Stockholm, 21 Oktober 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

IDEOLOGI POLITIK PARTAI-PARTAI ISLAM YANG MEMUDAR DAN FAKTOR PENYEBABNYA.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

MASIH MENYOROT IDEOLOGI POLITIK PARTAI-PARTAI ISLAM YANG BERBASIS MASSA ISLAM YANG MEMUDAR DAN FAKTOR PENYEBABNYA.

 

“Saya mau tanya pak Ahmad. 1.Apakah faktor pragmatisme politik, modernisasi politik juga mempengaruhi pemudaran ideologi partai politik Islam di Indonesia di samping sekularisme politik? 2.Apakah perbedaan pendidikan politik di masyarakat, kepentingan politik orang-orang tertentu, kebijakan politik yang kurang bagus, kepemimpinan politik yang masih rendah juga bisa mempengaruhi pemudaran ideologi politik khususnya partai Islam di Indonesia? 3.Kriteria-kriteria atau ciri-ciri apa yang bisa digunakan untuk mengetahui apakah ideologi partai politik itu memudar? 4.Teori apa yang bisa saya gunakan untuk membahas tentang pudarnya ideologi politik, khusunya partai Islam di Indonesia? 5.Menurut bapak, pergesaran apa yang terjadi dalam Islam politik di Indonesia pada masa reformasi sekarang ini? 6.Strategi apa yang bisa digunakan oleh partai politik Islam di Indonesia agar ideologi politiknya bisa diterima oleh masyarakat luas, sehingga dalam pemilu selanjutnya bisa memperoleh suara yang signifikan dibanding pemilu sebelumnya yaitu tahun 1999 dan 2004? 7.Apakah setelah terjadi pemudaran ideologi politik dari partai Islam di Indonesia memungkinkan muncul ideologi politik yang baru? 8.Apakah ada data-data yang menunjukkan telah terjadinya pemudaran ideologi politik dari partai Islam di Indonesia pada masa reformasi?” (Muhammad Yunus, your_nose29broer@yahoo.com , 21 Oct 2006 07:00:26 -0000).

 

Terimakasih saudara Muhammad Yunus di Yogyakarta, Indonesia.

 

Menyangkut fakto-faktor yang bisa mempengaruhi pemudaran ideologi partai politik Islam di Indonesia sebagiannya pernah disinggung dalam tulisan ”Mengupas ideologi politik partai-partai Islam yang memudar” ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060822.htm ) yaitu terjadinya pemudaran ideologi partai politik Islam di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pertama, karena Islam yang tidak dijadikan sebagai acuan untuk membangun kumpulan konsep bersistem yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan partai politik Islam tersebut. Kedua, UUD 1945 Pasal 29 Ayat 2 "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu" adalah sama dengan penetapan yang ada di negara-negara sekuler. Ketiga, tumbuh suburnya sekularisme di Indonesia.

 

Nah, tentu saja disamping adanya tiga faktor diatas yang mempengaruhi pemudaran ideologi partai politik Islam di Indonesia, juga ada faktor lain yang berupa pemahaman yang menyatakan bahwa penerapan Islam dalam kehidupan praktis khususnya dalam bidang politik praktis, seperti melalui partai politik harus disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat dan negara bisa memudarkan ideologi partai politik Islam. Atau dengan kata lain pragmatisme politik dalam kehidupan partai politik telah membantu lajunya proses pemudaran ideologi partai politik Islam di Indonesia.

 

Hal ini bisa diperhatikan, misalnya hampir semua partai politik Islam yang berbasis massa ummat Islam telah mengikuti jalur arus pragmatisme politik dalam perjuangan partainya. Coba saja perhatikan, seperti PKB, PAN, PPP, PBB dan PKS yang berbasis massa ummat Islam, tetapi ideologi atau kumpulan konsep bersistem yang ada dalam Islam yang dijadikan asas pendapat yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup partai-partai politik Islam tersebut telah diracuni oleh paham pragmatisme politik ini. Dimana akhirnya program dan kebijaksanaan partai tidak lagi mengikuti jalur konsep bersistem yang ada dalam Islam, melainkan telah berubah kearah jalur pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat dan negara. Misalnya satu contoh kecil, konsepsi Islam tentang haramnya riba dalam kehidupan ekonomi dan perdagangan. Tetapi, karena adanya paham pragmatisme politik yang timbul dari dalam partai politik Islam itu sendiri yang memandang bahwa riba telah dianggap dan diterima sebagai suatu bentuk kehidupan dalam dunia ekonomi dan perdagangan dihampir semua negara yang merdeka, maka konsepsi Islam tentang haramnya riba tidak lagi menjadi suatu halangan yang besar apabila dilanggar dalam program dan kebijaksaan partai politik Islam yang menyangkut masalah ekonomi dan perdagangan.

