Stockholm, 27 November 2006

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

TIGA BULAN KEMUDIAN BAKHTIAR ABDULLAH & SOFYAN DAWOOD CS MENCUCI TANGAN.

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

AKHIRNYA TIGA BULAN KEMUDIAN BAKHTIAR ABDULLAH & SOFYAN DAWOOD CS MENCUCI TANGAN.

 

“Dengan hati yang ikhlas dan pikiran yang tenang, saya menyatakan bahwa saya secara pribadi, mendukung sepenuhnya Teungku Irwandi Yusuf dan Teungku Muhammad Nazar sebagai pasangan yang akan bertanding dalam Pilkapa nanti melalui jalur independen” (Bakhtiar Abdullah, Minggu, 27 Agustus 2006, 20:18 WIB ,

http://www.acehkita.com/index.php?dir=news&file=detail&id=1183 )

 

“Kita tetap komit untuk netral” (Sofyan Dawood , Senin, 27 Nopember 2006, 14:23 WIB,

http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=1384 )

 

Dengan bergegas dan diam-diam saudara Bakhtiar Abdullah terbang dari Stockholm menuju Banda Acheh kemaren, Minggu 26 November 2006. Ternyata hari ini Senin, 27 November 2006 berada bersama-sama kelompok yang tiga bulan yang lalu, tepatnya 27 Agustus 2006 menyatakan dukungan penuh kepada Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar dibawah komando Sofyan Dawood dengan memakai kereta roda KPA, akhirnya mencabut secara resmi dukungan tersebut melalui tangan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat Muzakkir Manaf dalam konferensi pers di Banda Aceh, Senin 27 November 2006.

 

Inilah operasi cuci tangan dari kelompok yang melakukan tindakan penentangan dan pembangkangan terhadap GAM dibawah Pimpinan Tertinggi Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Staf-nya tiga bulan yang lalu.

 

Jelas, disini kelihatan saudara Sofyan Dawood dan saudara Bakhtiar Abdullah cs melakukan pencucian tangan ini, dikarenakan mereka tidak memiliki kekuatan politik dan hukum lagi di Acheh. Kelompok Sofyan Dawood dan Bakhtiar Abdullah cs telah lemah dan tidak memiliki akar yang kuat di Acheh. GAM dibawah Pimpinan Tertinggi Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Staf-nya tetap berdiri kokoh di Acheh.

 

Tanpa izin dan dukungan penuh Pimpinan Tertingi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Staf-nya terhadap kelompok Sofyan Dawood dan saudara Bakhtiar Abdullah cs di Acheh, maka kekuatan politik, hukum dan ekonomi mereka lemah.

 

Nah, setelah tiga bulan kelompok Sofyan Dawood dan saudara Bakhtiar Abdullah cs bersama Irwandi Yusuf bergerak di Acheh, tetapi akhirnya mereka telah mengalami kesulitan dalam bergerak, karena sumber ekonomi yang tadinya dipegang mereka telah ditutup rapat kembali, yang menyebabkan mereka tidak tahu mau lari kemana. Tentu saja, tidak ada jalan lain selain menyatakan secara terbuka bahwa kelompok Sofyan Dawood dan saudara Bakhtiar Abdullah cs menraik kembali dukungan mereka kepada Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar. Sedangkan Pimpinan Tinggi GAM tetap dalam keputusan politiknya.

 

Terakhir, inilah perjalanan akhir dari kelompok Sofyan Dawood dan saudara Bakhtiar Abdullah cs yang telah membangkang dan melakukan penentangan terhadap Pimpinan Tinggi GAM dengan memakai kendaraan politik KPA tanpa mendapat persetujuan dan dukungan penuh dari Pimpinan Tinggi GAM tiga bulan yang lalu.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

http://www.acehkita.com/index.php?dir=news&file=detail&id=1183

 

Minggu, 27 Agustus 2006, 20:18 WIB

PILKADA

Pasangan Irwandi-Nazar Dideklarasikan

Reporter : Radzie

 

Banda Aceh, acehkita.com. Pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar yang akan maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sebagai calon gubernur dan wakil gubernur, dideklarasikan di Kantor Komite Peralihan Aceh (KPA), Ahad (27/8) siang.

 

Sejumlah tokoh dan petinggi GAM yang ada di Aceh dan luar negeri, serta ratusan anggota dan simpatisan terlihat menghadiri acara tersebut. Uniknya, Sayed Fuad Zakaria (calon wakil gubernur dari Partai Golkar) dan Tamlicha Ali (calon gubernur yang diusung Partai Bintang Reformasi) juga terlihat menghadiri pendeklarasian pasangan Irwandi-Nazar.

