Stockholm, 14 Maret 2007

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

YANG MENGEKALKAN STATUS-QUO ADALAH MEREKA YANG MENETAPKAN DAN MENERIMA UU NO.11 TAHUN 2006 MADE IN DPR RI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

MEREKA YANG MENGEKALKAN STATUS-QUO ADALAH MEREKA YANG MENETAPKAN DAN MENERIMA UU NO.11 TAHUN 2006 MADE IN DPR RI

 

"Siapa yang mengekalkan status-quo sekarang? Sangat menarik kalau kita diskusi sesama" Nothing remain the same". Pertanyaan saya: Apa namanya seseorang yang berlainan tutur katanya dengan apa yang di perbuatnya? Tapi semua itu berpulang kepada hati masing-masing. Hati seseorang tidak bisa kita tebak yang sebenarnya, tapi berdoalah semoga pemimpin kita ini tetap berpegang kepada amanah yang telah di tuturkannya. Percayalah, masih ada seseorang yang berhati keras di Acheh yang berpikir seperti di tahun2 1998. Hanya saja kita harus bercermin dan mengukur di mana posisi kita dan itulah politik. Dengan hati kita bisa melihat yang benar dan salah. Apa hukumnya orang yang berlainan apa yang dituturkannya dengan yang diperbuatnya di dunia dan akhirat? Masalah Acheh adalah masalah yang rumit dan permasalahan belum selesai. Helsinki adalah agreement compromi dan itu belumlah menyelesaikan masalah." Done is Done". Memang telah di akui di Helsinki yang Acheh adalah bahagian dari Indonesia sekali lagi. Tapi jangan khawatir, kita masih berpedoman kepada Hukum international yang di dengungkan oleh wali negara Hasan Muhammad di Tiro (semoga Allah memberinya panjang umur untuk melihat bangsanya hidup makmur) yang sewaktu-waktu bisa di perpengangi lagi. Mari kita beri peluang untuk mareka yang memimping sekarang, tapi persiapkan yang perlu untuk sesuatu perobahan besar........?" (Martunis, central_maop@yahoo.com , [170.115.191.97] , Wed, 14 Mar 2007 18:28:04 GMT)

 

Terimakasih kepada saudara Martunis Abdul di Philadelphia, Pennsylvania, United States.

 

Setelah membaca tanggapan saudara Martunis yang sebagiannya dikutipkan diatas ada beberapa hal yang perlu dibicarakan dan diperjelas agar supaya seluruh bangsa dan rakyat Acheh dapat mengerti dan bisa memahami apa yang sebenarnya tertuang dan dimaksudkan dalam MoU Helsinki hasil kesepakatan antara pihak GAM dan Pemerintah RI.

 

Nah, dimulai dengan masalah yang dipertanyakan oleh saudara Martunis yaitu "siapa yang mengekalkan status-quo sekarang?"

 

Jawabannya adalah mereka yang telah menetapkan dan menerima "Undang Undang RI No.11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh" yang sebagian pasal-pasalnya masih harus direvisi karena bertentangan dengan apa yang telah disepakati dan tertuang dalam MoU Helsinki.

Jadi, mereka yang telah menetapkan dan menerima UU No.11 tahun 2006 adalah pertama pihak RI, yaitu Pemerintah RI dan DPR RI beserta seluruh partai-partai politik yang ada di DPR RI, ditambah dengan orang-orang dari bangsa dan rakyat Acheh yang dengan sukarela dan penuh hati memberikan dukungan dan menerima UU No.11 tahun 2006 tersebut.

 

Kemudian masalah lainnya adalah pertanyaan yang diajukan oleh saudara Martunis yaitu "apa namanya seseorang yang berlainan tutur katanya dengan apa yang di perbuatnya?"

 

Jawabannya adalah bisa dilihat dari dua sudut, yaitu dari sudut pertama mereka yang memakai kacamata politik, dimana menurut orang yang memakai kacamata politik berbual atau berbohong dalam politik adalah dibenarkan. Bisa saja sewaktu kampanye bercerita A, setelah terpilih bercerita B. Jadi dalam politik istilah bohong adalah menjadi bumbu kehidupan poltikus. Sudut kedua, yaitu dilihat dari mereka yang berkacamata agama dengan iman dan hatin-urani. Nah, menurut mereka yang berkacamata agama dan iman yang telah meresap kedalam hatin-urani akan menyatakan bahwa orang munafik adalah orang yang lain dihati dan lain dalam tindak perbuatannya.

