Stavanger, 15 Mei 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PLUS I + NASIONALISME ACHÈH DAN NASIONALISME INDONESIA JAWA.

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.

 

 

MASIH TERUS MENYOROT NASIONALISME ACHÈH YANG MAKIN BERKEMBANG DAN NASIONALISME INDONESIA JAWA YANG TERUS MAKIN MENGUNCUP.

 

Mengapakah saya tidak merespon karya anda, Teuku Kemal Pasya, yang  bermula pada alenia yang pertama?

 

Tidak, sememangnya tidak dulu. Itulah sebabnya maka saya mintakan anda, Teuku Kemal Faisal dan rakan-rakan anda, agar mengunjungi website Tengku Ahmad Hakim Sudirman: ahmad@dataphone.se, terlebih dahulu.

 

Lagipun sememangnya saya mau mengdirgahayukan dulu TNA, Tentara Negara Achèh, yang hari ulang tahun-nya persis jatuh pada 22 April, 1873 - 22 April, 2006, sehari setelah hari R.A.Kartini itu.

 

Pengdirgahayuan itu, sama jugalah halnya dengan meng-vivakan dulu Negara Achèh Sumatra/ASNLF/GAM, dengan sambilan merespon tulisan R. A. Kartini-nya saudara Ibrahim Isa Betawi Biljmer, dari Belanda mantan Duta Besar NKRI ke Mesir itu, yang telah beliau lakukan, mengikut seadanya saja, seadanya, sebagaimana hasil fabrikasi lewat benak sastrawan Armyn Pane itu, sehingga reka-rekaan yang demikian itu, akan terus mengelabui dan mengotori sejarah emansipasi wanita se-Nusantara, sepanjang hayat manusia dan sepanjang umur dunia!  Memilih kerjaan seperti itu, sepatutnya bukanlah lagi menjadi pilihan saudara Ibrahim Isa Betawi Biljmer dari Belanda, yang juga mantan Duta Besar NKRI ke Mesir itu.

 

Dan lagi, dengan pengdirgahayukan lewat Hari Ulang Tahun TNA, Tentara Negara Achèh, bermakna sekaligus saya telah melakukan usaha penjamakan terhadap hari peringatan "Wanita Achèh dan Gerakan Emansipasi Universal-nya" yang ke-133 juga. Dengan misi membetulkan sejarah fabrikasi R. A. Kartini-nya Ibrahim Isa Betawi Biljmer, Belanda mantan Duta Besar NKRI ke Mesir itu!

 

TNA, Tentara Negara Achèh, wujud dan diwujudkan dari pengkadetan putra-putri Achèh, lelaki dan perempuan Achèh atau pria dan wanita Achèh, sebaik dilahirkan, selepas saja diazan dan diqamatkan!   Putri Achèh atau perempuan Achèh atau wanita Achèh, telah beremansipasi kedalamnya, kedalam tubuh TNA,Tentara Negara Achèh, sebagai mobilisasi akan tanggung jawab tradisi dan adat!

 

Mengapakah masih juga ada pengdirgahayukan TNA, Tentara Negara Achèh, lagi demikian, sedangkan TNA, Tentara Negara telah beralih ke KPA, Komite Peralihan Achèh?

 

Karena, walaupun TNA, Tentara Negara Achèh telah beralih ke KPA,  Komite Peralihan Achèh, namun sebagaimana tradisi-nya atau sebagaimana adat-nya, dengan pengdirgahayuan TNA, Tentara Negara Achèh, pengvivaan Negara Achèh Sumatra/ASNLF/GAM, maka juga berarti sekaligus kita, sedang pengdirgahayuan atau pengvivaan nasionalisme Achèh sekaliannya.  Dan mengapa demikian pula?

