Stockholm, 18 Oktober 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

MASIH TENTANG UMAR BIN KHATTAB RA DIHUBUNGKAN DENGAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

MASIH MENYOROT UMAR BIN KHATTAB RA TENTANG PERJANJIAN HUDAIBIYAH DILIHAT DARI SUDUT SAHIH MUSLIM.

 

Kelihatannya orang ini tidak mengetahui kapan perjanjian Hudaibiyah itu dilaksanakan. Perjanjian Hudaibiyah itu dilaksanakan pada tahun 6 H. Dimana awal kejadiannya adalah Pada bulan Syawwal 6 H Rasulullah saw  bermimpi sedang mencukur rambut kepala sesudah ibadah haji. Orang-orang muslim kaum Anshor dan Muhajirin yang ada di Negara Islam Yatsrib-pun sudah sangat rindu untuk mengunjungi Ka’bah, setelah bertahun-tahun meninggalkan Mekkah. Walaupun wahyu yang memerintahkan ibadah haji dan umrah telah diturunkan dalam Al Baqarah, QS 2: 196-210, tetapi dalam pelaksanaannya masih ada hambatan, yaitu masih adanya permusuhan dengan pihak Quraisy. Kendatipun, masih ada permusuhan dengan pihak Quraisy Rasulullah saw memutuskan untuk melakukan umrah bersama para sahabat pada bulan berikutnya. Pada bulan Zulkaedah 6 H (sekitar tanggal 13 Maret 628 M) dengan 1400 sahabat, Rasulullah saw pergi untuk melaksanakan ibadah umrah dengan damai tanpa maksud perang. (Ibnu Sa’d, Ath-Thabaqat al-Kubra, Jil. II, hal. 95)

 

Nah, sampai disini kelihatan dengan jelas bahwa pada saat itu masih ada permusuhan antara Mekkah dibawah Quraisy dengan pihak Madinah dibawah pimpinan Rasulullah saw. Karena itu, walaupun Rasulullah saw bersama para sahabat pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah umrah, tetapi pihak Quraisy tidak mengizinkan Rasulullah saw untuk masuk ke Mekkah. Berita ini diperoleh dari Budail, kepala suku Khaza’ah yang simpati membela Islam. Kemudian melalui Budail ini Rasulullah saw mengirimkan pesan kepada penguasa Quraisy bahwa Rasulullah saw bersama kaum muslimin ingin melaksanakan ibadah, bukan untuk berperang. (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. II, hal.311). Sambil menunggu pesan yang dikirim melalui Budail, Rasulullah saw berhenti di satu tempat yang bernama Hudaibiyah. Ternyata pihak Quraisy mengirimkan utusannya Urwah bin Mas’ud untuk melakukan perundingan dengan pihak Rasulullah saw. Tetapi, tidak dicapai kesepakatan.

……….

Kemudian terjadinya perjanjian Hudaibiyah sebagaimana yang telah ditulis dalam tulisan sebelum ini.

……….

 

Selanjutnya cerita mengenai situasi dan keadaan ketika sebelum sedang dan sesudah perjanjian Hudaibiyah banyak dikisahkan oleh para ahli hadist dan sejarah, salah satunya adalah cerita yang tertuang dalam hadits sahih Muslim sebagaimana dijelaskan  dan dituliskan dalam tulisan sebelum ini, misalnya Muslim dalam hadits sahihnya menulis:

 

