Stockholm, 31 Oktober 2000

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

KEGAGALAN ACEH DAN KEKERASAN GUS DUR
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

 

PERDAMAIAN GUS DUR DI ACEH HANYA ILUSI

Ketika nota kesefahaman (memorandum of understanding) tentang jeda kemanusiaan ditandatangani oleh Noer Hassan Wirajuda, Duta Besar Indonesia untuk Switzerland di Genewa dan Zaini Abdullah, Menteri Kesehatan NLFAS dan disaksikan oleh pihak ketiga dari Henry Dunant Centre for Humanitarian Dialogue pada tanggal 12 Mei 2000 di Genewa diharapkan ada satu titik cerah untuk menuju penghentian kekerasan. Dimana usaha untuk penghentian kekerasan itu melalui cara pengiriman bantuan kemanusiaan kepada penduduk Aceh yang menjadi korban. Mengadakan jaminan keamanan untuk menunjang pengiriman bantuan kemanusiaan dan mengurangi kekerasan. Dan berusaha memulihkan kepercayaan diri masyarakat guna mencapai penyelesaian damai.

Sampai detik ini memorandum of understanding tentang jeda kemanusiaan yang telah diperpanjang waktunya itu dan yang dikelola oleh Forum Kerja Sama (Joint Forum) yang merupakan organ tertinggi dan bertugas memformulasikan dan mengatur serta mengawasi kebijakan dasar, meninjau kemajuan penghentian tindak kekerasan kemanusiaan dan meneruskan dukungan penting bagi keberhasilan pelaksanaannya. Juga di bantu oleh Komite Bersama untuk Tindakan Kemanusiaan (Joint Committee on Humanitarian Action, JCHA) yang merupakan badan penyelenggara kebijakan Joint Forum dan mengkoordinasikan bantuan kemanusiaan dengan tugas memperkirakan kebutuhan, menyusun skala prioritas, mobilisasi sumber, dan perencanaan. Dan yang juga didampingi oleh Komite Bersama untuk Jaminan Keamanan (Joint Committee on Security Modalities, JCSM) yang bertugas menjamin pengurangan tensi dan penghentian kekerasan, menyiapkan aturan dasar dari sifat kegiatan yang berhubungan dengan masa perdamaian (Humanitarian Pause), dan menjamin tidak terjadinya aksi penyerangan bersenjata dari kedua pihak, serta memfasilitasi kehadiran dan pergerakan resmi serta non-ofensif dari kekuatan-kekuatan bersenjata, ternyata kesemuanya itu tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan oleh seluruh rakyat Aceh.

YANG TIMBUL BUKAN PERDAMAIAN, MELAINKAN KEKERASAN SENJATA

Yang justru timbul sampai detik ini adalah bukan perdamaian dan ketenangan rakyat Aceh melainkan makin tertanamnya rasa ketakutan dan rasa kebencian terhadap TNI, Polri/Brimob yang telah melakukan tindakan kekerasan senjata terhadap masyarakat sipil Aceh. Tindakan kekerasan senjata yang dilakukan oknum-oknum TNI, Polri/Brimob itu adalah jelas telah memporak-porandakan  apa yang telah disepakati dalam  memorandum of understanding tentang jeda kemanusiaan.

Jelas tindakan yang dilakukan oleh pihak  TNI, Polri/Brimob tidak terlepas dari sikap dan kebijaksanaan politik dan keamanan Gus Dur dalam menghadapi konflik di Aceh ini. Dan Gus Dur yang merupakan Presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara bagaimanapun tidak bisa lepas dari tanggung jawab atas pertumpahan darah yang terjadi di Aceh.

Kebijaksanaan politik dan keamanan yang menonjolkan kekerasan senjata di Aceh merupakan salah satu kebijaksanaan politik-keamanan Kabinet Gus Dur-Mega sekarang ini.

Karena yang nampak dan terasa di Aceh adalah bukan suatu usaha menghimpun kembali rakyat Aceh kedalam satu rumpun masyarakat yang damai, melainkan suatu usaha penekanan dengan cara kekerasan senjata untuk dipaksa agar tetap berada dalam satu ikatan tali persatuan dibawah lindungan pancasila yang lemah dan rapuh.

SELAMA GUS DUR MENGGUNAKAN KEKERASAN SENJATA DI ACEH, SELAMA ITU PERDAMAIAN HANYA SUATU ANGAN-ANGAN KOSONG

Selama Gus Dur-Mega masih berkuasa dan masih tetap melaksanakan kebijaksanaan politik-keamanan dengan cara kekerasan senjata, maka selama itu perdamaian yang diidamkan oleh seluruh rakyat Aceh hanyalah merupakan fatamorgana.

Karena itu saya melihat bahwa selama Gus Dur yang juga seorang muslim tetapi masih cinta sekularisme dan mengenyampingkan serta membuang nilai-nilai persatuan yang berlandaskan nilai-nilai persatuan yang diajarkan Allah SWT melalui Rasul-Nya Muhammad saw, maka cita-cita persatuan rakyat di negara pancasila tidak akan berhasil.

Karena itu adalah suatu kewajaran apabila rakyat Aceh sudah tidak rela untuk bersatu lagi dalam satu dekapan ikatan sekularisme dan pantulan api pancasila yang lemah, semu dan rapuh serta perlakuan tidak adil yang ditampilkan Gus Dur-Mega sampai detik ini.

Karena memang apa yang dikumandangkan, dilaksanakan dan diterapkan Gus Dur-Mega adalah bukan penerapan tali persatuan seperti apa yang di firmankan Allah SWT: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menyatukan antara hatimu lalu menjadilah kamu dengan ni'mat Allah orang-orang yang bersaudara..."(Ali Imran,3: 103).

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se