Stockholm, 2 November 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

AHMAD HUMAM HAMID & TUBUH GAM.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

SEDIKIT MENYOROT AHMAD HUMAM HAMID & TUBUH GAM.

 

“Teungku Ahmad yang saya kagumi karena kecerdasannya, mohon dikupas secara detail dan konkrit siapa sebenarnya Humam Hamid? apakah betul Humam punya komitmen “sesuatu” dengan Wali Nanggroe Aceh Merdeka sebagai point penting untuk memuluskan langkah ke NAD-1? dan juga apakah benar informasi yang berkembang baru-baru ini di Naggroe bahwa pasangan IRNA di “suguhkan pisang sale” di bawah “Pohon Beringin” pimpinan yusuf kalla?....masyarakat tambah mumang..mereka belum memahami kenapa suasana politik di tubuh GAM pasca duek pakat ban SIGOM DONYA yang berlangsung di darussalam, Banda aceh berakhir dengan “pertikaian atau perang urat saraf” di media lokal karena merebut simpati untuk kekuasaan????” (Teuku Aulia Sanggeue, abu_mamplamsaka@yahoo.co.id , [203.91.159.83], Thu, 2 Nov 2006 13:35:07 +0700 (ICT))

 

Terimakasih Teuku Aulia Sanggeue di Banda Acheh, Acheh.

 

Menyangkut siapa sebenarnya saudara Ahmad Humam Hamid, Insya Allah akan sedikit diberikan jawabannya sesuai dengan fakta dan bukti yang ada pada Ahmad Sudirman.

 

Dimana saudara Ahmad Humam Hamid dilahirkan di Kecamatan Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen pada tanggal 31 Maret 1957. Orang tua Ahmad Humam Hamid yaitu Hamid adalah seorang ulama yang dikenal di Pidie. Abang Ahmad Humam Hamid adalah Farhan Hamid seorang politikus dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang duduk di DPR RI. Saudara Ahmad Humam Hamid menempuh pendidikan dalam bidang sosiologi dan mendapat S3 dari Kansas State University Amerika. Kemudian ia menjadi dosen di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.

 

Sebenarnya saudara Ahmad Humam Hamid adalah bukan seorang politikus, melainkan seorang yang aktif dalam bidang pendidikan, sosial dan kemasyarakatan sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Ia besar dalam lingkungan hidup yang penuh konflik dan dibesarkan dalam situasi dan kondisi yang penuh dengan pergolakan perjuangan bangsa dan rakyat Acheh dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Saudara Ahmad Humam Hamid tidak melibatkan dirinya dalam kancah politik dan pergerakan Gerakan Acheh Merdeka, melainkan mengkhususkan dirinya dalam bidang pendidikan, sosial dan kemasyarakatan.

 

Nah, walaupun saudara Ahmad Humam Hamid tidak terlibat dalam pergerakan Gerakan Acheh Merdeka dan kegiatan politik, tetapi melalui ilmu sosiologi yang telah dipelajarinya ia telah mampu meresapi kehidupan bangsa dan rakyat Acheh yang penuh dengan konflik. Karena pengaruh lingkungan hidupnya yang penuh konflik dan dengan bekal pengetahuan tentang sosiologi yang pernah digalinya inilah yang mendorong saudara Ahmad Humam Hamid tampil dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan, khususnya setelah terjadi tsunami 26 Desember 2004, ia aktif di Lembaga Non Pemerintah Aceh Recovery Forum.

 

Keterlibatan saudara Ahmad Humam Hamid dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dasar utamanya bukan karena ia seorang politikus, melainkan karena aktivitasnya dalam bidang pendidikan, sosial dan kemasyarakatan. Karena itu dengan adanya ia dalam partai politik akan memudahkan untuk kegiatan sosial dan kemasyarakatannya apabila dihubungkan dengan kegiatan yang sifatnya politis.

 

Sebagian besar waktu yang dipakai oleh saudara Ahmad Humam Hamid disamping mengajar di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, juga sebagai Direktur Aceh Recovery Forum. Ia pernah diundang oleh Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA) untuk menyampaikan kertas kerja dalam seminar yang diselenggarakan di Stockholm pada tanggal 20 Desember 2005. Pada saat itulah saudara Ahmad Humam Hamid pernah bertemu dengan Pimpinan Tinggi GAM Teungku Malik Mahmud dan Dr. Zaini Abdullah di Stockholm.

 

Jadi kalau mempelajari latar belakang kehidupan, pendidikan dan aktifitas yang dijalankan oleh saudara Ahmad Humam Hamid adalah lebih banyak mengarah kepada bidang pendidikan dan sosial bukan banyak mengarah kepada bidang politik dan aktif dalam partai politik.

