Stockholm, 3 Oktober 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

REDAKSI MODUS MEMUAT CERITA HASIL OLAHAN YANG ASAL JADI SAJA.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

MENYOROT REDAKSI MODUS MEMUAT CERITA HASIL OLAHAN YANG ASAL JADI SAJA.

 

Redaksi Modus pada hari Senin, 18 September 2006 18:00WIB memuat artikel dengan judul "BENARKAH MUZAKIR MANAF MENDUKUNG AHMAD HUMAM HAMID-MUHAMMAD NAZAR ?" yang diakhiri dengan kalimat "Saat ini, tim KPA sedang mencari Ustadz Muzakkir Hamid (red: adik kandung Istri Dr.Zaini Abdullah) di Alby, Swedia karena dia salah satu “aktor intelektual” dibalik kisruh KPA/GAM. (Red/Diolah dari berbagai sumber yang memiliki akses dengan beberapa tokoh/petinggi KPA/GAM"

 

Ternyata setelah diteliti secara lebih mendalam akhirnya dapat disimpulkan bahwa sebenarnya bukan Ustadz Muzakkir Hamid yang menjadi “aktor intelektual” dibalik kisruh KPA/GAM, melainkan saudara Irwandi Yusuf, Saudara Sofyan Dawood dan saudara Munawarliza Zein.

 

Seperti yang telah dijelaskan oleh Ahmad Sudirman dalam tulisan sebelum ini yaitu apabila “tindakan politik yang dijalankan oleh saudara Sofyan Dawood dengan memakai KPA tanpa mendapat persetujuan politik dan hukum dari pimpinan tinggi GAM untuk menyokong pendeklarasian saudara Irwandi Yusuf dan saudara Muhammad Nazar sebagai calon Kepala dan Wakil Kepala Pemerintah Acheh, maka tindakan politik saudara Sofyan Dawood tersebut merupakan tindakan penjegalan politik dan tindakan pembangkangan politik yang mengarah kepada tindakan perebutan kekuasaan dalam tubuh GAM dari pimpinan tinggi GAM.” (Ahmad Sudirman, 18 September 2006).

 

Mengapa tindakan mereka bertiga disebut dengan tindakan penjegalan politik dan tindakan pembangkangan politik yang mengarah kepada tindakan perebutan kekuasaan dalam tubuh GAM dari pimpinan tinggi GAM?

 

Karena mereka bertiga telah melakukan tindakan politik dengan memakai tubuh KPA tanpa mendapat persetujuan politik dan hukum penuh dari pimpinan tinggi GAM yang telah diberi kepeceryaan politik dan hukum oleh pimpinan tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

 

Jadi, kalau dilihat dari sudut lembaga atau istitusi politik dan hukum GAM, maka tindakan politik yang dijalankan oleh saudara Irwandi Yusuf, saudara Sofyan Dawood dan saudara  Munawarliza Zein adalah tindakan makar politik kepada pimpinan tinggi dan pimpinan tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

 

Karena MoU Helsinki-lah, maka lahir apa yang dinamakan dengan rapat atau pertemuan sigom donya di Banda Acheh. Tetapi MoU Helsinki bukan sebagai tujuan, melainkan hanya sebagai alat untuk mencapai apa yang menjadi visi dan misi perjuangan GAM. Karena itu kalau ada orang yang memakai MoU sebagai alat untuk mencari kekuasaan melalui kedudukan dan uang serta dana yang lainnya di Acheh, maka orang tersebut tidak mengerti dan tidak memahami visi dan misi perjuangan GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Stafnya. Contohnya, seperti saudara Irwandi Yusuf, saudara Sofyan Dawood dan saudara  Munawarliza Zein yang telah menjadikan MoU sebagai alat untuk mencari kedudukan, uang dan kekayaan lainnya di Acheh, sehinga lupa visi dan misi perjuangan GAM itu sendiri. Dan tentu saja mereka yang melakukan makar politik kepada pimpinan tinggi dan pimpinan tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro usaha mereka tidak akan berhasil.

