Stockholm, 7 November 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

MEMAHAMI DIBALIK VISI DAN MISI PERJUANGAN DIBAWAH PIMPINAN TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

SEDIKIT MENYOROT DIBALIK VISI DAN MISI PERJUANGAN DIBAWAH PIMPINAN TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO.

 

”Tgk Ahmad yang mulia banyak sudah tulisan yang telah saya baca dalam situs ini. Ada satu hal yang sangat menganjal dalam hati saya adalah bahwa melihat tingkah bangsa kita yang ada di pengasingan sibuk dengan persaingan merebut kekuasaan padahal kekuasaan yang mereka perebutkan adalah kekuasaan semu yang tidak bisa diterapkan sepenuhnya. Mereka adalah tokoh-tokoh bangsa yang terbaik, awalnya sama-sama berjuang demi tanah air dan demi bangsa aceh yang terjajah, akhirnya hijrah ke luar negeri untuk keselamatan dan untuk mengatur strategi perjuangan. Namun sangat di sayangkan bahwa sesampai di luar mereka bercerai-berai bahkan sampai ke tahap permusuhan. Sekarang bangsa aceh sudah bisa berdamai dengan negara RI tetapi belum bisa berdamai dengan sesama bangsa sendiri bahkan lebih parah lagi ketika akan berlangsungnya pilkada.” (Radja, radja_018@yahoo.co.id ,[202.174.155.91],Fri, 3 Nov 2006 11:35:15 +0700 (ICT))

 

Terimakasih saudara Radjali di Meulaboh, Acheh.

 

Membaca apa yang menjadi ganjalan hati saudara Radjali di Meulaboh Ahmad Sudirman mengerti dan memahami. Persoalannya adalah tidak semudah seperti membalikkan tapak tangan. Bangsa dan rakyat Acheh yang ada di pengasingan bukan sibuk memperebutkan kekuasaan yang semu itu, melainkan ada yang lebih jauh, tinggi dan dalam dari hanya sekedar tentang masalah perebutan kekuasaan.

 

Memang yang kelihatan dipermukaan adalah sepertinya gumpalan-gumpalan asap yang mengandung butiran-butiran perebutan kekuasaan yang semu, tetapi jauh dibalik kedalaman gumpalan asap itu tertanam perbedaan visi dan misi perjuangan yang telah digariskan oleh Pimpinan Tertinggi Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Mereka tidak mau lagi berada dibawah payung perjuangan yang telah dbangun oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Mereka ingin menghancurkan Kabinet Pemerintahan GAM yang dibangun oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Mereka telah membangun jalan kebijaksanaan politik mereka sendiri yang tidak ada hubungan kelembagaan dan politik langsung dengan GAM dibawah Pimpinan Tertinggi Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Staf-nya. Sikap dan tindakan kebijaksanaan politik mereka telah lama dijalankan oleh mereka setelah mereka menganggap bahwa Pimpinan Tertinggi GAM mengalami serangan pendarahan di kepala suatu serangan yang biasa menimpa orang yang sudah lanjut usia dan terjadi hampir diseluruh dunia. Mereka menganggap bahwa Pimpinan Tertinggi Teungku Hasan Muhammad di Tiro sudah tidak mampu melakukan kegiatan memimpin pemerintahan. Tetapi mereka salah menduga, karena sampai detik ini Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro masih tetap memimpin perjuangan roda pemerintahan GAM, kendatipun dalam pelaksanaan roda pemerintahan sehari-hari dijalankan oleh Kabinet-nya yang dipimpin oleh Teungku Malik Mahmud dan didampingi oleh Dr. Zaini Abdullah dan semua Staf Kabinet-nya.

 

Nah disnilah akar utama yang menjadi sebab mengapa timbulnya aliran yang kelihatan mengalir ke berbagai arah yang sudah keluar dari aral asal yang telah digariskan oleh Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

 

Mereka menganggap bahwa Teungku Malik Mahmud dan didampingi oleh Dr. Zaini Abdullah dan semua Staf Kabinet-nya melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Tetapi kenyataannya sampai detik ini justru Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro masih tetap memegang komando dan memutuskan kata akhir yang akan dijalankan oleh Kabinet-nya dalam pemerintahan.

