Stockholm, 19 Agustus 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

GAM TETAP DALAM SIKAPNYA TIDAK MENGAKUI KEDAULATAN RI YANG PENUH ATAS ACHEH.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

SAMPAI DETIK INI KELIHATAN DENGAN JELAS GAM MASIH TETAP DALAM PENDIRIANNYA YANG TIDAK MENGAKUI KEDAULATAN RI YANG PENUH ATAS ACHEH.

 

Kedatangan Perdana Menteri GAM Malik Mahmud ke Acheh dan menghadiri Konferensi Internasional yang bertema “Building Permanent Peace in Aceh: One Year After the Helsinki Accord” atas undangan Dino Patti Djalal, Staff khusus Kepresidenan untuk masalah internasional dan anggota badan eksekutif Dewan Indonesia tentang masalah dunia internasional (The Indonesian Council on World Affairs) yang diselenggarakan di Hotel Shangri-La, Jakarta pada hari Senin, 14 Agustus 2006 dan kehadirannya dalam peringatan setahun MoU Helsinki di Banda Acheh pada tanggal 15 Agustus 2006 adalah bukan berarti pihak GAM secara langsung mengakui kedaulatan atau kekuasaan tertinggi atas pemerintahan RI yang memiliki kewenangan penuh atas Acheh. Tetapi, kehadiran dalam kedua acara tersebut adalah merupakan langkah kebijaksanaan politik damai dari GAM yang diacukan pada MoU Helsinki.

 

Nah, dengan dasar pertimbangan diatas dapat dimengerti, mengapa Perdana Menteri GAM Malik Mahmud beserta Staf ketika dilangsungkan peringatan 17 Agustus 2006 di Banda Acheh dan di Istana Merdeka Jakarta tidak menghadirinya. Walaupun pihak Pemerintah Daerah Acheh dan pihak Kepresiden RI di Jakarta mengundang Perdana Menteri GAM Malik Mahmud dan staf untuk datang menghadiri 17 Agustus 2006.

 

Perjanjian kesepakatan damai yang dituangkan dalam MoU Helsinki adalah bukan kesepakatan penyerahan kedaulatan kepada RI untuk menguasai Acheh. Tetapi, MoU Helsinki adalah suatu pakta perjanjian damai antara GAM dan pemerintah RI dalam usaha mencapai perdamaian yang menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua pihak.

 

Karena itu, MoU Helsinki tidak bisa ditafsirkan dengan penyerahan kedaulatan kepada pihak RI atas Acheh dari GAM, melainkan MoU Helsinki adalah merupakan landasan hukum untuk tercapainya perdamaian yang menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua pihak.

 

Jadi, dengan tidak hadirnya Perdana Menteri GAM Malik Mahmud dan staf ke undangan perayaan 17 Agustus 2006, baik di Banda Acheh ataupun di Istana Merdeka, Jakarta adalah merupakan satu fakta dan bukti hukum bahwa memang GAM masih tetap dalam sikapnya tidak mengakui kekuasaan tertinggi atas pemerintahan RI yang memiliki kewenangan penuh atas Acheh.

 

Karena itulah juga mengapa dalam MoU Helsinki hanya disepakati enam kewenangan saja yang dimiliki oleh pihak RI, yaitu kewenangan dalam bidang hubungan luar negeri, pertahanan luar, keamanan nasional, hal ikhwal moneter dan fiskal, kekuasaan kehakiman dan kebebasan beragama. Diluar itu, seluruhnya baik kedalam maupun keluar adalah kewenangan Pemerintahan Acheh.

 

Apabila Perdana Menteri GAM Malik Mahmud dan staf datang menghadiri peringatan 17 Agustus 2006 baik di Banda Acheh ataupun di Istana Merdeka, Jakarta, maka secara langsung GAM telah mengakui baik secara politik, de-facto dan de-jure bahwa RI memiliki kedaulatan penuh atas Acheh. Dan kalau ini terjadi, maka isi MoU Helsinki yang telah menyebutkan bahwa Pemerintahan Acheh yang memiliki “kewenangan dalam semua sektor publik, yang akan diselenggarakan bersamaan dengan administrasi sipil dan peradilan, kecuali dalam bidang hubungan luar negeri, pertahanan luar, keamanan nasional, hal ikhwal moneter dan fiskal, kekuasaan kehakiman dan kebebasan beragama, dimana kebijakan tersebut merupakan kewenangan Pemerintah Republik Indonesia” menjadi gugur.

 

Selama GAM hanya mengakui secara politik pihak RI memiliki enam kewenangan atas Acheh, maka selama itu pihak RI tidak memiliki kedaulatan penuh atas Acheh. Dan kebijaksanaan politik inilah yang dijalankan oleh GAM dalam politiknya terhadap RI.

