Stockholm, 25 Februari 2007

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

PENULISAN SEJARAH ACHEH & PEMBENTUKAN LEMBAGA RISET TENTANG TSUNAMI TIDAK PERLU MELALUI KONFERENSI YANG MENELAN Rp1,7 MILIAR

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

"GUBERNUR ACHEH" IRWANDI YUSUF MASIH BISA DIDIKTE OLEH BADAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI ACHEH-NIAS & ANTHONY REID

 

Sekali lagi kita menyaksikan bagaimana pihak Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias yang bekerjasama dengan Asia Research Institute National University of Singapore telah mendikte pihak "Gubernur Acheh" yang baru Irwandi Yusuf melalui penyulapan tipu daya "upaya pencerdasan dan peningkatan kapasitas intelektual sumberdaya manusia Acheh" melalui penggelaran konferensi internasional tentang Kajian Aceh dan Samudra Hindia, pada 24-26 Februari 2007 yang menghabiskan dana percuma Rp 1,7 miliar.

 

Dengan dipelopori oleh Prof. Dr. Anthony Reid, sejarawan dari Universitas Nasional Singapura yang telah menulis beberapa buku sejarah tentang Acheh, tetapi isinya tidak pernah menyinggung akar utama penyebab konflik di Acheh.

 

Kalau saudara "Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf dan Ketua Panitia Konferensi, Fuad Mardhatillah menekankan pada "upaya pencerdasan dan peningkatan kapasitas intelektual sumberdaya manusia Acheh" maka tidak perlu cara dan alatnya melalui suatu usaha pemborosan dana yang cukup besar bagi rakyat Acheh yang masih puluhan ribu belum mendapatkan tempat untuk berlindung dari terik panas matahari dan genangan air hujan.

 

Terlalu naif apabila saudara "Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf memberikan alasan bahwa penulisan ulang sejarah Acheh yang komprehensif dan pembentukan lembaga riset tentang tsunami dan efeknya melalui jalur konferensi yang menelan dana sampai Rp 1,7 miliar adalah perlu diadakan, kendatipun pada saat yang bersamaan puluhan ribu rakyat Acheh masih hidup dalam garis batas kemiskinan yang menyayat hati.

 

Sebenarnya, untuk ide penulisan kembali sejarah Acheh yang benar dan menyeluruh tidak perlu melalui jalur konferensi yang memboroskan banyak uang. Begitu juga untuk pembentukan lembaga riset tentang tsunami dan efeknya tidak perlu harus mendatangkan orang-orang yang hanya menghamburkan dana yang cukup banyak kedalam konferensi yang memakan waktu hanya 3 hari itu.

 

Kenyataannya memang saudara "Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf masih bisa didikte oleh Kepala BRR Aceh-Nias Kuntoro Mangkusubroto dan pihak Anthony Reid dari Universitas Nasional Singapura.

 

Kalau Ahmad Sudirman melihat penyelenggaraan konferensi tersebut adalah merupakan propaganda murahan yang sangat tidak bermanfaat bagi puluhan ribu rakyat Acheh yang masih hidup dalam tenda-tenda di Acheh.

 

Menyinggung masalah penulisan kembali sejarah Acheh yang benar dan menyeluruh bisa hanya melalui pembentukan satu tim kecil yang terdiri dari para sejarawan Acheh dan non Acheh yang masih pikirannya tidak terikat oleh tali sejarah buatan pihak unitaris RI. Atau sejarawan Acheh atau non Acheh yang independen yang hanya berpegang pada tali fakta, bukti, sejarah dan hukum yang ada kaitannya dengan Acheh dan jalur pertumbuhan dan perkembangan negara RI.

 

Begitu juga dengan pembentukan lembaga riset tentang tsunami dan efeknya tidak perlu harus dibidani oleh Kepala BRR Aceh-Nias Kuntoro Mangkusubroto yang dengan penghamburan uang milyaran rupiah secara percuma atau mubazir saja.

 

Sampai detik sekarang ini Ahmad Sudirman belum pernah membaca hasil karya sejarawan Acheh atau sejarawan non Acheh yang secara terperinci membahas Acheh kaitannya dengan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI untuk bisa dijadikan sebagai dasar pedoman lahirnya sumber konflik di Acheh sampai detik sekarang ini. Anthony Reid sendiri sebagai seorang sejarawan dari Universitas Nasional Singapura dalam buku-bukunya tentang Acheh tidak pernah Ahmad Sudirman menemukan akar utama penyebab konflik Acheh yang benar-benar ada kaitannya dengan faktor penganeksasian Acheh oleh pihak Soekarno melalui RIS dan NKRI-nya.

 

Jadi, kalau Ahmad Sudirman melihat tentang masalah sejarah Acheh kaitannya dengan jalur pertumbuhan dan perkembangan RI yang dikaitkan dengan konflik Acheh, maka tidak ada satupun sejarah yang ditulis oleh sejarawan Acheh dan non Acheh yang menjadikan dasar utama penyebab konflik Acheh adalah penganeksasian Acheh oleh pihak Soekarno melalui RIS dan NKRI-nya. Ahmad Sudirman melihat hampir kesemuanya sejarah yang ditulis oleh para sejarawan Acheh dan non Acheh yang menuliskan tentang penyebab utama konflik Acheh adalah masalah yang menyangkut ketidak adilan, ketidak merataan ekonomi, sosial. Tetapi mereka telah melupakan faktor yang utama penyebab konflik Acheh yang berkepanjangan itu adalah karena masalah penganeksasian Acheh oleh pihak unitaris Soekarno dengan RIS dan NKRI-nya.

 

Terakhir, disini Ahmad Sudirman menyarankan kepada saudara "Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf yaitu janganlah terlalu muluk dengan maksud dan tujuan penulisan sejarah Acheh yang menyeluruh kalau penulis sejarah tersebut adalah masih terikat oleh tali ikatan sejarah buatan penerus unitaris Soekarno. Begitu juga para sejarawan non Acheh, seperti Anthony Reid yang tidak memahami dan tidak mengerti akar utama penyebab timbulnya konflik di Acheh yang telah memakan waktu dari sejak tahun 1953 sampai detik sekarang ini. saudara "Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf jangan mudah ditipu oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan sejarah Acheh tetapi isinya adalah sejarah yang merugikan Acheh dan hanya menguntungkan sejarah unitaris RI-Jawa-Yogya-Soekarno dan penerusnya saja.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------