Stockholm, 27 Agustus 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

PERJUANGAN GAM MASIH JAUH, KPA JANGAN MENJADI AJANG PEREBUTAN KURSI KEKUASAAN KEPALA PEMERINTAH ACHEH.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

SEKILAS MENGUPAS KPA MENJADI AJANG PEREBUTAN KURSI KEKUASAAN KEPALA PEMERINTAH ACHEH.

 

“Kami selaku Ketua Komite Peralihan Acheh (KPA) Pusat dan seluruh KPA wilayah, mendukung paket Humam Hamid dan Hasbi Abdullah, walaupun secara institusi GAM tidak ikut dalam Pilkada. Tetapi secara personal GAM dibolehkan untuk mencalonkan diri dan dicalonkan. Di pihak KPA tetap memberikan sokongan kepada Humam dan pasangannya” (Ketua Komite Peralihan Acheh (KPA) Muzakkir Manaf, Banda Aceh, Selasa 22 Agustus 2006)

 

“Irwandi Yusuf, yang berpasangan dengan Muhammad Nazar, secara resmi maju sebagai kandidat calon gubernur dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Desember nanti. Mereka maju dengan menggunakan jalur independen. GAM secara organisasi tidak akan maju dalam Pilkada. Ini atasnama perorangan personal GAM. Tapi GAM mendukung kadernya secara penuh yang maju melalui jalur independen. Sebenarnya bukan Hasbi saja yang kita lawan, calon lain juga.” (Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Sofyan Dawood, di markas KPA, Sabtu 26 Agustus 2006)

 

Setelah membaca apa yang disampaikan oleh saudara Ketua Komite Peralihan Acheh (KPA) Muzakkir Manaf di Banda Aceh pada hari Selasa tanggal 22 Agustus 2006 bahwa “Kami selaku Ketua Ketua Komite Peralihan Acheh (KPA) Pusat dan seluruh KPA wilayah, mendukung paket Humam Hamid dan Hasbi Abdullah, walaupun secara institusi GAM tidak ikut dalam Pilkada.” Kemudian dibandingkan dengan apa yang disampaikan oleh Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Sofyan Dawood di markas KPA pada hari Sabtu tanggal 26 Agustus 2006 bahwa ”Irwandi Yusuf, yang berpasangan dengan Muhammad Nazar, secara resmi maju sebagai kandidat calon gubernur dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Desember nanti. Mereka maju dengan menggunakan jalur independen. GAM secara organisasi tidak akan maju dalam Pilkada. Ini atasnama perorangan personal GAM. Tapi GAM mendukung kadernya secara penuh yang maju melalui jalur independen.” Timbul pertanyaan dalam pikiran Ahmad Sudirman, apakah memang benar KPA telah menjadi ajang perebutan kekuasaan dan menjadi arena adu tinju satu sama lain? Bagaimana sikap bangsa dan rakyat Acheh melihat dan memperhatikan apa yang terjadi dalam KPA ini ?

 

Apakah memang saudara Ketua Komite Peralihan Acheh (KPA) Muzakkir Manaf tidak tahu menahu tentang apa yang dinyatakan oleh Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Sofyan Dawood, di markas KPA bahwa saudara Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar akan maju dalam Pilkada dengan didukung oleh KPA dan katanya juga direstui oleh petinggi GAM ?.

 

Bangsa dan rakyat Acheh di buat bingung oleh mereka yang memakai nama KPA dengan berkedok demokrasi semu ini ?

 

Mengatasnamakan perorangan personal GAM untuk tampil sebagai calon Kepala Pemerintah Acheh dalam Pilkada itu tidak berarti harus didukung oleh GAM atau oleh KPA. Tetapi kalau  Muzakkir Manaf  selaku Ketua Komite Peralihan Acheh (KPA) Pusat dan seluruh KPA wilayah memberikan sokongan kepada Humam Hamid dan Hasbi Abdullah Humam. Kemudian muncul pula Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Sofyan Dawood yang menyatakan bahwa dengan didukung 80 persen KPA wilayah menyokong saudara Irwandi Yusuf perorangan personal GAM dan Muhammad Nazar perorangan personal SIRA akan maju dalam Pilkada, maka persoalannya telah menyimpang. Mengapa ?

 

Karena  secara langsung KPA baik melalui Ketua Komite Peralihan Acheh (KPA) Muzakkir Manaf ataupun melalui Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Sofyan Dawood  secara resmi menyatakan calonnya masing-masing untuk maju dalam Pilkada.

