Stavanger, 27 November 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


SALAKNYA SEPERTI GONGGONGAN ANJING-ANJING MP GAM / MB GAM HÅLLEFORS, FITYA, NORSBORG, SWEDIA!.

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.

 

 

SEKILAS MENYOROT SALAKNYA SEPERTI GONGGONGAN ANJING-ANJING MP GAM / MB GAM HÅLLEFORS, FITYA, NORSBORG, SWEDIA!

 

Tertulis dalam sejarah bahwa:

 

Pemerintah Kerajaan (Negara) Achèh telah melantik salah seorang hulubalangnya: Teuku Radén sebagai Penasihat Militer kepada Raja Batak, Sisingamangaraja.

 

Hubungan mesra antara Raja Batak, Sisingamangaraja dengan Penasihat Militer-nya Teuku Radén, menjadi semakin mengukuhkan lagi keeratan silaturahmi yang meluas antara bangsa Batak dan bangsa Achèh.

 

Maka ketika itu banyak orang-orang Batak diterima bekerja sebagai Tenaga Kerja Batak dan Nias (TKB/W-N), dirumah-rumah bangsa Achèh.  Diantaranya dalam keluarga nenek kami Orang Kaya Mesir (OK Mesir) dan kemudian telah mengambil seorang anak Batak-Nias wanita dari TKB/W-N sebagai ahli keluarga angkat kami, yang kemudaian dianugrahkan pula dengan nama: Téh Hayat (Maktjik Hayat).

 

Keakraban hubungan itu semakin terserlah lagi, apabila Raja Batak, Sisingamangaraja berhasrat pula hendak menyunting adik perempuan dari Teuku Radén sebagai calon istrinya, yang dilihat sebagai ikatan klassik hubungan kenegaraan dan kebangsaan.

 

Dari cuplikan sejarah inilah, maka dapat dipercayai bahwa, Raja Batak, Sisingamangaraja kiranya telah sempat memeluki agama Islam.  Itulah sebabnya pertikaian atas pengebumian Raja Batak, Sisingamangaraja yang dikatakan telah dilakukan secara adat Kristen, yang kuburannya ditanamkan Palang Salib setinggi pokok, sebagai yang dapat kita lihat kalau  melewati jalan menuju arah Tarutung disebelah kiri jika kita datang dari arah Medan belum selesai lagi hingga ke hari ini.

 

Sedangkan umum mengetahui dari sejarahnya bahwa, di Tanah Batak, hanya Tengku Radénlah yang selalu berdekatan dan berdampingan dengan Raja Batak, Sisingamangaraja, sedangkan ketika itu, Kristen-pun diketahui belum lagi bisa menembusi pagar agama bangsa batak, yang dipercayai masih kukuh sebagai penganut Animisme.

 

Makanya para ahli sejarah Islam, sedang mempersoalkan penipuan sejarah itu dan telah lama menuntut agar pembetulan sejarah Raja Batak, Sisingamangaraja yang dipercayai telah memeluk segara dibuat.

 

(II). Pada bulan Agustus 1942, Panglima Agung Teuku Ibrahim dan ajudannya anak Batak: Purba bersama-sama TNA, Tentara Negara Achèh, telah merampas seluruh persenjataan Tentara Jepang yang akan kembali dan meyerahkan diri kepada sekutu, distasion Kereta Api, Lho' Seumawè.  Rampasan senjata itu tercatat sebagai rampasan persenjataan Tentara Jepang yang terbesar di Asia Tenggara.

 

Panglima Agung Teuku Ibrahim dan Ajudannya anak Batak: Purba berserta seluruh anggota TNA, Tentara Negara Achèh, yang tidak pernah mengenali apakah Indonesia Jawa itu, telah bersumpah hendak memperjuangkan kedaulatan Negara Achèh kembali kestatus-nya, sebagaimana struktur negara Achèh itu sebelum kedatangan penjajahan Belanda.

