Stockholm, 16 Oktober 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

MENGGALI YUNUS 10:54,62-64 & FUSHSHILAT 41:30-32 DIHUBUNGKAN DENGAN ABU BAKAR RA, UMAR BIN KHATTAB RA DAN ALI BIN ABI THALIB RA.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

SEKILAS MENGGALI YUNUS 10:54,62-64 & FUSHSHILAT 41: 30-32 DIHUBUNGKAN DENGAN ABU BAKAR RA, UMAR BIN KHATTAB RA DAN ALI BIN ABI THALIB RA.

 

Kita secara bersama dengan teliti berusaha menggali apa yang tertuang dalam Firman Allah SWT ayat 54, 62, 63 dan 64 dalam surat Yunus dan ayat 30, 31 dan 32 surat Fushshilat kemudian dihubungkan dengan Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra dan Ali bin Abi Thalib ra.

 

Disini diajukan pertanyaan yang mencakup apakah ayat 54 surat Yunus yang dikenakan kepada Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra diakhir hayatnya? Dan apakah ayat 62 surat Yunus dikenakan pada Ali bin Abi Thalib ra?

 

Nah, untuk menjawabnya, kita secara bersama-sama berusaha menggali apa yang tertuang dalam ayat 54 surat Yunus dan ayat 62 surat Yunus.

 

Kalau kita membaca apa yang tertuang dalam ayat 54 surat Yunus, maka akan terbaca yang artinya:

 

“Dan kalau setiap diri yang zalim itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka membunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya.”

 

Nah, surat Yunus ini diturunkan di Mekkah, kecuali ayat 40, 94, 95 diturunkan di Madinah setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah.

 

Sekarang, kalau kita meneliti, membaca dan menganalisa dengan memakai akal dan pikiran yang sehat tentang ayat 54 surat Yunus tersebut, maka akan ditemukan butiran-butiran yang logis, masuk akal dan penuh keadilan dari Allah SWT dalam memberikan balasan dalam bentuk hukuman (neraka) dan ganjaran yang baik (sorga). Mengapa?

 

Karena diberikannya ganjaran yang baik dan dikenakannya hukuman yang buruk adalah setelah diputuskan dalam pengadilan dihadapan Allah SWT pada hari pembalasan. Jadi, balasan dalam bentuk hukuman dan ganjaran yang baik diberikan setelah diadili dimahkamah Allah SWT di yaomil akhir atau di hari pembalasan, bukan sebelum terjadinya yaomil akhir.

Selanjutnya, kalau ayat 54 surat Yunus tersebut dihubungkan dengan ayat 61 surat Yunus yang artinya:

 

“... Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata.“

 

Kemudian juga dikaitkan dengan ayat 40 surat An-Nisaa’ yang diturunkan di Madinah yang artinya:

 

”Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar“

 

Maka akan kita temukan bahwa sekecil apapun yang telah dikerjakan oleh manusia selama hidupnya didunia tidak akan terlepas dari pengadilan Allah SWT di yaomil akhir. Semuanya akan diperhitungkan dan dipertimbangkan untuk dijadikan sebagai dasar keputusan yang akan dijatuhkan oleh Allah SWT.

 

Nah, berdasarkan dari apa yang dijelaskan diatas, kita menghubungkan dengan kejadian Umar bin Khattab ra ketika sedang menghadapi detik-detik akhir hidupnya. Dimana menurut cerita yang berbunyi:

 

”Ketika Umar menderita karena tikaman, beliau merintih kesakitan. Ibnu Abbas datang menghiburnya sambil berkata, "Ya Amir al-Mukminin, apabila memang sudah waktunya tiba, bukankah engkau adalah sahabat Rasulullah yang baik. Ketika kau berpisah dengannya, bukankah dia juga rela padamu. Kemudian kau telah bersahabat dengan Abu bakar dengan persahabatan yang baik, lalu kau berpisah dengannya juga dalam keadaan dia rela padamu. Kau juga bersahabat dengan yang lainnya dengan baik. Jika seandainya kau harus meninggalkan mereka, maka mereka akan rela padamu." Tidak lama berselang Umar kemudian menjawab, "Adapun tentang persahabatan dan kerelaan Rasulullah yang kau sentuh tadi, maka itu adalah anugerah yang Allah telah berikan padaku. Persahabatan dan kerelaan Abu Bakar yang kau katakan tadi, itu juga adalah anugerah yang Allah limpahkan padaku. Namun apa yang kau saksikan dari rasa khawatir pada wajahku adalah semata-mata karena kamu dan sahabat-sahabatmu. Demi Allah, apabila aku punya segunung emas maka aku akan korbankan demi dapat terselamat dari azab Allah sebelum aku datang menjumpai-Nya.” (Shahih Bukhori jil. 2 hal. 201.)