“Hadis riwayat Sahal bin Hunaif ra.: Dari Abu Wail ra. ia berkata: Pada perang Shiffin, Sahal bin Hunaif berdiri dan berkata: Wahai manusia! Tuduhlah diri kamu sekalian, kita telah bersama Rasulullah saw. pada hari perjanjian Hudaibiah. Seandainya kita memilih berperang, niscaya kita akan berperang. Peristiwa itu terjadi pada waktu perjanjian damai antara Rasulullah saw. dengan kaum musyrikin. Lalu datanglah Umar bin Khathab menemui Rasulullah saw. dan bertanya: Wahai Rasulullah, bukankah kita ini di pihak yang benar dan mereka di pihak yang batil? Rasulullah saw. menjawab: Benar. Ia bertanya lagi: Bukankah prajurit-prajurit kita yang terbunuh berada di surga dan prajurit-prajurit mereka yang terbunuh berada di neraka? Rasulullah saw. kembali menjawab: Benar. Ia bertanya lagi: Kalau begitu, mengapa kita memberikan kehinaan bagi agama kita lalu kembali pulang padahal Allah belum memutuskan siapa yang menang antara kita dan mereka? Rasulullah saw. bersabda: Wahai Ibnu Khathab! Sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah. Percayalah, Allah tidak akan menyia-nyiakan aku selamanya. Lalu Umar bertolak kembali dalam keadaan tidak sabar dan emosi menemui Abu Bakar dan berkata: Wahai Abu Bakar! Bukankah kita ini di pihak yang benar dan mereka itu di pihak yang batil? Abu Bakar menjawab: Benar. Umar bertanya: Bukankah prajurit-prajurit kita yang terbunuh akan masuk surga dan prajurit-prajurit mereka yang terbunuh akan masuk neraka? Abu Bakar menjawab: Benar. Umar bertanya lagi: Kalau demikian, mengapa kita harus memberikan kehinaan kepada agama kita dan kembali pulang (Madinah) padahal Allah belum memutuskan siapa yang menang antara kita dan mereka. Abu Bakar menjawab: Wahai Ibnu Khathab! Sesungguhnya beliau itu adalah utusan Allah. Percayalah, Allah selamanya tidak akan menyia-nyiakan beliau. Selanjutnya turunlah ayat Alquran atas Rasulullah saw. membawa berita kemenangan lalu beliau mengutus seseorang menemui Umar untuk membacakan ayat itu kepadanya. Umar bertanya: Wahai Rasulullah, apakah ini tanda kemenangan? Beliau menjawab: Ya. Kemudian legalah hati Umar dan ia pun segera berlalu” (Sahih Muslim: 3338)

 

Nah, hadits sahih ini adalah menceritakan keadaan dan situasi ketika perjanjian Hudaibiyah pada tahun 6 H, bukan kejadian waktu di Mekkah. Dalam hadist sahih Muslim diatas terbaca pertanyaan Umar bin Khattab ra sedikit berbeda dengan apa yang ditulis oleh Syibli Nu’mani dalam tulisan sejarahnya Siratun Nabi, Jil I, hal.457, dimana Umar bin Khattab ra bertanya kepada Rasulullah saw setelah ditandatanganinya perjanjian Hudaibiyah ”Bukankah engkau benar-benar utusan Allah? Bukankah apa yang kita miliki sesuatu yang benar?”. Kemudian ada lagi versi lain yang menyebutkan ”Apakah benar bahwa engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?”

 

Kemudian, setelah perjanjian Hudaibiyah ditandatangani dan timbulnya kasus Abu Jundal, sebagaimana yang ditulis dalam tulisan sebelum ini, maka Rasulullah saw memotong binatang-binatang korban dan mencukur kepala di Hudaibiyah itu, karena menurut perjanjian Hudaibiyah pada tahun itu tidak dibenarkan masuk ke Mekkah dan harus pulang tanpa melaksanakan ibadah umrah. Kemudian boleh datang tahun depan untuk melaksanakan haji, tetapi tidak boleh tinggal di Mekkah lebih dari tiga hari. Nah, itulah sebagian isi dari perjanjian Hudaibiyah.

 

Ketika Rasulullah saw dan sahabat serta pasukan Rasulullah saw kembali ke Madinah di perjalanan turunlah Firman Allah surat Al-Ftah: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (Al Fath, QS 48: 1)

 

Nah, ketika Umar bin Khattab ra diberitahukan tentang surat Al-Fath ini yang menyangkut perjanjian udaibiyah, maka Umar bin Khattab ra menjadi puas.

 

Jadi semua kejadian itu adalah pada tahun 6 Hijrah. Kemudian soal adanya perbedaan pertanyaan yang dikemukakan oleh Umar bin Khattab ra kepada Rasulullah ketika di Hudaibiyah setelah detik-detik ditandatanganinya perjanjian Hudaibiyah, dimana menurut Sahih Muslim hanya diawali dengan pertanyaan ”Wahai Rasulullah, bukankah kita ini di pihak yang benar dan mereka di pihak yang batil?”. Kemudian menurut Syibli Nu’mani dalam tulisan sejarahnya Siratun Nabi, Jil I, hal.457, Umar bin Khattab ra bertanya ”Bukankah engkau benar-benar utusan Allah? Bukankah apa yang kita miliki sesuatu yang benar?”