 

Maka tertulislah dalam sejarah bangsa Achèh bahwa, bangsa Achèh sesungguhnya tidak pernah mau menerima apa itu yang disebut Indonesia yang dikatakan sebagai bangsa dan sebagai negara dan sebagai pemerintahannya, sejak Agustus 1945, sejak sebelum proklamasi 17 Agustus, 1945  (indonesia) Jawa itu.

 

Komitment Agung dari Panglima Agung Teuku Ibrahim dan Ajudannya anak Batak: Purba beserta seluruh anggota TNA, Tentara Negara Achèh lebur, setelah kesemua mereka disembelih oleh Tengku Daud di Beureu-éh lewat tangan kotornya: Hussen al Mujahad yang dibantu oleh anak-anak Jawa mantan tentara upahan KNIL Belanda yang keluar dari kebun-kebun karet dan kelapa sawit atau hutan pinus, yang dilakukan dengan penuh tipu daya, didalam gedung bioskop yang berkunci dari luar di Kota Idi.

 

Begitu juga kalau kita membaca buku sejarah Kodam I/Iskandar Muda, disana akan ditemui bahwa, ketua pasukan Pôtjut Barén pertama, setelah 1945 adalah wanita Batak (saya terlupa namanya).

 

(III). Bangsa Batak adalah bangsa yang tertua di Pulau Sumatra, yang telah pernah mendiami lembah subur dipersekitaran D.Toba sekarang, sebelum terpencar kemana-mana akibata malapetaka alam.

 

D.Toba, di Sumatra yang dipercayai sebagai bekas kawah gunung berapi itu, mungkin tidaklah ada hubungannya dengan M.Toba di Michigan, Amerika Serikat.

 

Sekalipun bangsa Batak, sebagai bangsa yang tertua di Sumatra, tetapi dalam sejarah Internasional-nya, semuanya yang berdiam di Pulau Sumatra disuatu ketika dulu, hanya dikenal sebagai bangsa Achèh. Ini, selain dikarenakan semua transaksi-transaksi aktiviti perdagangan rempah internasional seluruhnya dikontrol oleh Kerajaan (Negara), juga dilindungi (pretektorat).  

 

Jadi bangsa Batak itu, mengikut sejarah lalunya pernah juga dipayungi oleh nasionalisme Achèh. Makanya patut diakuki permaklumam bangsa Batak sebagai bangsa Achèh juga.

 

Itulah sebabnya dalam "Deklarasi Kuala Lumpur 1995", GAM telah lebih kuat menekankan kepada Gerakan Batak (+ Madailing) Merdeka (GB/MM), berbanding dengan Gerakan Minang Merdeka (GMM), Gerakan Riau Merdeka (GRM), Gerakan Jambi Merdeka (GJM), Gerakan Palembang Merdeka (GPM), Gerakan Bengkulu Merdeka (GBM) dan Grakan Lampung Merdeka (GLM), agar lebih aktip dan lebih progresip.

 

Achèh yang telah dikenal dunia cq dunia Eropah pernah mengontrol seluruh aktiviti transaksi-transaksi perdagangan rempahnya dalam Wilayah Status Quo Anté Bellum-nya: Pulau Sumatra, Semenanjung Malaya, Sebahagian Kalimantan Barat dan Jawa Barat.

 

Kembali membicarakan mengenai bangsa Bangsa Batak, yang telah dikenal mengikut demografi-nya: Sebagai Batak Utara, Batak Samosir/Batak Toba (?) Batak Simalungun, Batak Dairi, Batak Karo dan Batak Selatan Dll.  Batak Selatan yang umumnya Islam, lebih senang mengenalkan dirinya sebagai Batak Mandailing.

 

Jadi tidaklah pernah ada Batak Islam atau Batak Mandailing akan malu kalau disebutkan juga sebagai orang Batak, sebagaimana kita menyebutkan orang Pidië atau orang Perlak misalnya, tidak seperti sangkaan kumpulan orang-orang "pengejek dajal", sebagai orang-orang yang tidak tahu asal-muasal sebenarnya bahwa Batak itu, sebagai nama sebuah komunity dari keseluruhan bangsa Batak itu sendiri. 