 

Tinggal yang menjadi persoalan besar adalah mengapa KPA bisa dipecahkan dan dibagi dua dengan mudah hanya dengan bentuk kedok demokrasi dengan tidak memperhatikan akibat yang lebih jauh perjuangan GAM di Acheh ? Kursi Kepala Pemerintah Acheh dan Wakilnya adalah bukan tujuan perjuangan GAM yang dipimpin oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Stafnya. MoU Helsinki bukan menjadi ajang hukum pencari kesempatan kursi kekuasaan Kepala Pemerintah Acheh dengan mengorbankan perjuangan GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

 

Nah memang disini kelihatan dengan jelas, begitu didepan santapan kursi kekuasaan sudah kelihatan, dengan secepat kilat lupa perjuangan GAM yang telah dibangun oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro selama 30 tahun. KPA menjadi ajang perebutan kursi kekuasaan Kepala Pemeritah Acheh. Dan inilah merupakan penyimpangan dari perjuangan GAM yang dibangun dan dipimpin oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Usaha untuk penentuan nasib sendiri bagi bangsa Acheh telah dilupakan setelah didepan melihat kursi kekuasaan Kepala pemerintah Acheh.

 

Sebenarnya, kursi kekuasaan Kepala Pemerintah Acheh adalah bukan tujuan perjuangan GAM sebagaimana yang diredeklarasikan oleh teungku Hasan Muhammad di Tiro pada tanggal 4 Desember 1976 melainkan penentuan nasib sendiri.

 

Jadi sekarang sudah terlihat dengan jelas bahwa kekuatan KPA dengan mudah dapat dibelah menjadi berkeping-keping hanya dengan memakai kedok demokrasi semu untuk mencapai kursi kekuasaa Kepala Pemerintah Acheh dengan mengorbankan perjuangan GAM yang sesungguhnya. Demokrasi menurut selera masing-masing, dimana ada untung disanalah ada yang namanya demokrasi.

 

Padahal kalau Ahmad Sudirman melihat dan memperhatikan kalau memang Muzakkir Manaf selaku Ketua Komite Peralihan Acheh (KPA) Pusat dan seluruh KPA wilayah telah menyatakan mendukung paket Humam Hamid dan Hasbi Abdullah, walaupun secara institusi GAM tidak ikut dalam Pilkada, maka tidak perlu lagi KPA melakukan deklarasi pendukungan terhadap calon lainnya. Mengapa ?

 

Karena akan menjadi ajang penghancuran GAM melalui tubuh KPA. Dan tentu saja kelompok lain, seperti PDI-P, PKB termasuk juga Golkar bersama-sama akan menghancurkan GAM melalui tubuh KPA. Dengan hanya umpan kursi kekuasaan Kepala Pemerintah Acheh, maka dengan secepat kilat KPA berada dipinggir jurang keruntuhan. Dan yang tertawa adalah kelompok PDI-P, PKB dan termasuk juga Golkarnya Jusuf Kalla. Kalau juga saudara Irwandi Yusuf perorangan personal GAM dan Muhammad Nazar perorangan personal SIRA mau mencalonkan melalui jalur independen dipersilahkan dengan bebas, hanya tidak melalui deklarasi pendukungan secara resmi dari pihak KPA di kantor KPA lagi melalui Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Sofyan Dawood  secara resmi pula.

 

Disini Ahmad Sudirman melihat dan memperhatikan bahwa apa yang telah dinyatakan oleh Muzakkir Manaf selaku Ketua Komite Peralihan Acheh (KPA) Pusat dan seluruh KPA wilayah mendukung paket Humam Hamid dan Hasbi Abdullah, walaupun secara institusi GAM tidak ikut dalam Pilkada, maka itulah yang lebih utama. Mengapa ?

 

Karena, dengan hanya mendukung Humam Hamid dan Hasbi Abdullah, maka pertama, KPA tidak akan terpecah menjadi beberapa pecahan.  Kedua, bangsa dan rakyat Acheh yang mendukung GAM tidak dibuat bingung dengan adanya dua kelompok yang sama-sama didukung oleh KPA. Ketiga, taktik dan strategi pertama GAM dan KPA di Acheh bukan hanya terpaku kepada perebutan kursi kekuasaan Kepala Pemerintah Acheh saja. Keempat, Humam Hamid orang-nya PPP sebagai kuda liar yang sebelumnya tidak kenal GAM bisa diajak dan dilatih untuk berjalan dalam alunan irama perjuangan GAM. Kelima, PPP yang memiliki basis kekuatan umat Islam di Acheh menjadi basis juga bagi perjuangan GAM. Keenam, PPP di Acheh masih lumayan dibandingkan dengan partai sekuler PDI-P, Golkar, PD dan PKB.

