Stockholm, 24 Februari 2008

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.



BANGSA GAYO, ALAS & SINGKIL MEMBUAT FEDERASI DENGAN BANGSA ACHEH DI ACHEH

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

SEKILAS MENYOROT BANGSA GAYO, ALAS & SINGKIL MEMBUAT FEDERASI DENGAN BANGSA ACHEH DI ACHEH

 

Dua tahun setengah yang lalu saudara Mudasir di Bandung meminta tanggapan tentang pemekaran Acheh:

 

 

"Mohon tanggapan Sdr. Ahmad Sudirman atas berita ini "Pemekaran Aceh : Bila Pemekaran Ditolak, Lima Kabupaten Ancam Berontak" (Mudasir , moed_dev@msn.com , Wed, 24 Aug 2005 14:59:59 +0000)

 

 

Baiklah saudara Mudasir di Bandung, Indonesia.

 

Ketika Ahmad Sudirman membaca pernyataan Ketua Advokasi KP3 ALA, Abubakar Arif, Rabu 24 Agustus 2005: "Tidak tertutup kemungkinan, bahwa masyarakat kelima kabupaten yang tergabung dalam provinsi bentukan Acheh Leuser Antara, akan keluar dari Provinsi Acheh dengan cara tidak mengakui dan memisahkan diri dari Acheh secara total. Dalam MoU tidak disebutkan masalah pemekaran yang sudah 40 tahun dibicarakan. Yang jelas sejak Indonesia merdeka kami tidak mendapat perhatian dari pemerintah daerah "

 

Kemudian kalau Ahmad Sudirman menggali lebih dalam dibalik apa yang dinyatakan Abubakar tersebut, dimana di wilayah yang dinamakan Acheh Leuser Antara yang meliputi Acheh Singkil, Acheh Tenggara, Gayo Luwes, Acheh Tengah, dan Bener Meuriah, ternyata akan terkuak masalah yang jauh masuk kedalam akar sejarah yang didalamnya terlibat bangsa Gayo, Alas dan Singkil.

 

Memang di Acheh ini telah tinggal dan hidup berbagai bangsa, disamping bangsa Acheh, juga tinggal bangsa Gayo yang hidup dan tinggal di Acheh Tengah dan Acheh Timur. Dimana bangsa Gayo ini terbagi kedalam dialek, seperti suku bangsa Gayo Lut yang tinggal di daerah Danau Lut Tawar, suku bangsa Gayo Luwes, suku bangsa Gayo Linge, suku bangsa Gayo Seberjadi yang tinggal disekitar Lokop juga sampai ke Acheh Timur, dan suku bangsa Gayo Johar di Sumatera Timur. Kemudian, bangsa Alas yang tinggal diwilayah Acheh Tenggara. Seterusnya bangsa Singkil yang mendiami Acheh Singkil. Bangsa Tamiang yang menduduki wilayah Acheh Tamiang, bangsa Simeulue yang hidup di Pulau Simeulue. Lalua bangsa Sunda, bangsa Jawa, bangsa Cina, bangsa India, bangsa Arab, bangsa Bugis, dan bangsa Minangkabau.

 

Nah, yang menjadi masalah yang dituntut oleh lima Kabupaten yang ada di Acheh, yaitu Acheh Singkil, Acheh Tenggara, Gayo Luwes, Acheh Tengah, dan Bener Meuriah, karena bangsa-bangsa yang tinggal dan hidup diwilayah ini adalah bangsa-bangsa yang bukan bangsa Acheh. Yaitu bangsa Gayo, Alas dan Singkil. Dimana wilayah mereka itu membentang dari Selatan, yaitu dari Acheh Singkil sampai ke wilayah tengah yaitu ke Acheh Tengah dan Bener Meuriah.

 

Dan, memang kalau menggali sejarah bangsa Gayo, misalnya, itu akan terbongkar bahwa bangsa Gayo telah memiliki kerajaan yang berdiri sendiri yang dinamakan dengan Kerajaan Linge. Dimana Kerajaan Linge ini dibangun pada tahun 416 H / 1025 M di Buntul Linge dengan raja pertamanya, Adi Genali atau yang dinamakan juga dengan Kik Betul, yang mempunyai empat orang putra yaitu Sibayak Linge, Empuberu, Merah Johan, Merah Linge. Dimana Raja Linge I mewariskan sebilah pedang dan cincin permata kepada keturunannya. Dimana cincin permata itu berasal dari Sultan Peureulak Makhdum Berdaulat Mahmud Syah yang berkuasa pada tahun 1012 M -1038 M. Ketika Adi Genali membangun Kerajaan Linge dibantu oleh perdana menteri Syeikh Sirajuddin yang bergelar Thjik Serule.

