Stockholm, 30 Agustus 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

JARING LABAH-LABAH BIN TIDAK MEMPAN MENGHADAPI USAHA PENENTUAN NASIB SENDIRI PIHAK NII-KARTOSOEWIRJO.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

SEDIKIT MENGUPAS TENTANG JARING LABAH-LABAH BADAN INTELIJEN NEGARA (BIN) TIDAK MEMPAN MENGHADAPI USAHA PENENTUAN NASIB SENDIRI PIHAK NII-KARTOSOEWIRJO.

 

“Bang Ahmad, langsung aja ya. Dulu jaman mbah Harto banyak intel (BIN) mencari2 orang2 NII Kartosuwiyo untuk dimusnahkan, sekarang mbah SBY mengikuti langkah mbah Harto (orba). Saya minta informasi lebih jelas tentang langkah2 SBY. Waktu jaman orba, aku punya teman yg kakaknya mjd intel yg tugasnya menyisir NII Kartosuwiryo, tetapi yg ditangkap adalah NII TOTO yg sesat itu.“ (Sugiran, sugiran_cool@yahoo.com  , 29 augusti 2006 05:47:41)

 

Terimakasih saudara Sugiran di Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia.

 

Taktik dan srategi Susilo Bambang Yudhoyono tentang hal yang ada hubungannya dengan NII-Kartosoewirjo disesuaikan dengan hasil usaha yang telah dirintis ketika Susilo Bambang Yudhoyono menjabat Menko Polkam dibawah Kabinet Gotong Royong-nya Megawati.

 

Dimasa itu lahir anak turunan resolusi DK PBB 1373 (2001) yang berkepala bulat keras bermoncong tajam penuh racun mematikan buatan Dewan Keamanan Persekutuan Bush-Blair. Nah, anak turunan resolusi DK PBB 1373 (2001) yang berkepala bulat keras bermoncong tajam penuh racun mematikan buatan Dewan Keamanan Persekutuan Bush-Blair itulah yang diberi nama oleh Susilo Bambang Yudhoyono cs (dalam hal ini semua anggota Kabinet Gotong Royong ditambah dengan sebagian para labah-labah dari Badan Intelijen Negara (BIN) pimpinan AM Hendropriyono pada waktu itu, juga tidak ketinggalan kelompok Polri Da’i Bachtiar) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang tidak berlaku surut dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang berlaku surut untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan serta penuntutan para pelaku peristiwa peledakan bom di Bali.

 

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan “Mengupas hasil kerja Susilo Bambang Yudhoyono dan Soeharto dalam penerapan syariat Islam” ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060828.htm ) bahwa ideologi yang dipahami dan dijalankan dalam kehidupan politik dan pemerintahan serta negara oleh Susilo Bambang Yudhoyono menunjukkan kearah perlawanan dan penentangan tegaknya syariat Islam yang dijabarkan kedalam bentuk Perpu 1&2/2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

 

Nah, tugas untuk menjalankan jaring labah-labah Badan Intelijen Negara (BIN) yang sebelumnya dipegang oleh AM Hendropriyono dan sekarang sudah dipindahkan ke tangan Syamsir Siregar. Dimana Syamsir Siregar ini adalah Tim Kampanye Nasional Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dan mantan Kepala Badan Intelijen Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (BIA) yang dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada hari Rabu tanggal 8 Desember 2004 setelah Susilo Bambang Yudhoyono memenangkan kursi Presiden RI yang keputusan pengangkatannya dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 197/M/2004 tanggal 29 November 2004. Juga Syamsir Siregar ini adalah alumni Akademi Militer Nasional 1965 yang pernah menjabat Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) II Sriwijaya.

 

Adapun jaring labah-labah BIN-nya Syamsir Siregar ini tidak mempan ketika dihadapkan kepada NII-Kartosoewirjo. Mengapa ?

 

Karena NII-Kartosoewirjo tidak bisa dimasukkan dan digolongkan kepada tempat sarang teroris sebagaimana yang dimaksud dalam  Perpu 1&2/2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

 

Nah, pihak NII-Kartosoewirjo adalah memperjuangkan penentuan nasib sendiri yang secara politik. Dimana jaringan labah-labah BIN ini tidak bisa dipakai untuk menjaring sikap dan tindakan politik NII-Kartosoewirjo, kecuali kalau memang dianggap menghambat usaha proses ekstradisi atau usaha penyerahan orang yang dianggap melakukan tindakan kriminal oleh suatu negara lain yang diatur dalam perjanjian antara negara yang bersangkutan, sebagaimana tertuang dalam Perpu nomor 1 & 2 tahun 2002 yang terkumpul dalam pasal 5 yang berisikan racun "Tindak pidana terorisme yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini dikecualikan dari tindak pidana politik, tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana politik, tindak pidana dengan motif politik, dan tindak pidana dengan tujuan politik, yang menghambat proses ekstradisi."

 

Jadi selama gerakan penentuan nasib sendiri pihak NII-Kartosoewirjo tidak mengarah kepada tindakan kriminal, maka selama itu jaringan labah-labah BIN tidak mampu dan tidak akan mempan untuk menjerat pihak NII-Kartosoewirjo.

 

Nah, apabila pihak NII-Kartosoewirjo, misalnya terlibat dalam tindakan kriminal, contohnya gerakan kriminal dalam bentuk peledakan bom yang tanpa didasarkan pada motivasi dan tujuan yang jelas kearah perjuangan penentuan nasib sendiri, maka pihak NII-Kartosoewirjo akan dengan mudah dipancing keatas permukaan dan disambut dengan jaringan labah-labah BIN-nya Syamsir Siregar.

 

Karena itu, selama perjuangan NII-Kartosoewirjo berjalan dalam garis konstitusi atau Kanun Asazy NII-nya, maka selama itu pihak Susilo Bambang Yudhoyono bersama BIN-nya Syamsir Siregar tidak berkutik menghadapi usaha penentuan nasib sendiri dari pihak NII-Kartosoewirjo.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------