 

Jadi haramnya riba dalam kehidupan ekonomi dan perdagangan di Indonesia yang dilihat dari sudut konsepsi Islam akhirnya dikesampingkan karena adanya desakan dan dorongan kuat dari paham pragmatisme yang muncul dari dalam partai-partai politik Islam itu sendiri.

 

Selanjutnya disamping adanya faktor pragmatisme politik yang secara laju merobohkan konsepsi Islam yang disesuaikan dengan jalur dengan pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat dan negara, ternyata masih ada ada faktor lain yang tidak kurang ganasnya dalam usaha memudarkan ideologi partai politik Islam di Indonesia yaitu adanya proses pergeseran sikap dan mentalitas dari dalam partai itu sendiri untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan yang sedang berlaku pada saat sekarang. Atau dengan kata lain timbulnya pemudaran ideologi partai politik Islam di Indonesia karena adanya modernisasi politik dalam tubuh partai politik Islam itu sendiri. Sebagai contoh misalnya partai politik Partai Kebangkitan Bangsa yang berbasis massa umat Islam, tetapi dalam program dan kebijaksanaan politik partainya tidak lagi mengacu kepada konsepsi Islam, melainkan telah berubah mengikuti jalur yang dibentuk karena adanya proses pergeseran sikap dan mentalitas dari dalam partai itu sendiri untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan kini. Contohnya, PKB tidak lagi memikirkan Indonesia untuk menjadi Negara Islam sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah saw dengan Negara Islam pertamanya di Yatsrib yang tumbuh dan berkembang sampai tahun 1924. Hal itu dikarenakan PKB telah merubah konsepsi Negara Islam menjadi negara sekuler, artinya negara yang tidak lagi mengacukan konstitusinya kepada Islam. Negara Republik Indonesia, misalnya walaupun mayoritas rakyatnya beragama Islam, tetapi tidak dinamakan sebagai sebuah Negara Islam, karena konstitusi-nya tidak mengacu kepada Islam. Hal ini memang yang dikehendaki oleh pihak PKB, karena dianggap sesuai dengan keadaan dan tuntutan masa kini. Jadi menurut PKB Indonesia tidak perlu menjadi Negara Islam, tetapi cukup dengan bentuk negara yang sekarang ini yang dianggap bisa menampung berbagai ragam etnis, budaya, agama dan bahasa dengan memakai alat penyatu pancasila. Jadi faktor modernisasi politik dalam tubuh partai politik Islam PKB inilah yang salah satunya penyebab pemudaran ideologi partai politik Islam di Indonesia.

 

Menyinggung masalah pendidikan politik dalam hal ilmu tentang pemerintahan dan kenegaraan atau mengenai masalah ketatanegaraan yang bersifat formil di sekolah dan perguruan tinggi bisa menunjang pada perkembangan tingkat pengetahuan dalam masalah kehidupan bernegara. Juga pendidikan politik yang bersifat praktis melalui perkumpulan, organisasi dan partai bisa membantu dalam perkembangan pengetahuan tentang kehidupan berpolitik di masyarakat, pemerintah dan negara.

 

Hanya yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah dengan adanya pendidikan politik dalam hal ilmu tentang politik atau dalam bentuk politik praktis bisa merubah sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan masa kini?

 

Nah, jawabannya adalah kalau hasil dari pendidikan politik itu adanya perubahan sikap dan mentalitas yang disesuaikan dengan tuntutan masa kini, tetapi dengan melupakan dan meninggalkan konsepsi Islam, maka konsekuensinya adalah terjadinya pemudaran ideologi  politik Islam. Contohnya pendidikan politik yang bersifat formil dengan tidak memasukkan unsur-unsur atau butir-butir yang berisikan konsepsi Islam didalamnya, maka produk dari pendidikan politik yang bersifat formil ini akan mengarah kepada arah sekuler, artinya perubahan sikap dan mentalitas yang diakibatkan oleh adanya pendidikan politik formil tanpa disirami oleh konsepsi Islam, maka perubahan sikap dan mentalitas tersebut akan membawa kepada arah yang keluar dari jalur yang dibangun diatas konsep bersistem yang ada dalam Islam.