 

Jadi, tuduhan adanya perebutan kekuasaan yang dijalankan oleh Teungku Malik Mahmud dan Dr. Zaini Abdullah dari tangan Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro adalah hanya tuduhan yang tanpa fakta dan bukti hukum yang kuat. Karena fakta dan bukti hukumnya justru sampai detik sekarang Teungku Malik Mahmud dan Dr. Zaini Abdullah tetap berada dibawah kekuasaan Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

 

Sebaliknya justru mereka yang menuduh itulah yang akhirnya membentuk lembaga mereka sendiri dengan berbagai bentuk oganisasi yang secara hukum tidak ada hubungan garis komando langsung dengan GAM dibawah Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Mereka hanya mengklaim saja bahwa Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro adalah pemimpin mereka, tetapi mereka secara terang-terangan menghancurkan Kabinet Pemerintahan GAM dibawah Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

 

Selanjutnya, yang menyangkut hasil kesepakatan damai antara pihak GAM dan Pemerintah RI yang dituangkan dalam MoU yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia adalah bertujuan untuk menciptakan perdamaian yang menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua pihak. Jadi tujuan ditandatanganinya MoU Tersebut memang untuk perdamaian, bukan untuk mencari kekuasaan.

 

Hanya permasalahan yang membuat masalah menjadi rumit dan menjelimet adalah disebabkan oleh adanya pandangan dan pikiran dari mereka yang anti MoU Helsinki. Dimana dengan ditandatanganinya MoU Helsinki GAM dituduh telah menjual Acheh kepada RI, GAM telah mengkhianati perjuangan bangsa dan rakyat Acheh, GAM telah menyerahkan kedaulatan kepada RI.

 

Nah, ternyata kalau diteliti dan digali serta dianalisa lebih mendalam mengenai apa yang mereka anggapkan itu adalah tidak memiliki fakta dan bukti hukum yang kuat dan benar. Mengapa ?

 

Karena, MoU Helsinki bukan alat bagi GAM untuk menjual Acheh kepada RI, melainkan, pertama, sebagai alat untuk perdamaian di Acheh dalam usaha perjuangan GAM menuju penentuan nasib sendiri. Kedua, GAM dibawah Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Stafnya tidak mengkhianati perjuangan bangsa dan rakyat Acheh, karena dengan terwujudnya pedamaian di Acheh bisa terjalin kebersamaan rakyat dan bangsa Acheh baik di Acheh maupun di luar Acheh. Ketiga, GAM dibawah Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak menyerahkan kedaulatan kepada pihak RI, karena memang sebelum ditandatanganinya MoU Helsinki GAM tidak memiliki kedaulatan penuh atas Acheh, atau dengan kata lain GAM dibawah Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak mempunyai kekuasaan penuh atas Acheh. Jadi, tidak masuk akal baik dilihat berdasarkan fakta dan bukti ataupun berdasarkan hukum bahwa GAM dibawah Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro sebelum MoU ditandatangani telah memiliki kekuasaan atau kedaulatan penuh atas Acheh.

 

Nah sekarang, bagaimana mungkin mereka yang menganggap dan menuduh pihak GAM dibawah Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro telah menjual dan memberikan kedaulatan atas Acheh kepada pihak RI melalui penandatanganan MoU Helsinki? Sedangkan GAM dibawah Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro sebelum MoU Helsinki ditandatangani tidak memiliki kedaulatan atau kekuasaan yang penuh atas Acheh.

 

Jadi, alasan yang dilontarkan oleh pihak yang anti MoU Helsinki dan yang telah memisahkan diri dari GAM Pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro adalah alasan yang kosong tanpa ditunjang oleh fakta dan bukti hukum yang kuat.

 

Justru sebaliknya, pihak GAM dibawah Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro setelah MoU Helsinki ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 telah memiliki kedaulatan atas Acheh walaupun tidak penuh. Mengapa?

 

Karena sebelum MoU ditandatangani, pihak GAM dibawah Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro hanya memiliki kekuasaan disekitar daerah kecil di Alby, Swedia yang luasnya hanya beberapa meter saja ditambah dengan di daerah hutan-hutan yang dikuasai secara de facto oleh Tentara Negara Acheh di Acheh. Di luar itu wilayah Acheh masih diduduki dan dijajah oleh RI. Setelah tanggal 15 Agustus 2005 ketika MoU ditandatangani, maka kekuasaan atau kedaulatan GAM dibawah Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro bertambah meningkat dan meluas, dimana yang tadinya hanya di daerah hutan-hutan yang dikuasai secara de facto oleh Tentara Negara Acheh di Acheh, tetapi sekarang secara terbuka sudah berada secara de-facto sampai di ibu kota Acheh yaitu Banda Acheh. GAM telah diakui sebagai satu lembaga politik resmi yang menentukan jalannya roda Pemerintahan di Acheh. Dengan kata lain GAM dibawah Pimpinan Tertinggi Teungku Hasan Muhammad di Tiro menjadi faktor penentu apakah di Acheh akan ada perdamaian  atau akan kembali masuk kedalam kancah konflik bersenjata.