 

Jadi sekarang, kalau saudara Martunis menempatkan diri sebagai seorang politikus, maka janji saudara "Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf , "Wakil Gubernur Acheh"  Muhammad Nazar dan "Walikota Sabang" Munawarliza Zein sebelum pemilihan Kepala Pemerintahan dan Walikota telah menggebu-gebu akan merevisi UU No.11 tahun 2006 kalau ia terpilih, tetapi setelah terpilih mereka lupa akan janji revisi UU No.11 tahun 2006-nya, maka lupa janji mereka itu bisa diterima dan tidak disebut sebagai orang-orang munafik. Karena dalam kamus politik tidak ada istilah munafik. Istilah munafik hanya ada dalam kamus Agama atau Islam.

 

Adapun kalau saudara Martunis menempatkan diri sebagai seorang yang beragama, seorang muslim yang mukmin, maka ketika melihat dan menyaksikan saudara "Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf , "Wakil Gubernur Acheh"  Muhammad Nazar dan "Walikota Sabang" Munawarliza Zein melanggar janjinya untuk merevisi UU No.11 tahun 2006, maka saudara Martunis bisa mengatakan kepada mereka itu adalah orang-orang munafik yang hanya mencari keuntungan dan kedudukan serta kekuasaan saja.

 

Nah disini, masalahnya sekarang adalah bukan masalah "hati seseorang tidak bisa kita tebak yang sebenarnya", melainkan seseorang dapat dilihat dari perilakunya, dari perbuatannya, dari apa yang telah dijanjikannya. Hati manusia atau hati-nurani terbentuk karena adanya pengaruh dari luar, pengaruh baik dan buruk yang datang dari luar, seperti agama, pendidikan, sosial, budaya, hukum dan lainnya. Hati-nurani tidak bisa memutuskan sesuatu itu sebagai hal yang baik atau buruk kalau sebelumnya orang yang berhati-nurani tersebut tidak atau belum dipengaruhi oleh faktor-faktor yang datang dari luar.

 

Nah selanjutnya, kalau saudara Martunis melihat dan memperhatikan dari sudut posisi dimana, misalnya sekarang  saudara "Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf , "Wakil Gubernur Acheh"  Muhammad Nazar dan "Walikota Sabang" Munawarliza Zein berdiri, maka dengan mudah dapat dilihat bahwa mereka bertiga berdiri diposisi UU No.11 tahun 2006, artinya diposisi status-quo atau otonomi, bukan self government sebagaimana yang telah disepakati dalam MoU Helsinki.

 

Selanjutnya, kalau saudara Martunis menyebutkan bahwa "apa hukumnya orang yang berlainan apa yang dituturkannya dengan yang diperbuatnya di dunia dan akhirat?"

 

Maka jawabannya adalah kalau saudara Martunis adalah sebagai seorang muslim yang beriman dan akan memutuskan suatu hukuman berdasarkan hukuman yang mengacu pada apa yang telah diturunkan oleh Allah SWT, maka ada dua jalan, yaitu pertama menempuh jalan sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Allah SWT dengan adil. Kedua, diserahkan hukumannya kepada Allah SWT, kelak di akherat.

 

Tetapi, kalau saudara Martunis sebagai seorang politikus, maka tindakan yang disebut munafik dalam Agama atau Islam, tidak berlaku dalam kamus politik. Karena itu saudara Martunis akan membebaskan saja apabila saudara "Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf , "Wakil Gubernur Acheh"  Muhammad Nazar dan "Walikota Sabang" Munawarliza Zein tidak memenuhi janjinya untuk merevisi UU NO.11 tahun 2006.

 

Selanjutnya, masalah Acheh adalah bukan masalah yang rumit kalau kita mengerti dan memahami akar utama timbulnya konflik di Acheh. Yang membuat Acheh menjadi rumit adalah mereka yang tidak mengerti dan tidak memahami akar utama timbulnya konflik di Acheh. Tentang akar utama timbulnya konflik di Acheh telah banyak dikupas oleh Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini. Silahkan baca di kumpulan tulisan http://www.dataphone.se/~ahmad/daftarnw.htm .

 

Seterusnya, menyinggung masalah hukum international untuk memecahkan Acheh adalah juga salah satu dari sekian banyak pegangan hukum yang bisa dijadikan sebagai jalan keluar untuk penentuan nasib sendiri bagi bangsa dan seluruh rakyat Acheh di Acheh. Tetapi, juga dasar hukum yang telah disepakati oleh pihak Pemerintah RI dan GAM, dan juga dasar-dasar hukum yang telah dipakai oleh RI untuk menganeksasi Acheh secara ilegal bisa dijadikan dasar acuan hukum untuk penentuan nasib sendiri di Acheh.

 

Kemudian, kalau ada dari bangsa dan rakyat Acheh yang tidak hanya berhati keras tetapi juga memiliki kemampuan pengetahuan tentang Acheh yang menyeluruh guna dijadikan sebagai alat senjata untuk penentuan nasib sendiri di Acheh, maka itupun merupakan salah satu modal besar bagi terlaksananya penentuan nasib sendiri di Acheh.