 

Batak Karo Tiga Lingga (Lingë), itu sejarahnya berasal dari Komunity Achéh Tengah yang berpindah dan kemudian terus menetap disana.  As-Syahid Tengku Ilyas Leubée, Menteri Kehakiman Negara Achèh Sumatra, telah dilantik kembali sebagai Raja Batak (Kehormatan) Karo Tiga Lingga, oleh Komunity Batak Karo Tiga Lingga................................................................................................................!

 

Dari sekelumit sejarah diatas nampaknya saudara saya di Swedia: Tengku Ahmad Hakim Sudirman sebagai beruntung juga mendapatkan jodoh yang Allah SWT telah tentukan dengan seorang putri Batak, Putri dari bangsa yang tertua di Pulau Sumatra, karena putri-putri Batak yang suatu ketika dulu, mengikut perjalanan sejarah Achèh dan tanah Batak, pernah juga disebut sebagai putri-putri Achèh juga!

 

Atau mungkin juga mengikut tuahnya nama beliau: Tengku Ahmad Hakim Sudirman.

 

(1). Ahmad sebagaimana kita ketahui, sebagai pengambilan nama, dari nama Nabi Besar Muhammad SAW dalam Al-Qurän: Ahmad.  (2). Hakim, suatu symbol gelaran yang biasanya diberikan kepada orang yang bijaksana tentang peradilan dan yang mengetahui dan mengerti tentang Hukum-Hakam.  (3). Sudirman atau Sudarman nama yang diambil dari bahasa Sanksekerta.  Su= berarti baik. Dirman atau Darman merupakan hasil bentukan dari Darma + Man (akhiran Man, yang fungsi akhiran itu, seperti fungsi akhiran Wan, yang menunjukkan maksud seperti kata asal yang disisipinya) dan kemudian berasimilasi menjadi Darman.  Jadi Sudi(a)rman, dimaksudkan untuk menunjukkan akan pribadi seorang, sebagai seseorang pengabdi yang baik (terhadap Negara Achèh)! 

 

Sudi(a)rman adalah sebuah nama akhir dan sekaligus sebagai sebuah nama gelaran yang telah diberikan oleh oleh kedua orang tua beliau, dengan menghidupkan sebuah hikmah didalam nama itu sendiri, yang berasal India dari salah sebuah negara pusat tamandun budaya dunia  

 

Sultan Iskkandar Muda, yang nenek perempuannya berketurunan Bugis, yang diperistrikan oleh nenek lelakinya ketika beliau menjawat sebagai Gubernur Negara Achèh di Kota Tinggi, Johor, Malaysia, juga diberi gelaran dengan gelaran sansekerta: Darma Wangsa, ( Darmawangsa) Pengabdi Bangsa, selain sebuah gelaran lain: Meukuta Alam, yang artinya Mahkota Alam atau Iskandar Muda Yang Agung.

 

Dan Tengku adalah sebuah gelaran kehormatan yang diberikan oleh saudaranya Omar Putèh.  Mengapakah ada orang mempertikaikannya?

 

Omar Putéh-pun pernah memberikan gelaran kehormatan kepada, Advokat Negara Achèh: Tengku Yusuf Rahmat, yang telah membai'at ribuan bangsa Achèh (termasuk ribuan juga yang mintak diibai'at-kan diri-diri mereka) pengabdi terhadap bangsa Achèh sebelumnya, di Malaysia, yang ketika itu beliau dibantu oleh tiga anggota Komite Pelindung Pelarian Perang Achèh di Malaysia (KPPPADM): As-Syahid Tengku Ishak Daud, Tengku Yusra Abdul Gani, Tengku Razali Abdullah Paya. Tetapi mengapakah orang tidak mempertikaikannya?

 

Menteri Kesehatan dan juga sebagai Menteri Luar Negeri: Tengku Dr Zaini Abdullah, pernah memberikan gelaran kehormatan "Tengku" kepada Bayi Tabung: Otto Syamsuddin Ishak, atas jasanya karena hanya sudi datang berjumpa beliau di Geneva. 

