Stockholm, 9 Maret 2008

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.



KELOMPOK ANTI MOU HELSINKI SEPERTI PDI-P, PKB, PAN, PD, SEBAGIAN GOLKAR DAN SEBAGIAN PARA PENSIUNAN JENDERAL TNI PLUS KOMITE PERSIAPAN ACHEH MERDEKA DEMOKRATIK (KPAMD)

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

KELOMPOK ANTI MOU HELSINKI YANG INGIN MEMBELAH ACHEH MENJADI TIGA BAGIAN

 

Teungku Husaini Daud dari Sandnes, Norwegia menuliskan tanggapannya sebagai berikut:

 

 

"Inilah yang membuat Komite Peukeumah  Mardehka  Demokratik  muncul dengan langkah meyakinkan orang Acheh yang mau berafala takqilun dan afala yatazakkarun." (Teungku Husaini Daud atau Gulbuddin Haityar, gulbuddin77@yahoo.no , [213.167.96.196] , Sun, 9 Mar 2008 01:32:55 +0100 (CET))

 

 

Nah, disini kelihatan Teungku Husaini Daud sudah berjabatan tangan dan berangkulan dengan pihak saudara Eddy Lamno Suheri cs, eddylamno@yahoo.com  , dari kelompok yang menamakan dirinya Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik (KPAMD) atau Komité Peukeumah Acheh Merdehka Demokratik (KPAMD) yang dimunculkan pada tanggal 15 January 2006 pasca MoU Helsinki. Dimana Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik (KPAMD) adalah kelompok yang menentang MoU Helsinki 15 Agustus 2005, sama seperti kelompok dari PDI-P, PKB, PAN, PD dan sebagian orang-orang Golkar serta sebagian para pensiunan jenderal TNI di Jakarta.

 

Sebenarnya pihak GAM dibawah pimpinan Wali Teungku Hasan Muhammad di Tiro beserta Stafnya itu tidak sekedar menerima saja ketika pihak RI melakukan penyimpangan, misalnya tidak sepenuhnya mengacu pada MoU Helsinki ketika pihak DPR-RI membuat turunan dasar hukum UU nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Acheh, melainkan pihak GAM melakukan tindakan dan sikap secara politik dengan memakai jalur MoU Helsinki yang sudah disepakati itu. Jadi bukan melakukan tindakan dan sikap politik dan hukum diluar dari apa yang sudah disepakati dalam MoU Helsinki 15 Agustus 2005. Hanya usaha politik dan hukum yang dijalankan oleh  pihak GAM justru mendapat hantaman baik dari pihak orang Acheh sendiri termasuk dari pihak Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik (KPAMD) yang paling gigih menyerang dan menghancurkan MoU Helsinki, sehingga sangat menggembirakan orang-orang dari pihak PDI-P, PKB, PAN, PD dan sebagian orang-orang Golkar serta sebagian para pensiunan jenderal TNI di Jakarta. Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik (KPAMD) telah dijadikan ujung tombak oleh pihak penentang MoU Helsinki seperti kelompok PDI-P, PKB, PAN, PD dan sebagian orang-orang Golkar serta sebagian para pensiunan jenderal TNI di Jakarta.

 

Disini kelihatan, justru yang membantu menghancurkan perjuangan bangsa dan rakyat Acheh adalah disamping kelompok PDI-P, PKB, PAN, PD dan sebagian orang-orang Golkar serta sebagian para pensiunan jenderal TNI di Jakarta, juga orang-orang Acheh yang memakai payung bocor yang dinamakan Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik (KPAMD) yang usianya baru seumur jagung itu, termasuk sekarang Teungku Husaini Daud sendiri.

 

Selanjutnya soal Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Acheh – Nias yang dikepalai oleh Kuntoro Mangkusubroto yang didirikan berdasarkan Perpu Nomor 2 Tahun 2005, UU Nomor 10 Tahun 2005 dan Kepres Nomor 63 Tahun 2005 akibat tsunami wujud sebelum MoU Helsinki ditandatangani pada tangal 15 Agustus 2005. Jadi, itu Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Acheh – Nias beserta Kuntoro Mangkusubroto cs-nya akan lenyap dari bumi Acheh adalah pada bulan April 2009. Setelah itu Pihak Pemerintah Acheh yang akan membangun Acheh untuk masa depan bangsa dan rakyat Acheh.