 

Namun di antara undangan, tidak terlihat bekas Panglima GAM Muzakkir Manaf, Teungku Muhammad Usman Lampoh Awe (bekas perunding di masa CoHA dan Majelis GAM), Ilyas Abed (Koordinator Bidang Ekonomi Majelis GAM), dan Zakaria Saman (Menteri Pertahanan GAM). Ketiga tokoh disebutkan terakhir ini menggalang dukungan untuk pasangan A Humam Hamid dan Hasbi Abdullah dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

 

Juru Bicara KPA Sofyan Dawood membacakan naskah deklarasi pasangan yang diberinama Perjuangan dan Perdamaian. “Setelah melihat dan mendengar aspirasi rakyat dan dorongan dari berbagai pihak yang setuju dengan agenda perubahan dan perdamaian, mayoritas rakyat menghendaki personel GAM dan Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) untuk dapat maju dalam pemilihan umum mendatang,” kata Sofyan Dawood membacakan naskah yang ditandatangani oleh 33 anggota Majelis GAM, panglima wilayah, serta juru bicara GAM se-Aceh.

 

Deklarasi pasangan Irwandi dan Nazar diiringi dengan shalawat Badar dan nyanyian Hikayat Prang Sabi.

 

Usai membacakan naskah deklrasi itu, Irwandi dan Nazar diminta untuk menyampaikan pidato politik dan konsep dalam memimpin Aceh di masa yang akan datang.

 

Dalam pidato politiknya, Irwandi mengaku enggan dan tidak punya niat untuk maju dalam Pilkada yang akan digelar pada 11 Desember nanti. Tapi sejumlah kalangan, termasuk ulama, terus mendesak supaya dia mencalonkan diri sebagai calon kepala pemerintahan Aceh.

 

Irwandi menyebutkan, Aceh di masa mendatang membutuhkan pemimpin yang mempunyai inspirasi dan instuisi yang tinggi, untuk melakukan perubahan. “Perlu pemimpin yang mengetahui apa yang dimaui oleh rakyat,” kata dia dalam pidato tanpa teks itu.

 

Dia juga menyorot masalah kualitas pendidikan di Aceh. Menurutnya, anak-anak Aceh di masa yang akan datang harus bisa menikmati fasilitas pendidikan yang baik, murah dan bahkan gratis.

 

“Anak-anak Aceh, baik miskin atau kaya, harus memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan. Semua harus sekolah. Dan pendidikan di Aceh harus mempunyai kualitas yang bagus, jangan seperti sekarang dengan ranking lima dari bawah,” kata pria yang sempat divonis sembilan tahun penjara karena keterlibatannya dalam GAM.

 

Karena itu, dia mengharapkan, siapapun nanti yang menjadi gubernur Aceh, pendidikan dan kesejahteraan rakyat harus dinomorsatukan.

 

Selain menyorot masalah pendidikan, pria kelahiran Bireuen ini juga menyorot masalah perekonomian, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), pelestarian lingkungan hidup, dan illegal logging. “Inflasi di Aceh tertinggi di Indonesia. Uang banyak mengalir ke Aceh, tapi hanya dinikmati segelintir orang saja,” ketusnya.

 

Dukungan

Pasangan Irwandi-Nazar mendapat dukungan dari mayoritas petinggi GAM. Hal ini dilihat dari jumlah petinggi wilayah GAM yang membubuhkan tandatangan di naskah deklarasi yang dibacakan Sofyan Dawood tersebut. Bahkan, Juru Bicara GAM di Swedia Bakhtiar Abdullah, mengirimkan secarik kertas dukungannya, yang dibacakan Amni bin Ahmad Marzuki.

 

Dalam surat itu Bakhtiar menyebutkan, dirinya mendukung pasangan Irwandi-Nazar untuk maju dalam Pilkada nanti. “Dengan hati yang ikhlas dan pikiran yang tenang, saya menyatakan bahwa saya secara pribadi, mendukung sepenuhnya Teungku Irwandi Yusuf dan Teungku Muhammad Nazar sebagai pasangan yang akan bertanding dalam Pilkapa nanti melalui jalur independen,” kata Bakhtiar Abdullah.

 

Bakhtiar menyebutkan, kendati pasangan Irwandi-Nazar maju dalam Pilkada nanti, bukan berarti GAM telah mengubah keputusan untuk tidak mencalonkan kadernya secara organisasi dalam Pilkada. Dalam rapat di Hotel Rajawali pada 29 Mei lalu, GAM menyatakan tidak akan ikut Pilkada, tapi mempersilakan anggotanya untuk maju melalui jalur independen. “Keputusan dulu tidak berubah sampai hari ini,” kata dia.

