Stockholm, 18 Oktober 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

MENGGALI AL-AHZAB 33:56 & SAHIH MUSLIM: 614 DIHUBUNGKAN DENGAN SHALAWAT & ALI BIN ABI THALIB RA.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

SEKILAS MENYOROT AL-AHZAB 33:56 & SAHIH MUSLIM: 614 DIHUBUNGKAN DENGAN SHALAWAT & ALI BIN ABI THALIB RA.

 

Kita secara bersama-sama berusaha untuk menggali apa yang terkandung dalam ayat 56 surat Al-Ahzab dan apa yang terkandung dalam hadits sahih Muslim nomor 614 yang menyangkut shalawat kepada Nabi saw dan kata atau istilah “aali“ dalam bacaan shalawat.

 

Sebagai dasar dan titik tolak kita dalam penggalian ini terlebih dahulu diajukan pertanyaan apakah ayat 56 surat Al-Ahzab menyuruh kepada kaum muslimin dan muslimat untuk mengucapkan shalawat kepada Nabi saw disambungkan dengan shalawat pada Ali bin Abi Thalib?

 

Nah, untuk memberikan jawabannya, kita pertama berusaha untuk membaca, mengerti dan memahami apa yang tertuang dalam ayat 56 surat Al Ahzab (QS Al-Ahzab, 33:56) yang artinya berbunyi:

 

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.“

 

Yang dipertanyakan sekarang adalah bagaimana bunyi ucapan shalawat kepada Nabi saw tersebut?. Jawabannya adalah berdasarkan pada Muslim dalam sahihnya yang ditulis:

 

“Hadis riwayat Kaab bin Ujrah ra.: Dari Abdullah bin Abu Laila, dia berkata: Kaab bin Ujrah menemuiku dan berkata: Maukah engkau aku berikan hadiah? Rasulullah saw. Pernah menemui kami, lalu kami berkata: Kami telah mengetahui cara membaca salam untuk Baginda, lalu bagaimana kami membaca selawat untuk Anda? Beliau bersabda: Bacalah: "Allahumma shalli ’alaa Muhammad wa ’alaa aali Muhammad kamaa baarakta ’alaa aali Ibrahim. Innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ’alaa Muhammad wa ’alaa aali Muhammad kamaa baarakta ’alaa aali Ibrahim Innaka hamiidum majiid". (Ya Allah, limpahkanlah sejahtera kepada Muhammad dan keluarga nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan kesejahteraan kepada keluarga nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha mulia)” (Sahih Muslim: 614)

 

Sekarang, dengan kita memakai dasar Sahih Muslim: 614 ini mengetahui bahwa untuk melaksanakan apa yang diperintahkan dalam ayat 56 surat Al-Ahzab tersebut: ”yaa ayyuhalladziina amanu shollu 'alaihi” (Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi), maka orang-orang yang beriman mengucapkan  ”Allahumma shalli ’alaa Muhammad wa ’alaa aali Muhammad kamaa baarakta ’alaa aali Ibrahim…” (Ya Allah, limpahkanlah sejahtera kepada Muhammad dan keluarga nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan kesejahteraan kepada keluarga nabi Ibrahim)

 

Nah, kata atau istilah ”aali” dalam kalimat shalawat yang tertuang dalam Sahih Muslim ini tidak menunjukkan atau mengarah kepada Ali bin Abi Thalib ra atau kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra atau mengarah kepada Husen bin Ali bin Abi Thalib ra atau kepada Fatimah Zahra ra saja, melainkan kepada ahli atau keluarga Nabi Muhammad saw, sebagaimana kepada ahli atau keluarga Nabi Ibrahim as.