 

Jadi yang menjadi faktor penyebab pemudaran ideologi partai politik Islam adalah bukan karena adanya perbedaan pendidikan politik, melainkan kalau pendidikan politik tersebut tidak dikaitkan atau tidak dihubungkan dengan bangunan konsep bersistem yang ada dalam Islam. Atau dengan kata lain, pendidikan politik yang menjurus kepada perubahan sikap dan mentalitas warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan masa kini tanpa disirami dengan acuan konsep bersistem yang ada dalam Islam yang akan menjadi penyebab pemudaran ideologi partai politik Islam.

 

Seterusnya, kalau dihubungkan dengan adanya kepentingan politik orang-orang tertentu yang memiliki agenda visi dan misi yang mengarah kepada pengikisan konsepsi Islam, maka dengan hadirnya orang-orang tersebut dalam tubuh partai politik yang berbasis massa umat Islam akan mempercepat proses pemudaran ideologi partai politik Islam. Sebaliknya, kalau dihubungkan dengan adanya kepentingan politik orang-orang tertentu yang memiliki agenda visi dan misi yang mengarah kepada penyuburan konsepsi Islam, maka dengan hadirnya orang-orang tersebut dalam tubuh partai politik yang berbasis massa umat Islam akan memperkuat ideologi partai politik Islam yang mengarah kepada terlaksananya konsepsi Islam dalam kehidupan partai dan dalam kehidupan masyarakat.

 

Adapun kebijaksanaan politik yang dijalankan oleh partai politik Islam yang kurang menunjang kepada pembangunan dan kehidupan untuk kesejahteraan rakyat, misalnya salah satunya tidak memusatkan kepada masalah penyediaan tempat kerja bagi para penganggur, atau tidak memusatkan kepada usaha peningkatan kehidupan rakyat ketingkat yang lebih baik melalui bantuan dengan pendidikan ketrampilan bagi para pencari kerja yang tidak memiliki profesi, maka akan memberikan peluang memudarnya ideologi politik bagi pihak yang ada diluar partai. Hal itu disebabkan akan melunturnya sikap dan tindakan pihak diluar partai ketika melihat partai politik Islam yang tidak berhasil atau tidak bagus dalam menjalankan kebijaksanaan politiknya dalam hal peningkatan kesejateraan kehidupan rakyat.

 

Sedangkan kepemimpinan politik dalam partai politik Islam yang masih rendah tingkat pengetahuan dan pengalamannya dalam kancah politik dan kepartaian, terutama minimnya dalam hal pandangan dan pikiran tentang konsepsi Islam akan memberikan peluang besar meluntur atau memudarnya ideologi partai politik Islam.

 

Menyinggung masalah kriteria atau ukuran atau ciri yang bisa digunakan untuk mengetahui bahwa ideologi partai politik Islam itu memudar adalah pertama dapat dilihat dari dasar pijakan yang dipakai oleh partai Islam tersebut. Contohnya, kalau di Indonesia adalah pancasila sebagai dasar atau asas pijakan tempat berdirinya partai politik Islam. Dengan dipakainya pancasila sebagai dasar pijakan atau asas berdirinya partai politik Islam, maka itu sudah merupakan ciri atau ukuran atau kriteria bahwa partai politik Islam di Indonesia sudah memudar ideologi partai politik Islam-nya. Kemudian ciri lainnya adalah program kerja yang dijadikan sebagai landasan kerja partai politik Islam yang isinya tidak diacukan kepada dasar konsepsi Islam. Contohnya tentang masalah program ekonomi yang tidak menjadikan Islam sebagai dasar pijakan program ekonominya. Program sosial, yang tidak melihat dari segi ukhuwah Islamiyah atau kerjasama yang berbasis keIslaman, artinya program sosial yang lebih banyak mengarah kepada pencarian keuntungan, tanpa melihat pada aspek ke-Islaman, yaitu rasa saling tolong menolong. Selanjutnya ciri lain adalah pimpinan partai politik Islam tidak lagi mencantumkan ukuran atau standar yang akan menjadi pemimpin partai Islam didasarkan kepada prinsip-prinsip Islam. Misalnya disamping kemampuan dan kecakapan dalam memimpin partai juga harus memiliki integritas dan kepribadian muslim yang baik dan dapat dipercaya. Seterusnya lagi ciri lain yang bisa dipakai untuk melihat ideologi partai politik Islam sudah memudar adalah pandangan sekuler telah mendominasi dalam tubuh partai. Artinya, masalah-masalah yang ada kaitannya dengan syariat Islam tidak lagi menjadi topik utama dalam pembuatan program partai dan dalam kebijaksanaan politik partai.

