Stockholm, 17 Oktober 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

SAHIH MUSLIM TENTANG UMAR BIN KHATTAB RA DIHUBUNGKAN DENGAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

MENYOROT UMAR BIN KHATTAB RA TENTANG PERJANJIAN HUDAIBIYAH DILIHAT DARI SUDUT SAHIH MUSLIM.

 

Akhirnya orang-orang yang mengatakan dan menganggap bahwa Umar bin Khattab ra menentang dan membangkan serta melakukan makar terhadap Rasulullah saw tentang perjanjian Hudaibiyah ternyata setelah digali berdasarkan nash yang sahih tidak ada satupun yang menunjukkan kearah Umar bin Khattab ra melakukan pembangkangan dan makar terhadap Rasulullah saw.

 

Misalnya Muslim dalam hadits sahihnya menulis:

 

“Hadis riwayat Sahal bin Hunaif ra.: Dari Abu Wail ra. ia berkata: Pada perang Shiffin, Sahal bin Hunaif berdiri dan berkata: Wahai manusia! Tuduhlah diri kamu sekalian, kita telah bersama Rasulullah saw. pada hari perjanjian Hudaibiah. Seandainya kita memilih berperang, niscaya kita akan berperang. Peristiwa itu terjadi pada waktu perjanjian damai antara Rasulullah saw. dengan kaum musyrikin. Lalu datanglah Umar bin Khathab menemui Rasulullah saw. dan bertanya: Wahai Rasulullah, bukankah kita ini di pihak yang benar dan mereka di pihak yang batil? Rasulullah saw. menjawab: Benar. Ia bertanya lagi: Bukankah prajurit-prajurit kita yang terbunuh berada di surga dan prajurit-prajurit mereka yang terbunuh berada di neraka? Rasulullah saw. kembali menjawab: Benar. Ia bertanya lagi: Kalau begitu, mengapa kita memberikan kehinaan bagi agama kita lalu kembali pulang padahal Allah belum memutuskan siapa yang menang antara kita dan mereka? Rasulullah saw. bersabda: Wahai Ibnu Khathab! Sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah. Percayalah, Allah tidak akan menyia-nyiakan aku selamanya. Lalu Umar bertolak kembali dalam keadaan tidak sabar dan emosi menemui Abu Bakar dan berkata: Wahai Abu Bakar! Bukankah kita ini di pihak yang benar dan mereka itu di pihak yang batil? Abu Bakar menjawab: Benar. Umar bertanya: Bukankah prajurit-prajurit kita yang terbunuh akan masuk surga dan prajurit-prajurit mereka yang terbunuh akan masuk neraka? Abu Bakar menjawab: Benar. Umar bertanya lagi: Kalau demikian, mengapa kita harus memberikan kehinaan kepada agama kita dan kembali pulang (Madinah) padahal Allah belum memutuskan siapa yang menang antara kita dan mereka. Abu Bakar menjawab: Wahai Ibnu Khathab! Sesungguhnya beliau itu adalah utusan Allah. Percayalah, Allah selamanya tidak akan menyia-nyiakan beliau. Selanjutnya turunlah ayat Alquran atas Rasulullah saw. membawa berita kemenangan lalu beliau mengutus seseorang menemui Umar untuk membacakan ayat itu kepadanya. Umar bertanya: Wahai Rasulullah, apakah ini tanda kemenangan? Beliau menjawab: Ya. Kemudian legalah hati Umar dan ia pun segera berlalu” (Sahih Muslim: 3338)

 

Kalau kita gali hadits sahih Muslim: 3338 ini yang menyangkut situasi dan keadaan ketika terjadinya pelaksanaan perjanjian Hudaibiyah, terutama yang menyangkut tentang Umar bin Khattab ra, ternyata tidak ada sedikitpun fakta dan bukti yang menunjukkan dan membuktikan bahwa Umar bin Khattab ra melakukan pembangkangan dan makar terhadap Rasulullah saw yang diakibatkan oleh ditandatanganinya perjanjian Hudaibiyah.

 

Nah, dengan jelas dan gamblang Muslim dalam hadits sahihnya justru menggambarkan bagaimana sikap dan tindakan Umar bin Khattab terhadap isi perjanjian Hudaibiyah yang pada awalnya menunjukkan bahwa perjanjian Hudaibiyah itu adalah suatu penghinaan terhadap Islam.

