Stockholm, 9 Oktober 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

CONTOH ORANG YANG MENYODOKKAN ILMU ANTIQUE DENGAN TUJUAN MELEMAHKAN GAM.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

SEKILAS MENYOROT ORANG YANG MENYODOKKAN ILMU ANTIQUE DENGAN TUJUAN MELEMAHKAN GAM.

 

”Dorongan psychologis yang datang dari luar ini mungkin juga datang dari suatu kekuatan untuk tujuan intelligence information, sebab terbukti 100%, bahwa semua celotéh dan rahasia GAM yang luahkan lewat web site A. Sudirman dibocorkan kepada BAKORTANAS dan BAIS. Dalam hubungan ini, baca keterangan Razali Pidie sebelum ini. Menurut kajian psychology, converts A. Sudirman pada saatnya nanti  mengalami psychological instability dan bukan hal mustahil akan membelasah “anjing Boldok” yang tak waras ini.” (Ria Ananda, bayna9@yahoo.com , Mon, 9 Oct 2006 04:05:59 -0700 (PDT))

 

Setelah membaca apa yang ditulis oleh saudara Ria Ananda di Silkeborg, Arhus, Denmark yang isinya merupakan suatu tanggapan atas tulisan Ahmad Sudirman yang lalu tentang ”Orang yang ikut-ikutan memukul GAM dengan memakai sapu lidi merk xenofobi” ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060923a.htm ) dan tulisan mengenai ”Mereka yang menganalisa politik GAM dari ranting-nya dengan memakai ilmu negaholic” ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060821.htm ), ternyata isi tanggapannya adalah tidak lebih dan kurang hanyalah sekedar menyodokkan ilmu antique-nya saja yang tidak memiliki kekuatan fakta, bukti, hukum dan sejarah yang kuat untuk dipakai mematahkan argumentasi yang disajikan ole Ahmad Sudirman dalam dua tulisan tersebut.

 

Coba saja kita perhatikan dan teliti sedikit lebih kedalam tentang apa yang telah ditulis oleh saudara Ria Ananda seperti yang dikutip diatas, dimana tujuan dari tulisan-tulisan Ahmad Sudirman itu menurut saudara Ria adalah merupakan ”intelligence information”, sebab katanya lagi ”terbukti 100%, bahwa semua celotéh dan rahasia GAM yang luahkan lewat web site A. Sudirman dibocorkan kepada BAKORTANAS dan BAIS.”

 

Nah, disinilah terbukti memang tanggapan saudara Ria itu isinya adalah tidak lebih dan tidak kurang hanya sekedar menyodokkan ilmu antique-nya saja yang tidak memiliki kekuatan fakta, bukti, hukum dan sejarah yang kuat. Mengapa ?

 

Karena saudara Ria tidak menunjukkan adanya korelasi antara tulisan-tulisan yang dimuat secara terbuka dalam homepage Ahmad Sudirman dengan intelligence information. Kecuali saudara Ria hanya sanggup menyodorkan bukti dalam bentuk kalimat yang berbunyi ”terbukti 100%, bahwa semua celotéh dan rahasia GAM yang luahkan lewat web site A. Sudirman dibocorkan kepada BAKORTANAS dan BAIS.”

 

Kalau saudara Ria Ananda hanya menyandarkan hasil pemikirannya itu kepada apa yang ditulis oleh saudara Rizali Pidie bahwa ”AS membuat CC tulisannya ke: humas@dpr.go.id , postmaster@dephan.go.id , polkam@polkam.go.id , redaksi@rakyatmerdeka.co.id , dll.” (Rizali Pidie, rpidie@yahoo.com , Rabu 4 Oktober 2006), maka tempat sandaran saudara Ria tersebut sangatlah lemah. Mengapa ?

 

Karena tulisan-tulisan Ahmad Sudirman yang terbuka itu bukan hanya dikirimkan kepada alamat-alamat tersebut saja, melainkan kepada ribuan alamat lainnya yang ada diseluruh dunia. Dan juga begitu tulisan tersebut dikirimkan, maka disaat itu juga tampil dalam homepage Ahmad Sudirman. Jadi tidak ada istilah ”semua celotéh dan rahasia GAM yang luahkan lewat web site A. Sudirman dibocorkan kepada BAKORTANAS dan BAIS”, seperti yang ditulis oleh saudara Ria Ananda tersebut.

