Stavanger, 10 Juni 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PLUS II + NASIONALISME ACHÈH DAN NASIONALISME INDONESIA JAWA.

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.

 

 

NKRI DIWUJUDKAN DARI NEGARA SEPARATIS RI-JAWA-JOKYA DENGAN PANCASILA-NYA SEBAGAI ALAT PENJAJAHAN.

 

Apa itu NKRI dan apa itu Pancasila?

 

Dari penjawaban apakah itu NKRI dan apakah itu Pancasila,  maka akan semakin jelas lagi apakah itu Nasionalisme Achèh dan apakah itu Nasionalisme Indonesia (Jawa).

 

Diantara dari sekian penjawaban yang sememangnya sudah terpapar dan terbongkar habis dengan tela'ahan mekanikalnya apakah itu NKRI dalam konteks sebagai Negara Kesatuan (Kolonialis) Republik Indonesia (Jawa) dan apakah itu Pancasila sebagai alat penjajahan dari Penjajah Indonesia (Jawa) itu sendiri, dalam website: http://www.dataphone.se/~ahmad

 

NKRI negara yang tidak sah!

 

Kata Dr Pramoedya Anata Toer, ditahun 2005, pada tahun Ulang Tahun NKRI ke-55, yang ucapannya itu bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-80 beliau: Selamat Ulang Tahun Pram!

 

Setelah ucapan kontraversil-nya pada tahun lalu itu dan setelah itu, lantas ditahun berikutnya, di tahun 2006 Dr Pramoedya Ananta Toer inipun sudah menutupi usia ke 81-nya: Turut-ikut berlansungkawa Pram!

 

NKRI adalah negara yang tidak sah!

 

NKRI terlahirkan pada tanggal 15 Agustus, 1950!  55 (lima puluh lima) tahun sebelum MoU Helsinki antara Negara Achèh Sumatra dan NKRI dilahirkan di Helsinki, Finlandia!  Atau hingga hari ini, berarti NKRI pada usia ke 56 (lima puluh enam) tahun, telah tegak sebagai negara yang tidak sah!

 

Mengapakah Dr Pramoedya Ananta Toer mengatakan NKRI sebagai negara yang tidak sah?

 

Teuku Kemal Pasya, sebagaimana pemaparan dan pembongkaran habis-habisan yang telah dilakukan oleh Tengku Ahmad Hakim Sudirman tentang sejarah RI-Jawa Jokya, RIS dan NKRI, maka ianya kini telah menjadi fakta, tidak dapat disembunyikan lagi dan akhirnya tidak dapat disangkalpun kesahehannya: NKRI, sebagai negara yang tidak sah!

 

Setelah beliau mengkotak-kotakkan semua rentetan peristiwa perjalanan sejarah: RI-Jawa Jokya, RIS dan NKRI, maka diperlihatkan bahwa, bentuk mata-mata rantai sejarah RI-Jawa Jokya dengan mata-mata rantai NKRI sangat berbeda, tidak sama dan tidak serupa.  Itulah pembohongan sejarah, itulah pembuktian bahwa, NKRI adalah sebuah negara yang tidak sah.

 

Anda, Teuku Kemal Pasya, selaku sarjana, selaku dosen di Universitas Malikussaleh, 'Lhok Seumawèh, sepatutnya bersepandangan dengan Prof Dr Asvi Warman Adam dari LIPI, untuk bangkit membetulkan perjalanan sejarah NKRI yang telah dipesongkan oleh Penjajah Indonesia (Jawa).  Jangan anda menjadi "sok-Indonesia (Jawa) phobia" lantas mengecap ASNLF/GAM sebagai sok-subversive.

 

Tengku Hasan di Tiro, hadir kedepan bangsa Achèh untuk menyerukan kepada seluruh bangsa Achèh: Yang Tuanku, yang "Teuku" dan yang Tengku, agar bangkit dan menulis kembali sejarah bangsa Achèh-nya.  ASNLF/GAM, sebagaimana telah anda saksikan dan disaksikan oleh masyarakat dunia,  telah bangkit dan telah menuliskan kembali sejarah bangsanya!

 

Tengku Ahmad Hakim Sudirman pun sudah membantu menuliskan sejarah Achèh, lantas bagaimanakah anda, Teuku Kemal Pasya?

