Stockholm, 6 November 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

YUSRA HABIB ABDUL GHANI BERMAIN BERSAMA “ANJING BOLDOK“ & “DATU BERU“-NYA DI DENMARK.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

MENDENGAR RINTIHAN DAN KELUHAN YUSRA HABIB ABDUL GHANI YANG SEDANG DIDAMPINGI OLEH “ANJING BOLDOK“ & “DATU BERU“-NYA DI DENMARK.

 

”Terlalu sarat dengan kenangan manis, sebab kita tahu bahwa matahari itu adalah matahari kita; bulan itu adalah bulan kita; hutan belukar itu adalah hutan belukar kita; lembah itu adalah lembah kita; laut itu adalah laut kita; daratan itu adalah daratan kita; embun itu adalah embun kita; titian gantung itu adalah titian gantung kita; pantai itu adalah pantai kita. Bukan milik "anjing Boldok" A. Sudirman.” (Ria Ananda, bayna9@yahoo.com ,[80.196.175.152], 6 Nov 2006 11:48:53 –0000)

 

Dengan suara serak-serak basah sambil terdengar suara alunan untaian kata rayuan buta, diiringi rintihan dan keluhan yang usang melalui jaluran gelombang panjang menembus udara dingin kota Kopenhagen di musim salju terus marasuk kedalam jantung Swedia kota Stockholm, akhirnya masuk menyelusup kedalam lobang email box-nya ahmad@dataphone.se  .

 

Setelah dibaca isi rayuan dan cumbu palsu-nya Yusra Habib Abdul Ghani yang ditujukan dan diarahkan kepada Teungku Omar Puteh yang sedang berdiri tegar di Stavanger, tergambar dan terbayang Yusra Habib Abdul Ghani yang sedang ditemani oleh ”anjing Boldok”-nya Ria Ananda alias anak sombong atau anak congkak yang bernama melani dan juga tidak ketinggalan ”Datu Beru”-nya yang berbulu hitam mengibas-ngibaskan ekornya sambil bersuara ”nguk-nguk-nguk” di balas oleh suara ”anjing Boldok”-nya Ria Ananda ”wow-wow-wow”. Gemuruh terdengar campuran suara ”nguk-nguk-nguk” ”Datu Beru”-nya Yusra Habib Abdul Ghani dicampur suara ”wow-wow-wow” ”anjing Boldok”-nya Ria Ananda alias anak sombong atau anak congkak yang bernama melani.

 

Setelah terbongkar cinta palsunya Yusra Habib Abdul Ghani terhadap perjuangan GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang tercium oleh Teungku Omar Puteh, sehingga tanpa tedeng aling-aling Teungku Omar Puteh menyatakan ”…yang berkedokkan Ria Ananda, bayna9@yahoo.dk  sipengecut! (Omar Puteh, om_puteh@yahoo.com , [85.166.154.204] , 5 Nov 2006 00:17:00 -0000).

 

Rupanya kata-kata Teungku Omar puteh tersebut yang ditujukan kepada Yusra Habib Abdul Ghani yang sedang ditemani oleh ”anjing Boldok”-nya Ria Ananda dan ”Datu Beru”-nya yang berbulu hitam telah masuk menghunjam kedalam hati dan jantung Yusra Habib Abdul Ghani yang dalam saat-saat sekarang ini sedang bertapa di gua dekat pasar Kopenhagen yang katanya sedang meniru gaya dan model para pemuda kahfi yang tidur dalam gua. Sehingga mucullah suara serak-serak basah diiringi alunan bait-bait rayuan buta dengan diselingi rintihan dan keluhan yang dalam tertuang dalam gumpalan syair "The Burning Boldog Love".

 

Ketika Ahmad Sudirman membaca syair "The Burning Boldog Love" timbul dalam pikiran Ahmad Sudirman suatu pertanyaan apakah Yusra Habib Abdul Ghani yang sedang ditemani oleh ”anjing Boldok”-nya Ria Ananda dan ”Datu Beru”-nya yang berbulu hitam sudah sedemikian lemah dan rapuh jiwanya kendatipun masih ditutupinya dengan untaian bait ”tokh aku masih garang menantang gelombang dan pantang berpaling”

 

Rupanya yang dimaksud Yusra Habib Abdul Ghani dengan untaian bait ”aku masih garang menantang gelombang” diarahkan untuk menghancurkan GAM dibawah Pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Stafnya. Dimana kegarangan yang dimaksud oleh Yusra Habib Abdul Ghani adalah seperti yang dituliskannya dalam tulisan ”GAM Political Negaholic” (Ria Ananda, bayna9@yahoo.com , 21 Aug 2006 10:06:54 -0000) ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060821.htm ) dan dalam tulisan ”GAM Xenofobi”

(Ria Ananda, bayna9@yahoo.com , 22 Sep 2006 10:47:34 -0000) ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060923a.htm ).