 

Tetapi kemudian Majelis MP GAM / MB GAM, mempertikaikannya, dan sebahagian mereka mengatakan bahwa, Otto  Syamsuddin Ishak itu keturunan Jawa (?) dsb-nya.  Tetapi sebaliknya pula, kemudian Majelis MP GAM / MB GAM dengan rajin dan tulus ikhlas mempublikasikan setiap tulisan Otto Syamsuddin Ishak yang keturunan Jawa (?) dan yang sebagainya itu.

 

Label gelaran "Bayi Tabung", diberikan oleh Tengku Yusra Habib Abdul Gani itu, telah pula dipertikaikan banyak orang-orang di Achèh dan tak lama juga menular ke Skandinavia.

 

Anehnya, hanya Omar Putéh sendirian saja yang sempat mengatakan bahwa: Apa yang dikatakan oleh Tengku Yusra Abdul Gani ada benarnya, malahan sebagai sesuatu yang persis dan tepat, kepada seseorang yang memintakan jasa baiknya, agar menasihatkan Tengku Yusra Habib Abdul Gani, supaya jangan melakukan hal serupa itu, menjadi berulang lagi dimasa akan datang.

 

Tetapi, kemudiannya dari banyaknya orang-orang di Achèh yang pernah mempertikaikan pemberian gelar "Bayi Tabung" oleh Tengku Yusra Habib Abdul Gani itu, malahan sekarang lebih banyak lagi dan bertambah-tambah mempertikaikannya.

 

Sekalipun kita sanggup melupakan suatu hal itu, tetapi  kenyataanya Ria Ananda, mau pula merangkulnya...........................................!

 

Saya telah mengatakan dalam sebuah tulisan kepada mantan Duta Besar Penjajah Indonesia Jawa ke Mesir, yang kalau tidak salah berjudul: ...................Nasionalisme Acheh dan Nasionalisme Pan Dayak Borneo, ketika merespon tulisan Ibrahim Isa Betawi di Biljemer, Belanda, selepas menyimplak tulisannya Aguswandi karena coba menyamakan Achèh dengan Palestina dan bahwa .............Aguswandi dan Otto Syamsuddin Ishak itu, bukan GAM atau bukan Nasionalis Achèh.  Saya katakan lagi bahwa: GAM itu adalah bajunya Nasionalis Achèh!  

 

Nah apa yang dikatakan si "Bayi Tabung": Otto Syamsuddin Ishak terhadap GAM, terhadap Nasionalis-Nasionalis Achèh baru-baru ini yang telah mengundang kemarahan "sipengabdi yang baik terhadap bangsa Achèh": Tengku Ahmad Hakim Sudirman! 

 

............................................................................................

 

Nah, sekarang marilah pula kita "bersejarah" lain pula bahwa:

 

Kononnya, sebuah "sejarah" telah memaparkan bahwa, yang masih tidak beruntung menyunting putri Batak adalah Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh dari Keudè Geurubak Idi @ indonseia teroris @ jawakampret @ batalion12 @ rasyidabbas @ razalipayagayo60@yahoo.com @ mokarilinge(?)! 

 

Sekarang ambo coba nak ghoyak!

 

Ambo tak nak ghoyak ketika Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh masa di Malaysia. Tetapi ambo akan buak "ghoyak bersejarah" sedikit sebaik dia tiba di Stavanger, Norwegia!

 

.............................................setelah gagal menghoyak putri Achèh, yang sedang bermukim di Malaysia itu, maka gelaplah hari, dan kelamlah malam. 

 

Lantas sesaat kemudian, 'lheueh sibak rukok" , terbetik sebuah berita bahwa, "disana" ada seorang putri Batak bermukim.

 

Maka tampa berlengah-lengah lagi, Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh-pun, berusaha lari dari malam.  Dia bagaikan tidak perlu lagi rembulan dan tidak perlu lagi semua taburan bintang-bintang dan terus nongkrong diufuk timur dibatas kaki fajar.

