tidak dapat kita bedakan antara atasan dan bawahan. Malah kebanyakan pakaian bawahan lebih baik dari pakaian atasan.

3.Dalam berhadapan dengan musuh, mereka memilih mati daripada hidup ditawan musuhnya.

4.Dan lain-lain sebagainya.

 

Baru saja nomor satu dan dua dilaporkan, wajah Raja nampak ketakutan hingga berkomentar bahwa ummat seperti itu pasti akan memperoleh banyak pengikutnya dikemudian hari kelak. Ketika Raja mendengar point nomor tiga, dia berkata bahwa inilah yang paling menakutkan saya. Singkat kisahnya, ketika pasukan Arab Muslim berhadapan dengan pasukan Romawi, mereka dengan mudah sekali mengalahkannya disebabkan seluruh pasukan Romawi barisan depan diikat satu sama lainnya dengan rantai besi, agar mereka tidak lari ketika berhadapan dengan pasukan Muslim, sebagai pengaruh ketakutan Raja mereka yang amat sangat, hingga tinggal disembelih saja oleh pasukan Muslim.

 

Ketika pasukan Muslim berhadapan dengan pasukan Parsi, mereka dengan garangnya memasuki Istana Parsi, menginjak karpet-karpet indah yang belum ada duanya dikala itu kecuali made in Isfahan, Iran itu sendiri. Panglima Parsi menawarkan kepada Panglima Islam agar masing-masing  menyebutkan silsilah keturunannya, dengan syarat siapa yang mampu menyebutkan silsilah keturunanya yang lebih banyak, orang itulah yang akan melemparkan lembingnya duluan.  Panglima Parsi menyebutkan silsilah keturunannya sampai ratusan orang sementara Panglima Islam hanya mengatakan bahwa dia anak seorang pemerah susu kambing. Ketika Panglima Parsi melemparkan lembingnya ke arah Panglima Islam, secepat kilat mengelak dari lemparan maut itu.

 

Pengaruh kemenangan kaum Muslimin terhadap Romawi membuat Raja Parsi juga mengalami stres yang sama sebagaimana yang dialami Raja Romawi. Akibatnya Raja melalui Panglimanya meminta kepada Panglima Islam agar tidak usah melanjutkan peperangan. Mereka berunding dengan menerima begitu saja apa yang diusulkan Panglima Islam kra-kira seperti berikut ini:

 

1.Panglima Parsi menyatakan bahwa tidak ada permusuhan antara pasukan Muslim dengan pasukan Parsi.

2.Andaikata pasukan Parsi menunggang kuda berjumpa dengan pasukan Muslim yang berjalan kaki, pasukan Parsi harus memberikan kenderaan itu kepada pasukan Muslim.

3.Apasaja kebutuhan pasukan Muslim harus dipenuhi oleh pasukan Parsi kapan saja dan dimanapun.

4.Dan lain-lain sebagainya.

 

Pihak Parsi menerima saja setiap usulan yang datang dari Panglima Muslim. Demikian berpengaruhnya pasukan Muslim ketika itu yang membuktikan benarnya apa yang dikatakan Rasulullah kepada pengikutnya yang tidak berdaya melawan Abu Sofyan cs kala itu, kendatipun ucapan Rasulullah itu ditantang Abu Sofyan cs. dengan emosinya.

 

Demikianlah kisahnya dua kekuatan super power yang pernah menakutkan dunia, dikalahkan oleh bangsa yang tidak terpengaruh sedikitpun dengan kemewahan dunia serta bersatupadu pada satu poros dibawah pimpinan seorang ”pengembala” yang dianggap remeh oleh musuh-musuh sebelumnya.  Itulah muhammad saw yang memilih lapar satu hari dan kenyang dihari yang lain ketika Malaikat Jibril menawarkan kemewahan dunia tanpa mengurangi haknya di akhirat kelak. Itulah Muhammad saw yang tidak akan makan kenyang sebelum Ummat mendahuluinya.  Itulah  Muhammad saw yang memiliki kepalan tinju nabi Musa as, namun menyimpan hati nabi Isa as yang kasih didadanya. Itulah Muhammad yang memiliki pedang ditangan kanannya (Power), namun memiliki Al Qur-an (Petunjuk) ditangan yang lainnya.  Qur-an tanpa pedang akan mandul didepan musuh-musuhnya. Pedang tanpa Qur-an akan membuat manusia bagaikan seorang pemabuk yang akan melibaskan siapa saja yang melintas didepan matanya. Itulah Muhammad saw yang dipersiapkan Allah sebagai UtusanNya yang terakhir, dilengkapi dengan Kitab, Mizan dan Besi (Power).(Q.S. Al Hadid : 25) Itulah Muhammad saw yang mengawini wanita-wanita untuk melindungi anak yatim, bukan untuk memenuhi nafsunya sebagaimana tuduhan manusia-manusia yang tidak memahaminya.  Itulah muhammad saw yang melarang memerangi negara manapun kecuali didalam negara tersebut terdapat kaum dhu’afa yang diperlakukan semena-mena oleh kaum mutaqabbirun, hingga mereka berseru: ”…Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!.” (Q.S An Nisaa’: 75)

