Stockholm, 28 April 2001

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

SEKULARIS GUS DUR MIMPI SATUKAN BANGSA PAKAI TOPENG PERDAMAIAN
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

 

KENYATAAN YANG ADA SEKULARIS GUS DUR INJAK PERDAMAIAN

Apa yang diucapkan sekularis Gus Dur lewat pidatonya yang dibacakan oleh Juru Bicara Kepresidenan Wimar Witoelar lewat TVRI, Jumat, 27 April 2001: "Rakyat bangsa ini tengah merindukan kedamaian. Rakyat bangsa ini mendambakan kesejukan. Semoga pertemuan kita malam ini mencairkan ketegangan yang telah terjadi di antara kita." (Pidato Gus Dur, dari Auditorium Stasiun TVRI Jakarta, Jumat 27 April 2001), ternyata hanya merupakan topeng penutup kelemahan dan ketidak berhasilan sekularis Gus Dur dalam membangun persatuan dan kesatuan seluruh rakyat negara pancasila.

Terbukti Nota Kesefahaman (memorandum of understanding) dan Damai Melalui Dialog mengenai Aceh masih jauh tinggi dilangit dalam penerapan dan pelaksanaannya yang benar, jujur dan adil.

Juga pergolakan dan permasalahan masyarakat Papua yang terus makin memanas dan meruncing sampai detik ini. Tidak ketinggalan pergolakan dan permasalahan masyarakat Maluku terutama di Ambon yang terus tidak henti-hentinya. Ditambah dengan pertentangan dan tragedi pertumpahan darah di Sampit, Kalimantan Tengah yang masih mencekam.

Penyelesaian damai yang ditempuh sekularis Gus Dur dengan Kabinetnya adalah jauh dari apa yang dipidatokannya diatas. Sekularis Gus Dur hanya mimpi.

SEKULARIS GUS DUR TERSIRAM NOSTALGIA DIKTATOR SOEKARNO

Rupanya sekularis Gus Dur menemukan jalan keluar untuk menyatukan seluruh rakyat negara pancasila yang sudah bosan kepadanya dengan mengutak-ngatik sejarah lama yang bisa dijadikan nostaliga untuk menipu rakyat negara pancasila melalui isi pidatonya: "Di bawah pemerintahan Presiden Soekarno, bangsa kita berkembang pesat. Hal itu dapat dibuktikan dengan begitu cepatnya bangsa Indonesia berada dalam posisi setara dengan bangsa-bangsa lain di mata dunia. Bung Karno selalu menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang besar."(Pidato Gus Dur, dari Auditorium Stasiun TVRI Jakarta, Jumat 27 April 2001)

Adalah suatu kebodohan apabila sekularis Gus Dur bercermin dan mengambil contoh diktator Soekarno sebagai idola untuk memberikan semangat persatuan dan kesatuan rakyat negara pancasila. Tindakan dan perlakukan kebijaksanaan politik diktator Soekarno yang bercoreng arang hitam sudah menjadi buah bibir seluruh rakyat negara pancasila. Sekularis Gus Dur justru menampilkannya sebagai gambaran kain putih yang bersih yang patut dijadikan contoh teladan. Inilah gambaran sekularis Gus Dur yang benar-benar sedang dalam keadaan mimpi disiang hari bolong.

SEKULARIS GUS DUR KUTUK DIKTATOR MILITER SOEHARTO MEMANG TEPAT, TETAPI LUPA DIRINYA JUGA BERBUAT SAMA SEPERTI SOEHARTO

Tentu saja, sekularis Gus Dur harus punya kambing hitam yang bisa dijadikan santapan empuknya bagi penyelamatan kekuasaan presidennya. Disini sekularis Gus Dur mendapat satu mangsa, yaitu bekas diktator militer Soeharto yang jadi santapan dan sasaran mepuknya. Tetapi sekularis Gus Dur lupa bahwa kebijaksanaan politik, ekonomi dan keamanannya sekarang adalah tidak lebih baik dari apa yang telah dibuat oleh rezim diktator militer Soeharto. Muntahan-muntahan idenya terbaca dalam isi pidatonya :