 

Saran kepada saudara Redaksi Modus, kalau akan menerbitkan artikel yang menyangkut GAM dan KPA perlu diteliti dan diklarifikasikan serta di konformkan terlebih dahulu dengan pihak pimpinan tertinggi GAM.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

http://www.modus.or.id/aspirasi/benarkah.html

 

Senin, 18/9/06 18:00WIB

BENARKAH MUZAKIR MANAF MENDUKUNG AHMAD HUMAM HAMID-MUHAMMAD NAZAR ?

 

Banda Aceh,(Modus.or.id). Rapat tanggal 21 Agustus: Para ulama diundang rapat dengan tim sukses H2O yang terdiri dari Muhammad Lampoh Awe (kerabat dekat Hasbi Abdullah), Zakaria Saman, dan Ilyas Abed. Rapat itu dihadiri juga oleh Dr. Zaini (abang kandung Hasbi) dan Meuntroe Malik. Keputusan rapat: Ulama menolak mendukung H2O karena mereka menggunakan kenderaan parpol nasional dan karena Humam adalah salah seorang sponsor atau penandatangan DOM di masa lalu.

 

Tidak berhasil dengan para ulama, tim sukses menggelar rapat dengan seluruh Panglima TNA dari beberapa wilayah yang intinya meminta agar mereka memberi dukungan kepada H2O. Rapat ini pun gagal memperoleh dukungan para panglima, bahkan yang terjadi adalah panglima panglima wilayah mengkritik pedas keputusan tim sukses yang melibatkan pimpinan untuk mendukung H2O.

 

Mereka ada yang berteriak "Tigapuluh tahun kita berperang dan puluhan ribu nyawa sudah terkorban apakah untuk mensukseskan PPP yang dulu sewaktu darurat militer mencap kita sebagai Bughat?" Rapat berakhir pada pukul 12.30 Wib dengan kekecewaan bagi yang mengundang dan yang diundang.

 

Setelah para peserta rapat meninggalkan arena, yang tertinggal disana adalah tim sukses H2O, Meuntroe Malek, dan Dr. Zaini, plus beberapa wartawan yang kebingungan. Muzakkir Manaf pun sudah pulang ke rumahnya. Tapi tim sukses belum putus asa. Ilyas Abed lalu mengambil inisiatif menulis press statement DUKUNGAN KPA dengan mengatasnamakan Muzakkir Manaf. Setelah press statement selesai ditulis tangan, Kamaruddin alias Abu Razak disuruh menjemput Muzakkir Manaf dari rumahnya dengan alasan ada rapat penting dengan pimpinan. Sesampainya di sana, Muzakkir disodori oleh Ilyas Abed press statement utk dibacakan di depan wartawan. Muzakkir menolak keras. Zakaria Saman mengambil alih tugas membujuk Muzakkir tapi tetap gagal juga.

 

Setelah 1 jam bujuk membujuk itu berlangsung, akhirnya Ilyas Abed mengambil naskah tersebut dan diberikan kepada Meuntroe Malek untuk menyuruh Muzakkir membacanya di depan wartawan. Meuntroe Malek memanggil Muzakkir dan memintanya agar mau membaca.Muzakkir yang malang kena skak, dan ia pun membaca press statement itu di depan wartawan. Esok hari hebohlah seantero Aceh.

 

Setelah Muzakkir membacanya di depan wartawan, Muzakkir sempat berucap kepada tim sukses dan pimpinan: "Lakukanlah sesuka kalian, saya tidak mau perduli lagi." Malamnya kami bertemu di rumah. Muzakkir berkata kepada saya bahwa dirinya tadi dijebak. Dia mempersilakan saya tetap maju dan jangan bergeming. Esok harinya Muzakkir terbang ke Medan dan bertemu dengan Sofyan Dawod di sana. Kepada Sofyan Dawod dia meminta agar dapat menyejukkan suasana di lapangan dan mengizinkan Sofyan Dawod untuk membuat Counter Press Statement. Tanggal 26 Agustus Sofyan Dawod menggelar press statement di Kantor KPA Banda Aceh.

 

Saat ini, tim KPA sedang mencari Ustadz Muzakkir Hamid (red: adik kandung Istri Dr. .Zaini Abdullah) di Alby, Swedia karena dia salah satu “aktor intelektual” dibalik kisruh KPA/GAM. (Red/Diolah dari berbagai sumber yang memiliki akses dengan beberapa tokoh/petinggi KPA/GAM

----------