 

(A). Cobalah terlebih dahulu anda, Teuku Kemal Pasya menarik dulu garis lurus tegak-vertikal sejarah Negara (Kerajaan) Achèh sejak pemerintahan Sultan Ali Mughayat Shah Al Qahar (1496-1528) sehingga tahun ini, tahun 2006, agar nampak terbaca bagaimana sejarah Negara (Kerajaan) Achèh Sumatra dan Ketatanegaraan- nya itu, sebagai sebuah negara yang "murni" sah dengan wajah nasionalismenya!

 

(B). Dan setelah itu, cobalah pula anda, Teuku Faisal menarik garis lurus tegak-vertikal sejarah NKRI:

 

(1) Dari titik 15 Agustus, 1950 sehingga tahun ini, tahun 2006, agar dengannya akan nampak terbaca pula bagaimana sesungguhnya sejarah Negara Kesatuan (Kolonialis) Republik Indonesia (Jawa) dan Ketatanegaraan-nya itu, sebagai sebuah negara yang "tulen" tidak sah, dengan wajah nasionalismenya!

 

NKRI tidak ada sangkut-paut-nya dengan RI-Jawa Jokya.  Pada point-point persekitaran ketidak ada kesangkut-pautnya inilah paling penting dan paling banyak dibongkarin dengan tela'ahan mekanikal-nya oleh Tengku Ahmad Hakim Sudirman. Bentuk lingkaran mata rantai yang coba menyangkut dan memagut RI-Jawa Jokya dengan NKRI lain bentuk, lain rupa. Justru pada point-point persekitaran inilah yang anda, Teuku Kemal Pasya perlu catat ini dan perlu ingat untuk bahan tela'ahan anda!

 

RI setelah proklamasi, wilayahnya hanya disisi belakang Musium Jakarta.  Maka dipameokanlah RI-Belakang Musium Jakarta.  Dan setelah Soekarno si Penipu licik, lari bersembunyi ke Jokjakarta, yang wilayah "negara RI-Jawa-Jokya itu, hanya seluas alun-alun istana Jokyakarta, dimana sejarahnya menceritakan bahwa, ditempat itulah Soekarno si Penipu licik, menggerekkan kain rentang putih dengan isyarat menyerah diri pada Belanda, sebagai ganti tukaran naik gunung bergerilia.................!

 

(2). Tetapi Soekarno si Penipu licik, telah menariknya dari titik kibulan dari: Zaman Purbakala, ke Zaman Batu, ke Zaman Perunggu, ke Zaman Ning Majapahit, ke Zaman Majapahit, ke Zaman Merdeka, dan hingga ke hari ini, sebagaimana diupamakannya pada dinding Monumen Nasional? yang telah sempat disanggah kuat oleh Drs ... Abdullah (saya terlupa nama lengkap beliau, silakan baca kembali Sinar Darussalam, majalah bulanan Universitas Syiah Kuala, terbitan sekitar akhir 60-an atau awal 70-an) seorang dosen dari Universitas Islam Bandung:  "Dimanakah letaknya goresan garis pemerintahan kerajaan Islam", tanya beliau sebagai sanggahan?

 

(a). Majapahit kerajaan kecil: Yang luas wilayahnya hanya seluas Jawa Timur sekarang ini + Pulau Madura, tidak lebih dari itu. Karena sejak pemberontakan awal Ranggalawe, kerajaan kecil Majapahit itu, tidak pernah lagi tereda dan putus-putusnya dengan pemberontakan didalam negeri, sehingga kerajaan kecil itu tidak bisa berkembang dan lagipun pemimpinnya mabuk arak 24 jam, sama seperti Singosari.  Ini telah diriset oleh Prof Dr C.C. Berg dan Assistant beliau Prof Drs S.Wojowasito. Untuk dimaklumi bahwa, sesebuah kerajaan itu, akan dikatakan sebagai sebuah kerajaan besar pada zaman dahulu, jika kerajaan itu punya armada lautnya sebagai ukuran.  Sriwijaya-pun tidak pernah diketahui punya armada laut-nya!

 

Deputy KSAL-pun (silakan cari nama beliau) telah mengakui dalam ucapannya di depan Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Achèh pada tahun 1969, bahwa hanya Achèh yang mempunyai armada lautnya di Asia Tenggara.  Historical Back Ground (latar belakang sejarah) ALRI telah diabadikan dengan latar belakang sejarah Angkatan Laut Negara (Kerajaan) Achèh Sumatra.  Teuku Kemal Pasya, ini sebuah bukti authentik sejarah , sebagaimana yang telah dikatakan oleh Deputy KSAL itu, suatu bukti yang membuktikan bahwa, bangsa Achèh yang sedang menuliskan kembali sejarahnya yang anda tuduh sebagai sok-subversive, sementara andapun dengan sok-Indonesia phobia!

