Stockholm, 19 Oktober 2008

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.



MEMPERJUANGKAN ACHEH DILUAR ACHEH YANG TIDAK MELALUI MOU HELSINKI ADALAH PERJUANGAN DIAWANG-AWANG ALIAS PERJUANGAN YANG TIDAK MEMBUMI LAGI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.

 

 

MEMPERJUANGKAN ACHEH DILUAR ACHEH YANG TIDAK MELALUI MOU HELSINKI ADALAH PERJUANGAN DIAWANG-AWANG ALIAS PERJUANGAN YANG TIDAK MEMBUMI LAGI

 

 

"Assalam'ualaikum br.wbr Salam sejahtra saya ucapkan tuk ustad Ahmad sudirman sekeluarga, serta tuk bangsa acheh pada umumNya. Semoga kedamaian akan selalu terasa oleh bangsa acheh, di bumi acheh yg mulia. Semoga MOU Helsinki yg telah di sepakati antara PRI dan GAM, betul-betul menjadi MOU yg penuh kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan ke semua penghuni bumi acheh yg tercinta, bukan sebalikNya. Ustad Ahmad yg saya hormati, tentu saja sampai sa'at ini dan detik ini, banyak bangsa Acheh terutama rakyat Indonesia masih kabur dalam mentafsirkan klasual-klasual MOU bahkan pemerintah indonesia sendiri. Apakah itu sebagai tanda akan ada lagi benih-benih konflik di bumi Acheh...?. Kenapa... dan mengapa...? Ataupun karena tidak mengerti sama sekali, ataupun di sebabkan karena MOU itu bukan sebagai PERATURAN PEMERINTAH RI." (Ayie E <ayie54@yahoo.com> ,[125.165.61.23], Sun, 19 Oct 2008 03:56:42 -0700 (PDT))

 

 

Terimakasih untuk saudara Ayie di Jakarta.

 

Sebenarnya klausul-klausul yang sudah dituangkan dan ditandatangani dalam MoU Helsinki 15 Agustus 2005 adalah sudah jelas dan gamblang dan kalau masih ada pihak-pihak yang masih belum atau tidak mau mengerti tentang isi MoU Helsinki tersebut, maka pihak-pihak tersebut adalah pihak yang tidak menghendaki perdamaian dan kebebasan yang menyeluruh di bumi persada Acheh.

 

Memang masih ada klausul-klausul yang belum dipenuhi dan dilaksanakan oleh pihak  Pemerintah RI dan DPR RI, sebagaimana yang pernah dituliskan oleh Ahmad Sudirman dalam tulisan "90 % isi UU Pemerintahan Acheh made in DPR RI harus dibuang karena bertentangan dengan MoU Helsinki" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060719.htm ). Tetapi tentu saja pihak Pemerintah dan rakyat Acheh akan terus menuntut komitmen pihak Pemerintah dan DPR RI sebagaimana yang sudah dituangkan dan ditandatangani dalam MoU Helsinki 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia. Dan sudah barang tentu UU Pemerintahan Acheh made in DPR RI akan diamandemen untuk diacukan kepada MoU Helsinki melalui jalur hukum yang berlaku.

 

Kemudian memang sampai detik sekarang ini masih ada segelintir orang Acheh sendiri (terutama yang masih ada diluar Acheh dan tidak berani masuk ke Acheh) yang menentang dan anti MoU Helsinki, karena mereka menganggap tidak diajak serta dalam proses perundingan di Helsinki. Dan tentu saja, segelintir orang Acheh yang anti MoU Helsinki ini memang bukan anggota dan staf GAM dibawah pimpinan Wali Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Stafnya. Karena itu memang wajar dan masuk akal kalau mereka tidak dilibatkan dalam perundingan antara GAM dan RI.