 

Karena kalau Yusra Habib Abdul Ghani mengarahkan maksud bait ”aku masih garang menantang gelombang dan pantang berpaling” ke pihak RI, maka suatu hal yang tidak masuk akal pada saat sekarang, karena berdasarkan fakta dan bukti Yusra Habib Abdul Ghani pernah juga masuk ke Acheh secara diam-diam dengan memakai payung hukum MoU Helsinki yang sebelumnya ditentang mati-matian oleh Yusra Habib Abdul Ghani.

 

Jadi, siapa yang dimaksud oleh Yusra Habib Abdul Ghani dalam bait ”aku masih garang menantang gelombang dan pantang berpaling” kalau bukan ditujukan dan diarahkan kepada GAM dibawah Pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Stafnya.

 

Celakanya, itu Yusra Habib Abdul Ghani yang sudah membelakangi GAM Pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Stafnya menganggap bahwa ”anjing Boldok”-nya Ria Ananda dikenakan kepada Ahmad Sudirman, sehingga membuat geleng-geleng kepala Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Stafnya saking lucunya atas apa yang dianggapkan oleh Yusra Habib Abdul Ghani tersebut.

 

Kemudian, kalau Ahmad Sudirman memberikan analisa dan pandangan tentang GAM dibawah Pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Stafnya itu adalah bukan berarti bahwa Ahmad Sudirman sebagaimana yang dituliskan oleh Yusra Habib Abdul Ghani yang ditujukan untuk Teungku Omar Puteh: ”Anjing Boldok kekasihmu ini keterlaluan, udah pacah masuk dapur kita, buka lemari dan laci kita, membuka aurat kita, mengadu domba kita, menfitnah kita, menggonggong seenaknya. Ajaibnya, ketika pemasok dedak [Muzakkir Hamid] bersumpah setia di Kedutaan RI di Stockholm, si "anjing Boldok" ini tak bersuara, padahal udah lama tahu. Kau pun ikut "anjing boldok" itu membisu.”

 

Nah, Pimpinan Tertinggi GAM dan Pimpinan Tinggi GAM mengetahui dengan pasti bahwa Ahmad Sudirman tidak pernah ”masuk dapur” GAM, tidak pernah ”buka lemari dan laci” GAM, tidak pernah ”membuka aurat” GAM, tidak pernah ”mengadu domba” GAM, tidak pernah ”menfitnah” GAM, dan tidak pernah ”menggonggong seenaknya”.

 

Kalau Ahmad Sudirman memiliki fakta dan bukti hukum tentang GAM, itu adalah bukan berarti bahwa Ahmad Sudirman masuk dapur GAM dan membuka lemari dan laci GAM. Fakta dan bukti hukum tentang GAM diperoleh oleh Ahmad Sudirman dari berbagai sumber, bukan dari hasil masuk dapur GAM dan membuka lemari dan laci GAM.

 

Begitu juga kalau Ahmad Sudirman menganalisa tentang apa yang terjadi dalam tubuh GAM, itu bukan berarti bahwa Ahmad Sudirman ”membuka aurat” GAM. Analisa yang disampaikan oleh Ahmad Sudirman adalah berdasarkan fakta dan bukti hukum yang kuat. Jadi bukan suatu fitnah atau hal yang diada-adakan sendiri oleh Ahmad Sudirman. Sama juga dengan ketika Ahmad Sudirman menyampaikan masalah-masalah yang ada kaitannya dengan pembangkangan yang dilakukan oleh sebagian anggota GAM terhadap Pimpinan Tinggi GAM, seperti yang dilakukan oleh saudara saudara Irwandi Yusuf, saudara Sofyan Dawood, saudara  Munawarliza Zein dan saudara Bakhtiar Abdullah. Itu semuanya berdasarkan fakta dan bukti hukum yang kuat, bukan berdasarkan apa yang diada-adakan oleh Ahmad Sudirman sendiri.