 

Nah, salah satu latar belakang inilah yang telah menjadi dasar pertimbangan adanya hubungan kerjasama antara pihak Pimpinan Tinggi GAM dengan pihak saudara Ahmad Humam Hamid. Dimana saudara Ahmad Humam Hamid tidak memiliki ambisi politik dan kekuasaan, ia lebih banyak memfokuskan kepada masalah pembangunan kembali Acheh yang cepat agar rakyat Acheh kembali menikmati kehidupannya yang layak. Disamping itu saudara Ahmad Humam Hamid tidak memiliki sikap yang negatif terhadap GAM dan Pimpinan Tinggi GAM serta Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Ia bisa diajak dan mau bekerjasama dalam usaha secara bersama membangun kembali Acheh untuk rakyat Acheh. Ia bisa bekerjasama secara baik dengan saudara Hasbi Abdullah anggota GAM dan tokoh tua dari jajaran tinggi GAM.

 

Nah, dengan adanya sikap dan tindakan yang ditampilkan oleh saudara Ahmad Humam Hamid diatas itulah yang merupakan salah satu pertimbangan politis yang diambil dan dijalankan oleh pihak Pimpinan Tinggi GAM.

 

Bekerjasama dengan orang yang tidak menunjukkan sikap dan tindakan yang negativ pada GAM walaupun ia bukan anggota GAM adalah lebih tinggi nilai politiknya dibandingkan kalau bekerjasama dengan orang yang secara terang-terangan menunjukkan sikap dan tindakan politiknya yang menentang kepada kebijaksanaan politik yang dijalankan oleh Pimpinan Tinggi GAM walaupun orang tersebut adalah anggota GAM.

 

Jadi langkah pertama dalam kancah politik di Acheh, itu kerjasama politik dengan saling harga-menghargai satu sama lain adalah merupakan modal utama dalam perjuangan digelanggang politik Acheh. Dengan melakukan kerjasama politik yang ditunjukkan dalam sikap saling harga menghargai dari kedua belah pihak adalah merupakan salah satu faktor yang bisa membawa kearah tujuan dan cita-cita perjuangan.

 

Karena itu dukungan Pimpinan Tinggi GAM dan Ketua Komite Peralihan Acheh (KPA) kepada pihak saudara Ahmad Humam Hamid dan saudara Hasbi Abdullah adalah merupakan kerjasama politik yang bisa membawa kearah tujuan dan cita-cita perjuangan karena didasarkan oleh saling harga-menghargai dari kedua belah pihak yang tidak dikotori oleh adanya sikap politik yang negativ dari sebelah pihak kepada GAM dan Pimpinan Tinggi GAM.

 

Jadi dengan adanya sikap politik yang positiv dari saudara Ahmad Humam Hamid terhadap GAM dan Pimpinan Tinggi GAM dan adanya saling harga-menghargai dari kedua belah pihak adalah suatu bentuk komitment saudara Ahmad Humam Hamid dengan Pimpinan Tinggi GAM dan juga secara langsung dengan Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

 

Selanjutnya yang menyangkut  pasangan saudara Irwandi Yusuf dan saudara Muhammad Nazar yang di “suguhkan pisang sale” di bawah “Pohon Beringin” pimpinan Jusuf Kalla.

 

Nah, tentang masalah ini sebaiknya Teuku Aulia Sanggeue mengkonfirmasikan langsung kepada saudara Irwandi Yusuf dan saudara Muhammad Nazar agar supaya mendapatkan jawaban dan keterangan yang jelas dan benar. Ahmad Sudirman masih belum memiliki fakta dan bukti hukum yang kuat tentang masalah tersebut.

 

Seterusnya, menyinggung masyarakat sekarang tambah mumang dan belum memahami kenapa suasana politik dalam tubuh GAM pasca pertemuan GAM sedunia di Banda Acheh berakhir dengan ”pertikaian atau perang urat saraf”.

 

Sebenarnya kalau Ahmad Sudirman melihat dan memperhatikan serta menganalisa tentang apa yang timbul dalam tubuh GAM setelah dilaksanakan pertemuan GAM sedunia di Banda Acheh adalah bukan ”pertikaian atau perang urat saraf”, melainkan adanya sikap dan tindakan politik dari sebagian anggota GAM yang menafsirkan dan sekaligus menerapkan istilah buttom-up dalam bentuk penentangan dan pembangkangan terhadap Pimpinan Tinggi GAM melalui cara penggunaan lembaga atau institusi Komite Peralihan Acheh (KPA) secara resmi tanpa mendapat persetujuan hukum dari pihak Pimpinan Tinggi GAM.