 

I - Karena mengikut sejarah "antropologis-nya" pendidikan nasionalisme Achèh, telah terbaca bahwa, kehidupan nasionalisme Achèh itu, sejalan, searah dan secita-cita dengan maksud pengakadetan TNA, Tentara Negara Achèh" yang seiring pula dengan momentum gerak:  Wanita Achèh dan Gerakan Emansipasi Universal-nya".

 

(a). Beurejang rajeuk banta sedang (ayat ini disifatkan sebagai membangunkan jiwa dan semangat nasionalsime Achèh terhadap putra dan putri-nya), beudoh meuprang (ayat ini disifatkan sebagai maksud menggerakkan kadet-TNA, Tentara Negara Achèh), bila bangsa (ayat ini disifatkan untuk membela Negara Achèh Sumatra/ASNLF/GAM).

 

(b).Sebagaimana telah disyari'ahkan atau ditradisikan atau telah diadatkan bagi setiap putra dan putri Achèh, sebagai sebuah sunah untuk diperdengarkan alunan azan atau seruan qamat, sebaik saja mereka dilahirkan kedunia.  Yang demikian itu, berarti nasionalisme Achèh, secara alamiah, secara naluriah terus terbina, tidak pernah terhenti, sebaik saja mendengar akan alunan azan dan seruan qamat itu, kapanpun dan dimanapun yang sekaligus akan bergerak searah dengan cita-cita mengisi kembali jiwa pembina TNA, Tentara Negara Achèh, yang dengan seluruh konsekwensinya, akan terus bergerak menjurus kearah pembelaan bangsa, agama dan negara: Negara Achèh Sumatra!

 

II - Karena, melihat kepada perjalanan hakikat-hakikat seperti tersebut diatas itu, maka itulah sebabnya Tengku Ahmad Hakim Sudirman, dalam sebuah pandangan perspektip exlusive beliau, telah mempoint-out kan bahwa: GAM tidak akan bubar sampai kapan-kapanpun adalah tepat sekali, dan tidak ada point lain yang coba "mengada-ngada" atau mengoda-goda untuk mempertikaikannya lagi disebabkan:

 

(a). Azan dan qamat senantiasa mengingatkan bangsa Achèh, akan tanggung jawabnya kepada Allah SWT dan akan tanggung jawabnya kepada kemerdekaan bangsa dan kedaulatan negara: Negara Achèh Sumatra, kapanpun dan dimanapun.

 

(b). azan dan qamat senantiasa akan membangun dan melestarikan kembali kehidupan jiwa dan semangat nasionalisme Achèh, kapanpun dan dimanapun.

 

(c). Azan dan qamat senatiasa akan menghimbau tugas pengkadetan putra-putri Achèh, kapanpun dan dimanapun.

 

III. Maka bertolak dari pendidikan azas nasionalisme Èndatu bangsa Achèh yang demikian itulah, maka Tengku 'Tjhik di Tiro Hasan Muhammad, Wali Negara, Negara Achèh Sumatra, telahpun pula kembali menetapkan, agar setiap penggerekan Alam (bendera) Achèh, musti dengan laungan azan, musti dengan jiwa dan semangat nasionalisme Achèh, sebagaimana jiwa dan semangat itu, musti hidup terus abadi dalam diri badan TNA, Tentara Negara Achèh dan dalam diri badan GAM!

 

Bagi saya, alangkah baiknya, kalau jiwa dan semangat nasionalisme Achèh itu juga akan hidup abadi dalam diri badan anda, Teuku Kemal Pasya!  Dengan syarat dan ketentuan agar anda lebih dahulu mengosongkan benak anda sehingga tidak setitikpun "indonesia-jawa" tinggal tertambat disana!

 

Lantas mengapakah pula sebabnya sejarah dokumenter TNA, Tentara Negara Achèh, tidak didokumentasikan sejak 26 Maret, 1873, sejak agressor Belanda perrtama sekali mengirim kurirnya si anak Jawa: Sumowidigdjo?  Ataupunkah sejak sebelumnya ataupun sebelumnya lagi, ataupun kesimpulan sekaliannya:

 

Mengapakah tidak dari sejak pemerintahan Sultan Ali Mughayat Shah Al Qahar?

