http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

 

Stockholm, 7 Oktober 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

MENGGALI ALI IMRAN 3:61 UNTUK MELIHAT APAKAH NISAA’ANA MENJADI BUKTI MENYATUNYA DIRI RASULULLAH SAW DENGAN ALI BIN ABI THALIB.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

MASIH MENGGALI ALI IMRAN 3:61 UNTUK MELIHAT APAKAH NISAA’ANA MENJADI BUKTI MENYATUNYA DIRI RASULULLAH SAW  DENGAN ALI BIN ABI THALIB.

 

Dalam tulisan “Menggali Ali Imran 3:61 untuk melihat apakah Rasulullah saw dengan Ali bin Abi Thalib sejiwa” ( http://www.dataphone.se/~ahmad/061006a.htm ) telah dibukakan penutup atau tabir yang menyelimuti anfusana atau diri kami yang dimaksud dalam ayat 61 surat Ali Imran yaitu Rasulullah saw dan Ali bin Abi Thalib yang memiliki kesamaan sikap, tindakan dan keyakinan dalam bermubahalah dengan pihak delegasi Nasrani Najran. Dimana Rasulullah saw dan Ali bin Abi Thalib menyatukan sikap dan tindakan yang sama dalam bermubahalah dengan pihak delegasi Nasrani Najran. Jadi pengertian diri kami adalah bukan diartikan dengan Rasulullah saw dengan Ali bin Abi Thalib sejiwa atau Ali bin Abi Thalib adalah sebagian diri Rasulullah saw sendiri dalam hal bermubahalah dengan pihak delegasi Nasrani Najran.

 

Untuk tulisan kali ini dimajukan satu pertanyaan yaitu apakah nisaa’ana atau isteri-isteri kami yang dimaksud dalam ayat 61 surat Ali Imran menunjukkan kepada diri Rasulullah saw yang manunggal atau menyatu dengan diri Ali bin Abi Thalib yang beristerikan Fatimah Zahrah?

 

Nah, kata nisaa’ana atau isteri-isteri kami yang tertuang dalam ayat 61 surat Ali Imran, ternyata dalam realisasinya ketika akan dilakukan mubahalah dengan delegasi Nasrani Najran hanya diwakili oleh istri Ali bin Abi Thalib yaitu Fatimah Zahrah, tidak diwakili oleh istri-istri Rasulullah saw.

 

Sekarang yang dipertanyakan adalah apakah dengan tidak mewakilinya istri Rasulullah saw dalam rangka melaksanakan mubahalah tersebut kemudian ditafsirkan nisaa’ana atau isteri-isteri kami menjadi manunggal atau menyatunya diri Rasulullah saw dengan diri Ali bin Abi Thalib yang beristrikan Fatimah Zahrah?

 

Nah, menafsirkan kata nisaa’ana atau isteri-isteri kami tanpa hadirnya istri-istri Rasulullah saw dalam saat akan dilakukan mubahalah dengan delegasi Nasrani Najran dengan  manunggal atau menyatunya diri Rasulullah saw dengan diri Ali bin Abi Thalib yang beristrikan Fatimah Zahrah, maka penafsiran tersebut adalah suatu penafsiran yang tidak memiliki pegangan nas yang kuat. Mengapa ?

 

Karena dengan tidak hadirnya atau tidak mewakilinya istri-istri Rasulullah saw dalam saat akan bermubahalah, maka situasi dan keadaan tersebut tidak merobah firman Allah SWT yang menyangkut nisaa’ana atau isteri-isteri kami menjadi istri kami berdua yang manunggal atau bersatu jiwa. Sehingga bisa dikatakan Istri Rasulullah saw yang manunggal atau menyatu dengan diri Ali bin Abi Thalib adalah Fatimah Zahrah. Karena diri Rasulullah saw manunggal atau menyatu dengan diri  Ali bin Abi Thalib yang beristrikan Fatimah Zahrah.

 

Nah, disinilah kesalahan dalam menafsirkan kata nisaa’ana atau isteri-isteri kami yang tidak diwakili oleh hadirnya istri-istri Rasulullah saw, melainkan hanya oleh istri Ali bin Abi Thalib saja dengan membelokkan kearah manunggal atau menyatunya diri Rasulullah saw dengan diri Ali bin Abi Thalib. Atau dengan kata lain mendekati konsepsi manunggalnya atau konsepsinya  ajaran kristen dengan konsep tritunggal maha kudus. Kalau ajaran kristen memakai konsepsi tritunggal maha kudus, sedangkan ajaran orang-orang yang menafsirkan nisaa’ana atau isteri-isteri kami dalam ayat 61 surat Ali Imran dengan tafsiran manunggal atau menyatunya diri Rasulullah saw dengan diri Ali bin Abi Thalib, atau dengan kata lain konsep dwitunggal diri Rasulullah saw dan diri Ali bin Abi Thalib dengan satu istri Fatimah Zahrah. Atau bisa juga disebut dengan satu dalam dua dan dua dalam satu. Dimana hampir sama dengan kosnep ajaran kristen tritunggal maha kudus, yaitu tiga dalam satu dan satu dalam tiga.