 

Seterusnya mengenai persoalan Acheh Leuser Antara (ALA) dan Acheh Barat dan Acheh Selatan (ABAS) yang ingin memisahkan diri dari Acheh itu juga adalah merupakan hasil tindakan dari kelompok yang menentang MoU Helsinki termasuk dari kelompok Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik (KPAMD), sehingga memberikan angin segar bagi kelompok Acheh Leuser Antara (ALA) dan Acheh Barat dan Acheh Selatan (ABAS). Dimana kelompok Acheh Leuser Antara (ALA) dan Acheh Barat dan Acheh Selatan (ABAS) mempergunakan celah-celah yang telah dipasang oleh pihak DPR-RI yang dituangkan dalam UU nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Acheh yang bertentangan dengan klausul-klausul yang ada dalam MoU Helsinki, misalnya dimasukkannya bunyi pasal 5: "Pembentukan, penghapusan, dan penggabungan daerah dilakukan sesuai dengan peraturan

perundang-undangan" yang bertentangan seratus persen dengan bunyi klausul MoU Helsinki  yang berbunyi: "1.1.4. Perbatasan Aceh merujuk pada perbatasan 1 Juli 1956."

 

Nah, celah-celah hukum inilah yang dipakai sebagai alat senjata oleh pihak kelompok  Acheh Leuser Antara (ALA) dan Acheh Barat dan Acheh Selatan (ABAS) yang sekaligus dihembusi oleh kelompok Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik (KPAMD) juga oleh pihak kelompok PDI-P, PKB, PAN, PD dan sebagian orang-orang Golkar serta sebagian para pensiunan jenderal TNI di Jakarta yang menentang MoU Helsinki 15 Austus 2005.

 

Sekarang taktik dan strategi perjuangan GAM dijalur politik di bumi Acheh berdasarkan MoU Helsinki, sebagaimana juga didambakan oleh kelompok Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik (KPAMD) yang mendengungkan demokrasi-nya yang bergaya Mahatma Gandhi dan bergaya Martin Luther King telah diberantakan dari gelanggang politik Acheh. Sehingga masuklah kelompok-kelompok penentang MoU lainnya, salah satunya kelompok Acheh Leuser Antara (ALA) dan Acheh Barat dan Acheh Selatan (ABAS).

 

Terakhir Teungku Husaini Daud menyinggung masalah perjanjian Hudaibiyah dengan menuliskan:

 

 

"MoU Helsinki tidak boleh disamakan dengan perjanjian Hudaibiah. Alasan saya bahwa perdamaian Hudaibiah dlakukan Rasulullah ketika beliau dan Ummahnya memiliki power, dimana Rasullah bisa menggempur balik apabila pihak musuh tidak jujur."

 

 

Nah, disinilah kelemahan Teungku Husaini Daud dalam mempelajari dan memikirkan masalah perjanjian damai Hudaibiyah. Mengapa? Karena, itu perjanjian damai Hudaibiyah ditandatangani pada bulan Dzulqaidah tahun 6 Hijrah atau bersamaan dengan bulan Maret tahun 628 Masehi. Nah, itu kekuatan pasukan perang Rasulullah saw di Madinah pada tahun 6 Hijrah itu masih lemah. Justru ketika ditandatanganinya perjanjian Hudaibiyah pada bulan Dzulqaidah tahun 6 Hijrah dan berlangsung selama dua tahun, maka selama dua tahun itulah Rasulullah saw membangun  kekuatan Islam di Madinah. Ketika pihak Quraisy melanggar perjanjian damai Hudaibiyah, maka pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijrah  Rasulullah saw dengan kekuatan angkatan perangnya melakukan pembebasan Mekkah.

