Stockholm, 17 Agustus 2006 2004

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

PASUNDAN DITELAN RI MELALUI RIS.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

DITYA SOEDARSONO & ENDANG SUWARYA HARUS PAHAM NEGERI ACEH & NEGARA PASUNDAN DITELAN NEGARA RI ATAU NEGARA RI-JAWA-YOGA MELALUI REPUBLIK INDONESIA SERIKAT (RIS)

 

"Kang Dirman, anda jangan terlalu picik menilai seseorang, saya setuju bila ada seorang TNI bukan ABRI, yang menyimpang dari koridor hukum yang ada diberikan tidakan hukum yang setimpal dengan perbuatannya. Contohnya, ya seperti Kang Mamad sudah menyalahi kaida hukum masak bangsa Swedia, orang Jawanya Barat tetapi berbusa-busa berjuang untuk bangsa Aceh. Kaida apa yang digunakan oleh Akang, sedangkan ngebelain bangsa Pasundan sendiri saja tidak bisa. Ya contoh gampangnya begini. Keluarga Akang saja berantakan, bagaimana mungkin akang bisa memberikan nasihat agar keluarga orang lain bisa rukun dan damai. Disinilah muslihat akang sebenarnya. Kang Dirman sengaja dengan kepiawaiannya merangkai kata-kata, mengurangi yang benar dan menambahkan biar salah sehingga orang atau keluarga lain menjadi berantakan seperti keluarga Kang Dirman." (Ditya Soedarsono , dityaaceh_2003@yahoo.com ,Tue, 24 Feb 2004 20:02:47 -0800 (PST))

 

Tulisan ini dikutip kembali dari tulisan ”Ditya & Endang harus paham Aceh & Pasundan ditelan RI melalui RIS” ( http://www.dataphone.se/~ahmad/040225.htm ) dengan tujuan untuk membuka kembali jalur proses pertumbuhan dan perkembangan negara Pasundan dihubungkan dengan negara RI.

 

Baiklah Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya di Negeri Aceh, saudara Peace Org di UK, dan saudara Dobing di Jakarta, Indonesia.

 

Pertama saya jumpai Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya di Negeri Aceh.

 

Saya perhatikan Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya masih saja tetap ingin memasukkan saya kedalam orang Jawa. Coba perhatikan apa yang ditulis Kolonel Laut Ditya Soedarsono: "seperti Kang Mamad sudah menyalahi kaida hukum masak bangsa Swedia, orang Jawanya Barat".

 

Kolonel Laut Ditya Soedarsono, saya sudah beberapa kali mengingatkan Kolonel Laut Ditya bahwa Kang Mamad adalah orang Sunda, tetapi mengapa Kolonel Laut Ditya masih juga menulis "Kang Mamad...orang Jawanya Barat".

 

Kolonel Laut Ditya Soedarsono, apa susahnya menulis seperti ini : "Kang Mamad...orang Sunda dari daerah Jawa Barat di Pulau Jawa", kan selesai, tidak menimbulkan permasalahan. Nah untuk masa mendatang jangan lagi Kolonel Laut Ditya menulis : "Kang Mamad...orang Jawanya Barat".

 

Coba tegur Mayjen TNI Endang Suwarya itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono, kenapa dibiarkan itu Kolonel Laut Ditya menulis tanpa fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah yang menyamakan nama suku Sunda dengan nama Daerah Jawa Barat dan dengan nama Pulau Jawa.

 

Kalau saya jadi Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh seperti Mayjen TNI Endang Suwarya sekarang, sudah dipecat itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono dari jabatan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Aceh, karena terus-terusan buat kesalahan menamakan Kang Mamad orang Jawa, padahal Kang Mamad adalah orang Sunda dari Daerah Jawa Barat di Pulau Jawa.

 

Selanjutnya, Kolonel Laut Ditya Soedarsono mengatakan: "Contohnya, ya seperti Kang Mamad sudah menyalahi kaida hukum masak bangsa Swedia, orang Jawanya Barat tetapi berbusa-busa berjuang untuk bangsa Aceh. Kaida apa yang digunakan oleh Akang".