 

Selanjutnya, saudara Ria dalam tanggapan lainnya tidak memiliki kekuatan fakta dan bukti yang kuat atas tulisan Ahmad Sudirman, misalnya ketika Ahmad Sudirman menulis bahwa ”kalau Ahmad Sudirman menyatakan sebagai seorang pendukung dan penyokong perjuangan GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, maka itu artinya dilihat secara politis dan hukum bahwa status Ahmad Sudirman dihubungkan dengan GAM adalah tidak sama dengan status politik dan hukum "anjing Boldok" seperti yang dinyatakan oleh saudara Ria Ananda.” (Ahmad Sudirman, 23 September 2006  )

 

Nah, pernyataan Ahmad Sudirman tersebut, ternyata tidak bisa dibantah oleh saudara Ria dengan argumentasi yang berdasarkan pada fakta dan bukti hukum yang kuat, kecuali saudara Ria hanya sanggup memberikan jawaban atau tanggapan yang bunyinya “Secara moral, A. Sudirman Karena sudah memenuhi syarat dipanggil “anjing Boldok”. Terimalah dengan rela hati pangggilan penghormatan Ria ini.”

 

Coba kita pikirkan secara teliti, apakah memang demikian caranya kalau seorang yang menamakan dirinya sebagai ”Pemerhati di Kawasan Konflik”, ketika disodorkan suatu masalah yang jelas fakta dan buktinya, lalu ditanggapi dengan hanya membuka mulut dan mengetikkan jari tangannya ke atas keyboard dengan menuliskan kata-kata ”Terimalah dengan rela hati pangggilan penghormatan Ria ini.”

 

Nah disinilah, ternyata terbukti bahwa saudara Ria Ananda dalam memberikan tanggapannya atas tulisan-tulisan Ahmad Sudirman tersebut memang tidak memiliki dasar argumentasi yang kuat yang memiliki kekuatan fakta dan bukti hukum, melainkan hanya sekedar main ping-pong saja. Atau dengan kata lain apa yang ditampilkannya itu adalah hanyalah merupakan hasil perasan pikiran yang kosong saja.

 

Kemudian lagi saudara Ria Ananda berusaha untuk menjungkir balikkan ilmu psikologi dengan mencoba menampilkan situasi atau keadaan ”Dari sudut psychology, selagi perasaan ego bersemi, selama itu pula ketagihan rasa disanjung, apalagi lahan tersedia. Nilai tawar kejiwaan A. Sudirman tidak lagi ditentukan oleh standard moral yang normal, melainkan ditentukan oleh penyimpangan/kelainan kejiwaan (psychological of deviation) yang lebih populer dengan sebutan senèwèn atau sinting.”

 

Nah, ternyata yang tadinya saudara Ria Ananda berusaha untuk menyeruduk dengan sodokan ilmu antique-nya yang ditaburi dengan campuran ego-nya-Sigmund Freud yang nama kecilnya Sigismund Schlomo Freud, tetapi saudara Ria dalam cara menguraikannya yang diarahkan kepada Ahmad Sudirman ternyata salah sasaran dan salah kaprah. Mengapa ? Karena gaya dan jurus ego-nya-Sigmund Freud tidak mengenal istilah ”psychological of deviation yang lebih populer dengan sebutan senèwèn atau sinting”, seperti yang ditulis saudara Ria, melainkan yang dimajukan oleh Freud adalah masalah neurosis atau gangguan perkembangan individu yang diakibatkan oleh adanya mekanisme pertahanan dalam usaha untuk mengontrol rasa cemas dan khawatir. Nah kalau jurus neurosis dikenakan kepada Ahmad Sudirman, maka jelas jurus tersebut tidak mengena. Jadi, kalau saudara Ria Ananda mencoba untuk menyodokkan jurus ”kejiwaan A. Sudirman tidak lagi ditentukan oleh standard moral yang normal, melainkan ditentukan oleh penyimpangan/kelainan kejiwaan”, maka sudah pasti jurus saudara Ria model antique dengan taburan ego-Freud-nya untuk melemahkan Ahmad Sudirman adalah tidak berhasil. Atau dengan kata lain usaha saudara Ria Ananda untuk melemahkan Ahmad Sudirman dari segi kejiwaan dengan model Freud adalah sangat lemah dan tidak memiliki kekuatan yang ampuh untuk dipakai sebagai fakta dan bukti hukum.

