Stockholm, 18 Februari 2007

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

UPACARA SEDINGIN-SETAWARKAN ATAU PEUSIJUEK ATAU TEPUNGTAWAR ADALAH LAHIR DARI KEBIASAAN UPACARA AGAMA HINDU

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

SEDIKIT MENYOROT UPACARA SEDINGIN-SETAWARKAN ATAU PEUSIJUEK ATAU TEPUNGTAWAR YANG LAHIR DARI KEBIASAAN UPACARA AGAMA HINDU.

 

"Ketiga, pihak PM Teungku Malik Mahmud menaburkan bunga-bunga dalam acara peusijuek hanyalah sebagai tradisi saja yang bukan didasarkan pada kebijaksanaan politik GAM dan bukan berdasarkan Islam." Point yang ketiga dari tulisan Ustaz Ahmad Sudirman paling penting bagi kita yang mengaku diri sebagai ummat Islam. Saya pernah mengangkat persoalan Acheh disamping penjajahan terselubung juga masih banyak adat yang perlu kita teliti dan analisa kembali apakah adat tersebut relefan dengan Islam atau keliru 180 derajat...Ada seorang sahabat saya yang namanya Tgk Syukri ketika saya masih mengajar Sejarah Islam dan Siasah Fatanah di Dayah Paloh Pidie bersama beliau, kebutulan ditugaskan ke Bali dalam rangka program Departemen Penerangan, dimana beliau salah satu pegawai tewrsebut. Ketka Tgk Syukri kembali ke Acheh beliau ceritakan kepada saya bahwa adat peusijuek di Acheh persis sama dengan adat peusijuek di Bali yang Hindu itu...Untuk lebih lanjut kita minta kepada Ustaz Ahmad Sudirman penjelasan secara sempurna." (Muhammad al qubra, acheh_karbala@yahoo.no , [83.108.187.126], 17 Feb 2007 16:29:28 -0000)

 

 

 

 

Terimakasih Teungku Husaini Daud di Sandnes, Norwegia.

 

Memang sebelum Islam masuk ke wilayah Asia Tenggara, telah wujud ajaran lain yaitu Hindu dan Buddha. Karena itu memang sampai detik ini beberapa kebiasaan ajaran Hindu ini masih melekat dalam perilaku masyarakat baik yang ada di Sumatera, termasuk Acheh ataupun yang ada di Jawa. Hal ini disebabkan kebiasaan yang berasal dari upacara keagamaan hindu tidak dihapus dengan tuntas oleh pengikut dan penganut Islam. Malahan justru hanya dirobah sedikit saja. Misalnya seperti upacra yang disebutkan oleh Teungku Husaini Daud yaitu acara peusijuek atau sedingin-setawarkan atau kalau dalam adat istiadat Melayu Deli dinamakan upacara tepungtawar.

 

Upacara peusijuek atau sedingin-setawarkan atau tepungtawar ini memang berasal dari upacara keagamaan Hindu, misalnya yang sekarang masih dijalankan di Bali seperti perayaan Galungan dilakukan setiap 210 hari sekali, menurut kalender peredaran matahari Bali. Dimana dapat dilihat dalam photo diatas, kelihatan Pemangku yang telah menyiapkan air suci dari mata air khusus, yang ada di sekitar pura di Bali. Kemudia ia berdoa supaya air tersebut dipenuhi dengan berkah. Selanjutnya diambil daun pandan, lalu dipakai untuk meneteskan air suci tersebut ke tangan para lelaki dan perempuan yang sedang berdoa di sekitar pura tersebut.

 

Nah, upacara tersebut yang sebelum Islam masuk ke Asia Tenggara selalu dilaksanakan oleh para pengikut dan penganut ajaran Hindu. Tetapi setelah Islam masuk, kebiasaan tersebut tidak bisa dihancurkan dengan tuntas, melainkan dirobah saja isinya, misalnya yang tadinya memakai air, diganti dengan beras atau bunga. Begitu juga dimasukkan pelaksanaan tata-cara penyuapan nasi atau pulut ke pihak para lelaki atau perempuan yang sedang di peusijuek atau didingin-setawarkan atau ditepungtawari. Kemudian berdo’a yang tidak menurut ajaran hindu, melainkan berdo’a menurut Islam dengan ditujukan kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan dan kesehatan.

 

Jadi, disini memang kelihatan bahwa dari luar masih ada kesamaan bentuk tatacara upacaranya, tetapi isinya sudah dirobah oleh para penganut Islam.

 

Nah, tentu saja disini harus dilihat dari niat dan tujuan dari upacara  peusijuek atau sedingin-setawarkan atau tepungtawar. Apabila upacara peusijuek atau sedingin-setawarkan atau tepungtawar diniatkan sebagaimana yang diniatkan dan dimaksudkan dalam upacara keagamaan dalam ajaran Hindu, maka sudah jelas upacara peusijuek atau sedingin-setawarkan atau tepungtawar adalah sudah masuk kedalam musyrik dalam hal aqidah dan tauhid menurut Islam. Tetapi, kalau upacara itu hanyalah sekedar upacara yang tidak ada kaitannya dengan upacara dan perintah dalam Agama Islam, artinya kalau tidak dilakukan upacara peusijuek atau sedingin-setawarkan atau tepungtawar tidak dapat hukuman atau tidak berdosa, maka upacara peusijuek atau sedingin-setawarkan atau tepungtawar adalah dibenarkan sebagaimana upacara-upacara yang sifatnya bukan keagamaan atau bersifat umum. Atau sama saja dengan upacara ketika kita berpiknik dan makan bersama.

