Stockholm, 4 Oktober 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

MASIH MENGGALI AL-AHZAB 33:28-34 YANG DIPERLUAS DENGAN HADITS AL-KISA DIHUBUNGKAN DENGAN MAKSUM DAN AHLUL BAIT

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

MASIH TETAP MENGGALI AL-AHZAB 33:28-34 YANG DIPERLUAS DENGAN HADITS AL-KISA DIHUBUNGKAN DENGAN MAKSUM DAN AHLUL BAIT.

 

Tulisan ini merupakan sedikit sambungan dari tulisan “Melihat dibalik Al-Ahzab 33:28-34, Al-Maidah 5:6 dan Hud 11:72-73 dihubungkan dengan maksum dan Ahlul bait” ( http://www.dataphone.se/~ahmad/061003b.htm ) yang dipublikasikan pada hari Selasa, 3 Oktober 2006 dan masih tetap menggali Al-Ahzab 33:28-34, tetapi dengan diperluas menggali hadits Al-Kisa, sebutan untuk kain Yaman dalam usaha untuk memberikan jawaban atas pertanyaan apakah ayat 33 dalam surat Al Ahzab itu adalah dasar kekuatan nash maksumnya ahlul bait?

 

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan tersebut bahwa

 

“Yang masuk akal dan logis adalah kalau ahlul bait adalah orang-orang maksum, maka Allah SWT akan berfirman “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dosa kamu ahlul bait dan telah membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”. Tetapi, kenyataannya yang tertuang dalam ayat 33 surat Al-Ahzab tidak demikian bunyinya, melainkan berbunyi ”..sesungguhnya Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa dari kamu, ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS Al Ahzab, 33: 33). Sama juga yang tertuang dalam ayat 6 surat Al-Maidah bagi orang beriman yang berwudu “...tetapi Dia berkehendak untuk membersihkan kamu“ (QS Al-Maidah, 5: 6). Jadi kemaksuman dari ahlul bait adalah tidak masuk akal dan tidak logis kalau dihubungkan dan diacukan kepada dasar nash QS Al Ahzab, 33: 33.“ (Ahmad Sudirman, 3 Oktober, 2006)

 

Sebagaimana juga telah dijelaskan dalam tulisan tersebut bahwa berdasarkan nash ayat 28 sampai 34 surat Al-Ahzab yang dimaksud dengan ahlul bait dalam ayat 33 surat Al-Ahzab adalah istri-istri Rasulullah saw yang tali ikatan kekeluargaannya melalui pernikahan.

 

Nah sekarang, kita mencoba kembali menggali lebih dalam ayat 33 surat Al-Ahzab dihubungkan dengan hadits Al-Kisa agar sedikitnya bisa memberikan gambaran mengenai hubungan antara maksum dan ahlul bait.

 

Ayat 33 surat Al-Ahzab ini diturunkan kepada Rasulullah saw di rumah Hindun binti Suhail yang dikenal dengan nama Ummu Salamah ra yaitu istri Rasulullah saw.

 

Dimana saat-saat turunnya ayat 33 surat Al-Ahzab ini diceritakan oleh Ummu Salamah yang dikenal dengan hadits Al-Kisa. Derajat atau tingkatan hadits Al-Kisa ini adalah sahih. Hadits Al-Kisa ini dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah, Ahmad, al-Tirmizi, al-Bazzar, Ibn Jarir al-Thabari, Ibn Hibban, Ibn Abi Hatim, al-Hakim, al-Thabarani, al-Baihaqi dan al-Hafiz al-Haskani, dengan lafaz al-Tirmizi dan dinilai sahih oleh al-Albani di dalam Shahih Sunan al-Tirmizi – no: 3787 (Kitab Manaqib, Bab Manaqib Ahl Bait Nabi).

 

Bunyi hadits Al-Kisa adalah

 

”Ummu Salamah radhiallahu anha berkata: Diturunkan ayat ini kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud hendak menghilangkan dosa kamu wahai Ahl al-Bait dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya di dalam rumah Ummu Salamah. Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam memanggil Fatimah, Hasan dan Husein dan menyelimuti mereka dengan kain (Kisa) manakala Ali berada di belakangnya, lalu diselimuti juga dengan kain. Kemudian Nabi berdoa: ”Ya Allah ! mereka adalah Ahl al-Bait aku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka dengan sebersih-bersihnya.” Berkata Umm Salamah: ”Dan aku bersama mereka wahai Nabi Allah?” Rasulullah menjawab: ”Engkau tetap pada kedudukan engkau dan engkau selalu dalam kebaikan.”

 

Nah mari kita bersama untuk menelaah sedikit lebih dalam mengenai hadits Al-Kisa ini. Hadits Al-Kisa ini menceritakan situasi dan keadaan ketika ayat 33 surat Al-Ahzab diturunkan kepada Rasulullah saw dirumah Ummu Salamah ra.