 

Nah, sejarah Kerajaan Linge ini lebih dahulu muncul dibandingkan dengan sejarah Kesultanan Acheh yang dibangun pertama kali di wilayah Acheh paling utara oleh Sultan Johan Syah pada abad 12, sekitar tahun 601 H / 1205 M, dan Kesultanan Samudera Pasai yang dibangun oleh Merah Silu yang berkuasa antara tahun 1275 M - 1297 M yang berganti nama menjadi Sultan Malik al-Saleh setelah memeluk Islam.

 

Kemudian ketika Sultan Ali Mughayat Syah menguasai Kesultanan Acheh dari tahun 1514 M - 1528 M, ia berhasil menyatukan Kesultanan Samudra Pasai kedalam wilayah kekuasaan Kesultanan Acheh pada tahun 1524 M.

 

Selanjutnya, setelah Iskandar Muda dinobatkan sebagai Sultan pada tanggal 6 Dzulkhijjah 1015 H / 3 April 1607 M, maka itu wilayah Benteng Deli bisa ditembus dan diduduki. Daerah Natal, Tiku, Pariaman dan Pulau Nias juga bisa didudukinya. Begitu juga Daerah Johor dapat dikuasi pada tahun 1613 M. Lalu Pahang dikuasai pada tahun 1618 M. Seterusnya Kedah dikuasai pada tahun 1619 M, dan Daerah Tuah dikuasai pada tahun 1620 M.

 

Nah disaat Sultan Iskandar Muda inilah, itu Sumatera berada dibawah kekuasaan Kesultanan Acheh, termasuk didalamnya Kerajaan Linge yang dibangun oleh Adi Genali dan para keturunannya yang terletak di daerah Gayo di Acheh Tengah dengan wilayah laut tawarnya.

 

Jadi sekarang, bisa dimengerti dan dipahami mengapa bangsa Gayo yang memiliki sejarah kerajaan Linge ini merasa bukan bagian dari wilayah kekuasaan Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Acheh. Dan suku Gayo ini merasa diduduki oleh pihak Sultan Iskandar Muda.

 

Disamping itu, bisa dimengerti juga bahwa bangsa Gayo adalah bangsa minoritas yang berbeda kebudayaannya dengan budaya bangsa Acheh.

 

Dan menurut para akhli antropologi, budaya bangsa Gayo dikelompokkan kedalam budaya bangsa Batak. Dan memang terbukti bahwa bahasa dan adat istiadat bangsa Gayo, seperti kesenian Didong dengan bahasa Gayo, Pepongoten, Sebuku, melengkan, munenes, saer adalah berbeda dengan seni budaya yang ditampilkan oleh bangsa Acheh.

 

Pada tahun-tahun terakhir ini bangsa Gayo bergabung dengan bangsa Alas yang menguasai Acheh Tenggara, dan bangsa Singkil yang hidup di wilayah Acheh Singkil.

 

Bergabungnya bangsa Gayo yang berpusat di Takengon, bangsa Alas yang berpusat di Kutacane dan bangsa Singkil yang berpusat di Singkil ini didasarkan kepada pertama, alasan perbedaan etnis, yaitu mereka bukan merasa sebagai bangsa Acheh. Dan mereka siap mendirikan dan membentuk wilayah sendiri yang dinamakan wilayah Acheh Leuser Antara. Leuser adalah nama gunung yang tingginya 3149 meter yang terletak di Acheh Tenggara. Gunung Leuser kelihatan berdiri tegak seperti penjaga antara bangsa Gayo di Acheh Tengah dan bangsa Alas di Acheh Tenggara. Dan kedua, alasan wilayah Acheh yang luas yang dirasakan oleh bangsa Gayo, Alas dan Singkil tidak mendapatkan pemerataan pembangunan di wilayahnya.

 

Nah permasalahannya sekarang, masalah Gayo-Alas-Singkil ini bisa dipecahkan dalam Pemerintahan Acheh berdasarkan MoU. Artinya, tidak perlu melibatkan Pemerintah RI. Dimana Gayo-Alas-Singkil yang wilayahnya Acheh Singkil - Acheh Tenggara - Gayo Luwes - Acheh Tengah - Bener Meuriah bisa membentuk federasi dengan Acheh. Dan bentuk Negeri federal ini adalah langkah yang terbaik untuk memberikan kepada masing-masing pihak kedaulatan masing-masing kedalam.

 

Jadi, masalah Acheh bisa diselesaikan oleh bangsa Acheh, bangsa Gayo, bangsa Alas, dan bangsa Singkil. Pihak Pemerintah RI, tidak perlu ikut campur dalam masalah internal Pemerintahan Acheh.

 

Karena kalau dilibatkan Pemerintah RI, maka sudah bisa diduga akan dihembuskan pertentangan yang tajam dan horizontal antara bangsa Acheh dengan bangsa Gayo, Alas, dan Singkil.

 

Kembalikan kepada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, tetapi dengan memberikan kekuasaan kedalam bagi bangsa Gayo, Alas, dan Singkil untuk mengatur wilayahnya. Khususnya bangsa Gayo yang memiliki sejarahnya sendiri sebagaimana sejarah bangsa Acheh.