 

Kemudian yang masih dipertanyakan lagi, mengapa bisa jadi nisaa’ana atau isteri-isteri kami dalam ayat 61 surat Ali Imran yang dalam realisasinya tidak diwakili oleh istri-istri Rasulullah saw, melainkan hanya oleh istri Ali bin Abi Thalib ditafsirkan dengan manunggal atau menyatunya diri Rasulullah saw dengan diri Ali bin Abi Thalib?

 

Nah, kelihatan disini orang-orang yang menafsirkan tersebut adalah tidak mengerti dan tidak memahami bahwa dalam kata nisaa’ana atau isteri-isteri kami tidak harus atau tidak mutlak harus hadir hadir diwakili-oleh istri-istri masing ketika sedang melakukan mubahalah, melainkan cukup dideklarkan Rasulullah saw dengan ”ta’alau nad’u” atau ”marilah kita memanggil”. Kemudian setelah masing-masing mengetahui akan bermubahalah, maka masing-masing yang berbeda pendapat berdo’a kepada Allah SWT dengan bersungguh-sungguh, agar Allah SWT menjatuhkan laknat kepada pihak yang berdusta.

 

Selanjutnya, dari fakta dan bukti yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw ketika akan bermubahalah dengan pihak delegasi Nasrani Najran ditampilkan Ali bin Abi Thalib, Fatimah Zahrah, Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husen bin Ali bin Abi Thalib membuktikan bahwa pihak Rasulullah saw telah siap mengorbankan keluarganya dan keturunan darahnya untuk melakukan mubahalah tentang Nabi Isa as. Dimana dengan cara Rasulullah saw menampilkan keluarga dan keturunan darah-nya dalam rangka bermubahalah telah membuat pihak delegasi Nasrani Najran mundur dan menarik maksudnya untuk bermubahalah.

 

Dengan argumentasi bahwa bagaimana mungkin dan tidak masuk akal apabila Rasulullah saw ingin mengorbankan keluarga dan keturunan darahnya sendiri dilaknat Allah SWT akibat bermubahalah, apabila pihak Rasulullah saw tentang Nabi Isa as ada dipihak yang tidak benar atau dipihak pendusta. Seandainya Rasulullah saw tidak yakin bahwa Allah SWT akan mengabulkan doanya untuk menjatuhkan laknat, pasti Rasulullah saw tidak akan membawa bersama keluarga dan keturunan darahnya sendiri yang dicintainya. Seandainya Rasulullah saw tidak yakin dengan risalah Islam yang dibawanya, sehingga yang benar adalah agama anutan pihak delegasi Nasrani Najran, maka sudah pasti Rasulullah saw tidak akan mengorbankan  Ali bin Abi Thalib, Fatimah Zahrah, Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husen bin Ali bin Abi Thalib untuk bermubahalah dengan pihak delegasi Nasrani Najran.

 

Kesimpulan yang dapat diambil dari apa yang dijelaskan diatas adalah dengan tidak hadirnya atau tidak mewakilinya istri-istri Rasulullah saw dalam saat akan bermubahalah, maka situasi dan keadaan tersebut tidak merobah firman Allah SWT yang menyangkut nisaa’ana atau isteri-isteri kami menjadi istri kami berdua yang manunggal atau bersatu jiwa. Sehingga bisa dikatakan Istri Rasulullah saw yang manunggal atau menyatu dengan diri Ali bin Abi Thalib adalah Fatimah Zahrah, disebabkan diri Rasulullah saw manunggal atau menyatu dengan diri  Ali bin Abi Thalib yang beristrikan Fatimah Zahrah. Inilah kesalahan dalam menafsirkan kata nisaa’ana atau isteri-isteri kami yang tidak diwakili oleh hadirnya istri-istri Rasulullah saw, melainkan hanya oleh istri Ali bin Abi Thalib saja dengan membelokkan kearah manunggal atau menyatunya diri Rasulullah saw dengan diri Ali bin Abi Thalib. Atau dengan kata lain mendekati konsepsi manunggalnya atau konsepsinya ajaran kristen dengan konsep tritunggal maha kudus-nya.

 

Terakhir, semoga dengan adanya penjelasan ini kita diselamatkan dari penafsiran yang mengarah kepada konsepsi yang diajarkan oleh orang-orang yang menjalankan konsepsi ajaran kristen dengan konsep tritunggal maha kudus-nya.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------