 

Seterusnya, ternyata setelah MoU Helsinki dilaksanakan dan diterapkan serta dimonitor oleh AMM di Acheh, oleh sebagian anggota GAM dijadikan sebagai alat untuk meraih kursi kekuasaan dan sekaligus melakukan penentangan dan pembangkangan terhadap Pimpinan Tinggi GAM secara terang-terangan, misalnya seperti yang dilakukan oleh saudara Irwandi Yusuf, saudara Sofyan Dawood, saudara  Munawarliza Zein dan saudara Bakhtiar Abdullah.

 

Nah akibat dengan timbulnya sikap dan tindakan politik penentangan dan pembangkangan yang dijalankan oleh pihak saudara Irwandi Yusuf, saudara Sofyan Dawood, saudara  Munawarliza Zein dan saudara Bakhtiar Abdullah terhadap Pimpinan Tinggi GAM inilah yang menggoncangkan tubuh GAM. Mereka orang-orang yang melakukan pembangkangan terhadap Pimpinan Tinggi GAM ini adalah hanya berpegang pada tali yang rapuh yang mereka sebut dengan tali ”taktik demokrasi buttom-up”. Mereka tidak mengerti dan tidak memahami bagaimana menerapkan dan menjalankan  ”taktik demokrasi buttom-up” dalam tubuh GAM dibawah Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

 

Terakhir, Kita sedikit-nya telah mengupas apa yang menjadi masalah sebelum dan sesudah MoU Helsinki ditandatangani hubungannya dengan apa yang terjadi dalam tubuh GAM dan mereka yang melakukan tindakan kebijaksanaan politik yang menentang dan membangkang pada Pimpinan Tinggi GAM dan Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Jadi, dengan adanya kupasan yang singkat ini akan memberikan kejelasan dan gambaran bagi mereka yang masih melihat pada apa yang terjadi diatas permukaan saja. Sehingga dengan adanya kupasan yang serba singkat ini kita akan menjadi lebih mengerti dan lebih memahami bahwa apa yang terjadi di Acheh khususnya dalam GAM bukan hanya sekedar yang kelihatan dipermukaan seperti perebutan kekuasaan, melainkan juga apa yang terjadi dibalik kedalaman visi dan misi perjuangan yang telah digariskan oleh Pimpinan Tertinggi Teungku Hasan Muhamma di Tiro.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Received: from [202.174.155.91] by web55901.mail.re3.yahoo.com via HTTP; Tue, 07 Nov 2006 11:34:01 ICT

Date: Tue, 7 Nov 2006 11:34:01 +0700 (ICT)

From: Radja li radja_018@yahoo.co.id

Subject: BERSATULAH WAHAI BANGSAKU

To: ahmad@dataphone.se

 

Assalamualaikum Wr Wb.

 

Tgk Ahmad yang mulia banyak sudah tulisan yang telah saya baca dalam situs ini. Ada satu hal yang sangat menganjal dalam hati saya adalah bahwa melihat tingkah bangsa kita yang ada di pengasingan sibuk dengan persaingan merebut kekuasaan padahal kekuasaan yang mereka perebutkan adalah kekuasaan semu yang tidak bisa diterapkan sepenuhnya. Mereka adalah tokoh-tokoh bangsa yang terbaik, awalnya sama-sama berjuang demi tanah air dan demi bangsa aceh yang terjajah, akhirnya hijrah ke luar negeri untuk keselamatan dan untuk mengatur strategi perjuangan. Namun sangat di sayangkan bahwa sesampai di luar mereka bercerai-berai bahkan sampai ke tahap permusuhan.

 

Sekarang bangsa aceh sudah bisa berdamai dengan negara RI tetapi belum bisa berdamai dengan sesama bangsa sendiri bahkan lebih parah lagi ketika akan berlangsungnya pilkada.

 

Semboyan "taduek tadong sapue pakat sang seuneusab meuadoe a" telah hilang dihadapan orang-orang yang haus kekuasaan. Saya hanya bisa memohon kepada Allah SWT, Ya Allah jadikanlah Aceh negeri yang aman seperti engkau berikan kepada Mekah dan Madinah dan satukanlah bangsa kami yang ada di pengasingan dan dalam negeri untuk melanjutkan perjuangan suci membebaskan negeri dari tangan si pa-i.

 

Hanya Allah tempat saya minta tolong dan minta petunjuk.

Assalamualiakum.

 

Radjali di Meulaboh – Atjeh

----------