 

Kepemimpinan yang dimiliki Muhammad saw lah yang dapat membawa manusia kepada rahmatan lil’alamin. Sayangnya setelah Islam menjadi super power tunggal sepeninggalnya tidak akan membawa kekal disebabkan mereka tidak mengikuti Imam yang haq untuk diikuti agar senantiasa memahami buat apa sesungguhnya hidup didunia. Akibatnya mereka mencintai dunia secara berlebih-lebihan. Itulah yang membuat mereka akhirnya dengan mudah dikalahkan oleh bangsa Monggolia dibawah Panglima Holakokhan yang hanya memiliki kekuatan ratusan balatentara. Jaman itu terkenal dengan ”Pembumihangusan” kota Bagdad oleh bangsa Tartar atau Monggolia dibawah Panglima Holakokhan.

 

Angin badai berhembus di gunung, mengapa pohon itu dan pohon ini saja yang tumbang. Tumbangnya pohon ini dan pohon itu bukan karena angin badai tapi karena pohon itu sendiri yang sudah keropos akarnya (dimakan rayab). Kalahnya Superpower Tunggal Islam kala itu bukan karena Holakokhan tapi karena orang Islam sendiri kala itu sudah keropos ’aqidahnya (Mencintai dunia secara berlebih-lebihan)

 

Pengalaman sejarah yang unik itu nampaknya dihayati benar oleh Republik Islam Iran yang merupakan Representant System Islam jaman sekarang di atas permukaan bumi ini. Hal ini dapat diasumsikan dengan beberapa alasan sebagai berikut:

 

1.Iranlah satu-satunya sekarang ini yang menggunakan UUD yang memakai dasar Al Qur-an dan Hadist. Hal in dapat dibaca dalam kitab ”Wilkayatul Fakih” Karangan Imam Khomaini sendiri.

 

2.RII mengikuti garis kepemimpinan Rasulullah dan Ahlulbaytnya, sesuai sabda Rasulullah: ”Kutinggalkan kepadamu dua perkara yaitu Al Qur-an dan Keluargaku (ahlulbaytku). Jika kamu bepegang teguh kepada keduanya, pasti tidak akan sesat selama-lamanya sampai menemuiku di Pancutan Kausar”

 

3.RII lah sekarang ini satu satunya yang benar benar tidak bekiblat ke Barat dan ke Timur tapi berkiblat ke Islam itu sendiri. Hal ini menunjukkah persamaannya sebagai tunas hijau ditengah-tengah ranting coklad, kering dan mati. (Ghurabag) bak kata Rasulullah sendiri diantara "Romawi dan Parsi"

 

4.Pertolongan Allah telah terbukti terhadap RII ketika AS mengirimkan 7 buah Phantom untuk mengambil sanderanya, ternyata ke 7 Phantom itu hancur menghantam gunung kapur.

 

5.RII tidak gentar menghadapi Superpower manapun yang hendak mengancam nya sebagaimana ancaman AS cs sekarang ini. Namun  RII tidak akan memusuhi negara manapun kecuali negara itu sendiri yang duluan memusuhinya.

 

6.RII adalah negaranya para 'Ulama yang Brilliant (warasatul ambiya) yang tidak menggunakan system Demokrasi Barat dan juga Otokrasi Timur tapi Al Qur-an dan Hadist. Hal ini dapat dilihat pada Struktur Negaranya dimana kendatipun UU dibuat/dirumuskan oleh DPR, namun kuncinya tetap dipegang oleh 12 orang ’Ulama yang haq meng acckan/menandatanganinya UU tersebut sebelum dijalankan Presiden terpilih secara Demokrasi sebagai Mandatarisnya Rakyat. Diatas 12 orang Ulama yang memiliki Ilmu Primer dan Scunder itu (baca dunia-akhirat)  masih ada satu lagi yang berkedudukan tertinggi dalam struktur System Itu sebagai filter yang disebut Imam (Kedudukan itu sekarang ditempati oleh Ayatullah Sayed Ali Khamenei).