 

(b). Kerajaan kecil Majapahit itu, telah lenyap dimuka bumi sejak 1365, sebaik saja Gajah Mada mati dibunuh ditahun 1364. Benarkah Gajah Mada mati dibunuh oleh Raja Benoa di Temiang, wilayah, Achèh bahagian Timur?

 

(c). "Sumpah Palapa" itu, sama sekali tidak pernah ada kata Prof C.C. Berg. Sumpah Gajah Mada sebenarnya yang sempat ditemui adalah: "Aku  tidak akan lagi mau terlibat dengan pesta pora seks dan aku akan mengabdikan diriku, sepenuh masa dan sepenuh waktu untuk negara.  Yang demikian inilah, ucapan tersumpah-nya, setelah gundik termuda-nya ditiduri oleh anak Raden Wijaya sendiri: Kertarajasa, yang beribukan Dara Petak, asal Jambi itu? (Raja/Ratu Majapahit ke II, setelah Raden Wijaya mati).

 

Sebagai tertulis dalam sejarah Jawa bahwa, Raja-Raja Jawa, Bangsawan-Bangsawan Jawa, Tengkulak-Tengkulak Jawa dan Centeng-Centeng Jawa, telah memperlakukan wanita-wanita Jawa, secara biadab dan menjijikkan atau sebagai alat pesta-pora.  Dan ini terus berlarut dan berlangsung, serta terasa menggugah hingga ke zaman R. A. Kartini.  Malahan hingga hari ini, kita lihat dan kita dapat saksikan diseluruh kota-kota di Pulau Jawa, pembantu-pembantu rumah wanita Jawa diperlakukan kembali seperti hamba sahaya, dihina dan direndahkan derajat-martabatnya oleh si Jawa Penjajah!  Bagaimanakah perasaan anda, saudara Ibrahim Isa Betawi dari Biljmer, Belanda?  Adakah anda seperasaan dengan R. A. Kartini untuk bangkit membela mereka seperti yang sekarang sedang diperjuangkan oleh Prof Maria dari Jakarta?

 

Mengulang dengan apa yang dikatakan sebagai "Sumpah Palapa" itu adalah semata-mata sebagai perbuatan menipu sejarah, yang sengaja direka-reka oleh Mpu Tantular alias Prof Muhammad Yamin SH dalam Negara Kerta Gama (Negara Kota Gajah Mada) sebagai "alat" untuk menguasai wilayah penjajahan Belanda dan wilayah penaklukan Jepang sebagai wilayah "Indonesia", dan untuk menjadi tapak kaki nasionalisme Jawa Chauvinis, Jawa Kolonialis, Jawa Sentris, Jawa Unitaris agar mudah mengklaim-nya kemudian hari, sebagaimana dimaksudkan oleh kehendak Pancasila 1 Juni, 1945.

 

Prof Mohammad Yamin SH diakui sebagai sarjana pertama yang dapat membaca dan menulis dengan baik bahasa sangsekerta ketika itu. Itulah sebabnya Soekarno si Penipu licik, menjadikannya sebagai kuda kepang, mabuk kemenyan bakar!

 

(d). Soekarno si Penipu licik, coba mengklaim semua wilayah jajahan Belanda dari Sabang ke Meraoke, agar sama sebagaimana klaim nasionalis-nasionalis Hindu (India) keatas wilayah Little India, Further India atau Great India (India Raya) atau Indos-nesos, sebagaimana telah terceritakan dalam Mahabratha atau Ramayana (plus + dalam versi Jawa) yang hingga hari ini, para kaum Jawa Chauvinis, Jawa Kolonialis, Jawa Sentris dan Jawa Unitaris, tetap mengklaimnya sebagai preamble "Indonesia", sedangkan sebenarnya wilayah Mahabratha itu hanya: Sumatra, Jawa dan bahagian selatan Kalimantan, tidak termasuk sama sekali Sulawesi, wilayah Melanesia dan Kepulauan Sunda Kecil.  Inilah juga salah satu bentuk penipuan sejarah yang dilakukan oleh Jawa Chauvinis, Kolonialis, Jawa Sentris atau Jawa Unitaris.