 

Jadi, sebagian anggota GAM ini, misalnya seperti saudara Munawarliza Zein, saudara Sofyan Dawood, saudara Irwandi Yusuf, saudara Muhammad Nazar, saudara Bakhtiar Abdullah menganggap bahwa GAM telah menerapkan sendi demokrasi buttom-up-nya dalam usaha menjalankan roda lembaga atau institusi GAM. Artinya suara-suara yang timbul dari bawah yang harus diperhatikan dan yang akan menentukan garis perjalanan roda  lembaga atau institusi GAM ini. Tetapi, ketika saudara Munawarliza Zein, saudara Sofyan Dawood, saudara Irwandi Yusuf, saudara Muhammad Nazar dan saudara Bakhtiar Abdullah menerapkan sendi demokrasi buttom-up ini, ternyata dalam pelaksanaannya telah menyimpang. Dimana penyimpangan tersebut terlihat dan tergambar dalam bentuk penentangan dan pembangkangan terhadap Pimpinan Tinggi GAM melalui cara penggunaan lembaga atau institusi Komite Peralihan Acheh (KPA) secara resmi bersama saudara Sofyan Dawood untuk dijadikan alat menyokong saudara Irwandi Yusuf dan saudara Muhammad Nazar sebagai calon Kepala dan Wakil kepala Pemerintahan Acheh tanpa mendapat persetujuan hukum dari pihak Pimpinan Tinggi GAM.

 

Jadi, disini kelihatan bahwa penerapan sendi demokrasi buttom-up ini bukan dijalankan betul-betul aspirasi dari bawah kemudian dibawa ke atas yang selanjutnya mendapat persetujuan Pimpinan Tinggi GAM, melainkan aspirasi dari bawah tersebut dijalankan dengan cara penentangan dan pembangkangan terhadap Pimpinan Tinggi GAM. Dimana mereka menganggap kalau Pimpinan Tinggi GAM tidak setuju, rencana tetap dijalankan terus.

 

Nah, akibat dari sikap dan tindakan politik yang dijalankan oleh saudara Munawarliza Zein, saudara Sofyan Dawood, saudara Irwandi Yusuf, saudara Muhammad Nazar dan saudara Bakhtiar Abdullah yang menerapkan sendi demokrasi buttom-up ini, tetapi pelaksanaannya menyimpang kearah penentangan dan pembangkangan terhadap Pimpinan Tinggi GAM melalui cara penggunaan lembaga atau institusi Komite Peralihan Acheh (KPA) secara resmi tanpa mendapat persetujuan hukum dari pihak Pimpinan Tinggi GAM, yang akhirnya menimbulkan kegoncangan dalam tubuh GAM.

 

Terakhir soal kerja tim sukses untuk menjalankan taktik dan strategi pengumpulan dukungan untuk calonnya memang tidak ada aturan mainnya yang jelas. Yang ada adalah waktu pelaksanaan kampanye saja. Tentu saja disini akan menimbulkan berbagai usaha dari tim sukses tersebut bagaimana caranya untuk memperoleh suara dukungan dari berbagai pihak kepada calonnya. Tetapi selama tidak ada komitmen atau perjanjian yang mengikat antara pihak tertentu dengan tim sukses tentang pemberian hak suara dalam waktu pemilihan, maka selama itu aturan permainan pemilihan yang bebas dan rahasia akan terjamin. Jadi tidak menjadi persoalan besar kalau dalam waktu sekarang ini ada tim sukses dari calon tertentu menunjukkan foto “Panglima Wilayah GAM dan 4 Pangsagoe  sudah 2 kali makan bareng bersama tim sukses”, asalkan tidak ada  komitmen atau perjanjian yang mengikat antara “Panglima Wilayah GAM dan 4 Pangsagoe” dengan tim sukses tersebut.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Message-ID: 20061102063507.8310.qmail@web58110.mail.re3.yahoo.com

Received: from [203.91.159.83] by web58110.mail.re3.yahoo.com via HTTP; Thu, 02 Nov 2006 13:35:07 ICT

Date: Thu, 2 Nov 2006 13:35:07 +0700 (ICT)

From: Teuku aulia sanggeue abu_mamplamsaka@yahoo.co.id

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Subject: mohon penjelasan

 

Teungku Ahmad yang saya kagumi karena kecerdasannya, mohon dikupas secara detail dan konkrit siapa sebenarnya Humam Hamid? apakah betul Humam punya komitmen “sesuatu” dengan Wali Nanggroe Aceh Merdeka sebagai point penting untuk memuluskan langkah ke NAD-1? dan juga apakah benar informasi yang berkembang baru-baru ini di Naggroe bahwa pasangan IRNA di “suguhkan pisang sale” di bawah “Pohon Beringin” pimpinan yusuf kalla?....

 

masyarakat tambah mumang..mereka belum memahami kenapa suasana politik di tubuh GAM pasca duek pakat ban SIGOM DONYA yang berlangsung di darussalam, Banda aceh berakhir dengan “pertikaian atau perang urat saraf” di media lokal karena merebut simpati untuk kekuasaan????

 

22 oktober, minggu yang lalu saya ngopi bersama salah seorang tim sukses CAGUB/WAGUB NAD.. “Panglima Wilayah GAM dan 4 Pangsagoe  sudah 2 kali makan bareng bersama kita, coba lihat ini, kamu kenal kaaaan..” katanya, sambil memperlihatkan foto yang tersimpan di camera Nokia N73 miliknya. Alahmak...., tak habis pikir aku, masak jenderal tak bermoral di dukung?

----------