 

Juga tentang Teungku Muzakkir Abdul Hamid yang tidak punya warganegara selama 6 tahun di Swedia dan hanya memiliki travel dokument pemberian Pemerintah Kerajaan Swedia yang tidak dibenarkan dipakai untuk masuk Acheh, maka berdasarkan klausul 1.1.2.a) MoU Helsinki teungku Muzakkir Abdul Hamid bisa masuk dan mencium tanah Acheh lagi. (Tgk Muzakkir Abdul Hamid yang tanpa warganegara dihubungkan dengan MoU Helsinki, http://www.dataphone.se/~ahmad/061102c.htm )

 

Kalau Teungku Muzakkir Abdul Hamid membuang travel dokument pemberian Pemerintah Kerajaan Swedia, kemudian memegang klausul 1.1.2.a) MoU Helsinki untuk dapat dengan bebas bergerak dan berjuang di Acheh, itu tidak menjadi suatu persoalan hukum yang besar dan tidak menggagu perjuangan GAM dibawah Pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Justru yang menggangu dan akan menghancurkan perjuang GAM dibawah Pimpinan Tengku Hasan Muhammad di tiro adalah adanya serangan dan tindakan yang dilancarkan oleh orang-orang seperti Yusra Habib Abdul Ghani.

 

Nah sekarang, dengan berdasarkan fakta dan bukti hukum tersebut Ahmad Sudirman membuat suatu kupasan dan analisa tentang apa yang terjadi dalam tubuh GAM dan tentang mereka yang menentang dan memusuhi GAM dibawah Pimpinan Tertinggi Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

 

Selanjutnya kalau Ahmad Sudirman melakukan bantahan terhadap orang-orang yang menyerang dan ingin menghancurkan GAM dibawah Pimpinan Tertinggi Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Stafnya, maka itu bukan berarti Ahmad Sudirman ”menggonggong seenaknya”.

 

Contohnya seperti Yusra Habib Abdul Ghani dengan tulisan ”GAM Political Negaholic” dan tulisan ”GAM Xenofobi”, maka apa yang ditulis oleh Yusra Habib Abdul Ghani adalah betul-betul suatu usaha untuk menghancurkan GAM dibawah Pimpinan Tertinggi Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Yusra Habib Abdul Ghani menghantam habis-habisan Kabinet GAM dibawah Pimpinan Teungku Malik Mahmud dan Dr.Zaini Abdullah dengan tujuan agar supaya GAM hancur. Nah, disaat Yusra Habib Abdul Ghani sedang asyiknya menghancurkan GAM dibawah Pimpinan Tertinggi Teungku Hasan Muhammad di Tiro, maka Ahmad Sudirman tampil untuk menghantam, kembali sampai hancur serangan Yusra Habib Abdul Ghani. Dimana akhirnya Yusra Habib Abdul Ghani tidak bisa membalasnya selain hanya sanggup memberikan nama "anjing Boldok"-nya Ria Ananda dikenakan kepada Ahmad Sudirman.

 

Jadi, sekarang orang-orang yang berusaha untuk menghancurkan GAM dibawah Pimpinan Tertinggi Teungku Hasan Muhammad di Tiro telah dibentengi dan dihadang oleh argumentasi yang dipasang oleh Ahmad Sudirman. Siapa saja yang akan menghancurkan GAM dibawah Pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, aka terus dihadang oleh argumentasi yang dipasang dan dilambungkan oleh Ahmad Sudirman.

 

Nah sekarang, ketika Teungku Omar Puteh yang telah mengerti dan memahami apa yang telah dijadikan dasar dan fondasi bangunan pertahanan argumentasi yang dibuat oleh Ahmad Sudirman, maka itu bukan berarti Teungku Omar Puteh jatuh cinta kepada Ahmad Sudirman, melainkan karena Teungku Omar Puteh mengetahui dengan jelas dan gamblang bahwa argumentasi yang dibangun oleh Yusra Habib Abdul Ghani adalah masih keropos dan masih merupakan ilmu injak-injak bumi dan ilmu yang berada diatas awan saja.