 

Dia terus menanti, agar fajar itu pergi dan maukan hari segera menjadi siang, karena dia maukan putri Batak itu, segera datang sekalian dengan bayang-nya! 

 

Tetapi kemudian, kiranya siangnya itupun tercekik lari, tertelan semua bayang-bayang dan tersungkur dikunangan malam!

 

Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh @ indonesiateroris @ jawakampret @ batalion12 @ rasyidabbas @ "RazaliPayaGayoOmarPuteh" razalipayagayo60@yahoo.com @ mokarilinge (?), jatuh bangkrap.................................!?!

 

Kalau diamat-amati Yahya abin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh itu tidak pernah mengenal lagi siang atau malam.  Janganlah dulu bercerita masalah perjuangan. 

 

Yang dikenalnya hanya gagang telepon siang malam: Sebelah atas arah kelobang telinga dan sebelah bawah menempel kebibir mulutnya dan bergayutlah! Kalau tiba-tiba isi pulsa habis, maka bayangkanlah sendiri...................................! 

 

Itulah kerjanya sebaik saja dia tiba di Stavanger dari Kulala Lumpur dengan genggaman uang "apa Maun" ditangan, pemberian Stavanger Kommune, yang dipikirkan bukan untuk balas jasa pada perjuangan atau mengisi dana perjuangan, membantu rakan-sjèedara di medan juang, tetapi hanya ........................................ooooooh adikku sayang!

 

Begitulah juga ketika dia lari dari rembulan-nya dan dari kegemerlapan bintang-bintangnya, mengejar putri Batak "disana".

 

Habis uang "apa Maun", pemberian Stavanger Kommune, dia mencari dan mengumpulkan pendapatan ekstra sebagai upaya pembeli kad telefon (tidaklah perlu saya menyebutkannya "seluruh pengorbanannya untuk melihat putri Batak dan bayangnya datang waktu siang hari di Stavanger", karenna seluruh anak Achèh di Stavanger sudah tahu semua itu.  Cuma saya haraplah kepada Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh tinggalkanlah organisasi "kebajikan" kau itu. Agar kau tidak bernasib seperti nasibnya Zainal Affifuddin, ex- Juru Penerangan MP GAM/MB GAM yang ketika matinya dipersemayadian kebawah hariban gereja?)

 

Atau sebagaimana yang telah ditebak tepat dan ditembak dengan ilmu makrifat(?): Dia menyelongkar tong sampah di dekat kedai kebab Stavanger, demikian tebakan itu lagi....... ............................!

 

Tengku Ahmad Hakim Sudirman, kedai kebab di Stavanger tidak sama dengan kedai kebab di Swedia.  Kedai kebab di Stavanger hanya ada satu-dua saja. Lagipun agak mahal atau tidak semurah disana.  Atau dapat dikatakan tebakan kedai kebab Stavanger saja meleset? 

 

Juga tidak pasti, tebakan atau tembakan yang Rasyidah Abbas itu sebagai janda.  Karena semua orang Achèh di Stavangerpun, tidak pernah mempersoalkan hal pribadi Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh atau mengenai "janda"-nya atau "gadis" -nya istri Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh itu.Walaupun saya sedari, yang sesungguhnya Tengku Ahmad Hakim Sudirman hanya mengembalikan kata-kta Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh sendiri.

 

Nah, dari tebakan dan tembakan Tengku Ahmad Hakim Sudirman yang demikian itu diapun meraungkan salaknya dan menggonggongkan suara nya seperti suara anjing Mustafa Abubakar Gubernur (bocor) Aceh @ Fadli Hasan @ Abu Meulaboh, si anjing Bulldok Ria Ananda itu, kearah saya, kearah Omar Putéh!

 

Selain itu saya belum mau mengagak-agak atau menebak apalagi menembak:  Mengapakah nama A bin A terdapat dalam tulisan Tengku Ahmad Hakim Sudirman itu?  

