Stockholm, 8 Agustus 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

SEBENARNYA SUDAH BERDIRI NII SEJAK 7 AGUSTUS 1949, HANYA SEJAK TAHUN 1962 WILAYAH NII DIDUDUKI RI.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

USAHA UNTUK MENEGAKKAN NEGARA ISLAM SUDAH BERLANGSUNG SEJAK 7 AGUSTUS 1949, TETAPI SEJAK TAHUN 1962 WILAYAH NII DIDUDUKI RI.

 

“Saya bertanya kembali, bukankah saat ini kita telah hidup dalam sebuah sistem jahiliyah, lalu apa yang harus kita lakukan untuk menegakkan kembali syariat islam yang telah lama terlupakan. Malahan banyak diantara umat muslim itu sendiri yang menolak ditegakannya aturan Allah padalah saya sangat meyakini bahwa apa yang mereka pahami mengenai aturan islam tidaklah seberapa. Hanya secuil mengenai hukum2 yang dibesar-besarkan sehingga menimbulkan kesan bahwa aturan islam itu sangatlah kejam. Padahal tidak demikian. Apakah kita harus memberontak, membuat sebuah gerakan kudeta kemudian mendirikan sebuah negara yang didalamnya hanya hukum islam yang ditegakan ?!” (Antonio cassano, my_id_032463@yahoo.co.id , Tue, 8 Aug 2006 20:01:31 +0700 (ICT))

 

Terimakasih saudara Antonio Cassano di Bandung, Indonesia.

 

Sebenarnya bagi umat Islam sekarang ini dalam melakukan dakhwah Islam tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi, karena memang cara sembunyi-sembunyi sudah dilaksanakan pada masa Rasulullah saw selama tiga tahun di Mekkah, setelah itu Rasulullah saw melakukan dakhwah Islam secara terang-terangan, sampai berhijrah ke Yatsrib dan di Yatsrib membangun dan mendirikan Negara Islam pertama.

 

Nah, persoalannya sekarang di Indonesia, yang memang masyarakatnya mayoritas beragama Islam tidak lagi melihat Islam sebagaimana yang telah dijalankan, diterapkan dan dibangun oleh Rasulullah saw, melainkan Islam hanyalah dianggap sebagai peci hitam atau pakaian blankon atau sarung saja. Mengapa ?

 

Karena, apa yang tertuang dalam Al Qur’an dan apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw tidak lagi dimengerti, dihayati dan dipahami secara penuh kesadaran. Mereka tidak lagi melihat dan mempelajari Islam secara menyeluruh. Artinya, mengapa hukum-hukum Islam semuanya diturunkan di Yatsrib, ketika Negara Islam pertama telah dibangun, didirikan dan dijalankan di Yatsrib?. Mengapa hukum-hukum Islam tidak diturunkan ketika Rasulullah saw berada di Mekkah selama 13 tahun?

 

Nah, sebagian besar umat Islam di Indonesia masih menganggap bahwa tidak jauh berbeda ketika Rasulullah saw sedang berdakwah dan membina ummat di Mekkah selama 13 tahun dengan ketika Rasulullah saw berada di Yatsrib selama 10 tahun. Sehingga, mereka menganggap bahwa apa yang dijalankan Rasulullah saw di Yatsrib adalah sama dengan  Rasulullah saw membina masyarakat atau organisasi atau kelompok umat Islam saja.

 

Nah, disinilah kesalahan dalam memahami mengenai apa yang dijalankan dan dicontohkan Rasulullah saw ketika di Yatsrib. Sehingga mereka menganggap bahwa Rasulullah saw bukan membangun dan mendirikan serta menjalankan Negara Islam di Yatsrib, melainkan hanya sekedar membangun masyarakat Islam saja.

 

Padahal, secara jelas dan gamblang, Allah SWT telah menurunkan ayat-ayat yang mengandung hukum semuanya diturunkan di Yatsrib, bukan di Mekkah. Mengapa ? Karena, hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT perlu dijalankan, diterapkan dan dilaksanakan apabila telah ada lembaga pelaksana hukum-hukum tersebut. Seandainya tidak ada lembaga pelaksana hukum-hukum yang diturunkan Allah tersebut, maka tidak mungkin hukum-hukum tersebut bisa dijalankan dan dilaksanakan dalam kehidupan individu dan masyarakat.