 

Buktinya Yusra Habib Abdul Ghani hanya sanggup menuliskan:

 

”Sekarang, kau suruh Ria melayani bahasa binatang [anjing Boldok" A. Sudirman], yang seakan-akan Ria sekandang dengan "anjing Boldok" itu. Ria tak mampu memahami bahasa binatang ["anjing Boldok" A. Sudirman], yang kau bilang lulusan Gunong Alimon University. Kenapa? Kita bilang gelang, si boldok itu kira galang, kita bilang air liur, si boldok pikir air kencur, kita bilang keumah, si boldok itu pikir kèmah, kita bilang udah, si boldok itu pahami tambah. Soalnya binantang, susah! Lagi pula, "anjing Boldok" itu makan dedak, sedangkan kita makan roti dan keju, "anjing Boldok" itu tanpa alas kaki, sedangkan kita bersepatu Belli. "Anjing boldok" rabun, sementara kita berkacamata merk GUCCI. "Anjing Boldok" itu lenlanjang, sedang kita berbaju rapi.”

 

Nah, alasan diatas yang didijakan dasar argumentasi oleh Yusra Habib Abdul Ghani adalah alasan yang paling lemah yang pernah dibaca oleh Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini. Kalau memang ada fakta dan bukti hukum yang kuat silahkan tampilkan di mimbar bebas ini, jangan hanya memakai alasan ”Ria tak mampu memahami bahasa binatang ["anjing Boldok" A. Sudirman]”

 

Jadi disini memang benar apa yang dikatakan oleh Teungku Omar Puteh kepada Yusra Habib Abdul Ghani: ”Apa yang telah dipaparkan Tengku Ahmad Hakim Sudirman sudah tentu diluar kemampuan jangkauan "Ria Ananda" SH @ X"Y"Z SH” (omar puteh, om_puteh@yahoo.com ,5 Nov 2006 00:17:00 -0000)

 

Terakhir, Yusra Habib Abdul Ghani yang hanya pandai berlindung dibalik nama palsu Ria Ananda dan Datu Beru adalah bukan merupakan orang yang mengklaim dirinya: ”tokh aku masih garang menantang gelombang dan pantang berpaling”, melainkan seperti yang dinyatakan oleh Teungku Omar Puteh: ” ”…yang berkedokkan Ria Ananda, bayna9@yahoo.dk  sipengecut! (Omar Puteh, om_puteh@yahoo.com , [85.166.154.204] , 5 Nov 2006 00:17:00 -0000).

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Received: (qmail 82056 invoked by uid 60001); 6 Nov 2006 11:48:53 –0000

Received: from [80.196.175.152] by web39106.mail.mud.yahoo.com via HTTP; Mon, 06 Nov 2006 03:48:53 PST

From: Ria Ananda bayna9@yahoo.com

Return address: IACSF@yahoogroups.com

Date: 6 november 2006 12:48:53

To: IACSF@yahoogroups.com, PPDI@yahoogroups.com, ACSA@yahoogroups.com, redaksi@acehkita.com, lantak@yahoogroups.com, redaksinews@serambi.com

Subject: [IACSF] "The Burning Boldog Love"

 

Omar Putéh di Tempat,

 

Tatap wajahku, biar bintang-bintang, matahari dan rembulan cemburu akan cinta dan kesetiaan kita, soalnya, Ria curiga dengan sinar-cahayanya yang selalu mengintip dan ingin tahu tentang kita dari celah-celah jendela. Ria enggan dengan kepura-puraan dalam hamparan cinta-kasih. Bisikan ayat-ayat cinta, agar hati ini gegap-gempita dan selamanya merekah, kokoh bagaikan batu karang yang tak pernah lekang dan bergeming oleh hempasan ombak-ombak yang nakal.

 