 

Terakhir, kalau saudara Ria Ananda mengajukan argumentasi bahwa Ahmad Sudirman ”ketinggalan kereta” karena telah membongkar dan meruntuhkan pemakaian istilah negaholic dan xenofobi yang oleh saudara Ria dikenakan kepada pihak GAM, maka argumentasi yang dimajukan oleh saudara Ria untuk melumpuhkan pendapat dan argumentasi dalam dua tulisan Ahmad Sudirman yang lalu itu adalah merupakan sekedar usaha konpensasi saja dari saudara Ria Ananda yang diformulasikan kedalam gaya astronomi dengan planet, bintang, matahari dan jarak-nya, juga model awal terbentuknya universum dengan gaya big-bang-nya, dengan praduga bahwa Ahmad Sudirman tidak mengerti dan tidak memahami tentang universum dan fisika-nya.

 

Saran Ahmad Sudirman untuk saudara Ria Ananda, yaitu lain kali sebelum saudara memberikan tanggapan atas tulisan Ahmad Sudirman, terlebih dahulu perlu diteliti dan ditelaah secara mendalam, jangan hanya sekedar menulis yang mengambang, misalnya hanya dengan menampilkan istilah antique yang dikenakan kepada Ahmad Sudirman. Jelas itu hasilnya adalah salah fatal.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Mon, 9 Oct 2006 04:05:59 -0700 (PDT)

From: Ria Ananda <bayna9@yahoo.com>

To: PPDI@yahoogroups.com, lantak@yahoogroups.com, ACSA@yahoogroups.com

Subject: "A. Sudiman: An Antique Man"

 

"A. Sudirman: Aan Antique Man"

 

Menyikapi jawaban dangkal A. Sudirman atas artikel Ria: “GAM Political Negaholic” dan “GAM Xenofobi” adalah sia-sia. Pasalnya, jawaban yang diberikan asal-asalan, seruduk-sana seruduk- sini, tak lebih dari percikan air liur yang meleleh dari mulut “anjing Boldok” milik bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah. Misalnya: tentang keadaan di Aceh yang Ria informasikan bahwa: GAM tidak memiliki kekuatan dan kuasa apapun fasca MoU Helsinki. Mana ada anggota GAM jadi kepala lorong, Lurah, Camat dan Bupati di Aceh sekarang. Ini fakta. Anggota GAM yang goblok aja yang yakin bener akan propaganda bahwasanya: “Dalam masa peralihan (tahun 2006–sampai Pilkada), Aceh di tangan GAM, hanya kuasa Polisi dan militer aja dipegang Indonesia, selainnya dikuasai GAM dan Kantor KPA seluruh Aceh disewa oleh GAM”. Ternyata bohong kan? Ria bilang lagi: 'Semua kantor KPA disewa oleh Pemda'. Ini juga fakta. makanya, GAM nganggapin énténg, cuék dan ogah ngamuk waktu kantor KPA seluruh Aceh diségél. Orang yang bayarin sewa kok, biarin aja. GAM sendiri tidak membantah. Bayangin aja waktu GAM ada bedil dulu, pasti ngamuk.