 

Nah, lembaga pelaksana hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT itu harus berada dalam lindungan dan bangunan satu negara yang berdiri yang semua rakyatnya bersepakat untuk hidup bersama dengan berlandaskan kepada dasar hukum yang telah diturunkan Allah SWT dan yang telah disepakati bersama, seperti misalnya Undang Undang Madinah. Adapun organisasi, masyarakat, kelompok, itu bukan lembaga hukum yang bisa menjalankan hukum-hukum Allah SWT, melainkan bagian dari tiang-tiang bangunan Negara.

 

Jadi, kalau umat Islam di Indonesia menganggap bahwa Rasulullah saw di Yatsrib tidak membangun dan mendirikan Negara Islam, melainkan hanya membangun masyarakat Islam, maka anggapan tersebut adalah anggapan yang salah, yang tidak sesuai dengan apa yang diturunkan Allah SWT dan apa yang dicontohkan Rasulullah saw. Mengapa ?

 

Karena, kalau memang Rasulullah saw di Yatsrib tidak membangun Negara Islam, yang didalamnya memiliki lembaga pelaksana hukum-hukum, maka tidak mungkin Allah SWT menurunkan wahyu-wahyu-Nya yang menyangkut hukum di Yatsrib. Hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT itu harus dijalankan oleh lembaga pelaksana hukum yang berada dibawah lindungan Negara.

 

Nah, karena Negara Islam pertama telah dibangun dan didirikan oleh Rasulullah saw, maka sepeninggal Rasulullah saw, diteruskan oleh para sahabatnya, dari mulai Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Dimana para sahabat Rasulullah saw inilah yang meneruskan Negara Islam atau Daulah Islam atau Khilafah Islam dan menjadi Khalifah-nya, yang dikenal dengan Khulafaur Rasyidin yang berpusat di Yatsrib (10 H- 40 H).

 

Adapun sehabis periode Khulafaur Rasyidin, muncul Dinasti Umayah dengan ibu kotanya Damaskus di Syria (40 H-132 H / 661 M-750 M) yang disebut dengan monarkhi "parlementer". Disusul dengan Dinasti Abbassiyah ke-I yang berkedudukan di ibu kota Bagdad di Irak (132 H-218 H / 750 M-833M) yang disebut dengan monarkhi "konstitusionil", Dinasti Abbassiyah ke-II (218 H-247 H / 833 M-816 M) yang disebut dengan monarkhi yang absolut, dan Dinasti Abbassiyah ke-III (247 H- 322 H / 816 M-934 M) yang disebut dengan zaman anarkhi. Seterusnya muncul Zaman Amirul umara (324 H-334 H / 934 M-945 M). Disusul dengan berdirinya Dinasti Sultan Bani Buyah (334 H-467 H / 945 M-1075 M).

 

Bersamaan dengan itu, muncul Dinasti Fathimiyah di Magribi (Maroko sekarang) (297 H-567 H / 909 M-1171 M) yang disebut dengan pemerintahan theokrasi. Tetapi, bersamaan dengan itu juga di Andalus berdiri Dinasti Umaiyah ( 300 H-422 H / 912 M-1031 M). Kemudian terakhir berdiri Dinasti Usmaniyah di Turki (699 H-1341 H / 1385 M-1923 M) yang disebut dengan autokrasi sultan.

 