Juga ada versi lainnya yang menuliskan ”Apakah benar bahwa engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?”

 

Nah adanya perbedaan bentuk pertanyaan-pertanyaan Umar bin Khattab ra itu semua adalah tergantung kepada siapa yang menceritakannya dan cerita mana yang sahih. Kemudian lagi yang dijadikan titik utama dan titik yang penting bukan pada bentuk pertanyaannya, melainkan kepada situasi dan kondisi dimana timbulnya pertanyaan tersebut.

 

Kalau hanya melihat kepada bentuk pertanyaan yang berbagai macam bentuknya, tergantung kepada siapa yang menceritakannya, maka itu sama saja dengan kita hanya melihat sampai ketingkat kulitnya saja. Artinya yang diributkan hanyalah sekedar ranting saja, sedangkan akarnya yang kuat tidak pernah disinggung atau dibahasnya.

 

Nah, persis contohnya seperti orang yang meributkan ranting dalam bentuk pertanyaan, misalnya bentuk pertanyaan ”Apakah benar bahwa engkau Nabi Allah yang sesungguhnya? ” dibandingkan dengan bentuk pertanyaan “Bukankah engkau benar-benar utusan Allah?”. Dimana menurut orang itu bentuk pertanyaan pertama lebih keras daripada pada bentuk pertanyaan kedua. Padahal kalau ditanya siapa yang meriwayatkan pertanyaan ”Apakah benar bahwa engkau Nabi Allah yang sesungguhnya? ” Kemudian jawabannya cukup dengan menuliskan hasil kutipan ”lihat Shahih Bukhori dalam Bab as-Syuruthi Jihad 2:122; juga Shahih Muslim Bab Sulhul Hudaibiyah Jil. 2”

 

Padahal ketika dilihat dalam sahih Muslim nomor 3338 ternyata bentuk petanyaan ”Apakah benar bahwa engkau Nabi Allah yang sesungguhnya? ” tidak ditemukan. Justru yang ditulis oleh Muslim dalam sahihnya adalah seperti yang dikutip diatas.

 

Jadi, orang ini hanya sekedar menjiplak dan mengutipnya saja cerita-cerita Hudaibiyah, dialog Umar bin Khattab ra dengan Rasulullah saw dan Abu Bakar ra padahal ia tidak mengerti dan tidak memahami. Buktinya orang ini tidak tahu kapan perjanjian Hudaibiyah itu dilaksanakan dan ditandatangani. Bagaimana situasi dan keadaan waktu terjadinya perjanjian Hudaibiyah?. Dan siapa itu Abu Jundal dihubungkan dengan perjanjian Hudaibiyah?. Pokoknya kelihatannya orang ini asal buka mulut dan mengutip hadits-hadits dengan nomor haditsnya plus kitabnya, tetapi tidak pernah dilihat dan dibacanya serta dipahaminya. Pokoknya asal gaya dan keren mengutip ”lihat Shahih Bukhori dalam Bab as-Syuruthi Jihad 2:122; juga Shahih Muslim Bab Sulhul Hudaibiyah Jil. 2”. Padahal dirinya tidak pernah melihat bukunya, apalagi membacanya. Makanya dalam berdiskusi orang ini hanya sekedar memberikan hasil kutipan-kutipannya saja dari internet, tanpa dibaca, tanpa dipikirkan, tanpa dipahami dan tanpa dianalisa secara mendalam. Jadi orang ini hanya sibuk mempersoalkan masalah rantingnya saja, bukan membahas dan menganalisa secara mendalam akar tunggal yang menancap kedalam bumi. Mana punya orang ini kitab sahih Imam Muhammad Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardijba Bukhori Al Ju’fi yang tiga jilid dan sahih Imam Abi Al Hasin Muslim bin Hijjaj bin Muslim yang delapan jilid lengkap dalam bahasa Arab di rumahnya, paling mengutip dari tulisan orang lain, itupun dikutip dalam bahasa Melayu.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------