"Sayang sekali, seiring dengan kejayaan pemerintahannya, utang luar negeri kita membengkak sedemikian besarnya. Korupsi, kolusi dan nepotisme terjadi di mana-mana. Dan yang lebih menyedihkan, adalah adanya bukti-bukti sejarah yang diputarbalikkan. Perjalanan bangsa ini pun mulai terkotak-kotak dengan yang namanya orde. Pak Harto menamakan pemerintahan Presiden Soekarno sebagai Orde Lama dan menamakan pemerintahannya sebagai Orde Baru. Pada zaman pemerintahan Soeharto, sama sekali tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan demokratis. Kejayaan pemerintahan Soeharto merupakan kejayaan semu. Kejayaan itu bagaikan fatamorgana. Hanya indah dipandang dari kejauhan.Pak Harto yang berkuasa selama 32 tahun, ternyata hanya menghantar bangsa ini ke jurang kehancuran. Sehingga, mau tidak mau kita harus menerima akibatnya. Menghadapi berbagai krisis dan berbagai permasalahan." (Pidato Gus Dur, dari Auditorium Stasiun TVRI Jakarta, Jumat 27 April 2001)

SEKULARIS GUS DUR AKUI NASIONALIS AMIEN RAIS YANG MENGHANTARKAN DIRINYA KE KURSI PRESIDEN

Tanpa bisa disangkal, walaupun sebagian besar para pengikut buta sekularis Gus Dur menganggap bahwa Gus Dur dengan tingkat wali dan kehebatannya itu yang membuat dirinya jadi presiden negara pancasila. Padahal kenyataannya adalah karena kecerdasan otak politikus nasionalis Amien Rais yang dipraktekannya yang menghantarkan sekularis Gus terpilih dan jadi presiden negara pancasila sekarang ini.

Dan hal tersebut memang dibenarkan oleh sekularis Gus Dur dalam isi pidatonya:

"Dari hasil penghitungan suara terbanyak waktu itu, Pemilu dimenangkan oleh PDIP pimpinan Ibu Megawati Soekarnoputri. Tentunya beliau yang pantas menjadi presiden sekarang ini. Karena apa, karena beliau lah pemimpin partai yang memenangkan Pemilu dengan memperoleh suara jauh lebih besar dibandingkan dengan partai-partai lainnya. Namun, mengingat ketegangan politik sangat memuncak pada saat itu, bangsa kita seakan berada di ambang perpecahan. Kemudian Poros Tengah yang diprakarsai oleh Bapak Amien Rais mencoba mencari jalan keluar dari kemelut yang telah menghimpit bangsa. Dipilihlah saya untuk menjadi presiden, dengan alasan pada waktu itu, saya yang bisa diterima oleh segenap lapisan. Sehingga semua berharap saya mampu menjadi perekat bangsa. Dengan kata lain, saya menjadi presiden ini bukan karena saya orang hebat, tapi karena keadaan. Mungkin yang menjadi pertimbangan lain adalah, saya punya ummat, punya pengikut dan punya rakyat yang bukan hanya sekadar simpatisan partai. Antara saya dengan ummat, antara ummat dengan saya, terjalin hubungan batin yang sangat mahabbah. Arti kata mahabbah di sini adalah cinta. Mereka tersebar di seluruh Indonesia dan merupakan bagian besar dari penduduk bangsa ini. Sehingga kalau saya dipilih untuk menjadi perekat bangsa, mungkin itu dapat dimengerti."(Pidato Gus Dur, dari Auditorium Stasiun TVRI Jakarta, Jumat 27 April 2001)

SEKULARIS GUS DUR PUJI SEKULARIS MEGA UNTUK DAPAT SIMPATI DAN DUKUNGAN

Sebenarnya sekularis Gus Dur tidak perlu berbasa-basi terhadap sekularis Mega. Karena memang permainan politik dalam MPR yang diatur dan digariskan oleh konstitusi sekular UUD 1945, memang siapa yang terpilih dengan suara terbanyak itulah yang akan diangkat dan dijadikan presiden.

Jadi, sekularis Gus Dur tidak perlu melemparkan rasa sanjungnya kepada sekularis Mega untuk dijadikan sebagai alasan, seolah-olah kalau sekularis Mega itu seperti dia dan para pengikut sekularis Gus Dur yang taklid buta seperti yang ditunjukkan sekarang ini bisa menimbulkan tumpah darah dan dia tidak bisa jadi presiden.