Sekarang, kalau melihat dan mempelajari apa yang terjadi di belahan dunia sebelah timur, maka akan ditemukan bahwa sebelum Dinasti Usmaniyah di Turki berdiri pada tahun 699 H-1341 H / 1385 M-1923 M, ternyata di belahan dunia bagian Asia, telah muncul Kerajaan Islam Samudera-Pasai yang berada di wilayah Acheh yang didirikan oleh Mara Silu yang segera berganti nama setelah masuk Islam dengan nama Malik ul Saleh yang meninggal pada tahun 1297. Dimana penggantinya tidak jelas, namun pada tahun 1345 Samudera-Pasai diperintah oleh Malik ul Zahir, cucu Malik ul Saleh. Ketika kerajaan Islam Samudera-Pasai menjadi lemah karena pendudukan Majapahit sejak tahun 1350, maka muncullah Kerajaan Islam Malaka dibawah pimpinan Paramisora (Paramesywara) yang berganti nama setelah masuk Islam dengan panggilan Iskandar Syah. Adapun ketika Portugis dibawah pimpinan Albuquerque dengan armadanya menaklukan Malaka pada tahun 1511, maka muncullah Acheh dibawah pimpinan Sultan Ali Mukayat Syah (1514-1528). Yang diteruskan oleh Sultan Salahuddin (1528-1537). Sultan Alauddin Riayat Syahal Kahar (1537-1568). Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573). Sultan Seri Alam (1576. Sultan Muda (1604-1607). Dan Sultan Iskandar Muda, gelar marhum mahkota alam (1607-1636).

 

Nah sekarang kita melihat, ternyata sejajar dengan berdiri dan berjalannya Dinasti Usmaniyah di Turki, ternyata di Acheh telah juga berdiri dan berjalan Kesultanan Acheh sampai periode abad 19.

 

Jadi, sebenarnya Islam yang telah dibangun, ditegakkan dan dijalankan sejak Rasulullah saw dengan Negara Islam pertamanya di Yatsrib, ternyata berlangsung dan berjalan lebih dari 1300 tahun lamanya, yaitu sampai berakhirnya Dinasti Usmaniyah di Turki. Atau bisa juga sampai ke Kesultanan Acheh yang diduduki Belanda, jepang dan sekarang oleh pihak RI.

 

Nah, disaat Acheh diduduki Belanda, Jepang dan RI, ternyata pada tanggal 12 Syawal 1368 / 7 Agustus 1949 telah diproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Walaupun Imam NII SM Kartosoewirjo tertangkap 4 Juni 1962 dan dijatuhi hukuman mati serta sebagian pengurus NII (32 orang) menyerah pada Soekarno pada tanggal 1 Agustus 1962, tetapi di dalam NII masih tetap berlaku Kanun Azasy dan undang undang masa perang. Karena itu, Pemerintah NII secara de-jure masih wujud dilihat secara faktual dari sejak 7 Agustus 1949 sampai 4 Juni 1962, yaitu NII merupakan satu Negara yang syah dan berdaulat, tanpa dijajah. Adapun sejak 5 Juni 1962 sampai 1987 NII secara hukum masih wujud, tetapi secara faktual dalam bentuk wilayah kekuasaan NII berada dalam pendudukan dan penjajahan pihak RI. Mengapa ?

 

Karena fakta dijatuhinya hukuman mati Imam NII dan menyerahnya 32 pimpinan NII pada 1 Agustus 1962, tidak berarti NII sebagai satu lembaga Kenegaraan lenyap, melainkan yang lenyap hanyalah individu-individu pelaksana NII yang sewaktu menyerah tidak membawa nama atau atas nama lembaga kenegaraan NII. Jadi, dilihat dari sudut NII, jelas lembaga negara NII masih tetap eksis baik secara de-jure ataupun secara de-facto, hanya wilayah kekuasaan NII secara de-facto berada dibawah pendudukan dan penjajahan RI.

 

Kemudian, dari sejak tertangkapnya Imam NII SM Kartosoewirjo 4 Juni 1962 sampai 1987, sebelum Imam NII baru terpilih, Pemerintahan NII tidak dinyatakan terbuka atau tidak dijaharkan. Adapun sejak tahun 1987, ketika alm Abdul Fatah Wirananggapati yang memenuhi persyaratan sebagai Imam NII berdasarkan Maklumat Komandemen Tertinggi (MKT) Nomor 11 tahun 1959, maka NII dinyatakan telah memiliki Imam baru yang meneruskan estafet kepemimpinan NII setelah Imam NII pertama dihukum mati.