 

Saya (penulis) pernah sekonyong-konyong terbingung oleh sikap-tingkah seorang rakyat Malasia etnis-India, penggemar koleksi motorcycle klassik di Puchong, Kuala Lumpur, Malaysia, selepas saja saya memperkenalkan diri dan mengatakan berasal dari Achèh, Sumatra.  Lantas dia, spontan bertanya balik: Dari Indonesia? Tidak, jawab saya.  Dari Achèh, Sumatra, sambungan jawaban saya lagi.  Achèh Sumatra, bukan Indonesia!, jawaban tambahan saya, sambilan menerangkannya lagi.

 

"Ini semua karena penjajah", katanya lagi.  Indonesia itu wilayah kami!  Setelah ucapan ini, dia-pun terus tidak mau melayani saya lagi, macam marah tidak tentu pasal.

 

Nah, Teuku Kemal Pasya, itulah kiranya corak klaim dari gerakan nasionalis Hindu (India) sedunia.  Nasionalis-Nasionalis Hindu (India) pernah mengklaim atas wilayah"Mahabratha" kepada Kerajaan Belanda pada tahun 1947 di Amsterdam.  Hinduisme is India. India is Hinduism!  Javanism is Indonesia!  Indonesia is Javanism! Hinduism is Javanism?  Javanism is Hindunism? Läntas mengapakah anda versi Lurah Semar yang dilahirkan dari tetasan telor itu, ada si Cepot, ada Petruk dan si Bagong yang ketiga-tiga dilahirkan tampa ibu?

 

(3). (a) Katakanlah bangsa Achèh, sedangkan mengenyampingkan sejarah Negara (Kerajaan) Achèh, yang dituliskan Prof Mohammad Yamin SH yang mensejarahkan bahwa, Negara Achèh dan Negara (Kerajaan) China Tiongkok sebagai dwi negara atau dwi bangsa yang telah mencatat sejarah diplomatik pertama didunia, sebagaimana bulletin yang dikeluarkan oleh Pemerintah Propinsi Riau, yang saya pernah baca di Duri, Pakanbaru, yang bukunya tertinggal di Tanjung Pinang Batu Dua, Riau.

 

Hubungan baik antara Negara (Kerajaan) Achèh dengan Negara (Kerajaan) China Tiongkok dapat dilihat dari sejarah penganugrahan Tjakra Dönja, sebuah Landmark yang monumental itu dan sebagaimana juga yang telah diungkapkan berulang dalam serial-serial silat Khoo Phing Ho.

 

Karena bagi bangsa Achèh cq ASNLF/GAM, hanya mau menuliskan kembali sejarahnya sejak penjelajahan awal bngsa Eropah seperti tahun-tahun: Christhoper Columbus, mendarat di Columbia, benua Amerika atau sejak Magellhans mendarat di Philipina atau sejak Vasco de Gama (bukan Gajah Mada) di Selatan Afrika.  Teuku Kemal Pasya, kalau ada yang tulis Baggio dari Italia, apakah "Yang tulis" itu, akan dicap sebagai sok-subersive oleh orang Jawa?

 

Demikianlah, kalau Achèh menulis kembali sejarah bangsanya, tidaklah patut anda mengatakan bahwa, bangsa Achèh itu, sebagai sok-subversive.

 

(b). Disini dari keterangan pada (a) diatas, maka ia sekaligus telah menepik jungkatan Soekarno si Penipu licik, yang coba mengklaim bahwa,  Wilayah Indonesia (Jawa) itu adalah sebagaimana keluasan wilayah dari Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit.

 

Sampai sekarang para ahli sejarah Indonesia (Jawa) masih bertelagah bahwa, Sriwijaya itu bukan di muara Sungai Palembang tetapi mungkin saja di Muara Sungai Jambi, dengan melihat letak georaphis Jambi, lebih dekat pada singgungan garis sejarah navigasi/pelayaran dari lintasan Jung-Jung China Tiongkok berbanding dengan Palembang.

 

(c). Dan lagi asal usul bahasa Melayu, yang menjadi bahasa budaya (lingua franca), diduga kuat berakar dari Jambi, walaupun rupa wajah orang Palembang dan orang Jambi ada persamaan seperti China Tiongkok.

 

(d). Begitupun juga 3 atau 4 ahli sejarah Malaysia pun menelagahi bahwa, Paklimbang di Kelantan, itulah yang sebenarnya dimaksudkan sebagai pusat Sriwijaya, sebagaimana yang dimaksudkan oleh para ahli sejarah Indonesia (Jawa), jika kita melihat keatas letak geographis, yang Paklimbang lebih dekat dengan China Tiongkok.  Dan sebagaimana diketahui ajaran Sidharta Gautama Budha,  yang berasal dari India, ditebarkan kemana-mana lewat sejarah navigasi/pelayaran Tiongkok China.  Pelimbang di Achèh-pun dicurigai oleh ahli sejarah, sebagai pusat Sriwijaya? karena tidak jauh dari Pelimbang di Achèh itu, terdapat sebuah kuil purba China Tiongkok, yang sekarang dibungkus oleh lingkaran akar pokok kayu.