 

Lihat dan baca kembali kandungan Teks: Reproklamasi 4 Desember, 1976, yang telah ditebarkan keseluruh antero dunia dan yang ditanda tangani oleh Wali Negara, Negara Achèh Sumatra: Tengku 'Tjhik  di Tiro Muhammad Hasan, sebagaimana yang telah diwartakan oleh surat kabar Inggeris: The London Times, 22 April, 1873, sebagai telah menjadi dokumentasi sejarah bangsa dan Negara  Achèh Sumatra, sebagai sejarah dokumenter TNA, Tentara Negara Achèh!  Disinilah bemula sejarah dokumenter TNA, Tentara Negara Achèh Sumatra itu!

 

Nah, sekali lagi saya ulangi kepada anda, Teuku Kamal Pasya bahwa, sejak 4 Desember, 1976 itulah effectivelly, nasionalisme Achèh tersiram dan terhidup segar mewangi kembali hingga kehari ini. Dan sejak itulah juga nasionalisme Indonesia (Jawa) mulai menguncup dan melayu dan agaknya tidak  mengindonesia jawa lagi?!?

 

Dan juga mengikut sejarah "antropologi pendidikan-nya", seperti yang telah kita sebutkan diatas itu, sejarah TNA, Tentara Negara Achèh, sejarah Nasionalisme Achèh dan sejarah Wanita Achèh dan Gerakan Emansipasi Universal-nya". telah berusia sama dengan seusia bangsa Achèh atau sama dengan seusia Negara (Kerajaan) Achèh Sumatra atau seusia dengan dunia terkembang!

 

Teuku Kemal Pasya, Inilah fakta (actual) sejarah bangsa Achèh!  Kita katakanlah: Inilah fakta (actual) sejarah Nasionalisme Achèh!  Saya tidak paham bagaimanakah anda, Tengku Kemal Pasya bisa lari dan terlepas-bebas, lantas melencong keluar jauh dari radius sejarah "antropologis pendidikan-nya" bangsa Achèh atau sejarah nasionalisme Achèh-nya?.

 

Membuat perbandingan dengan ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Kaum Jawa-Jawa Priyayi atau si Belanda Hitam (II), dengan sejarah "antropologis militer-nya" perlulah dijejaki sejak perjanjian antara Raja Jawa: Amangkurat (I) dengan Gubernur General Belanda: Cornelis van de Lijn, yang termeterai pada tahun 1646, hingga keberhasilan KMB 1949-Den Haag, Belanda mendesak agar mantan KNIL Belanda musti bergabung kembali dengan mantan Neo KNIL Belanda (NICA), agar permanen juga, sebagai si Belanda Hitam (I) bercantum menjadi satu dalam ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Kaum Jawa-Jawa Priayi sebagai si Belanda Hitam (II).  Atau, katakanlah anak-anak Jawa pembunuh bayaran "KNIL dan NICA Belanda", yang hidup dan bertugas sekarang ini, yang kejahatan dan kebiadaban yang dilakukannya juga sama-persis seperti apa yang pernah dilakukan oleh pembunuh bayaran KNIL dan NICA Belanda dulu, Tetapi yang kini, berseragam si MUBA, seragam si Musang berbulu si Ayam!

 

Tidaklah akan menjadi "mubazir" begitu saja, hanya dengan kita asyik terus mengingatkan Teuku Kamal Pasya, agar dia itu, bisa ikut bersama berpartisipasi dengan nasionalisme Achèh.

 

Teuku Kemal Pasya, Itulah fakta (actual) sejarah, sejarah azas yang tidak melahirkan nasionalisme apapun:  Tidak jugapun melahirkan nasionalisme Indonesia (Jawa) ketika itu! Yang terlahir hanya nasionalisme Jawa Priayi.  Itupun 262 tahun kemudian yaitu pada 20 Mei, 1908.