 

Tentang kerjaan GAM di luar negeri, Ria bilang: “Kantor pusat GAM di luar negeri sudah ditutup. Tidak ada lagi diplomasi GAM di luar negeri fasca penandatanganan MoU Helsinki. Semua perwakilan negara-negara asing dan EU,  sudah tahu persis bahwa GAM sudah menerima paket Otonomi khusus dibawah NKRI yang diberi nama lain, yakni: “pemerintahan Aceh”. Tlp. resmi 0045 8531 91275 di rumah Tengku Hasan M. Di Tiro yang sebelumnya bisa dihubungi oleh siapa saja, wartawan dalam dan luar negeri, kini sudah dibebukan oleh bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah. Tengku Hasan M. di Tiro berada dalam status ‘dirumahkan’ (dikurung) di kawasan Aalby oleh pimpinan GAM di Swedia.” Siapa anggota GAM di dalam dan diluar negeri yang berani sanggah? Atau, kalau Ria nyebarin fitnah yang bukan-bukan, bilang yang bener. Cuma ”anjing Boldok” Malik Mahmud & Zaini Abdullah aja yang cuap-cuap dan repot mengonggong. Ria beri informasi yang benar, biar anggota GAM di dalam dan luar negeri jangan terus menjadi korban. Kan Sayang, udah goblok, ditakut-takuti dan dibodoh-bodohi lagi.

 

Terus terang aja, dalam issue Aceh, Web site A. Sudirman dah jadi ajang propaganda GAM, pasalnya operator web site ASNLF, Teuku Hadi dah jadi buruh BRR di Aceh. Pemimpin Redaksi, Yusra Habib Abd Gani dah tak nongol, tak ada beritanya lagi. Tinggal artikel Yusra Habib aja yang numpuk dalam ASNLF. com. Maka bpk. Malik Mahmud & Zaini Abdullah memakai Web site A. Sudirman untuk media propaganda dan  membodohi anggota GAM itu sendiri. Mediator tak bersikap arif dan bijak kalau ada peserta diskusi bertengkar. A. Sudirman tidak lagi bertindak sebagai pemerhati, penulis dan pengulas yang bijak, melainkan telah menempatkan dirinya sebagai “anjing Boldok” bpk. Malik Mahmud & Zaini Abdullah. Kerjanya: “menggonggong dan menyalak, bahkan jika perlu menggigit semua orang atau bayang-bayang yang melintas di depannya ...” Secara moral, A. Sudirman Karena sudah memenuhi syarat dipanggil “anjing Boldok”. Terimalah dengan rela hati pangggilan penghormatan Ria ini.

 

Tingkat moral A. Sudirman.

 

Dalam kajian psychology, moralitas A. Sudirman, terbentuk karena adanya dorongan psychologis yang datang dari luar dan muncul dari dalam jiwa. Dorongan psychologis yang merangsang dari luar tadi terasa hembusannya, ketika orang mulai menilai bahwa A. Sudirman lebih derajat keilmuan ketimbang mereka, baik dalam issue: Aceh, agama, kekhalifahan, psychology, computer, nasionalisme Indonesia, gerakan kemerdekaan, dll. Makanya orang-orang tertentu (yang goblok-goblok) merujuk kepadanya. Akibatnya, muncul ta’assuf karena tidak tahu apapun, kecuali tidak tahu apa-apa. Apa saja yang diterangkan, yang datang dari dirman ini, terlepas dari salah atau benar, ilmiah atau tidak, dianggap suatu kebenaran final. Misalnya, pen-definisi-an terhadap suatu istilah yang sudah kolot (out of date)–pun dibilang up to date. Jika dirman bilang, pengirim e-mail seseorang dituduh sebagai sipolan-sipulin, orang tertentu percaya aja. Padahal, kerjaan kayak gini, udah bergubel orang tahu, cuma enggak cuap-cuap macam dirman. Takut-takut, kalau air liur "anjing Boldok” ini dianggap obat kurap dan ada orang yang menjilatnya.

 

Dorongan psychologis yang datang dari luar ini mungkin juga datang dari suatu kekuatan untuk tujuan intelligence information, sebab terbukti 100%, bahwa semua celotéh dan rahasia GAM yang luahkan lewat web site A. Sudirman dibocorkan kepada BAKORTANAS dan BAIS. Dalam hubungan ini, baca keterangan Razali Pidie sebelum ini. Menurut kajian psychology, converts A. Sudirman pada saatnya nanti  mengalami psychological instability dan bukan hal mustahil akan membelasah “anjing Boldok” yang tak waras ini.