 

Nah sekarang yang dipertanyakan adalah apakah situasi dan keadaan Umar bin Khattab ra dalam detik-detik akhir hidupnya tersebut adalah merupakan situasi dan keadaan sebagaimana yang diterangkan dalam ayat 54 surat Yunus?.

 

Jawabannya adalah ketika Umar bin Khattab ra menyatakan ”Demi Allah, apabila aku punya segunung emas maka aku akan korbankan demi dapat terselamat dari azab Allah sebelum aku datang menjumpai-Nya.” Maka keadaan dan situasi Umar bin Khattab ra tersebut masih dalam keadaan hidup di dunia, belum dihadapkan didepan mahkamah pengadilan yaonil akhir.

 

Jadi, keadaan dan situasi Umar bin Khattab ra dengan menyatakan ucapan-ucapannya yang demikian itu adalah sehubungan dengan apa yang tertuang dalam ayat 61 surat Yunus dan  ayat 40 surat An-Nisaa’ diatas.

 

Umar bin Khattab ra, dan siapapun orang yang beriman akan menyadari bahwa “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah” (Qs An-Nisaa', 4: 40)

 

Adapun fakta dan bukti nyata apakah Umar bin Khattab ra akan dikenakan hukuman atau diberi ganjaran dengan yang baik, itu semua terjadi setelah diputuskan dihadapan mahkamah Allah SWT di yaomil akhir. Jadi pada saat-saat akhir hayat  Umar bin Khattab ra dengan ucapannya itu bukan menunjukkan sebagai fakta dan bukti bahwa Umar bin Khattab ra sudah dijatuhi hukuman siksa oleh Allah SWT, melainkan menunjukkan sebagai fakta dan bukti bahwa betapa hebatnya siksa yang akan dihadapi oleh setiap manusia di yaomil akhir apabila Allah SWT dalam mahkamah-Nya telah memutuskan untuk masuk kedalam siksa tersebut.

 

Nah, situasi dan keadaan yang demikianlah ketika Umar bin Khattab ra berada di saat-saat akhir hayatnya. Jadi, Umar bin Khattab ra pada saat itu belum mendapat keputusan tentang hukuman apa yang akan dijatuhkan oleh Allah SWT terhadap dirinya.

 

Kemudian lagi kalau ucapan Umar bin Khattab ra bahwa ”Demi Allah, apabila aku punya segunung emas maka aku akan korbankan demi dapat terselamat dari azab Allah sebelum aku datang menjumpai-Nya.” dihubungkan dengan ayat 47 surat Az-Zummar yang diturunkan di Mekkah yang artinya:

 

”Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.”

 

Maka akan ditemukan adanya perbedaan yang jauh. Dimana ayat 47 surat Az-Zummar menceritakan keadaan orang-orang yang zalim pada hari kiamat atau yaomil akhir, sedangkan cerita yang ada dalam Shahih Bukhori menceritakan tentang ucapan Umar bin Khattab ra disaat akhir hayatnya.

 

Jadi, cerita yang ada dalam Shahih Bukhori tidak bisa dijadikan sebagai dasar nash yang kuat untuk menjadikan dan manganggap serta menuduh bahwa Umar bin Khattab ra telah mendapat keputusan siksa dari Allah SWT pada saat-saat akhir hayatnya, padahal pengadilan Allah SWT belum dilaksanakan pada yaomil akhir.

 

Begitu juga tentang cerita Abu Bakar ra yang berbunyi:

 

”Ketika Abu Bakar melihat seekor burung hinggap di suatu pohon, dia berkata, berbahagialah engkau duhai burung. Engkau makan buah-buahan dan hinggap di pohon, tanpa ada hisab atau balasan. Aku lebih suka kalau aku ini adalah sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan, kemudian datanglah seekor onta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan dan tidak menjadi seorang manusia.” (Tarikh Thabari hal. 41; ar-Riyadh an-Nadhirah jil. 1 hal. 134; Kanzul Ummal hal. 361; Minhaj as-Sunnah jil. 3 hal. 120.)

 

Nah, cerita Abu Bakar ra inipun tidak jauh berbeda dengan apa yang dikenakan kepada Umar bin Khattab ra. Apa yang dinyatakan oleh Abu Bakar ra seperti ”Aku lebih suka kalau aku ini adalah sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan, kemudian datanglah seekor onta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan dan tidak menjadi seorang manusia.”. Itu menunjukkan bagaimana sebenarnya Allah SWT tidak lepas dari segala amal perbuatan manusia yang telah dilakukan diatas dunia ini. Semua amal perbuatan walaupun sebesar zarah atau atom ini akan diperhitungkan dan dipertimbangkan untuk nantinya dijadikan sebagai dasar pejatuhan hukuman atau vonis, apakah akan dikenakan hukuman seperti neraka atau diberi ganjaran dengan kebaikan seperti sorga,.