 

Teuku Kemal Pasya,

 

Itulah gambaran dari fakta bandingan antara TNA, Tentara Negara Achèh dengan fakta bandingan  ABRI/TNI-POLRI, Tentara Teroris Kaum Jawa Jawa Priayi si Penjajah atau si Belanda Hitam (I) dan si Belanda Hitam (II), yang tidak seiring kehidupannya dengan nasionalismenya dan juga gerakan emansipasinya (dari sejak dunia terkembang wanita/perempuan Jawa diperlakukan sangat buruk oleh Raja-Raja Jawa Priayi, Bangsawan-Bangsawan Jawa Priayi, Tengkulak-Tengkulak Jawa Priayiatau Centeng-Centeng Jawa Priayi, yang kemudian telah menjadi perhatian R. A. Kartini, setelah diapun berhasil di-Katholik-kan oleh induk semangnya.)

 

Teuku Kemal Pasya, si Belanda Hitam (I) dan si Belanda Hitam (II) yang telah menyemmbelih bangsa Jawa Proletaris dan bangsa-bangsa Melayu Nusantara sejak zaman VOC hingga zaman NKRI, dengan bergelimangan kejahatan HAM-nya selama 360 (tiga ratus enam puluh tahun) sejak umur sejarah "antropologis militer-nya", yang seusia dengan umur Jawa-Jawa Priayi, sebagai penjajah manusia Jawa Priayi keatas manusia Jawa (Proletaris) lainnya!. Exploitation de l'home par l'home!

 

Di Achèh saja sejak 26 Maret, 1873 hingga 15 Agustus, 2005 atau juga sehingga hari ini, mendekati hampir 200.000 (dua ratus ribu) jiwa bangsa Achèh yang telah disembelih oleh anak-anak Jawa, Pembunuh bayaran KNIL Belanda atau si Belanda Hitam (I) dan oleh anak-anak Jawa, Pembunuh bayaran ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Kaum Jawa-Jawa Priyayi Penjajah atau si Belanda Hitam (II).

 

Inilah gambaran fakta (actual) sejarah pengorbanan dari kegagahan nasionalsime Achèh menentang Belanda kolonialis-imperialis dan Indonesia Jawa Priyayi Chauvinis, Indonesia Jawa Priyayi Sentris, Indonesia Jawa Priyayi Unitaris dan Indonesia Jawa Priyayi Kolonialis-Imperialis. Sedangkan sejak sebelumnya atau sejak Sultan Ali Mughayat Shah, menurut ramalan statistik Fakultas Ekonomi, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, sebagaimana yang pernah dituturkan oleh Drs Karim Amarullah,  dalam sesi kuliah ekonomi, sepatutnya rakyat atau bangsa Achèh kini (dikuliahkan beberapa tahun sebelum Reproklamasi 4 Desember, 1976-red) telah mencapai 30.000.000 hingga 40.000.000 atau sama jumlahnya dengan rakyat atau bangsa Sunda hari ini.

 

Nah, betapakah besarnya rakyat atau bangsa Achèh yang telah mengorban diri demi mempertahankan nasionalisme Achèhnya, Teuku Kemal Pasya?  Apakah anda tidak dapat menghayatinya? Apakah anda masih juga tidak perlu untuk mengambil perduli tentang pengorbanan bangsa Achèh dan perjuangan besar nasionalisme-nya?

 

Lantas, apakah beda rakyat dengan bangsa Teuku Kemal Pasya?

 

Teuku Kemal Pasya, "Teuku" itu, diantara lambang isyarat, diantara lambang ingatan, diantara lambang baku, penggenerasian nasionalisme Achèh!!!

 

Kalau disana dalam karya anda, ada juga cobaan anda untuk menghubungkan NKRI dan Pancasila itu, dengan nasionalisme Achèh atau nasionalisme Indonesia, akan juga saya uraikan, dengan karya anda itu.  Insya Allah.