 

Dimana sebagai contoh bagaiman ketika kerajaan Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) dan mengakuinya secara penuh pada tanggal 27 Desember 1949 yang dituliskan dalam “Akte Penjerahan kedaulatan serta pengakuan” dan diselenggarakan dalam suatu upacara kenegaraan di Belanda.

 

Dimana isi akte penyerahan dan pengakuan kedaulatan itu sebagai berikut:

 

AKTE PENJERAHAN KEDAULATAN SERTA PENGAKUAN.

Kami JULIANA, karena rahmat Allah Ratu Nederland, Puteri Oranje-Nassau d.l.l., d.l.l., d.l.l.

 

Pada hari ini, tanggal dua puluh tudjuh bulan Desember tahun seribu sembilan ratus empat puluh sembilan, tengah bersidang dengan segala upatjara di Istana Radja dikota Amsterdam;

 

Mengingat pasal 211 Undang-undang Dasar dan bunji Protokol tertanggal hari ini, jang ditanda-tangani pada sidang jang dengan segala upatjara ini oleh Perdana Menteri Kami, Menteri Urusan Umum, dan oleh Perdana-Menteri, Menteri Urusan Luarnegeri u.s. Republik Indonesia Serikat, Pemimpin Delegasi jang mewakili Republik Indonesia Serikat pada penjerahan kedaulatan;

 

Mengingat pula hal Kami membenarkan - ialah pada sidang jang dengan segala upatjara ini - tertib-hukum baru sebagaimana terkandung dalam Induk-Persetudjuan beserta dengan rantjangan persetudjuan dan surat-surat jang ditukar, jang segala-galanja itu telah diterima oleh Sidang Umum Konperensi Medja Bundar dikota 'sGravenhage pada tanggal 2 Nopember 1949;

 

MEMAHAMKAN.

 

Bahwa oleh karena itu pada hari ini tanggal dua puluh tudjuh Desember tahun seribu sembilan atus empat puluh sembilan:

Penjerahan kedaulatan sesuai dengan Piagam Penjerahan Kedaulatan tersemat pada Induk-Persetudjuan tersebut, mendjadi sah;

Uni Nederland-Indonesia jang adalah Kami di puntjaknja dan pada pergantian-Tachta ahli-waris Kami jang sah pada Mahkota Nederland turun-temurun, telah diadakan;

Semua hasil Konperensi Medja Bundar lain daripada itu, jang termuat pada dokumen-dokumen lampiran Induk-Persetudjuan tersebut, telah mulai berlaku, ja'ni menurut jang ditentukan pada Induk-Persetudjuan itu pada V;

 

MENJURUH.

 

Maktubkan Akte ini empat helai, jang duanja berbahasa Belanda, duanja lagi berbahasa Indonesia, disahkan dengan tanda-tangan Kami dan ditanda-tangani pula oleh sekalian Menteri Kami, sedang akan diperbuat terdjemahannja berbahasa Inggeris dua helai;

 

Simpan Akte ini sehelai berbahasa Belanda dan sehelai berbahasa Indonesia serta pula terdjemahannja berbahasa Inggeris sehelai pada Kabinet Kami, dan terimakan tiga helai jang sama bunjinja dengan tiga helai tersebut tadi kepada Delegasi jang diutus kesidang jang dengan segala upatjara ini oleh Presiden Republik Indonesia Serikat supaja diundjukkannja kepada Presiden itu;

 

Menteri Pengadilan Kami mengirimkan salinan Akte ini, berbahasa Belanda dan berbahasa Indonesia, jang ditandai sah kepada kedua Kamer Staten-Generaal, kepada Mahkamah Agung Nederland (Hoge Raad der Nederlanden), kepada Gubernur dan Staten Suriname serta Gubernur dan Staten Antillen Nederland.

 

Termaktub dikota Amsterdam pada tanggal 27 Desember 1949.

 

tandatangan

(JULIANA)

 

Perdana-Menteri, Menteri Urusan Umum,

tandatangan

(Dr. W. DREES)

 

Menteri bertugas istimewa,

 

tandatangan

(Mr. J.R.H. VAN SCHAIK)

 

Menteri Daerah-daerah Seberang,

 

tandatangan

(Mr. J.H. VAN MAARSEVEEN)

 

Menteri bertugas istimewa,

 

tandatangan

(I. GÖTZEN)

 

Nah, selama pihak GAM tidak melakukan penyerahan kedaulatan kepada RI dan mengakuinya secara penuh dalam suatu upacara resmi, sebagaimana yang dilakukan oleh pihak kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS), maka selama itu GAM tetap berada dalam posisi dan sikapnya yaitu RI tidak memiliki kedaulatan penuh atas Acheh.

 

Jadi, kalau ada orang yang menafsirkan bahwa penandatanganan MoU Helsinki 15 Agustus 2005 adalah suatu usaha penyerahan kedaulatan kepada RI atas Acheh, maka anggapan orang tersebut adalah anggapan yang salah total.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

----------