 

Selanjutnya, kelompok yang anti MoU tersebut yang anggotanya bisa dihitung dengan jari ini akhirnya akan kehilangan tempat berpijak, karena diluar negeri setiap Pemerintah di negara tempat mereka tinggal dan hidup tidak memberikan dukungan dan kebebasan berpolitik melali jalur politik, kecuali dengan melalui partai politik yang ada di negara-negara tempat mereka tinggal. Atau dengan kata lain, perjuangan politik mereka tentang Acheh kalaupun ada diperjuangakan secara politik adalah perjuangan politik yang ilegal alias yang diharamkan atau tidak dibenarkan secara hukum.

 

Jadi, toh akhirnya perjuangan dan teriakan mereka tentang Acheh adalah hanya setingkat suara teriakan saja yang tidak disokong atau didukung oleh pihak seluruh bangsa dan rakyat di Acheh ataupun oleh pihak Pemerintah di negara setempat, misalnya oleh pihak Pemerintah Amerika, Swedia, Norwegia, Denmark tempat mereka berkumpul dan tinggal.

 

Kalau mereka yang anti MoU ini masih saja berkerumun dan tinggal diluar Acheh, maka mereka itu akan ketinggalan kereta di bumi persada Acheh, mereka akan makin ketingalan dalam kancah perjuangan politik di Acheh, dan tentu saja mereka akan gigit jari akhirnya. Sekarang 4 juta bangsa dan rakyat Acheh sedang menikmati kedamaian dan kebebasan berpolitik di Acheh melalui jalur dan perangkat politik sedangkan orang-orang yang anti MoU Helsinki terus menggongong diluar Acheh sambil menyuarakan suara kosong dengan janji muluk yang tidak ada isinya.

 

Terakhir, kalau Ahmad Sudirman melihat dan memperhatikan sekarang di Acheh adalah setelah Wali Teungku Hasan Muhamma di Tiro menginjakkan kakinya di Acheh 11 oktober 2008, maka dari sejak saat itu di Acheh secara resmi dan dengan restu Wali Teungku Hasan Muhammad di Tiro perdamaian yang menyeluruh dan kebebasan politik melalui MoU Helsinki di bumi persada Acheh merupakan titian hukum dan perjuangan politik bagi seluruh bangsa dan rakyat Acheh di Acheh.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Received: from [125.165.61.23] by web45816.mail.sp1.yahoo.com via HTTP; Sun, 19 Oct 2008 03:56:42 PDT

X-Mailer: YahooMailWebService/0.7.218.2

Date: Sun, 19 Oct 2008 03:56:42 -0700 (PDT)

From: Ayie E <ayie54@yahoo.com>

Reply-To: ayie54@yahoo.com

Subject: acheh damai

To: ahmad@dataphone.se

 

Assalam'ualaikum br.wbr

 

Salam sejahtra saya ucapkan tuk ustad Ahmad sudirman sekeluarga, serta tuk bangsa acheh pada umumNya. Semoga kedamaian akan selalu terasa oleh bangsa acheh, di bumi acheh yg mulia. Semoga MOU Helsinki yg telah di sepakati antara PRI dan GAM, betul-betul menjadi MOU yg penuh kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan ke semua penghuni bumi acheh yg tercinta, bukan sebalikNya.

 

Ustad Ahmad yg saya hormati, tentu saja sampai sa'at ini dan detik ini, banyak bangsa Acheh terutama rakyat Indonesia masih kabur dalam mentafsirkan klasual-klasual MOU bahkan pemerintah indonesia sendiri. Apakah itu sebagai tanda akan ada lagi benih-benih konflik di bumi Acheh...?. Kenapa... dan mengapa...? Ataupun karena tidak mengerti sama sekali, ataupun di sebabkan karena MOU itu bukan sebagai PERATURAN PEMERINTAH RI.

 

Hanya ini saja, semoga kedamaian tidak akan sirna di bumi Acheh tercinta.

 

Saya akhiri

 

Assalam'ualaikum wr wbr.

----------