 

Dukungan juga diperoleh dari sejumlah ulama, akademisi, dan tokoh perempuan. Teungku Muhammad Wali Al Khalili atau Abon Tanoh Mirah menyebutkan, dia dan sejumlah ulama dan teungku dayah memberikan dukungan terhadap pasangan ini. Hal yang sama dikemukakan Farid Wajdi, dosen IAIN Ar-Raniry, dan Maryati B dari kalangan perempuan. [dzie]

.--------------------

 

http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=1384

Senin, 27 Nopember 2006, 14:23 WIB

PILKADA

Muzakkir Manaf:

KPA tak Mendukung Salah Satu Calon

Reporter : Radzie

 

Banda Aceh, acehkita.com. Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat mempertegas sikap menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Mereka tidak akan memberikan dukungan terhadap calon manapun dan bersikap netral dalam pemilihan mendatang.

 

KPA juga menegaskan menarik dukungan terhadap kandidat Ahmad Humam Hamid-Hasbi Abdullah, yang diusung Partai Persatuan Pembangunan (PPP). “KPA menarik dukungan dari pasangan Humam dan Hasbi,” kata Ketua KPA Pusat Muzakkir Manaf dalam konferensi pers di Banda Aceh, Senin (27/11).

 

Konferensi pers dihadiri Juru Bicara GAM Swedia Bachtiar Abdullah, Juru Bicara KPA Sofyan Dawood, Nur Djuli (petinggi GAM Malaysia), Deputi Jubir GAM Swedia Munawarliza, dan sejumlah ketua KPA wilayah dan daerah.

 

Humam Hamid menolak berkomentar atas adanya keputusan KPA yang menarik dukungan atas dirinya. “No comment!” kata Humam saat dihubungi wartawan.

 

Pilkada Aceh 2006 diikuti delapan pasang kandidat calon gubernur dan wakil gubernur. Anggota GAM, seperti Irwandi Yusuf mencalonkan diri sebagai calon gubernur. Sementara Hasbi Abdullah (juga anggota GAM) mencalonkan diri sebagai calon wakil gubernur yang berpasangan dengan Ahmad Humam Hamid. Hasbi sendiri merupakan salah seorang anggota GAM, yang menghabiskan 14 tahun hidupnya di dalam penjara Pemerintah Indonesia. Pada 22 Agustus 2006, Ketua KPA Muzakkir Manaf mengatakan dukungannya terhadap pasangan Humam Hamid-Hasbi Abdullah.

 

Muzakkir Manaf menegaskan, dalam Pilkada pertama yang digelar pascapenandatanganan Nota Kesepakatan Damai Helsinki ini, KPA akan bersikap netral dan tidak akan memberikan dukung terhadap salah satu kandidat. “Ketua KPA Pusat dan ketua KPA wilayah bersikap netral dalam Pilkada,” kata Muzakkir.

 

Kendati menyatakan tidak mendukung salah satu kandidat, Muzakkir menyebutkan, KPA dan Gerakan Aceh Merdeka tetap akan menerima siapa pun kandidat yang menang dalam Pilkada. “Kami menerima dan mendukung siapa pun yang akan dipilih oleh rakyat Aceh secara demokrasi sebagai kepala Pemerintahan Aceh,” katanya.

 

Juru Bicara KPA Pusat Sofyan Dawood mengatakan, keputusan yang diambil ini sebenarnya bukan keputusan baru. Ini merupakan keputusan majelis yang dihadiri Perdana Menteri GAM Malik Mahmud dan dr. Zaini Abdullah dalam sebuah rapat di Hotel Rajawali, akhir Mei 2006 lalu. “Keputusan saat itu, GAM tidak mencalonkan paket secara lembaga dalam Pilkada, tapi kader-kader GAM yang ingin maju dipersilakan,” kata Sofyan Dawood.

 

Atas adanya keputusan ini, Sofyan Dawood meminta kepada semua Ketua KPA wilayah dan daerah untuk tidak menjadi juru kampanye untuk mendukung calon mana pun dalam Pilkada ini.

 

“Kita tetap komit untuk netral,” kata Dawood yang juga bekas Panglima GAM wilayah Pasee. “Dulu pernah diisukan bahwa Teungku Muzakkir Manaf mendukung Humam-Hasbi, dan saya mendukung Irwandi. Sebenarnya kami tidak pada posisi itu. Kami bersikap netral,” lanjutnya, sembari meminta masyarakat Aceh untuk memilih pemimpin sesuai dengan hati nuraninya.

 

Sofyan mengaku keputusan yang diumumkan siang tadi sudah diketahui oleh Perdana Menteri GAM Malik Mahmud. Para petinggi GAM yang selama ini terang-terangan mendukung duet Humam-Hasbi, kata Sofyan, juga sudah mengetahui keputusan ini. Namun, berkali-kali redaksi acehkita.com mencoba menghubungi Suadi Sulaiman Laweueng, jubir Majelis Pusat GAM, telepon genggamnya tidak aktif. [dzie]

----------