 

Dorongan jiwa dari dalam akan menggumpal rasa “ke-aku-an”. A. Sudirman merasa dirinya diperlukan. Gejala kejiwaan seperti ini dianggap proses yang wajar dan tak wajar, tergantung dari efek yang ditimbulkannya. Sekarang, A. Sudirman pasien kita pengidap penyakit jiwa. Sewaktu tinggal di Garut, Jawa Barat dan di negeri Fir’aun, tidak ada lahan menanam rasa ego-nya. Dari sudut psychology, selagi perasaan ego bersemi, selama itu pula ketagihan rasa disanjung, apalagi lahan tersedia. Nilai tawar kejiwaan A. Sudirman tidak lagi ditentukan oleh standard moral yang normal, melainkan ditentukan oleh penyimpangan/kelainan kejiwaan (psychological of deviation) yang lebih populer dengan sebutan senèwèn atau sinting. Artinya, abnormal. Lihat ciri-cirinya: A. Sudirman selamanya menolak argumentasi orang lain berdasarkan subjective assessment, semua tulisan orang invalid dalam penilaiannya, Tidak pernah mengakui fakta. Contoh, artikel Ria.  GAM saja tidak akan berani membantah, tapi A. Sudirman berani menyanggahnya. Bukankah streotipe ini hanya milik “Anjing Boldok”? Semua tulisan orang salah kafrah dalam kerangka berpikir A. Sudirman, semua artikel orang dinilai keliru besar. Yang benar adalah jawaban anda sendiri. Nasehat orang tak berguna dan diacuhkan. Akhirnya, siapa yang mau dialog secara ilmiah dengan “Anjing Boldok”? Kau sakit jiwa, air liurmu najis, bukan obat!

 

Si Dirman Ketinggalan Kereta.

 

Psychology merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang tak pernah berhenti bergerak. Kecepatan geraknya mengalahkan daya pikir manusia. Lihat, masalah-masalah sosial dan kejiwaan, selamanya hadir lebih awal ketimbang cara penanggulangan. [Itu sebabnya, banyak kasus dalam Al-qur’an mempunyai asbabun-nuzul].

 

Pen-definisi-an dan penafsiran intensive terhadap “Negaholic” dan “Xenofobi” dalam psychology sudah mengalami kemajuan. Kedua istilah psychology yang Ria kenalkan, sudah jauh melangkah dalam masalah sosial-politik dan kejiwaan yang semakin komplex. Ulasan tentang “Political Negaholic” yang berhubung dengan kepemimpinan (kekuasaan), bisa dijumpai dalam literatur (buku) tentang politik modern, terutama di Europah dan USA. Artikel: “GAM Political Negaholic” mengacu kepada pen-definisi-an terbaru dari negaholic. Begitu juga artikel: “GAM Xenofobi”. Pen-definisi-an “Xenofobi” yang Ria tulis, sudah diperkenalkan secara umum dan tidak asing lagi dalam masyarakat modern. Hanya A. Sudirman yang katanya lulusan fakultas psychology “Universitas Fir’aun”, jauh ketinggalan kereta mengikuti perkembangan psychology modern; terutama dalam memahami dan memberi arti, definisi atau menafsirkan suatu istilah dalam psychology. Adalah wajar, kalau “anjing Boldok” ini menggonggongi Ria siang-malam, yang menuduh ‘salah memberi arti’ atas istilah psychology itu. Ria enngak akan terkejut, sebab tahap daya pikir dan nalar “anjing Boldok” memang demikian. Yang ganjil, ada saja orang tanpa rasa malu, minta “Anjing Boldok” ini mencari istilah dalam psychology yang jitu untuk mematahkan ulasan Ria.