Usir rasa curiga dan cemburumu, agar kemesraan ini selamat hidup dan hangat,  walau perjumpaan ini baru sesaat, tapi seribu tahun rasanya sudah kita bersama. Masih ingatkah ketika kita melangkah di taman berbunga, kau petik sekuntum bunga mawar merah dan menyuntingkan di rambutku, kicau burung camar yang terbang melayang asik menatap cinta kita dari langit biru, genggaman tanganmu yang halus, terasa bagaikan sutera menyelimuti kalbu buat mengusir sepi. Enggan rasanya untuk tidak tak merapat dalam dekapanmu. Aapa daya, kini bunga mawar itu kau selipkan di telinga "anjing Boldok" A. Sudirman. Genggaman tangan yang dulu hangat dan mesra, kini kau berpeluk dengan "anjing Boldok" A. Sudirman. Deburan cinta yang menderu yang dulu pernah kau curahkan, kini kau bermandi debu dengan "anjing Boldok" A. Sudirman. Ingatkah, ketika kita duduk bersama di kursi taman Menara kota Paris, kau sulang ke mulut Ria Genum Ice cream, terasa bagai makanan surga: "manna" dan "salwa", kini Ice cream itu abang suapkan ke mulut "anjing Boldok" kesayanganmu. Ingatkah ketika kusandarkan harapan dan diriku ke bahumu dan terasa hangatnya saat rambutku kau belai, kini "anjing Boldok" yang merebahkan diri ke pangkuanmu  dan mengelus-elus bulunya. Kau bercumbu dengan "anjing Boldok" di depanku. Ingatkah ketika kita meniti titian gantung yang hampir-hampir diriku jatuh karena ayunannya, kau dekap daku dengan kain selendang sutera, kini titian gantung itu digigit oleh "anjing Boldok" A. Sudirman hingga meruntuhkan tali persahabatan. Ingatkah ketika kita makan ranub yang memerahkan bibir-bibir mungil, kini abang berikan reumpagoê [belati] untuk membelah dan memecah silaturrahmi sesama orang Aceh. Ingatkah ketika kita menuruni lembah-lembah belukar yang diselimuti embun putih yang kaki-kaki telanjang bebas kesana-sini bertandang, kini lembah belukar itu telah berubah menjadi padang terik yang panasnya disembur dari mulut beracun "anjing Boldok" A. Sudirman. Masihkah kau ingat, ketika kita duduk bersama di pantai Pulau Tiga, di bawah rindangnya nyiur melambai, sama-sama  menatap riak dan ombak memutih menghampiri, kini nyiur dan buah kelapa itu telah digerogiti oleh tupai A. Sudirman dan tak bisa lagi mengusir dahaga. Terlalu sarat dengan kenangan manis, sebab kita tahu bahwa matahari itu adalah matahari kita; bulan itu adalah bulan kita; hutan belukar itu adalah hutan belukar kita; lembah itu adalah lembah kita; laut itu adalah laut kita; daratan itu adalah daratan kita; embun itu adalah embun kita; titian gantung itu adalah titian gantung kita; pantai itu adalah pantai kita. Bukan milik "anjing Boldok" A. Sudirman.

 

Ria bukan seorang pelatih dan pemain sirkus, yang tak canggung bercanda dan berciuman di depan layar dengan binantang, tak gugup bersapa dan mencambuk binatang. Sekarang, kau suruh Ria melayani bahasa binatang [anjing Boldok" A. Sudirman], yang seakan-akan Ria sekandang dengan "anjing Boldok" itu. Ria tak mampu memahami bahasa binatang ["anjing Boldok" A. Sudirman], yang kau bilang lulusan Gunong Alimon University. Kenapa? Kita bilang gelang, si boldok itu kira galang, kita bilang air liur, si boldok pikir air kencur, kita bilang keumah, si boldok itu pikir kèmah, kita bilang udah, si boldok itu pahami tambah. Soalnya binantang, susah! Lagi pula, "anjing Boldok" itu makan dedak, sedangkan kita makan roti dan keju, "anjing Boldok" itu tanpa alas kaki, sedangkan kita bersepatu Belli. "Anjing boldok" rabun, sementara kita berkacamata merk GUCCI. "Anjing Boldok" itu lenlanjang, sedang kita berbaju rapi.

 

Anjing Boldok kekasihmu ini keterlaluan, udah pacah masuk dapur kita, buka lemari dan laci kita, membuka aurat kita, mengadu domba kita, menfitnah kita, menggonggong seenaknya. Ajaibnya, ketika pemasok dedak [Muzakkir Hamid] bersumpah setia di Kedutaan RI di Stockholm, si "anjing Boldok" ini tak bersuara, padahal udah lama tahu. Kau pun ikut "anjing boldok" itu membisu.

 

Kutahu, cintamu pudar sudah, kasihmu fragile [rapuh] sudah. Ayat-ayat cinta yang dulu kau tulis untukku, kini kau persembahkan untuk "anjing Boldok". Tapi biarlah, kau cari kekasih walaupu "anjing Boldok" asalkan kau bahagia, tokh nanti di suatu masa, kau kan merasa, bagaimana pahit dan sakitnya karena cinta. Kuharungi bahtera luas yang ganas itu, layar sudah terkembang, aku tegap bersila dan kukayuh bidukku walau dengan pelepah pinang, tokh aku masih garang menantang gelombang dan pantang berpaling. []

 

RIA ANANDA

*Pemerhati di Kawasan Konflik

----------