 

Eh, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, saya di mimbar ini berdiskusi dan menulis bukan atas nama Pemerintah Kerajaan Swedia. Tetapi atas nama pribadi yang hak-haknya dilindungi oleh "Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia": Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam Pernyataan ini tanpa perkecualian apapun, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat yang berlainan, asal mula kebangsaan atau kemasyarakatan, hak milik, kelahiran ataupun kedudukan lain. Di samping itu, tidak diperbolehkan melakukan perbedaan atas dasar kedudukan politik, hukum atau kedudukan internasional dari negara atau daerah dari mana seseorang berasal, baik dari negara yang merdeka, yang berbentuk wilayah-wilayah perwalian, jajahan atau yang berada di bawah batasan kedaulatan yang lain. (Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia, Pasal 2)

 

Jadi, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, atas dasar hukum Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia, Pasal 2 inilah saya atas nama pribadi menyatakan hak-hak saya untuk membantu, menyokong, mendukung rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI atau Negara RI-Jawa-Yogya gerwajah baru.

 

Nah sekarang,Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya sudah mengetahuinya, bahwa kaida hukum yang dipakai oleh saya adalah kaida hukum yang berdasarkan kepada dasar hukum Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia, Pasal 2.

 

Nah selanjutnya, itu soal yang diperkatakan oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono: "sedangkan ngebelain bangsa Pasundan sendiri saja tidak bisa."

 

Itu begini penjelasannya, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya. Itu Negara Pasundan di daerah Pasundan yang pada tangal 4 Mei 1947 di Alun-alun Bandung oleh Ketua Partai Rakyat Pasundan Soeria Kartalegawa diproklamasikan dan pada tanggal 16 Februari 1948 Negara Pasundan dinyatakan resmi berdiri dengan R.A.A. Wiranatakusumah dipilih menjadi Wali Negara dan dilantik pada tanggal 26 April 1948. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 140, 171).

 

Apakah rakyat di Negara Pasundan, Ketua Partai Rakyat Pasundan Soeria Kartalegawa, dan Wali Negara R.A.A. Wiranatakusumah mempunyai pikiran, niat, maksud dan tujuan ketika memproklamasikan, mendirikan, dan membangun Negara Pasundan ini setelah dua tahun berdiri akan digabungkan dengan Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya melalui Republik Indonesia Serikat (RIS)?

 

Jelas, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya itu Ketua Partai Rakyat Pasundan Soeria Kartalegawa, dan Wali Negara R.A.A. Wiranatakusumah tidak mempunyai pikiran, niat, maksud dan tujuan ketika memproklamasikan, mendirikan, dan membangun Negara Pasundan ini setelah dua tahun berdiri akan digabungkan dengan Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya melalui Republik Indonesia Serikat (RIS).

 

Yang ada, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, itu hanya dari pikiran Soekarno presiden RIS yang dipilih menjadi Presiden RIS ketika pada tanggal 15-16 Desember 1949 diadakan sidang Dewan Pemilihan Presiden RIS dimana para anggota Dewan Pemilihan Presiden RIS memilih Soekarno untuk dijadikan sebagai pemimpin RIS. Pada tanggal 17 Desember 1949 Soekarno dilantik jadi Presiden RIS. Sedangkan untuk jabatan Perdana Menteri diangkat Mohammad Hatta yang dilantik pada tanggal 20 Desember 1949. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.244).

 

Buktinya, apa sebabnya, itu Negara Pasundan yang pada tangal 4 Mei 1947 di Alun-alun Bandung oleh Ketua Partai Rakyat Pasundan Soeria Kartalegawa diproklamasikan dan pada tanggal 16 Februari 1948 Negara Pasundan dinyatakan resmi berdiri dengan R.A.A. Wiranatakusumah dipilih menjadi Wali Negara dan dilantik pada tanggal 26 April 1948. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 140, 171) Kemudian setelah menjadi Negara Bagian RIS pada tanggal 14 Desember 1949 dan setelah RIS dilebur menjadi NKRI ada dalam perut Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya yang menjelma menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950?.

 

Eh, kemudian, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, coba tunjukkan mana ada itu fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah seperti yang dituduhkan melalui tulisan: "contoh gampangnya begini. Keluarga Akang saja berantakan, bagaimana mungkin akang bisa memberikan nasihat agar keluarga orang lain bisa rukun dan damai. Disinilah muslihat akang sebenarnya. Kang Dirman sengaja dengan kepiawaiannya merangkai kata-kata, mengurangi yang benar dan menambahkan biar salah sehingga orang atau keluarga lain menjadi berantakan seperti keluarga Kang Dirman."

 

Jadi, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, mengatakan dan menuduh Negara Pasundan "berantakan" ?

 

Eh, mana fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarahnya yang mengatakan Negara Pasundan "berantakan" ?