 

Jadi, disini kelihatan selama dua tahun, itu Rasulullah saw membangun kekuatan angkatan perangnya di Madinah, karena selama dua tahun itu tidak ada perang dengan pihak Quraisy. Inilah taktik dan strategi yang jitu yang telah djalankan oleh Rasulullah saw dan yang dicontoh oleh pihak GAM dibawah pimpinan Wali Teungku Hasan Muhammad di Tiro beserta Stafnya.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Received: from [213.167.96.196] by web28209.mail.ukl.yahoo.com via HTTP; Sun, 09 Mar 2008 01:32:55 CET

Date: Sun, 9 Mar 2008 01:32:55 +0100 (CET)

From: Gulbuddin Haityar <gulbuddin77@yahoo.no>

Subject: Vedr. GAM JANGAN TERPANCING OLEH UMPAN PEMBUNUHAN POLITIK ATU LINTANG YANG DIKONTROL DARI JAKARTA

To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>

Cc: achehnews@yahoogroups.com, Lantak@yahoogroups.com,

  oposisi-list@yahoogroups.com, politikmahasiswa@yahoogroups.com,

  fundamentalis@eGroups.com, kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com,

  PPDI@yahoogroups.com, Pembebasan_Papua@yahoogroups.com,

  vande.charba@gmail.com, gulam.pawoun@gmail.com, cahaya.benings@gmail.com,

  ahmad@dataphone.se, albiruny@gmail.com, hadi@teuku.de, warzain@yahoo.com,

  beuransah@hotmail.com, tengku_agam@yahoo.com, suhadi_laweung@yahoo.com,

  amnikandang@yahoo.com, anwar_acheh@yahoo.no, peusangansb@hotmail.com,

  bakhtiar59@yahoo.com, muzakkir_hamid@yahoo.com,

  ndin_armadaputra2002@yahoo.com, acheh_karbala@yahoo.no,

  husaini54daud@yahoo.com, alasytar_acheh@yahoo.com, fjzain@yahoo.com,

  armiya2003@yahoo.no, sarena48@hotmail.com, taufik@sirareferendum.org,

  meurahsilu@hotmail.com, tang_ce@yahoo.com, sisingamaharaja@yahoo.co.uk,

  Pembela_acheh@yahoo.co.id, liga_inacheh@yahoo.com, fordas_aceh@yahoo.com,

  radzie@acehkita.com, adepalace@yahoo.com, fan.imamiah@gmail.com,

  sofyankaoyumar@yahoo.com, kontak@club-internet.fr

 

Assalamualaikum wr wbr

Membaca jawaban Ustaz dibawah ini, menunjukkan bahwa Ustaz masih percaya terhadap perdamaian Helsinki sebagaimana kepercayaan pada awalnya tidak berobah. Yang perlu saya pertanyakan, apakah tepat bagi GAM sekedar menerima saja ketika pihak Indonesia melakukan penyimpangan?   Semenjak ditandatangani perjanjian tersebut, telah banyak sekali pelanggaran yang dilakukan pihak Indonesia kalau tidak dikataakan penipuan.  Pertama sekali pihak Indonesia telah menyulap Self Goverenment menjadi Otonomi. Hal ini membuat sebahagian orang Acheh kecewa sekali atas ketidakjujurannya pihak indonesia terhadap bangsa Acheh - Sumatra. Hal ini menguak luka lama dimana dulupun mereka telah menipu Acheh ketika berada dibawah pimpinan Tgk Muhammad Daud Beureueh.  Efeknya membuat sebagian besar orang Acheh tidak percaya lagi terhadap orang Indonesia, kapanpun dan dimanaapun.

 

Kedua pihak Indonesia telah menempatkan Kuntoro untuk mengelola lembaga BRR, yang dipelintirkan orang sebagai badan remang-remang serta pelintiran negatif lainnya. Keberadaan Kuntoro di Acheh terlihat sebagai perpanjangan tangan Jakarta terhadap Acheh untuk memanipulasi dana Tsunami dan dana-dana lainnya. Letimate Jakarta terhadap Gaji yang vsangat tidak pantas buat pegawai BRR membuat sebagian orang Acheh terpacu untuk meraih gaji yang tinggi tersebut hingga akibatnya mereka lupa untuk perjuangan kecuali cenderung untuk memperkaya diri. Efek daripada fenomena tersebut membuat kecemburuan sosial diantara orang-orang Acheh sampai berakibat kepada perpecahan yang memang sengaja dijalankan pihak Jakarta sebagai politik kejinya. Sebagai pelanggaran pihak Indonesia ketiga, hal ini juga menjadi pemicu bagi Ala dan ABAS untuk menerima  permainan politik Jakarta untuk memecah-belah Acheh - Sumatra sebagai politik devide et emperenya warisan Belanda.