 

Selanjutnya saya coba menguraikan nasionalisme Achèh dengan Nasionalsime Indonesia Jawa sehubungan dengan lenggang-lenggok atau likak-likok karya anda, Teuku Kemal Pasya dengan melewati 5 point berikut dibawah ini:

 

(1).Pada tanggal 20 May, 1908 bukan kebangkitan nasionalisme "Indonesia", tetapi kebangkitan nasionalisme Jawa-Jawa Priyayi!

 

(2).Pada tanggal 28 Oktober, 1928 , bukan kebangkitan "nasionalisme" Indonesia Jawa, tetapi orintasi anak-anak Jawa komunis, yang baru mulai membangkitkan diri dan organisasi formil mereka pada tahun 1924,  tujuh tahun setelah ketibaan komunisme ke Pulau Jawa, di tahun 1917 dari Eropah. Karena buktinya Soekarno si Penipu licikpun 2 tahun kemudian di mahkamah Belanda di Pulau Jawa, telah mengakui dirinya sebagai si anak Jawa berkewargaan Belanda, sebagaimana telah diungkapkan kembali oleh Prof Dr H. Mubyarto, seorang ahli ekonomi Pancasila, yang terkenal itu.

 

(3).Pada tahun 1945,  Baru saja bersemi benih-benih nasionalisme Indonesia Jawa, sebagaimana telah juga dikatakan oleh Prof Dr Syafei Maarif mantan Ketua Muhammadiah.

 

(4).Antara tahun 1945 dan tahun 1949  nasionalisme Indonesia Jawa, baru mulai mencari identitinya, sebagaimana dikatakan oleh Prof  Dr W.A.L.Stockhof dan Drs J.P. van Kerkhoft ahli sejarah Belanda.

 

(4).K.H. Munawar Muso pada tahun 1948 masih belum menerima nasionalisme Indonesia Jawa, tetapi Internasionalisme komunisma dengan upaya menegakkan USSR filial Jawa.

 

(5).Pada tahun 1968,  Suharto Kleptokracy,  lewat Jenderal Murtono, Menteri Transmigrasi dan Koperasi-nya hendak membangun kembali nasionalisme Jawa Priyayi  atau Jawanisasi........!

 

Silakan anda: Teuku Kemal Pasya megamati terhadap ke-5 point diatas saja dulu, yang mana pada point (1) (20 Mei, 1908) penjajah Indonesia Jawa: Para Raja-Raja Jawa Priayi, para Bangsawan-Bangsawan JawaPriayi, paraTengkulak-Tengkulak Jawa Priayi dan para Centeng-Centeng Jawa Priayi atau kemudian disebut sebagai para kaum Jawa-Jawa Priyayi, sebagai si penjajah Jawa (Feudalis) terhadap rakyat Jawa (Proletaris): Exploitation de l'home  par l'home, yang pada tanggal 20 Mei, 1908 baru terhentak dari tidur nyenyaknya selama 302 dari tanggal 5 July, 1596 hingga 20 Mei, 1908, setelah menyadari sedalam-dalamnya bahwa, bangsa Achèh dengan nasionalisme Achèh-nya, telah sanggup mengalahkan kuasa agressor Belanda, walaupun dibantu oleh ribuan anak-anak Jawa, Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam (I), ditahun 1873, pada agresi I (pertama)-nya.

 

Tetapi apa yang telah ditulis oleh para penulis-penulis sejarah Penjajah Indonesia Jawa, sangat berlainan, seperti apa, yang kini telah juga menjadi Handbook anda? Mereka telah menuliskan yang 20 Mei, 1908 sebagai kebangkitan nasionalisme Indonesia (Jawa).