 

(e). Sumatra (Melayu) bukan Jawa, kata I-Tsing, pengembara China Tiongkok.  Maka mengapakah, Soekarno si Penipu licik itu berani mengklaim Wilayah Indonesia (Jawa) adalah wilayahnya Sriwijaya, walaupun sibibik Tien istri dari Suharto si Pencuri, yang matinya tertembak oleh pistol salah seorang anak lelakinya ketika sedang bertengkaran, karena masalah rebutan harta karun curian dari khazanah bangsa-bangsa Melayu Nusantara, yang pernah berkata di Paris bahwa, Candi Borobudur itu dibina oleh Raja-Raja Perempuan dinasty Sriwijaya (Syailindra), dari Palembang, yang pernah menjajah Jawa Tengah selama lebih kurang 800 tahun?

 

Teuku Kemal Pasya, disini saya telah coba memaparkan sedikit tentang wilayah yang diklaim oleh Soekarno si Penipu licik dan para nasionalis Jawa Chauvinis, Jawa Kolonialis, Jawa Sentris dan Jawa Unitaris dalam "wilayah kebangsaan Pancasilanya", pada 1 Juni, 1945 atau wilayah NKRI sekarang ini?  Bukankah ini sebagai penipuan sejarah? 

 

Bukankah ini sebagai nyata dan jelas bahwa, apa yang dikatakan wilayah NKRI itu sebagai wilayah yang tidak sah.  Dari Wilayah yang tidak sah, yang pada (awalnya) dirampas dengan trik pidato 1 Juni, 1945 dan (kedua) lewat trik undang-undang dengan tertukarnya RIS menjadi NKRI, serta (ketiga) dengan menggunakan kekuatan militer, mengakibatkan pernyataan Dr Pamoedya Ananta Toer untuk mengatakan bahwa, NKRI itu, sebagai sebuah negara yang tidak sah!

 

Hal-hal seperti ini patut juga menjadi himbauan Prof Dr Asvi Warman Adam dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu, untuk meluruskan semua untain sejarah, bukan hanya meluruskan perkara peristiwa kedua algojo Jawa Soekarno si Penipu licik dengan Suharto si Pencuri (dengan Foul Playnya).  Megawati Soekarno Putri anaknya Soekarno si Penipu licik itu, yang tidakpun mau meluruskan sejarah bapaknya, karena dia tahu betul bahwa, Soekarno si Penipu licik itu, sesungguhnya terlibat penuh dengan G.30.S/PKI/Gestapoe Jawa. 

 

Semua orang tahu tingkah lakunya, sejak profesinya, sebagai mental situkang jual "kecap politik" kenapa Soekarno si Penipu licik tidak mau bertindak cepat untuk membela rakannya D.N.Aidit, karena takut dicap sebagai terlibat, sehingga sempat dipenggal putus kepalanya dan ditenteng ke Istana oleh Letjen Sarwo Eddhi serta lebih 3.000.000 jiwa ummat PKI disembelih habis secara biadab dan tidak berprikemanusiaan, sedangkan dia ketika itu masih utuh sebagai Presiden NKRI, masih utuh sebagai seorang Panglima Tertinggi berbintang lima, yang kemudian disifatkan sebagai si pengecut (teliti kembali seminar  mengenai kepimpinan Soekarno si Penipu licik tahun 1983? di Jakarta), dan coba mencuci tangan kotornya! 

 

Saudara Ibrahim Isa Betawi dari Biljmer, Belanda juga sepatutnya tidak perlu lagi anda membela Soekarno si Penipu licik itu, walaupun anda pernah mendapatkan manfa'at "kemanisan nostalgia lalu", tetapi tumpulah membela para korban jiwa dari Peristiwa 1965 dan Pulau Buru dan kutuklah si Gusdur Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarno Putri, yang pernah membiarkan Suharto si Pencuri itu selamat, ketika dia cukup sehat. Renungkanlah kembali bagaimana tangisan kesedihan Nyonya Carmel Budihardjo, karena tidak terseretnya Suharto si Pencuri kemuka pengadilan.