 

Bagaimana mungkin Ustaz mengatakan pihak GAM mempertahankan  komitmennya  terhadap  MoU  Helsinki  sementara  pihak  Indonesia  tidak  jujur  terhadap  perjanjian tersebut, bukankah yang seperti itu namanya bagai bertepuk sebelah tangan, mungkinkah?  Realitanya GAM sekarang sepertinya tidak berdaya untuk membawa pihak Indonesia kepada pihak penengah (baca Internasional) agar UUPA itu benar-benar menggunakan MoU Helsinki sebagai platformnya.

 

Hemat saya, semestinya sebelum pilkapa tahun 2009 nanti, GAM berdaya upaya untuk membawa persoalan yang menyimpang dengan perjanjian ke Helsinki atau badan Internasional yang memiliki wewenang untuk urusan tersebut.

 

Kalau UUPA masih dalam bentuk otonomi dalam bingkai Indonesia, pemilu nanti masih pilkada bukan pilkapa yang sesuai dengan MoU Helsinki. Apabila ketimpangan ini masih berlaku nanti, sungguh sangat menyakitkan bagi orang-orang Acheh yang sadar akan kebangsaannya.

 

MoU Helsinki tidak boleh disamakan dengan perjanjian Hudaibiah. Alasan saya bahwa perdamaian Hudaibiah dlakukan Rasulullah ketika beliau dan Ummahnya memiliki power, dimana Rasullah bisa menggempur balik apabila pihak musuh tidak jujur. Realitanya memang yang namanya  musuh tak pernah jujur untuk menepati janjinya hingga Allah sendiri yang membatalkan perjanjian tersebut. Peristiwa Hudaibiyah itu sebagai peringatan kepada Ummat Islam agar dapat mengambil 'i'tibar kapan saja bahwa kita tidak boleh membuat perdamaian dengan musuh yang hipokrit. Sementara GAM membuat perjanjian dengan pihak yang tidak jujur dimana kondisi powernya diperparah dengan pemusnahan senjatanya. Bagaimana mungkin kita dapat menggempur balik ketika Indonesia tidak menepati janji alias munafiq?  Lebih dari itu perjanjian Hudaibiyah Negara Islam Madinah tetap eksis sementara Acheh - Sumatra dengan liciknya pihak Indonesia berhasil memasukkan kedalam bingkai NKRI. Inilah yang membuat Komite Peukeumah  Mardehka  Demokratik  muncul dengan langkah meyakinkan orang Acheh yang mau berafala takqilun dan afala yatazakkarun.

 

Tulisan atas nama Husaini Daud berikut ini merupakan sikap saya terhadap MoU Helsinki.

 

 

Sandnes, 15 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.

 

 

ANGIN BADAI BERHEMBUS DI GUNUNG, KENAPA POHON INI DAN POHON ITU SAJA YANG TUMBANG

Husaini Daud Sp

ACHEH - SUMATRA

 

 

TIDAK ADA TEMPAT UNTUK BERUNDING DENGAN SIPA-I JAWA MUNAFIQ

 

 

Menurut hemat saya, tak ada tempat untuk berunding dengan Sipa-i-Jawa yang munafiq itu. Dalam kamus Islam sejati, tidak ada istilah berunding dengan musuh sa'at perang sudah kita putuskan. Hal ini disebabkan bahwa dalam kamus musuh, berunding itu adalah "taktik strategi". Justru itu kapan saja kita mau berunding dengan musuh, mulai sa'at itulah kita sudah dapat bersiap-siap untuk kalah.

 

Opini tersebut diatas saya susun menurut analisa saya sendiri terhadap sejarah Rasulullah saw, Imam Ali bin Abi Thalib dan sejarah perang Acheh - Belanda. Perundingan yang dibuat Rasulullah dengan kafir Qurasy adalah sebagai uji coba untuk diambil i'tibar oleh orang-orang yang beriman bahwa musuh kita takpernah menepati janji. Hal ini di abadikan Allah dalam Al-Qur-an sebagai pedoman hidup bagi orang-orang yang beriman bahwa Allah sendiri yang membatalkan perjanjian tersebut (QS At-Taubah, 9:1-8).