 

Disini Umar bin Khattab melihat dan memahami isi perjanjian Hudaibiyah baru ditingkat kulitnya saja, sedangkan Abu Bakar ra sudah dapat melihat jauh kedalam isinya karena dengan diacukan kepada keyakinannya kepada Rasulullah saw yang telah membangun Negara Islam pertama di Yatsrib dengan bimbingan dan tuntunan Allah SWT. Karena itu bagi Abu Bakar ra adalah mudah untuk mengerti dan memahami tentang isi perjanjian Hudaibiyah itu.

 

Tetapi sebaliknya Umar bin Khattab ra masih baru sampai ketingkat kulitnya dari perjanjian Hudaibiyah tersebut. Oleh sebab adanya dorongan yang kuat dari dalam diri Umar bin Khattab ra tanpa adanya penyaringan dari kemampuan pikirannya tentang pengetahuan berpolitik dan bernegara yang mapan sebagaimana yang sedang dijalankan oleh Rasulullah saw, maka Umar bin Khattab ra ketika melihat dan membaca hasil perjanjian Hudaibiyah tersebut  proses penyaringan dari kemampuan pikirannya tentang  pengetahuan berpolitik dan bernegara tidak sanggup mengerti dan memahami sampai kedalam intinya. Sehingga dalam hadits sahih Muslim tersebut digambarkan bagaimana situasi dan keadaan Umar bin Khattab ra yang berusaha untuk mencari dan menggali apa yang ada dibalik rahasia isi perjanjian Hudaibiyah tersebut. Dari dua jawaban yang diberikan oleh Rasulullah saw terhadap pertanyaan Umar bin Khattab ra, yaitu jawaban pertama: ”Benar” kita ini di pihak yang benar dan mereka di pihak yang batil”. Jawaban kedua: ”aku ini adalah utusan Allah. Percayalah, Allah tidak akan menyia-nyiakan aku selamanya”

 

Sekarang, dalam hadits sahih Muslim tersebut tidak ditunjukkan dan digambarkan sedikitpun fakta dan bukti yang mengarah kepada Umar bin Khattab ra dengan pertanyaan-pertanyaannya tersebut, baik kepada Rasulullah saw ataupun kepada Abu Bakar ra bahwa Umar bin Khattab ra adalah melakukan penentangan, pembangkangan dan makar terhadap Rasulullah saw dalam hal perjanjian Hudaibiyah. Justru sebaliknya, dalam hadits sahih Muslim tersebut digambarkan bagaimana keadaan dan situasi Umar bin Khattab ra yang sedang mencari jawaban dibalik rahasia isi perjanjian Hudaibiyah.

 

Nah ternyata, dengan adanya pertanyaan dari Umar bin Khattab ra baik kepada Rasulullah saw ataupun kepada Abu Bakar ra, tidak berselang lama Allah SWT menurunkan Firman-Nya yang isinya langsung merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh Umar bin Khattab ra, sebagaimana yang tertuang dalam Al Fath “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (Al Fath, QS 48: 1)

 

Begitu, surat Al-Fath diturunkan dan langsung diberitahukan kepada Umar bin Khattab ra, akhirnya Umar bin Khattab ra menemukan rahasia dibalik isi perjanjian Hudaibiyah, yaitu kemenangan bagi Islam dan Mekkah akan berhasil dibebaskan oleh kaum mulimin dibawah pimpinan Rasulullah saw.

 

Terakhir, dengan apa yang dijelaskan oleh Muslim dalam sahihnya tersebut, telah terjawab bahwa apa yang dianggap oleh orang-orang tentang Umar bin Khattab ra melakukan pembangkangan dan makar terhadap Rasulullah saw dan Negara Islam pertamanya di Yatsrib akibat ditandatanganinya perjanjian Hudaibiyah adalah ternyata anggapan orang-orang tersebut adalah tanpa ada dasar kekuatan nash yang kuat. Orang-orang tersebut memang tidak memiliki pegangan nash yang kuat untuk dijadikan sebagai argumentasi guna menggiring Umar bin Khattab ra sebagai pembangkang dan pembuat makar terhadap Rasulullah saw dan Negara Islam-nya yang pertama di Yatsrib. Orang-orang tersebut ingin memakai hadits sahih Muslim, tetapi tidak mengertri dan tidak memahami apa yang tertuang dalam isi hadits terbut. Karena mereka hanya mengutip dan menyebarkannya saja, tanpa dimengerti dan tanpa dipahami dengan mendalam akan isinya.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------