 

Itu, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, Negara Pasundan bukan "berantakan", tetapi ketika menjadi Negara Bagian RIS ditelan oleh Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya.

 

Jadi, kenapa itu Negara Pasundan setelah menjadi Negara Bagian RIS yang didalamnya ada juga negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya sebagai Negara Bagian RIS, tiba-tiba menghilang dari atas permukaan bumi?

 

Eh, ada apa Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya dengan Negara Pasundan, padahal Negara Pasundan asal-nya sehat, segar bugar tidak kurang suatu papapun, tiba-tiba setelah berjumpa dengan Negara RI atau atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya dalam RIS, hilang entah kemana. Tidak tercium bau-baunya sedikitpun ?

 

Rupa-rupanya, ada sesuatu rahasia yang disembunyikan oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya yang tidak boleh seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh mengetahuinya, apa rahasia yang disembunyikannya itu ?.

 

Rahasia yang disembunyikan oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya adalah pada tanggal 11 Maret 1950 Negara Pasundan yang merupakan Negara Bagian RIS telah ditelan oleh Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya dengan menggunakan dasar hukum Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS yang dikeluarkan pada tanggal 8 Maret 1950. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 42).

 

Inilah rupanya rahasia Soekarno cs yang disembunyikan oleh oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya mengenai pencaplokan Negara Pasundan oleh Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya dalam RIS pada tanggal 11 Maret 1950 3 hari setelah dasar hukum Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS dikeluarkan.

 

Wah, wah, wah, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, kelihatan sekarang, rupanya itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya telah menutupi fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah tentang pencaplokan, penelanan, Negara Pasundan melalui mulut Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya pada tanggal 11 Maret 1950 dengan menggunakan dasar hukum Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS.

 

Jadi sekarang makin terbongkarlah, rupanya itulah kerja Soekarno dengan Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya dalam RIS, bukan hanya mencaplok, menelan, menduduki, menjajah Negeri Aceh saja pada tanggal 14 Agustus 1950, tetapi juga jauh sebelumnya, pada tanggal 11 Maret 1950 Negara Pasundan asal Negara dari mana Ahmad Sudirman datang telah dicaplok dan ditelan melalui mulut Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya dalam RIS.

 

Eh sekarang, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, jangan lari dari Negeri Aceh, nanti dikejar TNA yang sudah mendapatkan informasi dari Ahmad Sudirman di Stockholm mengenai penutupan, penipuan, dan kebohongan yang telah dilakukan oleh Soekarno dalam mencaplok, menelan, menduduki dan menjajah Negeri Aceh, juga pencaplokan Negara berdaulat Pasundan oleh Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya yang disembunyikan oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya di Negeri Aceh.

 

Tetapi walaupun begitu, jangan dulu ditangkap itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, sebelum diperiksa dan dimintai keterangannya oleh pihak ASNLF atau GAM yang telah diberi surat kuasa oleh Ahmad Sudirman, mengenai pencaplokan Negara Pasundan dan Negeri Aceh oleh Soekarno memakai Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya.

 

Nah sekarang, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, jangan lagi mengatakan kepada Kang Dirman: "Disinilah muslihat akang sebenarnya. Kang Dirman sengaja dengan kepiawaiannya merangkai kata-kata, mengurangi yang benar dan menambahkan biar salah sehingga orang atau keluarga lain menjadi berantakan seperti keluarga Kang Dirman."

 

Eh, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, masih juga mau mengelak dan berkelit dari pada fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah tentang penutupan, penipuan, dan kebohongan yang telah dilakukan oleh Soekarno dalam mencaplok, menelan, menduduki dan menjajah Negeri Aceh, juga pencaplokan Negara berdaulat Pasundan oleh Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya yang disembunyikan oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya di Negeri Aceh.

 

Karena itu, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, tidak ada lagi alasan, untuk mengatakan: "Apa yang kau cari Kang Dirman".Disaat orang lain menginginkan solusi damai demi kejayaan dan kesejahteraan bangsa dan NKRI, akang malah mencoba untuk mencerai-beraikannya. Kira-kira berdosa ngak kang?"

 

Eh, saya sudah menjelaskan dan menerangkan kepada seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh bahwa, bahwa Soekarno dengan menggunakan Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya masuk kedalam RIS untuk menelan Negara-Negara dan Daerah-Daerah Negara Bagian RIS, bukan itu saja melainkan mencaplok, menelan, menduduki dan menjajah Negeri Aceh.