 

Itulah sedikit gambaran dua mantan presiden Penjajah Indonesia (Jawa) yang menjaga NKRI, saudara Teuku Kemal Pasya.

 

Lantas respon saya kedua atas "Persatuan Indonesia" dari sila ketiganya Pancasila anda. Apakah itu Pancasila dalam konteks kebangsaa Achèh atau nasionalisme Achèh dan kebangsaan Indonesia (Jawa) atau nasionalsime Indonesia (Jawa)?

 

Soekarno si Penipu licik coba mengelak dan menggelek mernolak definisi nasionalisme ala Ernest Renan: Kehendak akan bersatu, merasa diri bersatu dan mau bersatu dan definisi nasionalismenya ala Otto Bauer: Suatu perangai yang timbul karena persatuan nasib?  Bukankah demikian komboran Soekarno si Penipu licik itu?

 

Yang kedua-dua definisi nasionalisme diatas itu, kemudian diakuinya sendiri sudah lapuk, setelah ditegurin oleh Prof Mohammad Yamin SH, salah seorang, diantara dua orang yang membantunya menyusun pidato kelahiran Pancasila 1 Juni, 1945-nya  itu.

 

Dan kemudian Soekarno si Penipu licik mengelak dan menggelek lagi, dengan mengatakan menolak pikiran Prof A. Baars, seorang mahaguru yang pernah mendidiknya menjadi seorang kader komunis, agar menolak adanya pemahaman kebangsaan tetapi sebaliknya menganjurkan kepahaman kemanusiaan sejagat: Kosmopolitanisme, setelah dia memulung pikiran Dr Sun Yat-sen pada tahun 1918?

 

Sebenarnya, walaupun Dr Sun Yat-sen mengatakan ada kebangsaan China atau ada kenasionalisme-an China (Mint Su), tetapi hingga sekarang kebangsaan China itu atau kenasionalis-an China itu, terus wujud sebagai kebangsaan sejagat: Kosmopolitanisme, karena di ujung pikiran Dr Sun Yat-sen itu, masih ditekankan lagi harapan kepada sesiapun rakyat China yang berada diluar tanah besar China, ketika tiba masanya, akan memilih kembali ketanah leluhurnya, sebaik mereka sukses dan kaya raya.  Ini fakta dan ini realita, terutama dari jenis kumpulan-kumpulan seperti type Bob Hasan, walaupun dia timpang!

 

Selain itu, Dr Sut Yat-sen, awal-awal lagi sememangnyapun menyadari bagaimana sebenarnya struktur alamis sosiologis masyarakat China, sebagaimana yang pernah dibentangkan dengan cermat oleh Fei Xiaotong, Presiden pertama Chinese Soceity of Sosiology.

 

Soekarno si Penipu licikpun, yang juga sebagai si Ketua (Presiden) Utama para kolaborator-kolaborator Jepang, coba dengan licik menipu para hadirin disidang Dokuritsu Zyonbi Tyoosakai, disidang perhimpunan para kolaborator-kolaborator Jepang 1 Juni, 1945, seolah-olah dia, sudah  berkebangsaan "Indonesia", sebaik  memulung pikiran kebangsaan China (Mint Su)-nya Dr Sun Yat-sen itu, karena, ketika itu, ditahun 1918 nama "Indonesia" belumpun dilahirkan di Pulau Jawa.

 

Teuku Kemal Pasya, sebenarnya Soekarno si Penipu licik dalam program Jawanisasinya atau "revolusi yang tidak selesainya", dia menggunakan pendekatan "internasionalisme atau kosmopolitanisme atau kemanusiaan sebagai kedok menakluki wilayah-wilayah Nusantara!  amati ini dan cermati semua!

 

"Indonesia" pertama sekali dinamakan pada "bayi" yang dilahirkan oleh keluarga para pengikut pahaman kosmopolitan atau kosmopolitanisme ditahun 1924, enam tahun setelah Soekarno si Penipu licik, menolak kosmopolitanisme dan menerima Mint Su kebangsaan China-nya Dr Sun Yat-sen!  Setelah keluar dari sebutan awal: Partai Komunis Belanda.

