Stockholm, 12 September 2006.

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

APAKAH ORANG PEMERINTAH RI TERLIBAT DALAM PENGHANCURAN GAM DAN KPA DI ACHEH?.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

ADAKAH ORANG PEMERINTAH RI YANG MENDORONG IRWANDI YUSUF CS UNTUK MAJU DALAM USAHA MENGHANCURKAN KPA DAN GAM?.

 

Secara hukum memang GAM tidak bisa dibubarkan oleh pihak pemerintah RI. Begitupun KPA tidak ada dasar hukumnya untuk bisa dihancurkan oleh pemerintah RI. Tetapi ada satu jalan yang bisa membuat GAM dan KPA bubar yaitu dengan melalui permainan tangan orang-orang yang dipasang oleh pemerintah RI dalam tubuh GAM dan KPA. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah adakah orang yang dipasang oleh pemerintah RI yang mendorong dan menjadikan saudara Irwandi Yusuf cs sebagai ujung tombak untuk menghancurkan KPA dan GAM di Acheh?

 

Nah, tentu saja pertanyaan tersebut masih perlu pembuktian fakta dan hukum yang kuat.

 

Untuk sementara ada dua faktor utama yang bisa dijadikan sebagaidasar pegangan sementara dalam melihat dan menggali fakta dan hukum yang ada kaitannya dengan usaha orang-orang yang ditanam oleh pemerintah RI untuk menghancurkan KPA dan GAM di Acheh, yaitu faktor uang dan faktor kedudukan.

 

Nah, kalau berbicara faktor uang, maka timbul pertanyaan kelompok-kelompok mana yang ada dalam pemerintah RI yang memiliki kantong keuangan yang kuat untuk membiayai penggerogotan, pengrusakan dan penghancuran KPA dan GAM dari dalam di Acheh?

 

Dan kalau berbicara faktor kedudukan, maka timbul pertanyaan siapakah orang yang ada dalam pemerintah RI yang memiliki kekuasaan langsung untuk bisa menempatkan orang-orang dari KPA dan GAM di Acheh untuk bisa menduduki secara langsung posisi-posisi penting di Acheh, misalnya dalam Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) untuk Acheh dan Nias dan Lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing yang beroperasi di Acheh?

 

Nah, dengan memakai dasar pegangan dua faktor tersebut, faktor uang dan faktor kedudukan, maka untuk sementara bisa dijadikan sebagai bahan analisa guna melihat fenomena politik yang kelihatan dalam tubuh KPA dan GAM di Acheh.

 

Faktor uang yang dimaksud dalam tulisan ini adalah bukan faktor hak-hak ekonomi bagi orang-orang yang telah diberikan amnesti atau dibebaskan dari Lembaga Permasyarakatan atau tempat penahanan lainnya,bukan juga faktor masalahpemberian kemudahan ekonomi bagi anggota TNA (Tentara Negara Acheh) yang sekarang telah berobah status menjadi KPA, begitu juga bukan faktor dana yang memadai untuk kompensasi bagi semua anggota TNA (sekarang KPA), tahanan politik dan rakyat sipil yang terkena dampak konflik Acheh melalui Pemerintah Acheh, sebagaimana yang telah disepakati dalam MoU Helsinki. Tetapi faktor uang yang dimaksud dalam tulisan ini adalah uang yang disalurkan melalui jalur tertentu yang bukan diatur dalam MoU Helsinki untuk dipakai alat penghancuran KPA dan GAM di Acheh.

 

Kelihatannya faktor uang sangat menentukan untuk dipakai sebagai alat yang ampuh untuk menghancurkan KPA dan GAM di Acheh. Hanya persoalannya sekarang adalah adakah fakta dan bukti yang memberikan arah bahwa orang yang ada dalam pemerintah RI memainkan peranan dalam penghancuran KPA dan GAM melalui dana keuangannya yang melimpah?

 

Sampai detik ini masih dalam proses penelitian dan pengumpulan fakta dan bukti untuk menjadikan dasar argumentasi atas pertanyaan yang disampaikan diatas. Tetapi, tentu saja Ahmad Sudirman masih terus mengumpulkan fakta dan buktinya untuk nantinya bisa dijadikan dasar argumentasi guna memberikan jawaban atas pertanyaan yang disampaikan diatas.

 

Selanjutnya, faktor kedudukan adalah salah satu faktor yang penting untuk dipakai sebagai alat penjerat bagi orang-orang yang ada dalam tubuh GAM dan KPA di Acheh dengan memakai alasan reintegrasi kedalam masyarakat. Misalnya dengan posisi kedudukan dalamBadan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) untuk Acheh dan Nias dengan gajih puluhan juta rupiah yang dananya berasal dari negara-negara donor, termasuk negara Swedia melalui Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA)-nya. Atau kedudukan posisi dalam Lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing yang beroperasi di Acheh.

 

Masalahnya sekarang adalah, sejauh mana kekuatan faktor kedudukan posisi dalam Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) untuk Acheh dan Nias atau dalam Lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing bisa dijadikan alat penjerat dan penghancur KPA dan GAM di Acheh?

 

Untuk menjawabnya masih perlu penelitian dan pengumpulan fakta dan bukti dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) untuk Acheh dan Nias.

 

Walaupun masih diperlukan fakta dan bukti untuk dijadikan dasar argumentasi guna kita bisa memberikan jawaban atas pertanyaan diatas, tetapi sedikitnya kita sudah mendapatkan gambaran kasar bahwa memang faktor uang dan kedudukan adalah dua faktor penting yang dipakai oleh pihak orang pemerintah RI guna dijadikan sebagai alat penghancur KPA dan GAM di Acheh.

 

Nah, yang menjadi pertanyaan lagi yaitu, berapa banyak orang KPA dan GAM yang telah mendapat posisi kedudukan dalam Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) untuk Acheh dan Nias dan Lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing dengan memakai dalil reintegrasi dalam masyarakat Acheh sekarang?

 

Tentu saja untuk memberikan jawabannya disini masih perlu dikumpulkan fakta dan bukti statistik yang dikumpulkan dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) untuk Acheh dan Nias dan Lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing.

 

Terakhir, kendatipun dalam tulisan ini masih sebagian besar berupa tesis yang masih perlu pembuktian melalui fakta dan bukti statistik, tetapi sebagai pegangan sementara bisa juga dijadikan alat penuntun kita kearah terbukanya kedok pertanyaan ďapakah orang pemerintah RI terlibat dalam penghancuran GAM dan KPA di Acheh?

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------