 

Ada satu teori tentang pudarnya ideologi politik terutama ideologi partai politik Islam di Indonesia, yaitu yang mendasarkan kepada apa yang telah dijalankan dan diterapkan oleh Rasulullah saw ketika membangun Negara Islam pertama di Yatsrib. Dimana teori ini didasarkan kepada apa yang telah dibentangkan dan dijelaskan dalam ayat 59 surat An-Nisaa’ yaitu yang menyangkut masalah faktor ketaatan. Faktor ketaatan ini direalisasikan dalam sikap dan tindakan yang mengacu pada apa yang telah diturunkan Allah SWT dan yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Dalam semua tindakan termasuk pengambilan kebijaksanaan politik harus diacukan kepada apa yang telah ditetapkan dan digariskan Allah SWT dan yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Jadi teori yang mendasarkan kepada faktor ketaatan yang ada dalam Islam yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan berpemerintahan dan bernegara  adalah merupakan ukuran naik turunnya ideologi partai politik Islam yang ada dalam satu negara. Atau dengan kata lain kepudaran ideologi partai politik Islam tergantung kepada kuat atau tidaknya ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul. Dimana penjabaran dari ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul ini dilihat daripada realisa dalam pengambilan keputusan yang berbeda yang timbul dalam partai politik Islam. Penyelesaian dari adanya perbedaan yang timbul itu caranya dengan dikembalikan kepada Allah dan Rasul. Artinya, apapun bentuk perselisihan yang timbul, maka jalan penyelesaiannya adalah dicari dalam ketetapan Allah SWT yaitu Al-Qur’an dan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw yaitu sunnah Nabi (”..fa in tana z’atum fi syai in fa rudduhu ila Allah wa Rasuli…” Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul) (QS An-Nisaa’, 4:59)

 

Jadi dengan mempergunakan dasar ukuran ini bisa ditetapkan apakah ideologi partai politik Islam memudar atau masih tetap berkelip-kelip. Keadaannya tergantung kepada ketaatan dan cara penyelesaian masalah yang berbeda. Apabila dalam cara penyelesaian masalah yang berbeda sudah tidak lagi dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka itu menandakan bahwa ideologi partai politik Islam memudar.

 

Menyinggung masalah pergeseran yang menonjol yang ditunjukkan oleh partai-partai politik Islam pada masa reformasi sekarang ini adalah adanya pergeseran sikap dan mentalitas kearah tuntutan masa kini yang tajam. Artinya, partai politik Islam tidak lagi banyak membawakan visi dan misinya yang menitik beratkan kepada konsepsi yang diambil dari Islam. Partai politik Islam lebih banyak mengarahkan kepada perubahan sikap berpolitik yang bebas dan terbuka, tetapi gersang dari tuntunan yang ada dalam Islam. Misalnya kebebasan dalam mengemukakan pendapat dan pikiran, tetapi tidak dibarengi dengan sikap ukhuwah Islamiyah. Artinya, kebebasan mengemukakan pendapat dan pikiran diarahkan untuk tujuan menyampaikan buah pikirannya dan bersamaan dengan itu berusaha untuk menjatuhkan lawan yang tidak seide. Sedangkan kebebasan dalam mengemukakan pendapat dan pikiran yang dibarengi dengan sikap ukhuwah Islamiyah itu akan melahirkan sikap yang bebas dan bertanggung jawab melalui jalur musyawarah dan kompromi secara ke-Islaman. Dalam partai politik Islam lebih banyak Islam hanya ditonjolkan sebagai nama saja untuk menjaga identitet agar tidak disamakan dengan partai politik non Islam. Jadi disini Islam hanya dijadikan sebagai simbol untuk menjadi alat pembeda dengan partai politik lainnya yang tidak berbasis pada umat Islam. Misalnya Partai Amanat Nasional dengan simbol Muhammadiyahnya, begitu juga PKB dengan simbol NU-nya. Adapun kalau dilihat dari sudut misinya antara PAN atau PKB dengan GOLKAR atau PDI-P adalah tidak jauh berbeda. Mereka semuanya masih memperjuangkan konsepsi politik dengan pijakan ideologi yang tidak jauh berbeda. Artinya, tidak bisa dibedakan antara ideologi yang dimiliki oleh partai politik Islam dengan ideologi yang dipakai oleh partai politik GOLKAR atau PDI-P. Misalnya partai-partai politik mana yang mendasarkan pada ideologi yang mengarah kepada sosialisme; yang mengarah kepada kapitalisme; yang mengarah kepada liberal; yang mengarah kepada Islam. Yang ada hanya partai-partai politik, apakah itu partai politik Islam atau partai politik non Islam, semuanya mengarah kepada ideologi yang didasari oleh asas pancasila saja.