Isi pidato yang bagian ini saya anggap sebagai ocehan sekularis Gus Dur untuk mendapat dukungan sekularis Mega yang sekarang kelihatannya sudah siap untuk ambil alih kekuasaan. Sekularis Gus Dur mendengungkan dalam pidatonya:

"Namun yang paling saya hormati pada waktu itu, adalah sikap Ibu Megawati Soekarnoputri yang dengan legowo memberikan kesempatan kepada saya untuk memimpin bangsa ini. Lebih dari itu, beliau juga mampu meredam emosi pendukungnya, yang tentu saja sangat kecewa. Karena, orang yang dibanggakan, yang notabene sebagai pemimpin partai pemenang Pemilu, rela untuk tidak menjadi presiden. Andaikata pada waktu itu, Ibu Megawati bersikap sebagai pemimpin partai, tentu apapun alasannya, tidak akan mau menerima kenyataan itu. Tetapi, karena beliau bersikap sebagai negarawan sejati, di mana di dalam tubuh beliau mengalir darah Bung Karno, tidak ada yang lebih berharga bagi Ibu Megawati, kecuali utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, lestarinya Pancasila dan bersatunya anak bangsa."(Pidato Gus Dur, dari Auditorium Stasiun TVRI Jakarta, Jumat 27 April 2001)

KALAU SEKULARIS GUS DUR MAU JUJUR, BENAR DAN ADIL HARUS AKUI BAHWA DIRI DAN KABINETNYA TIDAK MAMPU MEMBANGUN NEGARA PANCASILA

Sebenarnya bukan suatu alasan yang dilontarkan sekularis Gus Dur dalam pidatonya itu, melainkan dikarenakan kelemahan dan ketidakmampuan sekularis Gus Dur dan Kabinetnya untuk mengelola, membangun kembali puing-puing yang sudah berserakan ini.

Tetapi, kalau memang sekularis Gus Dur dan Kabinetnya tidak mampu, maka harus diserahkan kepada yang lain yang lebih mampu, jangan mau didominir dan terus keras kepala untuk hanya duduk diatas kursi presiden saja.

Jadi apa yang diucapkan dalam pidatonya itu hanyalah suatu alasan yang sudah basi saja. "...setelah saya menjadi presiden, ternyata yang ada di depan saya, hanyalah puing-puing tajam reruntuhan pemerintah masa lalu, utang luar negeri yang sedemikian besar, perekonomian yang porak-poranda, kesenjangan sosial dan berbagai gejolak serta tuntutan-tuntutan muncul di mana-mana. Kondisi bangsa ini sungguh sangat memprihatinkan. Sekalipun dalam satu tahun, bangsa ini seratus kali ganti presiden, tidak akan ada yang mampu memulihkan perekonomian kita, yang memang sudah sangat terpuruk ini dalam waktu yang singkat. Sebenarnya, saya sedang melakukan langkah-langkah awal dalam menangani berbagai masalah yang sangat sulit dan kompleks ini. Hendaknya jangan terlalu cepat menilai saya tidak mampu menjalankan roda pemerintahan, kemudian berusaha menggulingkan saya dengan mencari kesalahan."(Pidato Gus Dur, dari Auditorium Stasiun TVRI Jakarta, Jumat 27 April 2001)

SEBENARNYA VISI DAN MISI SEKULARIS GUS DUR DAN KABINETNYA TIDAK JELAS SEHINGGA YANG TIMBUL PERPECAHAN

Buktinya memang tampak terlihat dengan mata bahwa sebenarnya sekularis Gus Dur itu memang tidak ada visi dan misi yang jelas yang bisa membawa seluruh rakyat negara pancasila ikut melibatkan diri dan kembali membangun bahtera negara pancasila kearah yang lebih baik.

Jadi alasan-alasan yang diucapkan dalam pidatonya itu hanyalah mengulang-ulang dari apa yang telah diucapkan dalam pidato sebelumnya. Seperti kalau salah mohon dimaafkan. Tetapi kenyataannya terus saja degil dan tetap menjalankan apa yang menyebabkan seluruh rakyat negara pancasila makin terpecah.