 

Kemudian lagi, kendatipun upacara peusijuek atau sedingin-setawarkan atau tepungtawar adalah bukan berasal dari perintah ajaran Islam, tetapi tidak dibenarkan juga dalam upacara tersebut diniatkan dan dimaksudkan bahwa orang-orang yang dipeusijuek atau didingin-setawarkan atau ditepungtawari agar taat dan setia kepada pancasila, UUD 1945, garuda pancasila, bendera merah putih dan mbah Susilo Bambang Yudhoyono. Karena, kalau dalam upacara peusijuek atau sedingin-setawarkan atau tepungtawar dibacakan do’a minta selamat dan keamanan kepada Allah SWT, kemudian ditambahkan didalam do’a itu agar taat dan setia pada pancasila, UUD 1945, garuda pancasila, bendera merah putih dan mbah Susilo Bambang Yudhoyono, maka itu sudah musyrik namanya. Dan hal tersebut dilarang dalam Islam.

 

Jadi, karena upacara peusijuek atau sedingin-setawarkan atau tepungtawar adalah bukan upacara menurut ajaran Islam, maka bisa saja ditinggalkan. Dan tidak berdosa kalau kita tidak melaksanakannya.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Received: (qmail 75858 invoked by uid 60001); 17 Feb 2007 16:29:28 -0000

Received: from [83.108.187.126] by web27814.mail.ukl.yahoo.com via HTTP; Sat, 17 Feb 2007 17:29:28 CET

From: Muhammad al qubra <acheh_karbala@yahoo.no>

Date: 17 februari 2007 17:29:28

To: ahmad_sudirman@hotmail.com, ahmad@dataphone.se

Subject: Vedr. [Lantak] REDAKSI ACEHKITA.COM MENAMPILKAN PHOTO PIMPINAN TINGGI GAM DAN "GUBERNUR ACHEH" IRWANDI YUSUF SEBAGAI BAHAN PROPAGANDA

 

"Ketiga, pihak PM Teungku Malik Mahmud menaburkan bunga-bunga dalam acara peusijuek hanyalah sebagai tradisi saja yang bukan didasarkan pada kebijaksanaan politik GAM dan bukan berdasarkan Islam."

 

Point yang ketiga dari tulisan Ustaz Ahmad Sudirman paling penting bagi kita yang mengaku diri sebagai ummat Islam. Saya pernah mengangkat persoalan Acheh disamping penjajahan terselubung juga masih banyak adat yang perlu kita teliti dan analisa kembali apakah adat tersebut relefan dengan Islam atau keliru 180 derajat.

 

Sudah saatnya bagi kita bangsa Acheh - Sumatra untuk membersihkan segala adat yang bercanggah dengan Islam Murni agaar mendapat redha Allah. Kalau Allah sudah redha kepada bangsa kita, mulai saat itulaah kita dapat mengalahkan "musuh-musuh" kita yang sesungguhnya.  Untuk terbuka pikiran kita saya angkat sebuah contoh yang lain agar kita tidak langsung me4mbantah keterangan saya ini. Yang saya maksudkan adalah pakaian yang dikenakan dalam adat Acheh, yang populer kita lihat gambar Cutnyak Dhien. Dimana gambar tersebut sangat bertentangan dengan pakain yang ditunjuk Allah menurut surah An Nur dan Al Ahzab, dimana seluruh tubuh harus ditutup kecuali wajah, telapak kaki dan telapaak tangan yang memiliki ruhsah.

 

Ada seorang sahabat saya yang namanya Tgk Syukri ketika saya masih mengajar Sejarah Islam dan Siasah Fatanah di Dayah Paloh Pidie bersama beliau, kebutulan ditugaskan ke Bali dalam rangka program Departemen Penerangan, dimana beliau salah satu pegawai tewrsebut. Ketka Tgk Syukri kembali ke Acheh beliau ceritakan kepada saya bahwa adat peusijuek di Acheh persis sama dengan adat peusijuek di Bali yang Hindu itu. Beliau banyak menjaksikan beberapa acara adat di Bali ketika itu termasuk acara potong pohon besar. Menurut beliau sebelum pohon itu dipotong, diadakan acara peusijuek terlebih dahulu dengan keyakinan mereka agar Jin atau hantu yang bersemayam dipohon tersebut tidak mengganggu kita yang memotongnya dan penghuni yang menghuni bangunan dari hasil pohon tersebut. Sementara keyakinan kita sebagai Muslim sejati bahwa jin itu tidak berdaya upaya untuk mengganggu kita kecuali sudah dimanfaatkan oleh tukang sihir. Justru itulah ilmu sihir itu dilarang mempelajarinya bagi kita Ummat Islam. Kalau kita pelajarinya juga hukumnya bisa murtad.

 

Yang saya ketahui dalam Islam hanya acara tahniah dengan mengucapkan doa kepada pemimpin yang diangkat agar tundukpatuh semata-mata kepada Allah bukan kepada UUD45, Pancasila dan pemimpin Hindunesia. Untuk lebih lanjut kita minta kepada Ustaz Ahmad Sudirman penjelasan secara sempurna.

 

Billaahi fi sabililhaq

Muhammad Al Qubra

acheh_karbala@yahoo.no

Sandnes, NORWEGIA

----------