 

Menyinggung masalah strategi yang bisa digunakan oleh partai politik Islam di Indonesia agar ideologi politiknya bisa diterima oleh masyarakat luas kemudian dihubungkan dengan pemilu yang akan datang sehingga bisa memperoleh suara yang signifikan dibanding pemilu tahun 1999 dan 2004.

 

Partai politik Islam harus memiliki ideologi yang jelas, yang bisa dibedakan dari partai politik non Islam. Artinya, dalam visi dan misi partai politik Islam harus bisa dibedakan dari visi dan misi partai politik non Islam, misalnya GOLKAR dan PDI-P. GOLKAR dan PDI-P adalah partai politik yang sekuler. Adapun PBB, PAN, PKB, PPP harus memiliki visi dan misi yang berdasarkan kepada konsepsi Islam, kendatipun asas pancasila masih harus ditempelkan dalam AD dan ART partai. Tetapi, pancasila itu hanyalah sebagai alat saja, yang mana kalau alat itu tidak sesuai dengan visi dan misi partai politik Islam yang mengacu pada konsepsi Islam, maka tidak perlu dipakai alat itu. Kalau partai politik Islam memiliki pandangan yang mengarah kepada pandangan yang demikian, maka sebenarnya pancasila itu tidak memiliki kekuatan apapun, hanya simbol saja. Sekarangpun pancasila hanyalah dianggap sebagai simbol saja. Tidak ada partai-partai politik yang membesar-besarkan pancasila sekarang ini, paling PDI-P. Itupun hanya Megawati saja.

 

Selanjutnya yang perlu dipertimbangkan adalah apa yang terjadi apabila pemudaran ideologi politik dari partai Islam di Indonesia sampai ketitik sirna, apakah akan timbul ideologi politik yang baru. Untuk masa sepuluh sampai dua puluh tahun mendatang ideologi partai politik Islam akan tetap eksis, kendatipun berkedip-kedip. Islam akan tetap mendominasi diarena politik Indonesia, dan bukan saja di Indonesia tetapi juga di dunia internasional. Karena diluar Islam tidak ada lagi ideologi lain yang bisa dijadikan andalan untuk menjadi alternatif dari ideologi-ideologi yang ada sekarang. Yang dimaksud disini dengan Islam mendominasi arena politik, bukan berarti politik Islam yang ditonjolkan atau mendominasi, melainkan ummat Islam sebagai suatu faktor kekuatan penekan adalah memegang peranan penting. Jadi selama umat Islam peka dan responsiv terhadap stimulus politik yang datang dari luar, maka selama itu Islam tetap menjadi faktor yang diperhitungkan di arena politik.

 

Terakhir mengenai data-data yang menunjukkan telah terjadinya pemudaran ideologi politik dari partai Islam di Indonesia pada masa reformasi bisa dilihat dan diperhatikan pada pembentukan kabinet misalnya. Dalam pembentukan Kabinet yang diwakili oleh beberapa wakil dari partai politik Islam itu sudah menunjukkan bahwa pada kenyataannya ideologi politik dari partai Islam sudah memudar. Ideologi partai-partai politik Islam susah dibedakan dari ideologi partai politik non Islam lainnya. Misalnya apa bedanya antara PBB, PD, PAN, PKS dan GOLKAR? Kenyataannya visi dan misi partai-partai politik Islam dan GOLKAR juga PD adalah tidak jauh berbeda. Jadi sebenarnya kalau melihat ideologi partai politik Islam, maka yang namanya ideologi partai politik Islam sudah susah untuk dilihat. Artinya ideologi partai politik Islam hanya berkelip-kelip saja.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------