 

Begitu juga, dalam usaha mencapai tujuan penentuan nasib sendiri sebelumnya harus diperkuat bukan hanya dalam bidang pertahanan secara pisik, melainkan juga dalam bidang pengetahuan, perencanaan, taktik dan strategi dalam menggalang persatuan. Disamping memperkuat tingkat penghidupan dan ekonomi rakyat, juga peningkatan dalam hubungan kemanusiaan dan budaya diantara bangsa-bangsa yang ada dan hidup di Acheh dan diluar Acheh. Tentu saja yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan dalam bidang pembinaan dan pendidikan, baik pendidikan ditingkat dasar, menengah ataupun tingkat atas. Itu semua merupakan faktor yang menentukan untuk pencapaian tujuan penentuan  nasib sendiri di Acheh di masa depan.

 

Terakhir, kalau memang saudara saudara "Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf dan "Walikota Sabang" Munawarliza Zein mempunyai had-had tertentu dalam taktik dan strategi politik-nya, maka tentu saja dapat dilihat dengan jelas oleh mata kita dari sikap dan tindakan politiknya. Apakah tindakan dan sikap kebijaksanaan politiknya mengarah ke Jakarta atau mengarah ke Acheh. Jadi, sebenarnya sangat mudah untuk mendeteksi kearah mana kebijaksaan politik yang dijalankan oleh saudara "Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf dan "Walikota Sabang" Munawarliza Zein di Acheh sekarang. Inilah sedikit pandangan dan pikiran yang bisa disampaikan disini sebagai suatu tanggapan atas hasil pemikiran saudara Martunis Abdul.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

 

Wassalam.

 

Ahmad Sudirman

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Received: from [170.115.191.97] by web52026.mail.yahoo.com via HTTP; Wed, 14 Mar 2007 18:28:04 GMT

Sender: IACSF@yahoogroups.com

From:  Martunis <central_maop@yahoo.com>

Return address:  IACSF@yahoogroups.com

Date: 14 mars 2007 19:28:04

To: IACSF@yahoogroups.com

Subject: Re: [IACSF] APAKAH BENAR SAUDARA IRWANDI YUSUF & MUNAWARLIZA ZEIN SEKARANG TERMASUK PRO-STATUS-QUO?

 

Siapa yang mengekalkan status-quo sekarang? Sangat menarik kalau kita diskusi sesama "Nothing remain the same". Pertanyaan saya:

 

Apa namanya seseorang yang berlainan tutur katanya dengan apa yang di perbuatnya?

 

Tapi semua itu berpulang kepada hati masing-masing. Hati seseorang tidak bisa kita tebak yang sebenarnya, tapi berdoalah semoga pemimpin kita ini tetap berpegang kepada amanah yang telah di tuturkannya. Percayalah, masih ada seseorang yang berhati keras di Acheh yang berpikir seperti di tahun2 1998. Hanya saja kita harus bercermin dan mengukur di mana posisi kita dan itulah politik. Dengan hati kita bisa melihat yang benar dan salah. Apa hukumnya orang yang berlainan apa yang dituturkannya dengan yang diperbuatnya di dunia dan akhirat? Masalah Acheh adalah masalah yang rumit dan permasalahan belum selesai. Helsinki adalah agreement compromi dan itu belumlah menyelesaikan masalah." Done is Done". Memang telah di akui di Helsinki yang Acheh adalah bahagian dari Indonesia sekali lagi. Tapi jangan khawatir, kita masih berpedoman kepada Hukum international yang di dengungkan oleh wali negara Hasan Muhammad di tiro( semoga Allah memberinya panjang umur untuk melihat bangsanya hidup makmur) yang sewaktu-waktu bisa di perpengangi lagi. Mari kita beri peluang untuk mareka yang memimping sekarang, tapi persiapkan yang perlu untuk sesuatu perobahan besar........?

"Nothing remain the Same".

 

Hanya lima kata yang telah didiskusi sepanjang abad untuk memajukan sebuah bangsa:

1.Pertahanan

2.Ekonomi

3.Social

4.Culture

5.Foreign relation

6. Pendidikan + clean up corruption

 

Dulu, Pertahan hanya di lakukan oleh Gam dan sebahagian dari kita hanya mencemoh dan tidak tahu apa yang perlu kita buatkan. Sekarang Self Government, Mari kita persiapkan yang besar dan tingkalkanlah kebiasaan dawa- dawi dan bermaaf maafkan karna ilmu kita terbatas.

 

Munawar dan Irwandi pun mempunyai had-had tertentu dalam pemikirannya.

 

Berpegang tangan dan berpikirlah yang jernih.

 

Martunis

----------