 

Kalau bangsa Acheh bisa menyelesaikan secara internal dengan bangsa Gayo, Alas, dan Singkil dengan cara damai, dan tidak melibatkan kekuatan militer dari luar, apalagi pasukan non-organik TNI, maka Insya Allah masalah kekuasaan dalam wilayah Acheh Singkil, Acheh Tenggara, Gayo Luwes, Acheh Tengah, dan Bener Meuriah bisa diselesaikan secara jujur dan adil.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

 

Stockholm, 25 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.



PENYELESAIAN GAYO, ALAS & SINGKIL SECARA INTERN MELALUI PEMERINTAH ACHEH & LEGISLATIF ACHEH

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

GAYO, ALAS & SINGKIL DISELESAIKAN SECARA INTERN MELALUI PEMERINTAH ACHEH & LEGISLATIF ACHEH

 

Menyinggung Nota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka 15 Agustus 2005 mengenai:

 

 

1.1.4. Perbatasan Acheh merujuk pada perbatasan 1 Juli 1956, yaitu sebelum dasar hukum UU Nomor 24 Tahun 1956 Tentang Pembentukan Daerah Otonomi Propinsi Acheh dan Perubahan Peraturan Pembentukan Propinsi Sumatera Utara ditetapkan dan disahkan di Jakarta pada tanggal 29 Nopember 1956 oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno, dan diundangkan pada tanggal 7 Desember 1956 oleh Menteri Kehakiman Muljatno dan oleh Menteri Dalam Negeri Sunarjo.

 

 

Nah, dengan disepakatinya perbatasan Acheh merujuk pada perbatasan 1 Juli 1956, berarti perbatasan Acheh yang wilayahnya dimasukkan oleh Soekarno memakai Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara kedalam wilayah Propinsi Sumatera Utara. Artinya, wilayah Acheh yang melingkungi Kabupaten-Kabupaten 1. Acheh Besar, 2. Pidie, 3. Acheh-Utara, 4. Acheh-Timur, 5. Acheh-Tengah, 6. Acheh-Barat, 7. Acheh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja yang dianeksasi kedalam wilayah Propinsi Sumatera Utara. Dimana Propinsi Sumatera Utara ini sebelumnya satu hari sebelum RIS dilebur, dibentuk berdasarkan dasar hukum sepihak Peraturan Pemerintah RIS Nomor 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi tanggal 14 Agustus 1950.

 

Karena perbatasan Acheh merujuk pada perbatasan 1 Juli 1956, maka itu menunjukkan Daerah Acheh yang sebelum diberlakukan sebagai Daerah Otonomi Propinsi Acheh. Atau dengan kata lain Acheh yang masih berdiri sendiri, tetapi telah dicaplok mbah Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya memakai mulut Propinsi Sumatera Utara dengan cara menetapkan dasar hukum sepihak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara.

 

Sekarang, karena MoU 15 Agustus 2005 merupakan kesepakatan antara RI dengan ASNLF/GAM, maka masalah yang menyangkut persoalan Gayo, Alas & Singkil, itu akan diselesaikan oleh Pemerintah Acheh dan Legislatif Acheh berdasarkan Undang Undang baru tentang Penyelenggaraan Pemerintahan di Acheh yang mengacu kepada MoU 15 Agustus 2005.

 

Nah berdasarkan Undang Undang baru tentang Penyelenggaraan Pemerintahan di Acheh ini apabila pihak DPR RI akan menetapkan keputusan-keputusan yang terkait dengan Acheh terlebih dahulu dilakukan dengan konsultasi dan mendapat persetujuan legislatif Acheh. Misalanya, kalau pihak DPR RI akan membahas RUU tentang pemekaran Acheh, maka terlebih dahulu dilakukan dengan konsultasi dan mendapat persetujuan legislatif Acheh.

 

Jadi, tidak mudah bagi pihak bangsa Gayo, Alas & Singkil untuk menuntut Acheh Singkil, Acheh Tenggara, Gayo Luwes, Acheh Tengah, dan Bener Meuriah menjadi satu propinsi kepada pihak DPR RI tanpa terlebih dahulu dilakukan dengan konsultasi dan mendapat persetujuan legislatif Acheh.

 

Karena itu cara yang terbaik bagi bangsa Gayo, Alas & Singkil adalah bukan meminta kepada pihak DPR RI, melainkan melakukan perundingan dengan bangsa Acheh untuk mendapatkan kesepakatan dalam hal masa depan bangsa Gayo, Alas & Singkil, dan masa depan Acheh Singkil, Acheh Tenggara, Gayo Luwes, Acheh Tengah, dan Bener Meuriah. Dan itulah cara penyelesaian terbaik, yang aman dan damai, melalui jalur perundingan, bukan melalui angkat senjata.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------