 

Coba kita perhatikan dan analisa secara lebih mendalam tentang situasi dan keadaan Rasulullah saw setelah menerima wahyu ayat 33 surat Al-Ahzab itu, yaitu Rasulullah saw memanggil Fatimah, Hasan dan Husen dan menyelimuti mereka dengan Kisa begitu pula Ali yang berada dibelakangnya diselimuti juga.

 

Nah, setelah mereka diselimuti dengan Kisa (kain Yaman) oleh Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw berdo’a: ”Ya Allah ! mereka adalah Ahl al-Bait aku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka dengan sebersih-bersihnya.”

 

Nah disinilah yang menjadi kunci utama untuk membuka tabir ayat 33 surat Al-Ahzab siapakah yang dimaksud ahlul bait itu, apakah mencakup istri-istri Rasulullah saw saja sebagaimana yang difirmankan dalam surat Al-Ahzab 33: 28-32 atau dimasukkan juga Ali, Fatimah, Hasan dan Husen?

 

Fakta dan buktinya adalah karena dalam ayat 33 surat Al-Ahzab itu tidak ditujukan langsung bahwa ahlul bait itu adalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husen, maka ketika Rasulullah saw mendapat wahyu  ayat 33 surat Al-Ahzab mengetahui dengan bimbingan Allah SWT bahwa dalam ahlul bait itu tidak dimasukkan Ali, Fatimah, Hasan dan Husen, melainkan instri-istri Rasulullah saw saja. Karena itulah mengapa Rasulullah saw begitu selesai ayat 33 surat Al-Ahzab diturunkan, langsung memanggil Fatimah, Hasan dan Husen dan menyelimuti mereka termasuk Ali dengan Kisa. Kemudian berdo’a yang isi do’anya adalah mereka (Ali, Fatimah, Hasan dan Husen) adalah juga ahlul bait-nya semoga dihilangkan dosa mereka dan dibersihkan sebersih-bersihnya.

 

Selanjutnya, perhatikan juga apa yang dilakukan oleh Ummu Salamah ra. Ternyata Ummu Salamah ra bertanya kepada Rasulullah saw: ”Dan aku bersama mereka wahai Nabi Allah?”

Kemudian dijawab oleh Rasulullah saw: ”Engkau tetap pada kedudukan engkau dan engkau selalu dalam kebaikan.”

 

Nah, mengapa Ummu Salamah ra bertanya kepada Rasulullah saw?

 

Karena Ummu Salamah ra belum mengetahui isi dari ayat 33 surat Al-Ahzab, disebabkan Rasulullah saw belum membacakannya kehadapan Ummu Salamah ra.

 

Ketika Rasulullah saw ditanya oleh Ummu Salamah ra tersebut, kemudian Rasulullah saw memberikan jawaban bahwa Ummu Salamah ra tetap pada kedudukannya dan beliau selalu dalam kebaikan.

 

Nah jawaban Rasulullah saw tersebut merupakan jawaban yang didasarkan pada surat Al-Ahzab 33: 28-32 yang diturunkan sebelumnya, dimana Ummu Salamah ra adalah istri Rasulullah saw yang termasuk dalam ahlul bait. Jadi Ummu Salamah ra adalah memang salah seorang dari ahlul bait. Sedangkan Ali, Fatimah, Hasan dan Husen adalah tidak dimasukkan kedalam ahlul bait, sebelum turunnya ayat 33 surat Al-Ahzab dan Rasulullah saw memanggil Fatimah, Hasan dan Husen dan menyelimuti mereka juga Ali dengan Kisa dan berdo’a bahwa mereka (Ali, Fatimah, Hasan dan Husen) adalah Ahl al-Bait-nya.

 

Jadi dengan melalui do’a Rasulullah saw itulah Ali, Fatimah, Hasan dan Husen masuk kedalam ahlul bait bersama istri-istri Rasulullah saw.

 

Dengan berdasarkan kepada surat Al-Ahzab 33: 28-34 ditambah dengan hadits Al-Kisa yang berisikan do’a Rasulullah saw untuk memasukkan Ali, Fatimah, Hasan dan Husen kedalam ahlul bait dan memohon Allah SWT menghilangkan dosa dari Ali, Fatimah, Hasan dan Husen dan membersihkan mereka dengan sebersih-bersihnya, maka ahlul bait itu tidak maksum.

 

Kesimpulan yang dapat diambil dengan apa yang dijelaskan diatas adalah Ali bin Abi Thalib, Fatimah Zahrah, Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husen bin Ali bin Abi Thalib adalah menjadi ahlul bait yang tidak maksum sebagaimana juga istri-istri Rasulullah saw juga.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------