 

So, "Indonesia" adalah predikat pertama yang menjadi, sandangan pertama "Partai Komunis Indonesia", yang sekarang telah diharamkan dengan instrumen TAP XXV/MPRS/1968 sehingga-hingga nyawa dari lebih 3.000.000 jiwa, buruh pabrik yang tidak cukup makan dan buruh tani yang miskin, yang tidak bersalah, hanya karena pernah diperhatikan tingkatan pri-kehidupannya oleh PKI, telah disembelih oleh algojo Jawa biadab itu dengan juga menggunakan gulitin: TAP XXV/MPRS/1968 itu sendiri, yang sangat kejamnya dan tidak berprikemanusiaan, sama kejamnya dan sama tidak berprikemanusiaanya seperti pernah dilakukan pada masa "Daerah Operasi Militer" di Achèh terhadap bangsa Achèh.

 

(NB: Gusdur Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarno Putri, juga pernah melakukan seperti yang pernah dilakukan oleh Suharto si Pencuri, masa "Darurat Militer" dan "Darurat Sipil" terhadap bangsa Achèh, di Achèh, yang telah mengorbankan nyawa lebih 70.000 jiwa bangsa Achèh!)

 

Itulah Teuku Kemal Pasya:  "Indonesia", yang sebenarnya sebagai predikat utama dari "Partai Komunis Indonesia", yang pernah tercatat dan terpahat dalam sejarah, tetapi telah disabotage oleh Soekarno si Penipu licik dan politikus-politikus Jawa lainnya!

 

Saudara Teuku Kemala Pasya, coba anda pikirkan baik-baik siapa sebenarnya mereka-mereka dari himpunan para kolaborator-kolaborator Jepang yang hadir pada 1 Juni, 1945 itu, yang ketika itu sedang begitu asyik ditatarin atau diindotrinasikan oleh Soekarno si Penipu licik dengan "kebangsaan Jawa 1918-nya"!  Adakah mereka-mereka para kolaborator Jepang , yang ditatar atau yang diindoktrinir itu bisa dikatakan sebagai representative bangsa-bangsa Melayu Nusantara atau bangsa-bangsa bi luar Pulau Jawa?

 

Carilah list daftar nama mereka-mereka si kolaborator Jepang itu, yang diantaranya mereka terlibat menjual Pemuda-Pemuda Jawa untuk dijadikan sebagai buruh/pekerja paksa bina rel kereta api di Burma yang kemudian menjadi pula sebagai perumus UUD 1945, yang ompong itu!

 

Adakah pemimpin Islam sebagai wakilah disana?  Mengapakah tidak ada pemimpin Islam yang representative diundang kesana?  Sedangkan dalam sejarah Nusantara pejuang-pejuang Islam, yang jutaan terkorban akibat kejahatan penjajah, bukan manusia type kolaborator Belanda dan Jepang yang hadir disitu!  Itulah sebabnya pemimpin Islamlah yang berhak mutlak memimpin negara di Nusantara ini.  Itulah sebabnya mengapakah Imam Kartosuwiryo terpikir tentang berkewajibannya beliau memperjuangkan hak jutaan kaum muslimin yang pernah terkorban dari ulah penjajah Belanda dulu.

 

Apakah memperjuangkan hak dari korban kaum muslimin ini juga akan anda labelkan sebagai sok-subversive Teuku Kemal Pasya?  Sedangkan Soekarno si Penipu licik, yang telah menyembelih jutaan bangsa-bangsa Melayu Nusantara, termasuk di Achèh sebagai tidak, sebagai tidak pernah anda tuliskan sebagai sok-subversive? 

 

Ini sudah terjadi, sekarang ini ada "orang-orang Achèh" tiup trompet batang padi, yang pemimpin Negara Achèh Sumatra/ASNLF/GAM tidak demokratik, bukan representative megambil keputuskan sikap menanda tangani MoU Helsinki, tetapi tidak pernah mau mengatakan Soekarno si Penipu licik, yang sudah 66 tahun berlalu melakukan tindakan kejahatan dan "subversive" mencaplok wilayah-wilayah Nusantara, sedangkana dia berkebangsaan Jawa 1918 dan berkebangsaan Belanda 1930 dan berkebangsaan 1 Juni, 1945?

 

Nah, dan jelas sudah bahwa, pada tahun 1918 Soekarno si Penipu licik masih lagi berkebangsaan Jawa, masih lagi bernasionalisme Jawa!  Dan ditahun 1930 Soekarno si Penipu licik mengakui didepan hakim pengadilan negeri, sebagai berkebangsaan Belanda, sebagai bernasionalisme Belanda, sebagaimana telah diungkapkan oleh Prof Dr H. Mubyarto, dan pada 1 Juni, 1945 masih berkebangsaan 1 Juni, 1945, sebagaimana telah kita singkapkan sebelumnya.