 

Jadi, baik cerita Umar bin Khattab ra ataupun cerita Abu Bakar ra tidak bisa dijadikan sebagai dasar nash yang kuat untuk dijadikan sebagai tuduhan dan anggapan serta penghukuman bahwa Umar bin Khattab ra dan Abu Bakar ra telah dijatuhi hukuman oleh Allah SWT. Sehingga dituduh Abu Bakar ra dengan tuduhan dan anggapan ”kenapa dikatakan sebagai makhluk terbaik setelah Rasulullah saw” sedangkan ia berangan-angan ingin menjadi sebagai ”sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan”.

 

Nah disinilah, ternyata setelah kita membongkar apa yang tertuang dalam ayat 54 surat Yunus, ayat 40 surat An-Nisaa’dan ayat 47 surat Az-Zummar membuktikan bahwa ayat-ayat tersebut tidak bisa dijadikan sebagai nash yang kuat untuk dijadikan sebagai dasar penjatuhan hukuman terhadap Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra serta Abu Bakar ra dianggap dan dituduh sebagai orang-orang yang berangan-angan menjadi  ”sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan”.

 

Seterusnya, kalau Umar bin Khattab ra dan Abu Bakar ra dianggap dan dituduh oleh sebagian orang sebagai orang-orang yang berangan-angan menjadi  ”sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan” karena tidak meyakini ayat 30, 31 dan 32 surat Fushshilat yang artinya:

 

”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ”Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ”Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushshilat, 41: 30) Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. (QS Fushshilat, 41: 31) Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Fushshilat, 41: 32)”

 

Maka anggapan sebagian orang itu adalah keliru. Mengapa ?

 

Karena ayat 30, 31 dan 32 surat Fushshilat yang diturunkan di Mekkah itu sangat erat berhubungan dengan apa yang dicantumkan dalam ayat 61 surat Yunus dan ayat 40 surat An-Nisaa’. Dimana walaupun malaikat yang ditugaskan Allah SWT ke bumi dengan mengatakan kepada orang-orang yang bertauhid dan teguh dalam keyakinannya dengan ucapan ”Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushshilat, 41: 30). Tetapi bagaimanapun Allah SWT di yaomil akhir atau hari pembalasan akan memutuskan berdasarkan apa saja yang telah dilakukan mereka di dunia ini, walaupun sebesar zarah sekalipun. (QS Yunus, 10: 61).

 

Nah, berdasarkan ayat 61 surat Yunus inilah bagaimanapun Umar bin Khattab ra dan Abu Bakar ra akan melalui pengadilan atau mahkamah Allah SWT yang berat itu pada hari pembalasan. Dan saat-saat dihadapan pengadilan atau mahkamah Allah SWT pada hari yaomil akhir itu adalah saat-saat yang sangat berat yang akan dihadapi oleh setiap manusia, termasuk Umar bin Khattab ra dan Abu Bakar ra.

 

Selanjutnya, kita secara bersama juga untuk membuka tabir ayat ayat 62, 63 dan 64 surat Yunus dengan dihubungkan kepada Ali bin Abi Thalib ra. Dimana ketiga arti ayat tersebut adalah:

 

”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Qs Yunus, 10: 62) (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (Qs Yunus, 10: 63) Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (Qs Yunus, 10: 64)”

 

Nah, ketiga ayat-ayat surat Yunus tersebut diturunkan di Mekkah. Kalau kita meneliti secara mendalam, maka kata ”inna auliya allahi” yaitu diartikan dengan sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak mengarahkan atau mengenakan kepada Ali bin Abi Thalib ra sebagai wali. Melainkan kepada orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

 

Jadi, wali-wali Allah itu dikenakan kepada orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bukan hanya ditujukan khusus kepada Ali bin Abi Thalib ra. Karena kalau hanya ditujukan kepada Ali bin Abi Thalib ra saja atau dikenakan kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra atau kepada Husen bin Ali bin Abi Thalib ra saja, maka dalam ayat 63 surat Yunus tidak akan disebutkan: ”(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”

 

Karena itu pengklaiman Ali bin Abi Thalib ra sebagai wali Allah dengan mendasarkan pada ayat 62 surat Yunus adalah tidak kuat dasar nashnya.

 

Terakhir, berdasarkan pada apa yang telah dijelaskan diatas, sekarang kita sudah bisa memberikan jawaban atas pertanyaan apakah ayat 54 surat Yunus yang dikenakan kepada Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra diakhir hayatnya? Dan apakah ayat 62 surat Yunus dikenakan pada Ali bin Abi Thalib ra?

 

Yaitu jawabannya adalah ayat 54 surat Yunus tidak bisa dikenakan kepada Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra diakhir hayatnya. Begitu juga ayat 62 surat Yunus bukan ditujukan pada Ali bin Abi Thalib ra, tidak kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, dan tidak juga kepada Husen bin Ali bin Abi Thalib ra saja, melainkan kepada orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------