 

Arti “Negaholic” dan “Xenofobi” tidak perlu A. Sudirman ajar, sebab secara harfiyah, arti kedua istilah itu mudah didapati dalam kamus, yang sudah dikenal secara meluas sejak ribuan tahun SM di Greek. Munculnya phenomena baru dalam masyarakat yang semakin komplex-lah, yang menuntut perlunya pen-definisi-an baru. Hal ini,  bukan saja terjadi dalam bidang psychology, tetapi juga dalam sociology, Anthropology, hukum, physics, astronomi dan revolusi tanpa mengurangi arti asal. Dalam dunia revolusi misalnya, dikenal istilah “quisling”. Secara harfiyah, “quisling” tidak bisa di-definisi-kan sebagai pengkhianat bangsa, sebab istilah itu berasal dari nama seseorang, yakni: Vidkun Quisling (1887-1945), Menteri Pertahanan Norwegia dari partai buruh, yang secara rahasia telah melicinkan invasi German ke Norwegia semasa perang Dunia ke-II. Mengapa dipilih Vidkun Quisling sebagai simbul pengkhianat bangsa? Padahal dalam sejarah dunia, banyak orang sekaliber Quisling berkhianat. Di Aceh misalnya: Pang Tibang; Abdurrahman Zahir, Menteri Luar negeri Aceh dan Teuku Panglima Polém, Perdana Menteri Aceh 1873-1907. Setelah perang Dunia ke-II usai, baru muncul pen-definisi-an baru bahwa Quisling identik dengan (pengkhianat bangsa) dalam khazanah ilmu pengetahuan umum. Ria tak punya qualifition dalam hal ini.

 

Oleh GAM, istilah Quisling ini pernah diberi definisi yang ketat sekali, layaknya seperti pukat ikan bilis, yang mampu menjaring mulai dari ikan bilis sampai kepada kerang, ikan kakap dan ikan lumba-lumba. Pen-definisi-an ini adalah batas atau pagar yang menjaga kemurnian aqidah perjuangan, agar anggota GAM jangan bermain tali di atas garis dan melompat pagar dari garis demarcation GAM ke kawasan Quisling. Definisi Quisling buatan GAM itu, menjadi dasar hukum menghalalkan darah untuk membunuh sesiapa yang melompat pagar GAM ke padang “Quisling”. Pokoknya ngeri déh! Sejak tahun 1976-1979, definisi Quisling yang dirumuskan oleh Dewan Menteri GAM, betul-betul berlaku. Semua orang yang dituduh pengkhianat, mesti cukup dengan saksi-saksi, baru disidang oleh mahkamah revolusi yang diketuai oleh Menteri Keadilan Aceh dan menentukan jenis hukuman (funishment). Dalam perkembangan selanjutnya, definisi Quisling versi GAM jadi hamburadul, leluasa seperti hukum rimba, tidak terikat dengan ruang dan waktu, berlaku kapan saja, kepada siapa saja dan dimana saja.

 

Sekarang, uji daya jangkau definisi Quisling yang ketat itu. Kalau definisi Quisling ditafsirkan secara analogis (takwil qiyas), otomtis semua Juru runding GAM di Helsinki masuk dalam pukat (trawl) Quisling Aceh. Mengapa? Sebab, jikalau Vidkun Quisling (1887-1945), Menteri Pertahanan Norwegia dari partai buruh, yang secara rahasia telah melicinkan jalannya invasi German ke Norwegia semasa perang Dunia ke-II. Juru runding GAM telah melicinkan gerak intellegence, TNI dan Polri masuk ke Aceh tanpa kendali lewat MoU Helsinki. Sejahat-jahat Vidkun Quisling tak sampai membubarkan tentara di Raja Norwegia. Tetapi jahatnya Malik Mahmud Cs., sampai kepada  membubarkan Tentara Negara Aceh (TNA) pada 27 Desember 2005. TNA diresmikan di Stavanger, pada 21 Juli 2002. Bedanya, kalau Vidkun Quisling bersalah secara perorangan, karena penyalah-gunaan jabatan,  juru runding GAM bersalah secara gerombolan menyalah gunakan kuasa atau jabatan (juru runding) lewat MoU Helsinki. Bukankah ini kerja pengkhianat? [Sekedar bandingan: dalam sejarah Indonesia pernah ditandatangni MoU antara Indonesia-Belanda, 17 Januari 1948 di atas kapal ”USS Renville.” Hasil MoU Renville dinilai sangat merugikan kedudukan Indonesia. Sebab kekuatan tentara Indonesia dikebiri. Parlemen Indonesia menentang isi MoU Renville. Akibatnya sangat fatal. Kabinet Amir Syarifuddin yang bertanggungjawab waktu itu jatuh.] Bagaimana dengan GAM? Tidak ada parlemen, forum GAM memberi pertanggunganjawab atas keputusan politik. Makanya, juru runding GAM bertindak seenak jidatnya di Helsinki, tanpa kontrol dari pihak manapun. Mencium bau kalimat ini, sudah pasti “Anjing Boldok” A. Sudirman menggonggong: ”wooow, wooow, wooow…., Ria salah lagi pakai Istilah dalam revolusi.