 

Tetapi lucunya pada tanggal 1 Juni, 1945 Soekarno si Penipu licik, mengajak para hadirin dari BPUPKI (Dokuritsu Zyonbi Tyosakai mengikutkan dia, agar menukarkan kebangsaannya: Bukan dengan kebangsaan Jawa atau nasionalisme Jawa dan bukan pula dengan kebangsaan Belanda atau nasionalisme Belanda, tetapi dengan kebangsaan "Indonesia" atau nasionalisme "Indonesia", yang berpredikatkan "Indonesia"-nya PKI?

 

Teuku Kemal Pasya,  Sila kebangsaan pada sila pertama dari Pancasila-nya Soekarno si Penipu licikpun kemudian ditukarkan menjadi "Persatuan Indonesia" sebagai sila ketiga, setelah "nasionalisme Indonesia itu", membayar uang tataran, uang indoktrinasi yang telah ditumpah-ruahkan bermilyar-milyar rupiah, yang dicuri dari kantong rakyat jelata. 

 

Anda, Teuku Kemal Pasya-pun mengenakan baju "Persatuan Indonesia" yang mahal itu, sekalipun bernilai rendah dan tidak lagi laku, apalagi kini sedang menguncup layu.

 

Itulah kebangsaan Indonesia-nya Pancasila atau itulah Persatuan Indonesia-nya Pancasila!  Atau itukah kebangsaan-nya yang anda, Teuku Kemal Pasya maksudkan dalam tataran atau pengindoktrinasian anda itu dalam Nasionalisme Achèh dan Nasionalisme Indonesia Jawa?

 

Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme Jawa sentris, kata Dr Pramoedya Ananta Toer. Nasionalisme yang dilahirkan pada 1 Juni, 1945 itu, adalah nasionalisme yang dilahirkan untuk melahirkan "Indonesia (Jawa)", atau yang dilahirkan untuk menjajah bangsa-bangsa Melayu diluar Pulau Jawa!

 

Teuku Kemal Pasya, lihatlah dengan sejelas-jelasnya penglihatan anda dan bandingkanlah antara Nasionalisme Achèh yang dibangun sejak 1496, sejak dari buaian hingga ke liang lahat dengan Nasionalisme Indonesia Jawa yang baru saja coba dibangun pada tanggal 1 Juni, 1945, yang tanah airnya "mantan" wilayah pendudukan Fasis Jepang dan kemudian dengan bertukar ke "mantan" wilayah penjajahan Kolonialis Belanda.

 

Pancasila adalah alat penjajah Indonesia Jawa!  "Indonesia" sandangan predikat pertama Partai Komunis Indonesia itu, digunakan untuk menjajah bangsa-bangsa Melayu Nusantara, Melayu-Melayu di luar Pulau Jawa!

 

Adakah anda, Teuku Kemal Pasya (apalagi sebagai seorang muslim dan orang dari luar Pulau Jawa) dapat memahami dan menghayati-nya bahwa, Pancasila itu sebagai alat penjajahan!!!

 

Walaupun Soekarno si Penipu licik, telah mengatakan bahwa, RI Jawa Jokya, yang telah diterima menjadi negara anggota RIS, kemudian keluar memisahkan diri sebagai negara seperatis dengan menggunakan nama baru NKRI {Negara Kesatuan (Kolonialis) Indonesia Jawa} dengan hanya menggunakan trik undang-undang.

 

Disini, diuraian sekarang ini, memang diketahui bahwa, Pramoedya Ananta Toer pernah mengagumkan Soekarno si Penipu licik karena dapat menukarkan negara RIS menjadi NKRI dalam hanya sekelip-sekelap mata.

 

Tetapi kemudian baru beliau sadari sedalam-dalamnya sadar bahwa, NKRI itu, diwujudkan dari negara seperatis RI-Jawa Jokya, yang kemudian telah ditentang oleh bangsa Maluku, yang telah ditentang oleh Presiden Negara Republik Maluku Selatan: PYM C. Soumukil, pribadi yang pertama sekali pernah mengatakan: "Kita sedang dijajah oleh Penjajah Jawa".  Lihat buku: Maluku Berdarah, terbitan Djawatan Penerangan RI terbitan 1950-an. 

 

(Bersambung:Plus III + NASIONALISME ACHÈH DAN NASIONALISME INDONESIA JAWA)

 

Wassalam.

 

Omar Putèh,

 

om_puteh@yahoo.com

Norway

----------