 

Seterusnya, karena dari sudut pandang NII wilayah de-facto NII diduduki dan dijajah RI, maka NII sebagai suatu lembaga negara berada dalam pendudukan penjajah RI. Selama pihak pemerintah RI tidak melakukan dan mendeklarkan perang secara terbuka atau secara gerilya atau secara diam-diam kepada pihak Pemerintah NII yang telah dijaharkan dari sejak dipilihnya Abdul Fatah Wirananggapati pada tahun 1987, maka pihak Pemerintah NII menganggap keadaan situasi tidak dalam keadaan perang, tetapi dalam keadaan wilayah NII dijajah RI. Kemudian sejak tahun 1997 setelah Abdul Fatah Wirananggapati meninggal diteruskan oleh Ali Mahfudz berdasarkan MKT. No.5 Tahun 1997.

 

Nah sekarang, dapat ditarik garis lurus, dimana wilayah de-facto NII dijajah RI, sedangkan Pemerintahan NII sudah dijaharkan, maka dalam penampilannya harus disesuaikan dengan keadaan dan situasi kedaan masa dijajah, walapun tidak dalam keadaan perang. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca dalam tulisan "Konsep hukum tata negara Islam diambil dari jalur proses pertumbuhan dan perkembangan NII" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060320b.htm )

 

Jadi saudara Antonio Cassano sebenarnya dalam menegakkan Islam, pemerintahan Islam dan Negara Islam di Indonesia sudah berjalan, hanya saja wilayah de-facto NII yang diproklamasikan oleh Imam Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo sedang diduduki atau dijajah oleh RI. Karena itu sekarang bukan lagi dakhwah sembunyi-sembunyi, melainkan telah berdiri dan berjalan Negara Islam Indonesia, kendatipun wilayah de-factonya berada dalam pendudukan RI yang memiliki konstitusi UUD 1945 yang sekuler dan sumber hukum pancasila yang sekuler.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Tue, 8 Aug 2006 20:01:31 +0700 (ICT)

From: antonio cassano my_id_032463@yahoo.co.id

Subject: pertanyaan selanjutnya dari saya untuk saudara Ahmad

To: ahmad@dataphone.se

 

Assalam mu'alaikum wr. wb.

 

Sebelumnya saya mohon maaf apabila membalas email anda setelah seminggu lamanya. Kebetulan saat ini saya sedang dalam proses tahap tugas akhir yang mengharuskan saya larut dalam kesibukan duniawi saya. Saya sadar memang bahwa hal tersebut bukan tugas utama saya bila disinggung mengenai hakikat keberadaan saya di muka bumi ini.

 

Setelah membaca jawaban yang saudara Ahmad berikan, saya semakin tertarik untuk membahas mengenai apa yang telah saya kemukakan sebelumnya. Dan saya sungguh merasa sedih apabila melihat umat islam sekarang ini amat jauh dari peran yang seharusnya dilakukan oleh umat muslim itu sendiri. Untuk saat ini wawasan saya mengenai khilafah islam belumlah seberapa. atau dapat disimpulkan ada beberapa hal yang belum dapat saya ketahui. Hal ini saya maklumi dan saya sadari sendiri karena saya dididik dalam lingkungan islam namun ya sepeeti itu tadi, islam hanya sebagai agama yang dilakukan secara pribadi kepada Alla semata.

 

Ada beberapa pertanyaan lagi yang ingin saya tanyakan kepada anda, antara lain seperti berikut. Dalam perjalanan nabi Muhammad ketika menyampaikan risalah yang dibawanya yang kemudian disampaikannya kepada umat manusia di muka bumi ini ada istilah yang yang saya kurang dalam memahaminya.as syiriah to dakwah dan as syiriah to kalifah.

 

Sebelumnya saya ingin menceritakan pengalaman saya dalam mengenal dienul islam. Pada awal januari 2006 saya berkenalan dengan seorang akhwat yang kemudian menjadi teman diskusi saya. orangnya berusia sekitar 24 tahun atau 4 tahun lebih tua daripada saya. Dan dia belum menikah. Awalnya saya ditanya mengenai apa sih tujuan hidup saya, yang kemudian saya sadar bahwa hidup saya hanya untuk mengabdikan diri saya serta beribadah kepada Allah Swt dalam upaya mencari ridha Allah itu sendiri. Kemudian saya diterangkan mengenai Ma'rifatul nafs yang kemudian diterangkan mengenai aqidah serta dienul atau sistem/ aturan yang ada di muka bumi ini. Di dunia ini hanya ada 2 macam dien yaitu dien islam dan dien jahiliyah. Kemudian saya diterangkan kembali mengenai adanya upaya agar kita tidak selamanya hidup dalam sebuah sistem jahiliyah dimana tidak mengunakan Al-quran dan As-sunnah sebagai landasan hidupnya. Kemudian diterangkan bahwa saat ini adalah saat untuk kembali mengingat akan peran umat muslim seperti yang telah terjadi pada masa Rasullullah.