 

Nah, itulah kalau Ahmad Sudirman melihat dan memahami mengapa Muzakkir Manaf selaku Ketua Komite Peralihan Acheh (KPA) Pusat dan seluruh KPA wilayah mendukung paket Humam Hamid dan Hasbi Abdullah. Dan itulah langkah terbaik yang dijalankan GAM dan KPA dalam langkah politik pertamanya pasca MoU Helsinki. Dan itulah taktik dan strategi terbaik yang dijalankan oleh KPA bersama GAM. KPA harus tetap satu, jangan diretakkan oleh karena didepan keilhatan kursi kekuasaan Kepala Pemerintah Acheh.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=1175

 

Berita

Selasa, 22 Agustus 2006, 17:32 WIB

PILKADA

GAM Dukung Paket Humam-Hasbi

Reporter : Radzie

 

Banda Aceh, acehkita.com. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Komite Peralihan Aceh (KPA) menyatakan dukungannya terhadap pasangan Ahmad Humam Hamid dan Hasbi Abdullah sebagai calon gubernur dan wakil yang akan maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan digelar pada 11 Desember nanti.

 

Keputusan memberikan dukungan kepada Humam-Hasbi dicapai setelah sejumlah petinggi GAM, seperti Malik Mahmud (Perdana Menteri), Zaini Abdullah (Menteri Luar Negeri), Teungku Muhammad Usman Lampoh Awe (bekas perunding), Ilyas Abed, Abu Razak (bekas Komandan Operasi), Amni bin Ahmad Marzuki (bekas perunding), bekas Panglima Aceh Rayeuk Muharram, dan sejumlah anggota GAM lainnya, bertemu di sebuah losmen di Banda Aceh, Selasa (22/8). Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh sejumlah ulama dari unsur Partai Persatuan Pembangunan (PPP), partai yang mengusung paket Hasbi-Humam.

 

Usai pertemuan, bekas Panglima GAM Muzakkir Manaf membacakan hasil pertemuan tersebut. “Kami selaku Ketua KPA Pusat dan seluruh KPA wilayah, mendukung paket Humam Hamid dan Hasbi Abdullah,” kata Muzakkir Manaf yang didampingi Ilyas Abed.

 

Kendati menyatakan dukungan terhadap paket ini, Muzakkir Manaf kembali menegaskan bahwa GAM secara institusi tidak ikut dalam Pilkada. “Walaupun secara institusi GAM tidak ikut dalam Pilkada. Tapi secara personal GAM dibolehkan untuk mencalonkan diri dan dicalonkan,” kata Muzakkir.

 

Keputusan untuk memberikan dukungan kepada Humam-Hasbi karena Teungku Nashiruddin yang terpilih sebagai calon gubernur dalam pertemuan raya GAM Ban Sigom Donja di kampus Darussalam pada 21-23 Mei lalu, mengundurkan diri. Sementara Muhammad Nazar, pasangan Teungku Nash, tetap menyatakan akan maju dalam Pilkada mendatang.

 

Disebut-sebut, Senior Representasi GAM di Aceh Monitoring Mission (AMM) Irwandi Yusuf juga akan mencalonkan diri sebagai calon gubernur melalui jalur independen dalam Pilkada mendatang. Dia didampingi oleh Muhammad Nazar, ketua Dewan Presidium Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) yang juga merupakan salah seorang tim perumus Rancangan Undang Undang Pemerintahan Aceh versi GAM. Dikabarkan, pasangan Irwandi-Nazar akan mendeklarasikan diri pada 28 Agustus nanti.

 

Terkait dengan kabar pencalonan pentolan GAM ini, Ilyas Abed dan Muzakkir Manaf, menyatakan belum mengetahui sama sekali kabar tersebut. “Kalau di pihak KPA tetap memberikan sokongan kepada Humam dan pasangannya,” kata Ilyas Abed. [dzie]

----------

 

http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=1182

 

Berita

Sabtu, 26 Agustus 2006, 18:02 WIB

Irwandi-Nazar Resmi Maju dalam Pilkada

Reporter : Radzie

 

Banda Aceh, acehkita.com. Senior Representatif Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh Monitoring Mission (AMM) Irwandi Yusuf, yang berpasangan dengan Ketua Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) Muhammad Nazar, secara resmi maju sebagai kandidat calon gubernur dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Desember nanti. Mereka maju dengan menggunakan jalur independen. Pasangan ini akan dideklarasikan Minggu (27/8) siang di markas Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat di Lamdingin, Banda Aceh.