 

Karena gambar yang dilekatkan dalam internet oleh Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh, yang pernah disnapshot dengan trick aneh (intink saya memang seperti berkata lain: "Suatu pengambilan gambar dengan maksud dan tujuan jahat", sebaik saja gambar itu terlihat diinternet) pada 1 Mei, 2006 ditaman burung, di Stavanger dan kemudian dikirim ke Raja Post, Bireuen, yang kalau tidak salah ada dikomentari dengan memakai nama A bin A itu juga!   Pada suatu ketika yang lalu, diketahui A bin A pernah akrab dengan Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh.

 

Nampaknya saya kena bertanya pula apakah email mokarilinge@yahoo.com nya diilhami oleh A bin A ataupun email itu kepunyaan A bin A sendiri.  Insya Allah saya akan tebak dan tembak! 

 

Karena sebuah sms dalam bahasa Gayo pernah terkirim dan nomor telefonnya hinggap ditelepon saya, yang sipengirimnya bertanda: arilinge! 

 

Sepatutnya Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh tidak melakukan sesuatu yang biadab dan kurang ajar kepada saya.

 

Pertama sekali saya memprotes Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh ketika dia memforwadkan tulisan MP GAM/MB GAM dan malahan membesarkan tulisan serta mewarnakannya, yang disana jelas sekali dia bermaksud hendak memfitnah saya, karena dia akan duga, yang saya tetap bersetia penuh kepada Pemimpin perjuangan kemerdekaan bangsa Achèh: Tengku Malik Mahmud dan Tengku Dr Zaini Abdullah MD.  (Saya akan utarakan pendapat saya, tentang ini, dalam beberapa waktu hari lagi, Insya Allah!)

 

Saya ambil respon dengan mengeksposkan bahwa: Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh itu adalah siapa yang ber-emailkan: indonesia teroris!

 

Mengapakah demikian?  Supaya orang menyedari sebagai yang telah coba disindirkan oleh Abusisia, saudara saya dari Perancis itu.

 

Katakanlah, seandainya Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh sedang berhadap-hadap muka dengan kita, maka mungkin dia akan mengulumkan senyumnya, atau coba menyengetkan tawanya, atau coba bercengkrama, tetapi kalau Yahya bin Puteh @ (tengku) Yahya bin (tengku) Puteh menatap kemuka PC-nya, maka dia akan melakukan bentuk kerja dari dalam kuruk rupa hatinya kepada kita. 

 

Saya juga sempat memperhatikan dua tulisannya terhadap keluarga kami, tetapi saya bersikap diam saja.  Dia tahu dan pasti ingat akan kedua tulisan itu yang telah dibuatnya. 

 

Dia juga buat email: "RazaliPayaGayoOmarPuteh" razalipayagayo60@yahoo.com, saya juga diamkan, dikarena dia tetangga saya dan saya cukup mengenalnya.

 

Mengapakah dia tidak marah kepada Mustafa Abubakar Gubernur (bocor) Aceh @ fadli Hasan @ Abu Meulaboh, si anjing Bulldok Ria Ananda itu?

 

Abangnya Abdullah Puteh dari Keudèë Geurubak Idi, Idi Rayeuk yang berisitrikan "Tulusiah" anak Jawa (Jawa Kampret?) Paya Bujok-Langsa, orang yang paling patut menjabati jabatan Gubernur Aceh menggantikan Abdullah Puteh dari Idi Keudèë, Idi Rayeuk suaminya Lynda Margono itu, dan bukan Mustafa Abubakar Gubernur (bocor) itu, anjing Bulldoknya Ria Ananda.

 

Nah, Yahya Puteh, adakah patut kau juga sekalian memperkatkan kepada istri abang kandung yang tertua kau, yang beistrikan si "Tulusiah"anak Jawa, Paya Bujok-Langsa  sebagai anak jawa kampret?

 

(Bersambung: Plus I + SALAKNYA SEPERTI GONGGONGAN ANJING-ANJING MP GAM / MB GAM DARI HÅLLEFORS, FITYA, NORSBORG, SWEDIA!)

 

Omar Puteh,

om_puteh@yahoo.com

 

Norway

----------