 

Kemudian saya bertanya kembali, bukankah saat ini kita telah hidup dalam sebuah sistem jahiliyah, lalu apa yang harus kita lakukan untuk menegakan kembali syariat islam yang telah lama terlupakan. Malahan banyak diantara umat muslim itu sendiri yang menolak ditegakannya aturan Allah padalah saya sangat meyakini bahwa apa yang mereka pahami mengenai sturan islam tidaklah seberapa. Hanya secuil mengenai hukum2 yang dibesar-besarkan sehingga menimbulkan kesan bahwa aturan islam itu sangatlah kejam. Padahal tidak demikian. Apakah kita harus memberontak, membuat sebuah gerakan kudeta kemudian mendirikan sebuah negara yang didalamnya hanya hukum islam yang ditegakan ?!

 

Jawaban yang saya dapat adalah seperti ini, tentu saja tidak, apakah kamu tidak meyakini bahwa sebenarnya ada orang-orang yang sedang berjuang untuk menegakan hukum islam namun masih dalam tahap sembunyi2 seperti apa yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Tentu saja saya yakin walaupun saya tidak tau siapa saja orang-orang dan dimana orang-orang tersebut berada yang sedang memperjuangkan akan tegaknya hukum islam tersebut. Saat ini yang harus dilakukan adalah adanya sebuah pembinaan akan umat islam yang telah membuat islam hanya sebagai agama pribadi saja.

 

Kemudian saya bertanya kembali, kalau hanya sebuah pembinaan untuk sekedar mengingatkan akan peran umat muslimin ini kenapa harrus dilakukan secara sembunyi-sembunyi ?? Padahal keadaan kita kan tidak seperti saat Nabi Muhammad pertama membawa risalah ini. Semua orang sepertinya sudah tau mengenai hal ini, lalu kenapa harus secara sembunyi-sembunyi ??

 

Dia kemudian menjawab kembali bahwa apabila hanya hal tersebut yang dibawa Nabi Muhammad maka dia tidak akan mengalami kesulitan di masanya. Apa yang dibawa beliau tidak hanya sekeddar itu. Kemudian saya diterangkan mengenai as syiriah to dakwah dan as syiriah to khalifah. Nah yang saya kurang mengerti itu mengenai syiriah to khalifah, yaitu mengenai adanya usaha -usaha untuk menegakan islam di dunia.

 

Dari masa ketika nabi Muhammad wafat hingga masa berakhirnya khulafaur Rasyidin saja saya tidak atau kurang memahami akan adanya penerusan kepemimpinan islam bahkan sampai islam yang terpecah belah. Lalu siapa sebenarnya yang mencoba menegakan atau memperjuangkan agar islam kembali berjaya ?! Sampai sekarang siapa yang berperan sebagai penggerak umat islam yang katanya sedang berjuang secara syiriah ini ?! bagaimana kita harus mempercayainya. Sementara banyak sekali golongan-golongan yang mengaku berusaha untuk menegakan aturan islam sementara golongan tersebut terpecah dalam kaum nya itu sendiri.

 

Mengenai hal yang saya kemukakan diatas, saya sangat berharap jawabanya kembali. Saya sungguh tidak percaya surat saya begitu cepat untuk ditanggapi. Untuk itu saya akan berusaha meluangkan waktu saya sesering mungkin tuk membuak email saya setidaknya sehari sekali.

 

Terima kasih.

wassalam mualaikum wr. wb

 

Antonio Cassano

my_id_032463@yahoo.co.id

Bandung, Indonesia

----------