Karena itu isi pidatonya ini tidak memberikan harapan baru seperti yang diucapkannya:

"Kalau kesalahan yang dicari, saya ini memang manusia biasa, tempatnya salah, tempatnya keliru. Kalau saya dianggap salah atau keliru, ya saya minta dimaklumi dan dimaafkan. Saya berharap kebekuan komunikasi politik seperti sekarang ini segera mencair, agar kita kembali bersahabat, tidak saling menjauhkan. Ketegangan politik yang terjadi pada akhir-akhir ini harus segera diselesaikan dengan mengedepankan kepentingan bangsa. Silaturahmi antara penyelenggara negara, baik presiden, wakil presiden,ketua MPR, ketua DPR dan pemimpin partai harus lebih banyak dilakukan. Kekuatan bangsa ini sangat terletak pada utuhnya persatuan. Kesulitan apapun yang dihadapi oleh bangsa ini akan dapat teratasi jika kita tetap bersatu dan terus bersatu. Satu hal yang dapat kita lakukan adalah dengan berusaha keras, menggali dan memanfaatkan segala potensi yang ada dengan tetap mengacu pada utuhnya Negara Kesatuan."(Pidato Gus Dur, dari Auditorium Stasiun TVRI Jakarta, Jumat 27 April 2001)

SEBENARNYA WALAUPUN DIBUANG ISTILAH ORDE TETAPI KENYATAANNYA MASIH TETAP BERKELOMPOK-KELOMPOK

Alasan yang dilontarkan sekularis Gus Dur dengan masalah orde dianggapnya diluar cita-cita proklamasi kemerdekaan hanyalah suatu alasan yang dicari-cari saja. Karena tanpa istilah orde-pun tetap timbul pengelompokan-pengelompokan yang membawa rakyat negara pancasila makin terpisah dan bercerai berai.

Buktinya mereka yang diluar NU dihantamnya. Mereka yang diluar Muhammadiyah diabaikan. Mereka yang diluar Persatuan Islam dikesampingkan. Mereka yang diluar Partai di minggirkan. Mereka yang diluar kelompoknya diasingkan.

Jadi sebenarnya isi pidato sekularis Gus Dur itu hanyalah embel-embel saja yang tidak ada pengaruh apa-apa, apalagi kalau sampai menyebut-nyebut diktator Soekarno yang sudah lapuk itu.

"..demi kelangsungan bangsa dan kelanjutan negeri ini, saya ingin menyampaikan satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh setiap bangsa, yaitu masalah orde. Kita harus kembali pada cita-cita proklamasi kemerdekaan, membangun bangsa, menyongsong masa depan Indonesia. Istilah Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi dan berbagai orde lainnya yang akan muncul di kemudian hari, ada baiknya dihapus dan ditiadakan mulai dari sekarang. Karena apa, karena orde itu hanya akan mengkotak-kotakkan perjalanan bangsa. Bung Karno yang populer dengan sebutan proklamator bangsa, pembuka pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, tidak mengenal dan tidak bersahabat dengan orde, dari zaman, dari generasi ke generasi, dari waktu ke waktu, baik yang sudah, sedang dan akan kita lalui, Bung Karno menyebutkannya sebagai perjalanan bangsa."(Pidato Gus Dur, dari Auditorium Stasiun TVRI Jakarta, Jumat 27 April 2001)

KITA LIHAT SAJA APAKAH SEKULARIS GUS DUR MAMPU MENYETOP PARA PENDUKUNG-BUTANYA YANG SUDAH SALAH KAPRAH ITU

Sekularis Gus Dur dengungkan untuk hentikan kekerasan. Padahal kenyataannya dia sendiri yang memberikan angin untuk timbulnya kekerasan itu. Jadi sebenarnya apapun yang dilontarkan sekularis Gus Dur untuk hentikan pakai kekerasan tidak akan memberikan pengaruh positif, karena memang sekularis Gus Dur sendiri yang sedang menjalankan kekerasa senjata. Contohnya di Aceh.

Jadi isi pidatonyapun hanyalah sebagai angin lalu saja. "Untuk itu, hentikan kebiasaan hujat-menghujat, hentikan segala bentuk tindak kekerasan, kehidupan demokrasi yang melindungi hak setiap individu warga negara dalam kebebasan beragama, berorganisasi, berpartai dan berpolitik. Ibu Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum PDIP dengan tegas telah menginstruksikan kepada partainya agar menghentikan segala bentuk tindak kekerasan. Pada saat ini juga, saya menginstruksikan kepada seluruh warga bangsa Indonesia, tanpa kecuali, agar menghentikan segala bentuk tindak kekerasan. Tidak saling menghujat, tidak pula saling menjatuhkan."(Pidato Gus Dur, dari Auditorium Stasiun TVRI Jakarta, Jumat 27 April 2001)

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se