 

Imam Ali sebagai warisan Rasul, sangat paham tentang hal tersebut. Namun sebahagian besar pengikutnya terpengaruh dengan strategi licik dan keji dari Amru bin Ask, menggunakan mushaf Al Qur-an untuk mengelabui pengikut Imam Ali. Sa'at ini sipa-i Djawa munafiq juga menggunakan taktik keji model Amru bin Ask untuk menipu bangsa Acheh. Perjanjian Linggar jati dan Renville pun sudah sama-sama kita pahami sebagai guru bagi sipa-i Jawa munafiq itu.

Redjim dhalim macam sipa-i Jawa munafiq itu memang sangat menakutkan umpama jeratan "Laba-laba" yang membuat belalang tak berdaya. Justru itu tak satu golonganpun yang mampu melawan kecuali golongan jihad. Dalam kamus jihad tertulis dengan jelas bagi orang-orang yang beriman: "Sesungguhnya jeratan labalaba itu adalah rapuh" (QS An Nisaa', 4: 71-78).

 

Dalam sejarah Islam terbukti bagaimana gempuran pasukan Islam sejati terhadap kerajaan Parsi dan Romawi yang berhasil mendapat kemenangan, kendatipun pasukan Islam jauh lebih kecil dibandingkan pasukan musuh. Begitu juga gempuran jihad tentera Acheh terhadap tentera Belanda yang senjatanya jauh lebih moderen dari senjata kita. Hal ini sudah begitu jelas kita baca dalam tulisan wali Negara Acheh, Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

 

Setelah itu kita lihat lagi bagaimana kerajaan Islam yang begitu luas (Parsi dan Romawi) sanggup dikalahkan oleh satu pasukan yang jauh lebih kecil (Holakokhan), kenapa ? Begitu juga sejarah perang Hunain, dimana pasukan Islam yang begitu besar dapat dikalahkan musuh kendatipun setelah itu menang kembali, kenapa ? Jawabannya:    Angin badai berhembus di gunung, kenapa pohon ini dan pohon itu saja yang tumbang ? Tumbangnya pohon ini dan pohon itu bukan disebabkan angin badai, namun pohon itu sendiri sudah keropos akarnya atau di makan rayap. Artinya bukan Holakokhan yang mengalahkan kerajaan Super Power Islam saat itu, namun tentera dan orang Islam sendiri sudah dekaden, 'Aqidah/Idiology sudah sirna, tujuan hidup bukan lagi untuk mencari keredhaan Allah, melainkan untuk mencari kesenangan ataupun materi/harta segala-galanya.

 

Semoga bangsa Acheh - Sumatra hari ini mampu berfikir bahwa mungkin saja setelah kita meraih kemerdekaan, akan muncul bahaya lainnya. Orang-orang yang salah tujuan hidupnya menjadi suatu penyakit yang lebih berbahaya daripada musuh yang sedang kita perangi hari ini.

 

Namun demikian, andaikata hari ini pemimpin kita terpaksa mengambil suatu alternatif untuk berunding paska Tsunami dan situasi dunia yang serba tidak menentu, sangat perlu kita tentukan syarat-syaratnya sebagaimana tersebut dibawah ini:

 

1. Lepaskan dulu seluruh tahanan politik Acheh terutama sekali ex utusan perundingan. (Bagaimana mungkin kita berunding sementara musuh tak punya aturan sama sekali, menangkap utusan tersebut)

 

2. Tarik seluruh pasukan non organik dan bubarkan seluruh pos-pos yang dibuat selama darurat militer.

 

3. Fokuskan gencatan senjata sebagai syarat utama perundingan dengan jaminan badan Internasional (PBB) secara tertulis, untuk monitoring. ( Tak ada gunanya perundingan dilanjutkan sementara di lapangan perang terus berlangsung)

 

4. Cabut aturan apa saja yang menghambat kepada kebebasan, seperti Keppres No.43/2003 dan PP No.2/2004 . Dan kondisikan suasana kehidupan politik yang aman dan bebas bagi seluruh rakyat Acheh.

 

Demikianlah menurut hemat saya mudah-mudahan mendapat redha Allah dan saya tutup tulisan ini dengan firman Nya: "Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah, Rasul Nya dan ulul amri mingkum (wali dari kalangan kamu sendiri). Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi mu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa', 4: 59)

 

Motto: Yang menang belum tentu benar, yang benar pasti menang

 

 

Billahi fi sabililhaq

Husaini Daud Sp

         di

  Ujung Dunia

----------