 

Tetapi 9 (sembilan) tahun kemudian, ditahun 1917, bantahan bermunculan diantaranya dengan bangkitnya anak-anak Jawa Proletaris, yang memprotes keras bahwa: 20 Mei, 1908 itu, bukannya kebangkitan nasionalisme Indonesia (Jawa) tetapi kebangkitannya para kaum Jawa-Jawa Priayi.

 

Gerakan kebangkitan kesadaran para kaum Jawa-Jawa Priyayi inilah, selanjutnya pada sekitar 1945 -1949  dikenal sebagai gerakan etnonasionalisme Jawa Priayi (Feudalis), walaupun Dr Mohammad Hatta, mantan Wakil Presiden RI (Jawa Jokya) telah pernah mengklaim pula bahwa, gerakan etnonasionalisme Jawa Priayi (Feudalis) bermula sejak 4 July 1927, sejak hari dilahirkannya PNI (Partai Komoenis Boenglon) yaitu sejak disedarinya kefakta-an bahwa, semua gerakan-gerakan politik orang-orang Jawa atau Politikus-Politikus bangsa Jawa, adalah semata-mata merupakan gerakan-gerakan politik yang hanya mementingkan kepentingan bangsa Jawa melulu!  ( lihat pada point 1 dan 2)

 

Walaupun kemudian, Prof Dr A. Syafie Ma'arif, mantan Ketua Muhammadiah serta Prof  Dr W.A.L.Stockhof dan Drs J.P. van Kerkhoft ahli sejarah Belanda, kesemua mereka telah mengamati bahwa, etnonasionalisme Indonesia Jawa berkecambah, berkisar sekitaran 1945 - 1949 ( lihat pada poin 3 dan 4).

 

16 (enam belas) tahun kemudian, di tahun 1924, (tahun Soekarno si Penipu licik mengawini Inggit Ganarsih) anak-anak Jawa kaum Proletaris itu, meng-existkan diri mereka sebagai anak-anak Jawa Indonesia, dengan melahirkan: PKI ( Partai Komunis Indonesia), sebagai organisasi politik anak-anak Jawa Proletaris, yang pertama sekali menggunakan "Indisch-Indonesia?" dalam predikat parti mereka, sebagai identiti organisasi mereka.

 

Nah, itulah sebabnya 4 (empat) tahun kemudian pada 28 Oktober, 1928, anak-anak Jawa Proletaris ini, lewat forum (bengkel) "Soempah Pemoeda 28 Oktber, 1928" berikrar, mengikrarkan sumpah mereka!  Forum (bengkel) "Soempah Pemoeda 28 Oktober, 1928" bagi anak-anak Jawa Proletaris, merupakan sebagai sebuah bengkel, tempat mencetak kader-kader, selain di bengkel-bengkel utama lainnya: Diladang-ladang atau di pabrik-pabrik, mengikut doktrin penting Lenin!

 

Jadi tidak perlu lagi anda, Teuku Kemal Pasya dengan nasionalisme Indonesia Jawa anda itu, masih lagi menyebutkan terlibatnya "Yong Jawa", "Yong Ini" dan "Yong Itu" disana, tetapi masih juga coba mengkamoflase fakta (actual) sejarah bahwa, sesungguhnya anak-anak Jawa Proletaris (yang tergabung dalam Yong Jawa), bergabung dengan Yong Ini dan Yong Itu!   Ini fakta (actual) sejarah!

 

Dan Yong ini dan Yong itu dan semua Yong itu, yang datang dari luar Pulau Jawa adalah mereka-mereka, yang kesana, ke Pulau Jawa  bukan sebagai wakilah dari bangsa-bangsa dari luar Pulau Jawa, tetapi mereka itu kesana seperti anai-anai yang pasang sayap, terbang cari panas cahaya lampu.  Katakanlah seperti anda, yang ke Jokyakarta, tetapi masih belum tahu apa itu naskionalisme Achèh, konon pula menjadi sebagai wakilah bangsa Achèh. Banyak orang yang seperti anda itu,misalnya si Sofyan Djalil, anak asal Alue 'Lhok, dekat Peureulak sana, yang kalau dia ngomong, macam-macam dia itu, bukan lagi anak Indonesia Jawa etnis Achèh!