 

Jadi dalam sahih Muslim ini tidak ada ditunjukkan hal yang berlebih-lebihan dalam mengucapkan shalawat yang diperintahkan dalam ayat 56 surat Al-Ahzab itu. Tidak ada diajarkan oleh Rasulullah saw seperti ucapan ”Ya Allah, limpahkanlah sejahtera kepada Muhammad dan Ali bin Abi Thalib ra, Fatimah Zahra ra, Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, Husen bin Ali bin Abi Thalib ra Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan kesejahteraan kepada keluarga nabi Ibrahim”

 

Disini apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw dalam bershalawat ini tidak hanya dikhususkan istilah ”aali Muhammad” (ahli keluarga Muhammad) dengan dikhususkan hanya kepada  Ali bin Abi Thalib ra, Fatimah Zahra ra, Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, Husen bin Ali bin Abi Thalib ra. Karena kalau ”aali Muhammad” dikhususkan hanya kepada Ali bin Abi Thalib ra, Fatimah Zahra ra, Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, Husen bin Ali bin Abi Thalib ra, maka itu tidak ada dasar nash-nya yang kuat dan sahih. Dan memang hadits sahih yang mengkhususkan ”aali Muhammad” hanya kepada  Ali bin Abi Thalib ra, Fatimah Zahra ra, Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, Husen bin Ali bin Abi Thalib ra adalah tidak ada dan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw.

 

Selanjutnya kewajiban untuk bershalawat kepada ahli keluarga Rasulullah saw ”aali Muhammad” bukan merupakan juga dasar argumentasi tentang ke-Khalifahan Ali bin Abi Thalib ra langsung secara berkesinambungan sepeninggal Rasulullah saw. Apabila Allah SWT menghendaki sepeninggal Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib ra yang akan diangkat dan mewarisi kekuasaan negara Islam pertama di Yatsrib, maka Allah SWT akan menetapkannya sebagaimana Allah SWT menghendaki keistimewaan keatas Ali bin Abi Thalib, kemudian Allah SWT menetapkan kewajiban bershalawat kepadanya.

 

Jadi, dengan mendasarkan kepada ayat 56 surat Al-Ahzab dan hadits sahih Muslim: 614 diatas yang dihubungkan dengan shalawat kepada Nabi saw dan juga dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib ra serta masalah khalifah langsung penerus Rasulullah saw dalam Negara Islam pertama di Yatrsib, maka ditemukan garis lurus bahwa kewajiban untuk mengucapkan ”Allahumma shalli ’alaa Muhammad wa ’alaa aali Muhammad” adalah bukan dikhususkan  ”aali Muhammad” atau ahli keluarga Muhammad dengan pengkhususan kepada Ali bin Abi Thalib ra, Fatimah Zahra ra, Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, Husen bin Ali bin Abi Thalib ra saja, melainkan kepada ahli keluarga Muhammad saw semuanya. Begitu juga perkataan ”aali Muhammad” yang mengikut perkataan ” ’alaa Muhammad” bukan dimaksudkan dengan pernyataan bahwa sepeninggal Rasulullah saw langsung otomatis Ali bin Abi Thalib ra sebagai Khalifah penerus Rasulullah saw.

 

Terakhir, setelah kita secara bersama menggali apa yang terkandung dalam ayat 56 surat Al-Ahzab dan apa yang terkandung dalam hadits sahih Muslim nomor 614 yang menyangkut shalawat kepada Nabi saw dan kata atau istilah “aali“ dalam bacaan shalawat, maka dapat menjawab pertanyaan apakah ayat 56 surat Al-Ahzab menyuruh kepada kaum muslimin dan muslimat mengucapkan shalawat kepada Nabi saw disambungkan dengan shalawat pada Ali bin Abi Thalib?

 

Jawabannya adalah ayat 56 surat Al-Ahzab dan hadits sahih Muslim: 614 kewajiban untuk mengucapkan ”Allahumma shalli ’alaa Muhammad wa ’alaa aali Muhammad” adalah bukan dikhususkan  ”aali Muhammad” atau ahli keluarga Muhammad dengan pengkhususan kepada Ali bin Abi Thalib ra, Fatimah Zahra ra, Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, Husen bin Ali bin Abi Thalib ra saja, melainkan kepada ahli keluarga Muhammad saw semuanya. Juga perkataan ”aali Muhammad” yang mengikut perkataan ” ’alaa Muhammad” bukan dimaksudkan dengan pernyataan bahwa sepeninggal Rasulullah saw langsung Ali bin Abi Thalib ra sebagai Khalifah penerus Rasulullah saw.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------