 

Pen-definisi-an baru dalam bidang astronomi. Misalnya, definisi planet yang kita ketahui sebelum ini hanya mengakui 9 planet, lengkap dengan nama dalam tata surya kita. Tetapi setelah ditemukan planet Gliese, yang jaraknya 33 tahun cahaya dari bumi dan sesudah Dr. Mike Brown dkk dari California Institute of research mengidentifikasi planet Sedna yang jaraknya 3x lebih jauh dari Pluto ke Matahari, yang untuk pertama kali nampak 14 Nov 2003, satu planet baru yang letaknya berhampiran dengan tata surya kita, rencananya menjadi planet ke-sepuluh dalam tata surya kita. Pluto sendiri jaraknya 5,9 milyar dari Matahari. Dengan temuan baru ini, para pakar astronomi sepakat bahwa definisi planet sebelum ini perlu diperbarui. Direncanakan tahun depan (tahun 2007) diadakan Sidang Istimewa yang dihadiri oleh 70 negara untuk menentukan definisi baru tentang planet dalam tata surya. Kalaulah disepakati ada sepuluh planet, bagi Ria bukan hal yang aneh, sebab bukankah lewat mimpi Yusuf putra Ya’cub sudah diidentifikasi adanya 11 planet + Matahari dan bulan? (Qur’an: surah Yusuf, ayat 4). Hanya saja, pen-definisi-an tentang planet dan penamaan belum jelas waktu itu.

 

Begitu juga dalam physics (ilmu alam) bahwa berdasarkan theori big-bang menyatakan bahwa: “The universe was born billions of years ago from a rapidly expanding dense and incredibly hot state” Ini definisi terbaru dari John C. Mather dan George F. Smoot, pemenang hadiah Nobel dalam bidang physics 2006. Ria juga tidak terlalu terkejut dengan theori baru ini. Pasalnya, Anaximander yang hidup 3000 tahun SM, sudah mengatakan: “Alam semesta ini terbentuk dari asap tebal dan air.” Bahkan dalam: “Al-Qur’an, Bibel dan Sains modern", Maurice Buocille, sudah memaparkan tentang penciptaan alam semesta dari air dan uap berdasarkan fakta identik dalam Kitab Suci. Hanya saja bagi komisi penguji hadiah Nobel Swedia tahun 2006, menilai bahwa temuan John C. Mather dan George F. Smoot dari USA sangat menarik dalam dunia physics.  Mungkin perkataan “sab’a samawati wal ardh” bisa menyibak tirai dalam dunia astronomi dan physics, bahwa kosa kata “sab’a” dalam bahasa Arab tidak selamanya berarti [7], tetapi juga berarti [tidak terhingga] dan pernyataan: "Penciptaan langit dan bumi dalam masa enam hari", tidak bisa ditasirkan secara harfiyah [6 hari] dalam ukuran waktu sekarang, sebab satu hari waktu itu sama dengan 50.000 tahun waktu sekarang. A. Suidrman, belum sampai kajiannya ke tahap ini. I think, Swedish is one of the antique people (Saya rasa, Swedia adalah salah satu bangsa kolot. Sudah tentu A. Sudirman. []

 

Ria Ananda

*Pemerhati di Kawasan Konflik

----------