 

Tengku Kemal Fasya,

 

Sama seperti fakta (actual) sejarah lainnya bahwa, front (medan) perlawanan 10 November, 1945, di Surabaya adalah untuk menyembelih Brigadir Jenderal A.W. Mallaby dan serdadunya yang hendak melucuti senjata bala tentara Jepang, juga dilakukan oleh Pemoeda-Pemoeda Komoenis Jawa Proletaris, dibawah pimpinan Ketua Pemoedanya: Soemarsono, sebagai front (medan) test-case PKI.  Front perlawanan Surabaya 10 November, 1945 adalah juga sebagai front (medan) menguji ke-spirituail-an tinggi kader Pemoeda-Pemoeda Partai Komoenis Indonesia Jawa Proletaris dilapangan untuk persiapan "Madium Affairs"?.  Ini fakta (actual) sejarah!

 

Tetapi anehnya Soekarno si Penipu licik, yang 2 (dua) tahun setelah Partai Komoenis Indonesia Jawa dan Proletaris exist di tahun 1924, diapun meng-existkan PNI (Partai Komoenis Boenglon)-nya di tahun 1926 dan 2 (dua) tahun setelah terbina forum (bengkel) "Soempah Pemoeda 28 Oktober, 1928" diapun dengan gagah pula berikrar dimahkamah, di Kantor Pengadilan, bahwa dia bukan bangsa "Indonesia" dan bukan nasionalisme "Indonesia" (Jawa), tetapi adalah bangsa Belanda, etnis Jawa, sebagaimana ungkapan Prof Dr H. Mubyarto, Bapak Ekonomi Pancasila yang terkenal itu!  Ini fakta (actual) sejarah!

 

Dan 20 tahun kemudian di tahun 1948, K.H. Munawar Muso, sekembalinya dari USSR (Russia), dia terus dengan keras dan tegas maukan di Pulau Jawa dijadikan USSR Filial (Jawa) dan maukan ladang-ladang dan fabarik-fabrik sebagai bengkel-bengkel gerakan pengkaderan, sebagaimana forum (bengkel) "Pemoeda Pemoeda 28 Oktober, 1928"?! 

 

Nah, disini makin jelas kita lihat lagi bahwa, forum (bengkel) "Soempah Pemoeda 28 Oktober, 1928" adalah bukan gerakan nasionalisme Indonesia Jawa tetapi sebagai platform gerakan sosialisasi Pemoeda-Pemoeda Komoenis Jawa! ( lihat pada point 5).  Doktrin komunisme dengan tegas menantang feudalisme, kapitalisme, kolonialisme-imprialisme! Tetapi mengapakah "Soempah Pemoeda 28 Oktoober, 1928" tidak menentang Feudalisme itu dari: Raja-Raja Jawa Priayi, Bangsawan-Bangsawan Jawa Priyai, Tengkulak-Tengkulak Jawa Priayi dan Centeng-Centeng Jawa Priayi yang sejak Amangkurat I, telah menggunakan Belanda untuk menindas anak-anak Jawa?

 

Lihat pula pada sebuah contoh bagaimanakah besarnya jumlah kekayaan dan kesenangan yang diberikan kepada Raja-Raja Jawa Priayi, Bangsawan-Bangsawan Jawa Priayi, Tengkulak-Tengkulak Jawa Priayi dan Centeng-Centeng Jawa Priayi karena jasa mereka memberikan ribuan anak-anak Jawa Proletaris untuk bekerja paksa masa Cultur Stelsel, dibawah Gubernur General van de Bosch?