 

Sehubungan dengan hal ini semua, dapat diikutu penjelasan selanjutnya: ”Alif Lam Mim, Bangsa Rumawi telah dikalahkan di negara tetangga. Namun setelah mereka mengalami kekalahan, mereka akan mengalami kemenangan kembali pada sepuluh tahun kemudian.  Soal kemenangan pertama dan kemenangan terakhir adalah urusan Allah. Disa’at itu orang-orang beriman merasa gembira” (QS. Ar Rum 1 -  4)

 

Ketika Allah menurunkan surah Jum'at ayat 3 (wa akharina minhum lamma yal haqu bihim wahual 'azizul hakim), para sahabat bertanya kepada Rasulullah saww: Siapakah mereka itu ya Rasulallah ?  Rasulullah meletakkan telapak tangannya diatas kepala Salman al Faraisi (orang Parsi Iran) sambil bersabda: "Golongan inilah. Andaikata Iman itu berada di bintang Suraiya, namun mereka sanggup menggapainya".  Hadist Rasulullah ini meggambarkan keutamaan bangsa Parsi diatas bangsa manapun di dunia termasuk bangsa Arab sendiri. Hal ini disebabkan kesangupan  bangsa tersebut menerima Islam secara kaffah sebagaimana di nyatakan Rasul sendiri berkenaan Al Qur - an Surah Jum'at ayat 3 itu.  Hal ini juga dibuktikan realitanya sampai hari ini tidak ada sebuah negarapun yang beridiologi Islam termasuk Saudi Arabia dan Mesir, kecuali Republik Islam Iran.

 

Secara historis kita dapat menelusuri bagaimana bangsa Parsi itu mendapat pernyataan Allah sendiri yang dikuatkan lagi oleh Rasul Nya ketika para sahabat menanyakan pengertian daripada ayat 3 Surah Jum'at tersebut.  Ketika bangsa Arab mengalahkan Parsi, mereka membawa tawanan Mada'in (Taisfun) itu ke Madinah.  Umar bin Khattab memerintahkan kesemua tawanan  wanita dijadikan  hamba Muslim. Imam 'Ali melarang  dan berkata bahwa puteri - puteri dikecualikan  dan perlu dihormati.  Dua orang putri yang cantik bernama Syahbanu dan Syahzanan adalah anaki dari raja Yardigerd yang harus dimuliakan. Umar bertanya kepada Imam 'Ali apa yang seharusnya dilakukan.  Imam 'Ali berkata bahwa setiap mereka diperkenankan memilih suami dari orang Islam. Dari itu Syahzanan memilih Muhammad bin Abubakar, orang yang telah dibesarkan oleh Imam 'Ali. Sedangkan Syahbanu memilih Imam Hussein bin 'Ali, cucu Rasulullah saww sendiri.

 

Dari hasil perekawinan Cucu Rasulullah Hussein bin 'Ali  dengan Syahbanu, putri Parsi inilah kelak membawa keturunan yang cikal - bakal dalam bangsa Parsi yang dapat kita saksikan sampai hari ini, dimana mereka menggunakan sorban hitam sementara keturunan non Rasulullah mengenakan sorban putih. Hal ini memang sangat unik. Saya katakan unik disebabkan tidak ada seorangpun dari keturunan non Rasulullah yang memprotes persoalan sorban hitam dan putih itu, kecuali sepertinya suatu keyakinan juga agar identitas keluarga Rasulullah dapat di lestarikan sampai kiamat dunia.  Disamping itu di Parsi (baca Iran dan Irak) juga terdapat gelar Ayatullah yang berarti ayat Allah untuk para ulama, dimana gelar seperti itu tidak kita dapati di kawasan lainnya.  Dengan kata lain gelar tersebut hanya disandang oleh ulama-ulama Syi'ah Imamiyah 12 sebagaimana juga terdapat di Libanon sekarang.

 

Kemuliaan bangsa Parsi nampaknya difasilitasi oleh perpaduan keluarga Rasul yang 'Arabiy dengan bangsa Arya, ras unggul Jerman. 'Ali Zainal 'abidin bin Hussein bin 'Ali kembali ke Parsi, negeri bundanya Syahbanu. Setelah keluarga Rasul dibantai di Karbala,  Kesimpulan apa yang dapat kita petik dari realita ini adalah kemuliaan yang disandang bangsa Parsi setelah mereka menerima Imam ’Ali pada masa hayat Nabi, bukan pada pemerintahan Harun Ar Rasyid sebagaimana disangkakan orang. Salman al Faraisi adalah seorang dari pengikut Imam ’Ali yang sangat setia dan ikhlas. Dia sampai ke derjah iman yang tertinggi.  Para ulama dari Sunni dan Syi’i telah menulis bahwa Nabi berkata: Salman adalah dari Ahlilbaytku. Justru itulah dia dipanggil; ”Salman Muhammad”.

 

Billahi fi sabililhaq

 

Husaini Daud Sp

 

Husaini54daud@yahoo.com

Sandnes, Norwegia.

----------