 

Kepastian majunya Irwandi dan Nazar melalui jalur independen ini diumumkan Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Sofyan Dawood usai bertemu dengan sejumlah ulama, bekas panglima wilayah, bekas gubernur wilayah, dan bekas panglima muda GAM se-Aceh, di markas KPA, Sabtu (26/8).

 

Selain Sofyan Dawood, Irwandi, dan Munawarliza, hadir dalam pertemuan tersebut adalah bekas Panglima Aceh Rayeuk Muharram, bekas Juru Bicara Aceh Rayeuk Muchsalmina, bekas Panglima Linge Fauzan Azima, Amni bin Ahmad Marzuki (bekas perunding), dan Teungku Hadi (tokoh GAM yang selama ini bermukim di Jerman).

 

Walaupun Irwandi dan Nazar akan maju dalam Pilkada yang akan digelar 11 Desember nanti, Sofyan Dawood menegaskan, GAM secara organisasi tetap tidak akan maju dalam prosesi Pilkada tersebut. “GAM secara organisasi tidak akan maju dalam Pilkada. Ini atasnama perorangan personal GAM,” kata Sofyan yang juga bekas jurubicara militer GAM. “Tapi GAM mendukung kadernya secara penuh yang maju melalui jalur independen.”

 

Sebelumnya, Hasbi Abdullah, juga kader GAM, dicalonkan sebagai wakil gubernur oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mendampingi Ahmad Humam Hamid. Hasbi juga mendapatkan dukungan dari tokoh GAM. Dalam sebuah pertemuan di Wisma Daka awal pekan lalu, seorang petinggi GAM Ilyas Abed mengklaim, Hasbi mendapatkan dukungan dari KPA. Namun klaim dukungan ini dibantah oleh anggota GAM dan KPA lainnya. “Keputusan itu bukan keputusan Majelis GAM,” kata Deputi Juru Bicara GAM Munawarliza Zain.

 

Sofyan Dawood menyebutkan, GAM secara organisasi tidak memberikan dukungan terhadap Hasbi. “Kami tidak mendukung partai mana pun. Pernyataan kemarin, itu perangkap PPP dan oknum sehingga terjadi perpecahan,” kata dia.

 

Dia menambahkan, pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar siap bertarung dengan pasangan Humam Hamid dan Hasbi Abdullah dalam Pilkada nanti. “Sebenarnya bukan Hasbi saja yang kita lawan, calon lain juga,” kata Sofyan.

 

Pasangan ini diklaim sudah mendapatkan restu dari petinggi GAM dan ulama. Dalam pertemuan di Hotel Rajawali pada 29 Mei 2006 lalu, GAM memutuskan untuk tidak menominasikan kandidat, tapi membenarkan anggotanya untuk mencalonkan diri atau dicalonkan.

 

“Keputusan itu tidak kami anulir dan tidak berubah. Justru ada perubahan kalau misalnya ada pihak tertentu yang mengunakan nama GAM untuk mencalonkan nama seseorang. Apa yang telah menjadi keputusan di Hotel Rajawali, itu yang kami pegang. Jadi tidak berubah sama sekali,” ujar pria yang lama menetap di luar negeri ini.

 

Selain mengklaim telah mendapat restu dari petinggi GAM, Sofyan juga menyebutkan, mereka didukung 80 persen KPA wilayah dan ulama Aceh. Karena itu, mereka optimis Irwandi dan Nazar bisa melaju dalam Pilkada nanti. Untuk calon independen, dibutuhkan dukungan minimal tiga persen dari jumlah penduduk Aceh untuk bisa maju dalam Pilkada.

 

“Kita sudah berusaha dan mulai bekerja di lapangan. Insya Allah semuanya berjalan lancar. Tiga persen akan dicapai dalam waktu yang dekat,” kata Munawarliza, sembari berharap semua kandidat yang maju melalui jalur calon independen untuk jujur dalam mengumpulkan KTP warga. [dzie]

----------