 

Para kaum Jawa-Jawa Priayi sesungguhnya tidak pernah memikirkan rakyat-nya itu, untuk hidup dan berpikir, kecuali mengabdi sebagai hamba abdi.  Untung komunisme pertama sekali datang ke Asia mampir di Pulau Jawa  Komunismelah yang membina nasionalisme Indonesia Jawa !  Malangnya Jawa-Jawa Priayi menyembelih 3.000.000 jiwa lebih komunis, habis, sampai keantek-anteknya.  Jawa-Jawa Priayi yang tidak tahu berterima kasih.

 

Teuku Kemal Pasya, komunismelah yang kemudian mengajarkan nasionalisme Indonesia Jawa, karena mereka adalah pengamal Internasionalisme. Bagi para kaum internasionalistis itu, nasionalisme tidak pernah diperlukannya, karena semua mereka telah menjadikannya sebagai hafalan luar kepala!  Hanya yang mau nasionalisme Indonesia Jawa, diantaranya Teuku Kemal Pasya?

 

Jokyakarta dan Surakarta dibangun oleh Kolonialisme-Imperialisme dibawah kepimpinan Gubernur General Jacob Mossel.  Bukan atas kehendak rakyat Jawa.  Mengapakah "Soempah Pemoeda 28 Oktober, 1928" yang internaasionalistis itu, tidak menentang Raja-Raja Jawa: Hamengkubuwono dan Paku Buwono/Paku Alam? Tetapi mengapakah "Soempah Pemoeda 28 Okttober, 1928" yang internasionalistis itu, menentang dan meyembelih Raja-Raja atau Sultan-Sultan dan Hulubang-Hulubalng atau Bangsawan-Bangsawan dari bangsa-bangsa diluar Pulau Jawa, terutamanya di Achèh?

 

Khususnya bagi bangsa Achèh forum (bengkel) "Soempah Pemoeda 28 Oktober, 1928" atau platform gerakan sosialisasi Pemoeda-Pemoeda Komoenis Jawa itu, tidak bermakna apapun, karena ketika itu sebahagian Pemoeda-Pemoeda Angkatan 28 Oktober, 1928 dari platform gerakan sosialisasi Pemoeda-Pemoeda Komoenis Jawa yang dikirim oleh Raja-Raja Jawa Priayi, Bangsawan-Bangsawan Jawa Priayi, Tengkulak-Tengkulak Jawa Priayi dan Centeng-Centeng Jawa Priayi, pergi bertugas sebagai si Belanda Hitam untuk menyembelih bangsa Achèh hingga kedatangan Jepang di tahun 1942.

 

Jadi mengapakah Teuku Kemal Pasya mengangap "Soempah Pemoeda 28 Oktober, 1928, seolah-olah sebagai embrio-nya nasionalisme Indonesia Jawa?

 

Dari tahun 1953 hingga 15 Agustus, 2005 (malahan hingga 2006) algojo Jawa-Jawa Priyayi, si Jawa Priyayi Chauvinis, si Jawa Priyayi Sentris, si Jawa Priyai Unitaris atau si Jawa Priyayi Kolonialis-Imperialis, mereka-mereka yang bercita-cita hendak mewujudkan etnonasionalisme Jawa Priayi, agar terangkat sebagai nasionalisme Jawa Priayi Chauvinis Raya, sama seperti cita-citanya Adolf Hitler hendak mewujudkan Jerman Aria Chauvinis Raya atau Slobodan Milosovic dengan Serbia Serb Chauvinis Raya dengan menyembelih 70.000 jiwa lebih bangsa Achèh dan nasionalisme-nya selama 53 tahun !.

 

Tetapi mengapakah pula Teuku Kemal Pasya, masih berusaha untuk ikut serta mencoba mengangkat etnonasionalisme Jawa menjadi nasionalisme Indonesia Jawa Raya, sekalipun tersembelihnya nasionalisme Achèh?

 

(bersambung: Plus II + NASIONALISME ACHÈH DAN NASIONALISME INDONESIA JAWA)

 

Wassalam.

 

Omar Putèh,

 

om_puteh@yahoo.com

Norway

----------