 

Jadi, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, kang Dirman bukan seperti orang yang dituduhkan oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, yaitu "akang malah mencoba untuk mencerai-beraikannya".

 

Istigfar banyak-banyak, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, jangan banyak berbohong seperti menuduh kang Dirman dengan tuduhan yang tanpa fakta dan bukti, apalagi di mimbar bebas ini, karena di mimbar bebas ini dilarang menuduh tanpa fakta dan bukti serta bercerita yang bohong, yang tidak ada dasar fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarahnya.

 

Tentu saja sekarang, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, apakah bisa membantah bahwa memang benar Soekarno melalui mulut Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan menggunakan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi. Dan dasar hukum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No.5 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, yang termasuk didalamnya wilayah daerah Aceh yang melingkungi Kabupaten-Kabupaten 1. Aceh Besar, 2. Pidie, 3. Aceh-Utara, 4. Aceh-Timur, 5. Aceh-Tengah, 6. Aceh-Barat, 7. Aceh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja masuk kedalam lingkungan daerah otonom Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan, dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh..

 

Eh, paling Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya membantah dengan mengatakan: "sejarahnya orang Jawa yang hanya secuil itu RIS RIS RIS 1949 1949 dan 1949 aja yang dibulet-buletin sampai ngapal, orang Indonesia ma sudah tahu semua, hanya kang Diman aja yang bingung, takut ngak laku jualannya"(Ditya Soedarsono,Thu, 19 Feb 2004 23:48:58 -0800 (PST))

 

Nah inikan bukti bantahan dari Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya. Mana bisa lulus ujian sejarah nasional yang menyangkut masalah pertumbuhan dan perkembangan Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya dihubungkan dengan pencaplokan Negeri Aceh.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad.swaramuslim.net

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Tue, 24 Feb 2004 20:02:47 -0800 (PST)

From: Ditya Soedarsono dityaaceh_2003@yahoo.com

Subject: KESADARAN ADALAH KEHORMATAN DIRI...!!!!!!!

To: ahmad@dataphone.se, siliwangi27@hotmail.com

 

Assalamu'alaikum Wr Wb,

 

"Emas itu walaupun keluar dari dubur anjing sekalipun, ia akan tetap Emas sebaliknya imitasi itu sekalipun keluar dari mulut Raja diraja sekalipun, maka ia tetap imitasi".

 

"Jika engkau ingin mengetahui kekayaan seseorang lihatlah pakaiannya; Jika ingin mengetahui kepintaran seseorang simaklah perkataannya; Dan jika engkau ingin tahu akal pikiran seseorang lihatlah tingkah laku dan perbuatannya". (Ali bin Abi Thalib)

 

Jadi Kang Dirman, di dalam sidang diskusi ini, saya tidak melihat siapa yang bicara apa, apakah dia mantan Penjahat atau mantan Pejabat, tetapi yang kita perhatikan adalah apa apa yang didiskusikan, pemikiran-pemikiran, argumentasi, solusi yang membangun demi selesainya permasalahan yang terjadi di Aceh.

 

Kang Dirman, anda jangan terlalu picik menilai seseorang, saya setuju bila ada seorang TNI bukan ABRI, yang menyimpang dari koridor hukum yang ada diberikan tidakan hukum yang setimpal dengan perbuatannya. Contohnya, ya seperti Kang Mamad sudah menyalahi kaida hukum masak bangsa Swedia, orang Jawanya Barat tetapi berbusa-busa berjuang untuk bangsa Aceh. Kaida apa yang digunakan oleh Akang, sedangkan ngebelain bangsa Pasundan sendiri saja tidak bisa.

 

Ya contoh gampangnya begini. Keluarga Akang saja berantakan, bagaimana mungkin akang bisa memberikan nasihat agar keluarga orang lain bisa rukun dan damai. Disinilah muslihat akang sebenarnya. Kang Dirman sengaja dengan kepiawaiannya merangkai kata-kata, mengurangi yang benar dan menambahkan biar salah sehingga orang atau keluarga lain menjadi berantakan seperti keluarga Kang Dirman.

 

"APA YANG KAU CARI KANG DIRMAN" Disaat orang lain menginginkan solusi damai demi kejayaan dan kesejahteraan bangsa dan NKRI, akang malah mencoba untuk mencerai-beraikannya. Kira-kira berdosa ngak kang?

 

DITYA

 

dityaaceh_2003@yahoo.com

ACEH NAD

----------